MATI RASA

MATI RASA
Part 109 Aku Merindukanmu


__ADS_3

Alea berdiri di atas balkon sambil memandangi kamar Bian. Biasanya, pria itu berdiri di sana. Menatap dirinya. Terkadang pria itu juga ada di dalam kamar, mengintipnya dari jendela. Alea tahu semuanya, sangat tahu. Karena Alea pun dulu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Bian saat itu.


Tak terasa sudah genap dua bulan sejak Alea mendengar kabar tentang kematian Bian. Setiap hari, setiap kali mengingat tentang Bian, Alea pasti merasakan penyesalan yang tidak bisa ia lukiskan dengan kata-kata. Bayangan saat Bian menyelamatkannya, saat pria itu tergeletak di jalan dengan bersimbah darah dan saat Alea melihat wajah dan tubuh Bian yang penuh luka saat ia menemuinya di rumah sakit. Membuat Alea merasakan sakit jauh di lubuk hatinya.


Alea menghapus air matanya dengan kasar. Tidak lagi, ia tidak boleh lagi menangisi pria itu. Benar kata Kenzo, apa yang terjadi pada Bian adalah takdir Tuhan yang tidak bisa kita hindari. Namun, sekuat apapun mencoba, tetap saja rasa penyesalan merasuki hatinya.


Alea menatap rumah bertingkat di depannya. Rumah itu terlihat sepi tanpa penghuni. Semenjak orang tua Bian membawa Bian pergi dari rumah sakit, mereka berdua belum pernah pulang sampai saat ini. Sampai akhirnya mereka mengabarkan kalau Bian sudah meninggal, mereka belum juga kembali. Entah ada di mana mereka sekarang, tidak ada kabar berita. Hanya satu kali saja saat itu, Tante Laras menelepon Alea. Dia memberikan semangat pada Alea, agar Alea bisa melupakan Bian. Tante Laras juga mengatakan, agar Alea mendoakan Bian, dan menyuruhnya berbahagia dengan Kenzo. Karena Tante Laras yakin, kalau Bian pasti akan bahagia saat melihat dirinya bahagia. Alea hanya bisa tersenyum getir saat mendengar ucapan Tante Laras.


Entahlah! rasanya Alea benar-benar merasa kehilangan saat tahu kalau Bian sudah meninggal. Ia masih belum terima, kalau Bian meninggal. Apalagi Bian meninggal karena menyelamatkannya.


Kata orang, cinta pertama itu sangat sulit untuk dilupakan. Mungkin, inilah yang saat ini terjadi pada Alea. Bian adalah cinta pertamanya. Rasa cintanya pada Bian di masa lalu, tidak mudah ia lupakan begitu saja.


Namun, bukan berarti saat ini Alea masih mencintai pria itu. Tidak! Rasa cintanya pada Bian sudah pupus seiring hatinya yang mati rasa akibat perbuatan Bian. Rasa cinta di hatinya untuk Bian telah habis, apalagi semenjak kedatangan Kenzo yang selalu berada di sampingnya.


Kenzo adalah pria kedua setelah Bian Aditama. Namun, meski dia adalah pria kedua, Alea sangat berharap kalau Kenzo adalah pria terakhir untuknya.


Berbicara tentang Kenzo, pria itu sudah beberapa hari tidak datang menemuinya. Dia bahkan tidak meneleponnya sama sekali.


Terakhir mereka bertemu, mereka memang sedikit berdebat.


Saat itu, Kenzo marah pada Alea karena dia merasa Alea masih terus memikirkan Bian. Padahal, Bian sudah lama meninggal, tetapi Alea masih terus menangisinya. Merasa diabaikan, Kenzo akhirnya pergi meninggalkan Alea di rumahnya.


Alea berpikir kalau Kenzo pasti hanya marah sebentar seperti biasanya. Namun, sudah hampir seminggu ini pria itu tidak muncul. Pria itu bahkan selalu mengabaikan panggilan telepon dari Alea. Setiap chat Alea juga hanya di bacanya saja, tanpa ada niat untuk membalasnya.


