
"Alea!"
"Alea!"
Kedua perempuan itu berteriak bersamaan, begitu pula Kenzo. Rajasa dan Aditama pun ikut mendekati Alea dengan segera.
Beberapa perawat yang melihat kejadian itu, langsung mendekati Kenzo dan menyuruhnya membawa Alea ke dalam salah satu kamar rawat inap.
Kenzo membaringkan tubuh Alea di atas ranjang rumah sakit. Hatinya berdenyut sakit melihat keadaan Alea yang begitu menyedihkan.
Anita dan Laras mendekati Alea, kedua perempuan paruh baya itu masih terus menangis. sedangkan Aditama dan Rajasa menatap Alea dengan sedih.
"Alea ... sayang." Anita menangis sesenggukan membuat Rajasa langsung mendekatinya.
"Kasihan anak kita, Pa, dia pasti sangat terpukul karena melihat langsung kejadian kecelakaan yang menimpa Bian. Dia pasti tidak pernah menyangka kalau Bian bertindak nekad untuk menyelamatkannya ...." Anita kembali memeluk suaminya.
"Bian melakukannya karena Bian masih sangat mencintai Alea, Nita. Tapi ...." Laras tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada Bian. Saat ia melihat video kejadian saat kecelakaan terjadi, ia sungguh tidak yakin kalau Bian akan selamat dari insiden ini.
"Bian, Pa, bagaimana keadaan Bian, Pa?" Laras tiba-tiba berteriak, Aditama memeluk istrinya. Dirinya pun sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa Bian.
Agar tidak menggangu ketenangan Alea, Aditama membawa istrinya keluar dari ruangan Alea. Aditama membawa istrinya ke depan ruang IGD. Di dalam sana, beberapa dokter sedang mengambil tindakan pada Bian.
"Bian ... kenapa ini harus terjadi padamu, Nak. Kenapa kau tak ikut lari bersama Alea agar kalian berdua bisa selamat? Kenapa kau malah mengorbankan dirimu, Bian." Laras tidak berhenti menangis. Ia sungguh tidak menduga kalau kejadian ini menimpa Bian, putranya.
"Tadi pagi dia masih baik-baik saja, Pa. Tapi kenapa sekarang dia ada di sini?" Laras masih terus menangis sambil memeluk Aditama. Pria paruh baya itu pun ikut menitikkan air mata.
Tidak menyangka, karena cintanya yang begitu besar pada Alea membuat Bian rela mengorbankan nyawanya demi perempuan itu.
"Bian ..., " lirih Aditama.
Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan. Aditama dan Laras bergegas mendekati sang dokter.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?"
"Masa kritisnya sudah lewat, tapi lukanya cukup parah. Kami harus segera mengambil tindakan operasi."
"Lakukan apapun yang terbaik untuk anak kami, Dok." Aditama menatap dokter itu dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Baik, Pak. Silakan Bapak dan Ibu isi dan tanda tangani sesuai prosedur, setelah itu kami akan langsung mengambil tindakan untuk melakukan operasi.
Laras dan Aditama mengangguk, kemudian mengikuti sang dokter menuju ruangannya.
******
Alea membuka matanya dengan perlahan, netranya menangkap wajah Kenzo yang terlihat begitu cemas.
__ADS_1
"Ken ...."
"Sayang ... kau sudah bangun?" Kenzo menatap wajah Alea yang terlihat pucat.
"Ken ...."
"Iya sayang ...." Kenzo memeluk Alea. Memberi kekuatan pada perempuan dalam dekapannya itu.
"Sayang, kamu makan dulu, ya.
Kamu belum makan dari pagi, kan?" Kenzo dengan lembut membelai wajah dan juga rambut Alea.
Alea menggelengkan kepalanya, kemudian menggenggam erat tangan Kenzo yang membelai wajahnya.
"Ken ... bagaimana keadaan Bian?" Alea menatap Kenzo dengan kedua mata berkaca-kaca, membuat Kenzo langsung mendaratkan bibirnya pada kening Alea. Kemudian mencium sekilas bibir Alea yang terlihat bergetar.
"Kau tenanglah!"
"Bagaimana aku bisa tenang. Aku ...." Belum selesai Alea berucap, Kenzo sudah meraih bibir Alea dengan bibirnya.
"K--Ken ...." Kenzo melepaskan ciumannya, kemudian kembali memeluk Alea. Menumpahkan segala rasa yang berkecamuk di dalam dadanya. Kenzo menyandarkan dagunya pada bahu Alea.
