MATI RASA

MATI RASA
Part 74 Rahasia Yang Tersimpan


__ADS_3

"Kau terlalu banyak bicara." Alea melepaskan ciuman Kenzo. Ia menatap wajah tampan Kenzo. Wajahnya merona, saat ia melihat bibir merah Kenzo yang sedikit membengkak karena ciumannya. Sementara Kenzo justru mengusap bibir Alea yang terlihat basah selepas ciuman mereka.


"Menyebalkan!" Alea menutup wajahnya malu-malu.


"Kenapa ditutup?" Kenzo membuka paksa tangan Alea yang menutupi wajahnya.


"Ken!"


Alea langsung memeluk Kenzo,. menyembunyikan wajah meronanya di pelukan pria itu. Sementara Kenzo terkekeh, melihat tingkah laku Alea.


Kenzo memeluk erat tubuh Alea. Pria itu memejamkan matanya, sambil memeluk Alea, meski Alea belum bisa sepenuhnya menempatkan dirinya di dalam hatinya, paling tidak, dengan sikap Alea yang mau menerimanya seperti ini saja, sudah membuat Kenzo bahagia.


Kenzo yakin, suatu saat Alea pasti mau menerimanya dengan sepenuh hatinya.


Karena kelelahan, akhirnya mereka berdua terlelap sambil berpelukan.


******


Bian kembali ke rumahnya dengan langkah gontai. Tidak ada senyum yang menghiasi bibirnya seperti biasanya. Biasanya ia akan pulang dengan wajah ceria apalagi saat ia melihat Devan. Devan menyambut kedatangannya seperti biasanya, dengan di temani oleh Lisa di belakangnya.


Bocah laki-laki itu tersenyum pada Bian, kemudian langsung berlari ke arah Bian.


"Papa ...." Suara cadel Devan terdengar memanggil dirinya. Biasanya, Bian langsung mendekati dan menggendong Devan. Tapi kali ini tidak, pria itu hanya menatap datar sambil tersenyum tipis.


"Papa mandi dulu ya, sayang, kamu sama mbak Lisa dulu."


Bian mengusap kepala bocah itu, kemudian mencium kedua pipi gembulnya.


"papa, ndong ...." Devan meminta Bian untuk menggendongnya seperti biasanya. Kedua mata bocah kecil itu bahkan sudah mulai berkaca-kaca.


"Papa mau mandi dulu sayang, nanti saja gendongnya, ya."


"Ndak au ... cekalang." Devan mulai menangis.


"Lisa, tolong bawa dia. Aku capek banget hari ini."


Lisa kemudian berusaha menggendong Devan, tapi Devan meronta, kemudian menangis. Sementara Bian langsung meninggalkan mereka berdua menuju kamar, tanpa memperdulikan tangisan Devan.


"Pa--pa ...."


Lisa mencoba membujuk Defan, tapi bocah kecil itu terus menangis dan meronta memanggil nama papanya.


'Sebenarnya apa yang terjadi, Kenapa hari ini kau terlihat aneh, Pak Bian.'


Lisa memandangi Bian yang acuh, bahkan dia tidak memperdulikan tangisan Devan. Sungguh tidak seperti biasanya.


Bian membersihkan tubuh lelahnya di kamar mandi. Setelah mandi, Bian membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Pikirannya kembali pada saat ia bertemu dengan Alea tadi.


Perempuan itu hanya menatapnya tanpa berucap sama sekali. Bian sangat ingat, wajah Alea terlihat begitu kaget saat bertemu dengannya.


"Alea, sayang ... sudah lama sekali kita tidak bertemu, tapi setelah kita bertemu, kenapa kejadiannya seperti ini?" batin Bian.


'Padahal sudah lama sekali aku menginginkan pertemuan ini, tapi giliran bertemu, aku bahkan tidak bisa memelukmu. Jangankan memeluk, untuk bicara saja aku tidak bisa.'


Bian menghembuskan nafas panjang, kemudian mencoba memejamkan matanya. Lelah, ia sungguh lelah. Hidup dalam rasa penyesalan sungguh sangat melelahkan. Sudah dua tahun terlewati, tapi Bian tetap belum bisa melupakan apa yang sudah dilakukannya pada Alea.


Segala perbuatannya yang telah melukai Alea berulang kali, terus terekam di ingatannya, dan terus menerus menjadi mimpi buruk baginya. Seandainya Bian tidak rutin meminum obat dan mengikuti terapi, mungkin saja saat ini dirinya sudah berakhir di rumah sakit jiwa.


"Alea ...." Bian berucap lirih, sambil membuka matanya. Netranya langsung beradu dengan wajah Alea dalam foto pernikahannya. Bian memang sengaja memasang foto pernikahannya dengan Alea di dinding yang tepat menghadap ke arahnya. Hingga saat Bian bangun dan membuka mata, pandangannya bisa langsung menatap wajah cantik Alea yang seolah tersenyum padanya.

