MATI RASA

MATI RASA
Part 54 Aku Hanya Ingin Bahagia


__ADS_3

Bian menyapu pandangannya mengelilingi setiap sudut kamar tamu yang biasa di tempati Alea. Bibirnya tersenyum getir, saat rasa sakit kembali mengiris hatinya.


'Bodohnya aku, membiarkanmu tidur di sini, sementara aku justru membiarkan Amara menguasai kamar yang seharusnya menjadi tempat tidur kita berdua.'


'Saat itu, kau pasti sangat marah padaku.'


Bian meremas dadanya yang terasa sesak, saat ia mengingat, bagaimana ia dan Amara mengusir Alea dari kamar atas.


'Alea ....'


Bian melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian Alea, kemudian membukanya. Beberapa deretan baju Alea masih tersimpan rapi di sana. Sepertinya, Alea memang sengaja tidak membawa baju-bajunya, saat ia memutuskan pergi dari rumah. Karena Alea hanya membawa baju ganti yang di bawakan oleh Mbok Sumi saat di rumah sakit.


Bian mengambil salah satu baju Alea, kemudian menciumnya dalam-dalam, seolah aroma tubuh Alea tertinggal di sana. Padahal jelas-jelas, baju itu berbau wangi pelembut pakaian.


Air mata Bian kembali mengalir, ia terisak sambil menutup wajahnya dengan baju Alea yang masih menempel di indera penciumannya.


'Aku merindukanmu Alea, sangat merindukanmu ....'


'Sayang ... kamu ada di mana?'


Tangis Bian pecah. Setelah kepergian Alea, ia baru sadar, kalau Alea sangat penting buatnya, dia baru sadar, kalau sesungguhnya, separuh hatinya sudah di bawa oleh Alea.


'Alea ... kau benar, semuanya sudah terlambat. Aku terlambat menyadari, betapa penting dan berartinya, dirimu di hatiku.'


'Aku mencintaimu Alea, hanya saja, aku terlambat menyadarinya ....'


*****


Alea tersenyum, saat ia selesai memeriksa kembali tulisannya. Menjadi seorang pengangguran, ternyata tidak enak. Kerjaannya, hanya makan, tidur, dan jalan-jalan. Tidak punya penghasilan. Akhirnya, demi mengisi waktu luangnya, Alea memutuskan kembali menulis novel online untuk sementara.


Daripada terus tenggelam memikirkan kesedihannya, karena Bian, mendingan Alea mengisi waktunya dengan menulis. Saat ia sedang asyik memainkan laptopnya, tiba-tiba sosok pria tampan sudah berdiri dihadapannya tanpa ia sadari.


"Serius banget, sampai tidak sadar, kalau aku datang." Sebuah suara tak asing memenuhi pendengarannya. Alea mendongak, netranya mendapati Kenzo yang menatapnya dengan raut wajah kesal.


"Ken!" Alea berteriak, kemudian langsung memeluk Kenzo dengan terburu-buru, hingga dia hampir saja terjatuh.


"Hati-hati." Kenzo meraih tubuh Alea, yang hampir saja terjatuh, kemudian mendekap perempuan itu ke dalam pelukannya.


Sudah hampir dua minggu, Kenzo tidak bertemu dengan perempuan ini. Rasa rindunya begitu menggebu. Kini, perempuan yang sangat di cintainya itu sudah berada di dekatnya, di dalam pelukannya.

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja, selama aku pergi?" Kenzo memindai wajah cantik Alea, sebelum akhirnya kembali membenamkan wajah itu ke dalam pelukannya.


"Aku baik-baik saja, Ken."


"Aku merindukan Al, sangat."


"Aku juga."


"Benarkah?" Kenzo melepaskan pelukannya. Alea mengangguk lugu. Kemudian tangannya kembali memeluk tubuh pria itu.


"Jangan salah paham, aku merindukanmu seperti biasanya. Bukan karena aku ...."


"Aku mengerti, tidak usah di teruskan," potong Kenzo, ia tidak mau merusak suasana, yang menurutnya sangat romantis ini. Ia sadar, ia tidak akan bisa memaksa Alea, apalagi, saat ini, Alea sedang patah hati, sepatah-patahnya. Ia yakin, saat ini, Alea pasti merasa trauma. Trauma terhadap laki-laki.


"Hmm ...."


"Kau sedang apa? sampai serius banget?" Kenzo penasaran, ia kemudian melepaskan pelukannya. Dan melihat ke arah laptop yang masih menyala.


"Kau menulis?" Alya tersenyum, kemudian mengangguk.