"Dia masih belum keluar dari ruangan itu, tapi dokter bilang, masa kritisnya sudah lewat. Kini tim dokter sedang bersiap untuk melakukan operasi," jelas Kenzo sambil memperhatikan wajah Alea yang begitu mencemaskan Bian.
Cemburu? Tentu saja. Tapi Kenzo sadar, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk egois. Kenzo sendiri tidak pernah menyangka kalau Bian akan nekad menyelamatkan Alea bahkan sampai mempertaruhkan nyawanya. Saat pria itu sadar, Kenzo berjanji akan berterima kasih padanya karena telah menyelamatkan Alea-nya.
Kejadian yang menimpa Bian sudah memukul mental Alea. Bagaimanapun, Bian adalah pria yang pernah mengisi hatinya selama bertahun-tahun. Tidak mudah bagi Alea untuk melupakannya begitu saja.
"Sayang, tenanglah! Semuanya akan baik-baik saja. Aku yakin, Bian pasti kuat melewati semuanya." Kenzo merengkuh kembali tubuh Alea ke dalam pelukannya.
"Kau hanya perlu berdoa, semoga Bian baik- baik saja."
"Aku ingin bertemu Bian."
"Iya, tapi kau harus makan dulu."
"Aku tidak lapar, Ken."
"Makan dulu, atau tidak usah menemui Bian sama sekali."
"Tapi, Ken ...."
Kenzo menatap Alea kesal.
"Baiklah!" Alea akhirnya menuruti permintaan Kenzo. Percuma berdebat dengan pria ini, tidak akan menang.
__ADS_1
Saat ini Alea sudah berada di ruangan VIP. Saat Alea tak sadarkan diri, kedua orang tua Alea memanggil dokter untuk memeriksa Alea saat mereka melihat beberapa luka kecil di tangan Alea.
Mereka baru ingat, kalau Bian sudah mendorong tubuh Alea cukup kuat sampai Alea terlempar. Pria itu mendorong tubuh Alea saat menyelamatkan perempuan itu dari bahaya.
Setelah dokter selesai memeriksa Alea, mereka kemudian memindahkan Alea ke kamar VIP. Orang tua Alea juga memerintahkan orang suruhannya untuk mengambil baju ganti buat Alea. Sedangkan Kenzo langsung memesan makanan dari restorannya. Karena ia tahu, kalau Alea pasti belum makan dari pagi.
Kenzo mengambil piring berisi nasi, kemudian mulai menyuapi Alea. Alea hanya menurut, kemudian menghabiskan makanan yang disuapkan Kenzo ke mulutnya. Meski terpaksa, tapi sedikit demi sedikit Alea pun berhasil menghabiskan makanannya hingga tandas tak tersisa.
Kenzo kemudian memberikan air minum. Ia merasa puas setelah Alea selesai makan.
"Ken ...."
"Gantian kamu yang suapin aku. Perut aku lapar, karena dari pagi aku juga belum makan."
Kenzo memberikan piring berisi makanan itu kepada Alea. Sementara Alea menatap pria itu dengan perasaan tak menentu.
Alea menatap Kenzo dengan kedua mata berkaca-kaca saat pria itu sedang mengunyah makanannya sambil terus menatapnya.
"Kenapa?"
Alea menggeleng, sambil kembali menyuapi Kenzo. Persis seperti seorang Ibu yang sedang menyuapi anaknya.
"Maafkan aku," Alea berucap lirih. Butiran kristal bening sudah mengalir di kedua pipinya.
"Maaf untuk apa?" Suara Kenzo begitu lembut, membuat Alea semakin menangis.
"Maaf, karena sedari tadi aku hanya memikirkan Bian tanpa mempedulikan perasaanmu." Alea meletakkan piring, kemudian memeluk pria itu dengan erat. Alea kembali menumpahkan tangisnya di sana.
"Maaf ...."
"Selagi hatimu tetap milikku, aku tidak apa-apa meskipun saat ini kau berada di samping pria itu."
Alea semakin menangis mendengar mendengar ucapan Kenzo.
"Ken, aku mencintaimu ...."
Alea berjanji dalam hati, ia tidak akan pernah meninggalkan pria ini sampai kapanpun.
"Aku mencintaimu."
"Aku lebih-lebih sangat mencintaimu. Berjanjilah! Kalau kau tidak akan pernah meninggalkanku, Alea."
*
*
__ADS_1
*
Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya 🙏🙏