__ADS_1


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Laras, mamanya, terlihat di depan pintu sambil membawa nampan berisi makanan.


"Kamu belum makan, Bi, Mama bawain makan malam, kamu makan dulu, ya." Laras tersenyum melihat ke arah Bian yang terlihat kusut dan lelah.


Laras sangat khawatir saat mendengar ucapan Lisa tadi. Nalurinya sebagai ibu langsung bisa menebak apa yang sudah terjadi pada Bian.


"Aku belum laper, Ma."


"Biar Mama suapi."


"Ma ...."


Tanpa mempedulikan ucapan Bian, Laras langsung menyuapkan makanan ke mulut Bian.


"Ada apa?" tanya Laras, saat Bian sudah beberapa kali menyuapkan makanannya.


"Aku bertemu Alea, Ma."


Laras tersentak kaget. Merasa tak percaya pada ucapan Bian.


"Kau bertemu dengan Alea, Bian? Benarkah?"


"Benar, Ma."


"Kapan?"


"Tadi sore." Bian mengunyah makanannya dengan malas. Dirinya benar-benar tidak ingin melakukan apapun, apalagi makan.


Laras menatap Bian, sebenarnya dirinya sudah tahu, kalau saat ini Alea sudah pulang ke Jakarta. Karena keluarga Alea sudah memberitahukan padanya. Keluarga Alea bahkan mengancam akan melakukan apapun seandainya Bian kembali mengganggu Alea, termasuk menghancurkan perusahaan kecil mereka yang saat ini di kendalikan oleh Bian dan papanya.


"Bian, sebaiknya kau tidak lagi mengganggu Alea, kau harus melupakan dia, Nak." Laras berkata dengan hati-hati sambil menatap Bian.


"Apa maksud Mama?"


"Bian, Mama tahu, kamu sangat ingin kembali pada Alea, tapi kau tahu sendiri kan, bagaimana cara kamu memperlakukan Alea selama ini?" Laras menatap putranya yang sudah terlihat emosi.


"Justru karena selama ini aku memperlakukan Alea dengan kurang baik, makanya sekarang aku ingin menebus semua kesalahanku, Ma."


"Mama tahu, Bi ... tapi bukan berarti kamu harus kembali bersamanya lagi, kan?"


"Maksud Mama apa? Aku mencintai Alea, Ma, meski perasaan itu terlambat aku sadari. Aku ingin kembali bersamanya, menebus semua kesalahanku, dan membahagiakannya." Bian menatap Laras dengan sungguh-sungguh.


"Mama tahu, Bi, tapi apa kau pikir Alea masih mau bersamamu? Setelah apa yang kau lakukan padanya?" Laras menatap Bian mengingatkan putranya sekali lagi.


"Bian ... bukan cuma kamu saja yang mengalami masa sulit, Nak, keadaan Alea bahkan jauh lebih parah dari keadaanmu." akhirnya Laras membuka rahasia yang selama ini ia simpan.


"Apa maksud Mama?"


"Bian, Alea pun sama menderitanya dengan kamu. semua perbuatan yang telah kau lakukan padanya telah meninggalkan trauma yang mendalam untuknya. Dia pun sama, membutuhkan waktu cukup lama untuk menyembuhkan luka hatinya," jelas Laras dengan mata berkaca-kaca.


"Mama sungguh sangat prihatin, Mama tidak menyangka, kalau kamu setega itu terhadap istrimu sendiri, Bian."


"Ma ...."


"Bian, berjanjilah pada Mama, jangan ganggu Alea lagi."


"Tidak, Ma, Bian akan tetap mencari Alea dan menemuinya kembali." Bian tetap bersikeras.


"Bian, kali ini tolong dengarkan ucapan mama. Mama mohon ...." Laras menatap putranya itu dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Jangan sampai trauma Alea kambuh gara-gara bertemu denganmu, Bi," ucap Laras akhirnya, karena ia melihat Bian masih terdiam.


"Dari mana Mama tahu kalau Alea mengalami trauma karena perbuatan ku, Ma?" Bian menatap Mamanya dengan tatapan curiga.


"Atau jangan-jangan, Mama sudah mengetahui keberadaan Alea selama ini, kemudian dengan sengaja menyembunyikannya dariku?"


Laras menghembuskan nafasnya kasar.


"Keluarga Alea yang memberitahukan pada Mama, kalau Alea mengalami trauma berat setelah kejadian kekerasan yang kau lakukan. Alea bahkan butuh hampir dua tahun ini, untuk menghilangkan rasa trauma yang kau tinggalkan. Sama seperti kamu, Bi, Alea pun harus bolak-balik ke psikiater agar dia cepat sembuh." Laras menatap Bian dengan kedua matanya yang sudah berembun menahan tangis.


Laras teringat saat kejadian ia menelepon Alea, sewaktu di Bali. Laras juga mengingat pertemuan nya dengan kedua orang tua Alea kemarin.