Alea menghela nafas panjang. Hari ini Alea bermaksud ingin ke apartemennya, biar nanti bisa sekalian menengok Kenzo di apartemennya.


Alea masuk ke dalam kamarnya, kemudian mengganti bajunya, bersiap pergi ke apartemen miliknya.


*****


Alea sudah sampai di pintu apartemen. Saat ia ingin memencet tombol sandi apartemennya, Alea berbalik menatap pintu apartemen Kenzo. Mengikuti kata hatinya, Alea kemudian melangkah mendekati pintu apartemen Kenzo. Memencet kombinasi angka yang Alea hapal di luar kepala.


Alea tersenyum saat pintu terbuka, kemudian melangkah masuk ke dalam apartemen. Bau wangi aroma pria yang sangat dirindukannya menguar di seluruh ruangan. Alea menghirup dalam-dalam, resah hatinya langsung sirna meski hanya mencium wangi parfum pria itu.


Alea masuk ke dalam kamar, sudah lama ia tidak masuk ke kamar ini. Terakhir kali Alea ke sini, saat dirinya menikmati malam yang panjang dengan Kenzo. Wajah Alea merona, saat ia kembali mengingat malam itu.


Alea naik ke atas ranjang, menarik selimut, kemudian menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Alea memeluk bantal guling. Bibirnya tersungging senyum saat aroma pria itu begitu kuat menempel di bantal itu. Saking nyamannya, Alea akhirnya ketiduran.


Kenzo baru saja sampai ke dalam apartemen, kemudian duduk bersandar di atas sofa. Kenzo meraih ponsel di dalam saku kemejanya, membuka layar, kemudian memeriksa beberapa pesan dan panggilan telepon yang masuk.

__ADS_1


'Benar-benar keterlaluan kamu, Al. Sudah seminggu, dan kau tidak menghubungiku sama sekali? Apa kau benar-benar tidak mencintaiku sedikitpun?'


Kenzo menghembuskan nafas kasar sambil menggusar rambutnya, kemudian bangkit dengan langkah berat menuju kamarnya.


'Ah, sial! Aku benar-benar merindukannya!'


Kenzo mengacak-ngacak rambutnya frustasi, kemudian membuka pintu kamarnya. Ia melemparkan jasnya ke sembarang arah, membuka seluruh bajunya, kemudian berjalan santai menuju kamar mandi.


Beberapa hari ini, Kenzo memang sengaja mengabaikan Alea. Ia sengaja tidak menelepon atau pun mengirim pesan. Kenzo hanya ingin tahu seberapa besar perempuan itu mencintainya. Namun, tak di sangka, kalau ternyata Alea bahkan tidak pernah sekalipun mengirimkan pesan padanya.


'Keterlaluan!'


'Malam ini, aku akan ke rumahnya. Persetan dengan saran Bella yang katanya harus jual mahal.'


Kenzo memang sempat curhat dengan Bella sekretaris barunya. Bella adalah sekretaris yang ditunjuk oleh Mamanya, karena Bella adalah anak dari teman baik Mamanya.


Kebetulan, Kenzo juga mengenal Bella, mereka teman bermain saat masih kecil. Namun, setelah mereka menginjak remaja, mereka berdua berpisah karena Bella dan orang tuanya pindah ke kota lain. Singkat cerita, mereka kemudian di pertemukan kembali saat Kenzo dan orang tuanya melakukan perjalanan bisnis bersama. Kenzo dengan bisnis restorannya, sementara orang tuanya akan mengadakan pertemuan dengan beberapa rekan bisnisnya.


Kenzo keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk. Ia melangkah menuju ruang ganti. Sesaat ia ragu dan menimbang-nimbang.


"Ckk!" Kenzo berdecak sebal.


Kenzo menggusar rambutnya yang masih setengah basah. Ia sudah mengambil kaos dan celana jeans, bermaksud ingin pergi ke rumah Alea, tapi ketika ia mengingat kembali ucapan Bella, Kenzo mengurungkan niatnya. Akhirnya pria itu memakai piyama tidur kemudian melangkah gontai menuju ranjang.