"Daripada aku pengangguran, kerjaannya cuma makan dan tidur aja. Yang ada, aku tambah sedih jadinya." Bibir Alea mengerucut, membuat Bian langsung mengacak rambut Alea dengan gemas.


"Mulai besok, kau boleh bekerja di restoran aku, yang ada di sini," ucap Kenzo sambil menatap Alea yang langsung berbinar, saat mendengar kata-kata kerja.


"Aku bukan gadis, kalau kamu lupa," protes Alea.


"Iya, kamu bukan gadis, tapi janda, janda yang sangat menggoda." Kenzo tertawa lepas.


"Ken!"


"Ampun!" Kenzo meringis, saat Alea tiba-tiba mencubitnya.


"Ampun Al, ya ampun!" Kenzo menghindari tangan Alea yang ingin kembali mencubit pinggangnya. Kemudian ia meraih tubuh Alea, dan kembali memeluknya.


"Aku sudah mengurus semua pekerjaanku di Jakarta, aku akan tinggal dan menetap di sini."


"Jangan bilang, kau juga ingin tinggal di rumah ini, bersamaku." Alea mendongak, ia meringis, saat tangan Kenzo tiba-tiba menyentil keningnya.


"Aku tidak akan tinggal di sini, tapi aku akan tinggal di apartemenku, yang letaknya tidak jauh dari sini," jelas Kenzo.

__ADS_1


Alea hanya mengangguk, mendengar penjelasan Kenzo.


"Terserah padamu, Tuan kaya." Alea tersenyum, saat mendapati wajah Kenzo yang langsung cemberut. Kenzo memang tidak suka , kalau dirinya di panggil orang kaya, meski itu memang benar adanya.


" Ayo kita makan, aku membawa makanan untukmu," ucap Kenzo. Kemudian, ia menuju dapur diikuti oleh Alea di belakangnya.


"Aku bertemu orang tuamu kemarin." Alea menghentikan suapannya, mendengar ucapan Kenzo.


"Mereka datang ke restoran, bersama Mbok Sumi," jelas Kenzo.


"Mereka sudah mengusir Bian dari rumah dan juga perusahaan, mereka memintamu untuk pulang, dan kembali ke rumahmu, karena rumah itu adalah milikmu."


"Ya Tuhan ...." Alea meletakkan sendoknya di atas piring.


"Apa mereka tidak memikirkan ku sama sekali? Mereka menyuruhku kembali ke rumah yang banyak menyimpan kenangan pahit, untukku?" Alea menatap Kenzo dengan kesal.


"Aku lebih suka memberikan rumah itu pada Bian, daripada harus kembali, dan tinggal di rumah itu." Alea menatap Kenzo yang sedang menatapnya, kemudian ia kembali melanjutkan makannya.


"Mereka juga menyuruhmu, mengurus perusahaan."


"Aku tidak mau."


Kenzo menatap Alea yang terlihat kesal.


"Aku ingin hidup sesuai keinginanku. Kau sangat tahu, bagaimana keadaanku sekarang." Alea menatap Kenzo dalam-dalam.


"Aku hanya ingin bahagia Ken, apa itu salah?" Alea menatap Kenzo dengan kedua mata berkaca-kaca. Membuat Kenzo langsung bangkit dari duduknya, dan langsung membawa Alea ke dalam pelukannya.


"Aku tidak akan pernah kembali ke sana Ken, aku tidak sanggup. Semua kenangan pahit di rumah itu selalu menghantuiku, dan itu sangat menyiksaku Ken, aku tidak sanggup." Air mata Alea akhirnya tumpah. Kesedihan kembali memenuhi hatinya. Bagaimana mungkin, kedua orang tuanya tega menyuruhnya kembali ke rumah itu? Alea tersenyum getir, bahkan sampai tahap ini pun, orang tuanya, tetap tidak memikirkan perasaannya.


"Aku hanya ingin bahagia Ken ...."


"Izinkan aku untuk membahagiakanmu Al, izinkan aku untuk terus berada di sampingmu, agar aku bisa membahagiakanmu," bisik Kenzo sambil mengeratkan pelukannya pada Alea.


'Aku mencintaimu, sungguh-sungguh mencintaimu Alea, aku berjanji, aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi.'


.


.

__ADS_1


Mohon maaf ya, gara-gara kesibukan Author sebagai emak² di dunia nyata, authornya jadi telat update mulu, mohon di maafkan ya...🙏🙏🙏


Yang suka ceritanya, ikutin terus kisah mereka ya, jangan lupa like, koment, dan Votenya y kakak ² ...😘


__ADS_2