"Jauhkan putramu dari putriku, Alea baru saja sembuh setelah dua tahun ini mengalami masa yang sangat sulit karena perbuatan putramu." Rajasa dengan tegas mengingatkan.


"Jangan sampai rasa trauma yang Alea alami kembali datang saat dia bertemu Bian nanti." Anita sahabatnya sekaligus Mama Alea ikut manambahkan.


"Laras, putriku sudah sangat menderita selama ini karena perbuatan putramu, jadi aku harap, kau mau bekerja sama dengan kita untuk menjauhkan putramu dari putriku!" ucap Rajasa dengan tegas.


"Alea putriku berhak bahagia Laras, bagaimana pun Bian sudah membuatnya sangat menderita selama ini. Jadi aku mohon, jauhkan Bian dari Alea, dia tidak berhak untuk mendekati Alea lagi." Anita menatap Laras dengan tatapan memohon.


Belum sempat Laras menjawab, ucapan tegas dari Rajasa membuat Laras terkejut.


"Kalau Bian masih nekad untuk mendekati Alea dan terus saja mengganggunya, aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkan perusahaan suamimu tanpa sisa!"


"Dari mana Mama tahu kalau trauma Alea akan kambuh saat bertemu denganku, Ma? Aku yakin, kalau Alea juga akan sembuh setelah bertemu lagi denganku." Bian dengan penuh percaya diri berucap lantang, hingga membuyarkan lamunan Laras.


"Karena kau adalah sumber penderitaan dan kesakitannya, makanya Alea tidak akan baik-baik saja setelah bertemu denganmu, Bian." Laras menatap tajam ke arah putranya.


"Mendengar Mama menyebut namamu saja, dia berteriak histeris apalagi saat dia melihatmu, Bian."


"Mama ...."


"Mama pernah menelepon Alea saat kita akan menjemput jenazah Amara di Bali. Alea sangat ketakutan saat Mama menyebut namamu, dia bahkan berteriak histeris dan tak terkendali."


"Ma ...." Bian menatap mamanya yang saat ini sudah mulai menangis dengan tatapan tak percaya.


"Pada saat itulah, Mama sadar, kalau kau sudah meninggalkan luka yang teramat dalam pada Alea, Bian. Mama sungguh merasa kasihan dan merasa berdosa dengan perbuatan yang telah kau lakukan padanya."


"Mama, jangan bilang, kalau selama ini Mama mengetahui di mana Alea berada, dan sengaja menyembunyikannya dariku." Bian masih menatap Laras dengan tatapan tak percaya.


"Maafkan Mama Bian ... Mama menyembunyikan keberadaan Alea darimu, karena Mama tidak mau melihat Alea kembali menderita karena perbuatanmu."


"Mama tidak mau melihat Alea menderita, tapi Mama membiarkan aku hampir mendekam di rumah sakit jiwa karena rasa penyesalan yang terus menghantuiku!" Bian benar-benar merasa tidak percaya dengan ucapan Mamanya.


"Maafkan Mama Bian ...." Air mata Laras luluh seketika.


Akhirnya rahasia yang selama ini ia simpan terbuka sudah. Bukan Laras tidak kasihan atau tidak mau membela Bian, apalagi Bian adalah putra satu-satunya yang ia punya.


Tapi perbuatan kejam Bian terhadap Alea tidak dapat di benarkan. Beruntung keluarga Alea tidak menuntut Bian lewat jalur hukum, padahal mereka mempunyai bukti yang cukup kuat waktu itu untuk menyeret Bian ke penjara karena penganiayaan yang Bian lakukan pada putri mereka.


Tapi mereka tidak mau melakukannya, mereka hanya meminta Bian untuk menandatangani surat cerai agar Bian tidak lagi mengganggu Alea.


Penyesalan yang dirasakan Bian dan penderitaan Bian adalah resiko yang harus Bian tanggung karena perbuatan jahatnya pada Alea. Jadi, selama ini Laras dan suaminya hanya ingin Bian menyadari semua kesalahannya, makanya mereka sengaja menyembunyikan fakta bahwa mereka berdua sebenarnya sudah mengetahui keberadaan Alea selama ini.


Meski Bian adalah putranya, kesalahan Bian cukup fatal, karena itu mereka tidak membela Bian, karena Bian lah yang salah dalam hal ini. Meski Bian mengatakan alasannya karena dia tidak mencintai Alea saat itu, tapi tetap saja, perbuatannya tidak bisa dibenarkan. Apalagi Laras pun seorang perempuan dan juga seorang Ibu, ia jelas sangat tahu bagaimana rasanya saat Alea di sakiti oleh Bian hingga menyebabkan Alea harus kehilangan calon bayinya.


.


Jangan lupa like, koment dan Votenya ya kakak ²...

__ADS_1


Mohon maaf karena author telat up lagi 🙏🙏🙏


__ADS_2