Hatinya benar-benar galau. Galau memikirkan Alea, tetapi gengsi untuk menemuinya, karena saat ini, Kenzo masih dalam mode marah pada kekasihnya itu. Kenzo meraih satu persatu pakaiannya yang tadi sempat dilemparkannya ke lantai, kemudian memasukkannya ke keranjang baju kotor.


Kenzo mendekati ranjang, kemudian membaringkan tubuhnya. Namun, saat dirinya ingin menarik selimut, Kenzo merasa heran. Perasaan tadi pagi dia sudah membereskan ranjang dan selimut, tapi kenapa tiba-tiba selimutnya berantakan?


Saat dirinya masuk ke dalam kamar, Kenzo tidak memperhatikan ke atas ranjangnya sama sekali. Ia langsung ke kamar mandi sesaat setelah ia melepaskan bajunya dengan sembarang.


Saat Kenzo penasaran ingin membuka selimut, tiba-tiba selimut itu terbuka. Kenzo sejenak terpaku, sementara Alea mengerjapkan matanya, bibirnya menyunggingkan senyum saat ia melihat seseorang yang sudah seminggu ini dirindukannya sudah berada tepat di depan wajahnya.


"Sayang, kau sudah pulang?"


Alea mengangkat kedua tangannya kemudian langsung mengalungkannya pada leher Kenzo. Memeluk erat-erat tubuh pria itu.


"Kenapa jam segini baru pulang?"


Alea menggunakan tangan Kenzo sebagai bantal, kemudian kembali memeluk erat-erat pria itu.

__ADS_1


"Aku merindukanmu, Ken. Kenapa kau tak pernah membalas pesanku dan tak pernah mengangkat panggilan teleponku? Apa kau benar-benar marah padaku? Kau sangat tahu bukan, kalau aku sangat mencintaimu, apa kau memang sengaja ingin membuatku marah?" Alea masih terus berbicara, sementara Kenzo masih terdiam, ia masih tak percaya dengan penglihatannya.


Perempuan yang baru beberapa detik yang lalu membuatnya menggerutu dan mengumpat rindu, ternyata saat ini berada di depannya, dipelukannya. Perempuan ini bahkan hampir saja membuatnya gila karena rindu. Seminggu sudah ia tidak bertemu dengan perempuan ini, bahkan tanpa kabar ....


Tanpa kabar. Tunggu!


Kenzo langsung melepaskan pelukannya, kemudian menatap perempuan itu dalam-dalam.


"Sayang, tadi kau bilang kau meneleponku juga mengirimkan pesan padaku setiap hari?"


Alea mengangguk mendengar pertanyaan Kenzo.


"Kau tidak berbohong?" tanya Kenzo lagi, membuat Alea mendelik kesal.


"Kau pikir aku bohong?"


"Bu--bukan begitu. Hanya sedikit aneh."


"Aneh?"


Kenzo mengangguk, kemudian meraih ponselnya di atas nakas.


"Lihat! Tidak ada satupun pesan yang masuk, apalagi panggilan telepon." Kenzo menunjukkan ponselnya. Sementara Alea mengernyit heran. Kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasur, kemudian memperlihatkan semua pesan yang ia kirim untuk Kenzo. Kedua netra Kenzo membeliak kaget.


"Sebanyak ini kau mengirimkan pesan padaku?" Alea mengangguk. Sementara Kenzo tampak berpikir.


"Ada apa, Ken? Kenapa semua pesan yang aku kirimkan padamu tidak ada satupun yang masuk ke nomor ponselmu?"


"Entahlah! Aku juga bingung." Kenzo menjawab sambil terus berfikir. Tapi detik berikutnya, ia langsung memeluk tubuh Alea dengan erat.


"Sayang ... aku merindukanmu."


"Aku juga," sahut Alea. Suaranya teredam oleh pelukan Kenzo.


"Aku benar-benar merindukanmu, Alea."


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak ² 🙏🙏🙏


__ADS_2