
Alea memandangi wajah cantiknya di depan cermin. Kulit wajahnya saat ini terlihat jauh lebih baik, dibandingkan beberapa bulan yang lalu. Saat Bian memukuli wajahnya tanpa ampun. Kini, kulit wajahnya terlihat segar dan semakin cantik. Alea bahkan tidak kelihatan seperti perempuan yang sudah menikah, alias janda.
Alea tersenyum manis.
'Mulai saat ini, aku tidak akan membiarkan orang lain memukul wajahku lagi, seperti aku yang membiarkanmu terus memukuli wajahku, lagi dan lagi.'
Alea menghembuskan nafas panjang. Hari ini, ia memutuskan untuk bekerja di restoran Kenzo, yang berada di Bali. Ia tidak bisa terus-terusan menjadi pengangguran. Tabungannya sudah mulai menipis, ia tidak mungkin terus bergantung pada Kenzo, meskipun Kenzo memaksa.
Suara deru mobil dari luar rumah, membuat Alea langsung bergegas. Ia kemudian menyapu wajahnya dengan make-up tipis, setelah itu, beranjak meninggalkan kamar.
Kenzo yang baru sampai di depan pintu, sejenak terpaku ditempatnya berdiri. Netranya tak berkedip di penuhi oleh sosok cantik di depannya. Kenzo memindai wajah cantik Alea, kemudian menghela nafas dan menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Seulas senyum manis Kenzo berikan, saat ia melihat perempuan di depannya itu tersenyum cantik saat melihat kedatangannya.
"Kau sudah siap?"
"Tentu saja, aku sudah siap sebelum kau datang," ucap Alea tersenyum manis, kemudian menerima uluran tangan Kenzo yang seketika menggenggamnya erat.
"Kau terlihat sangat cantik hari ini, dan begitu bersemangat."
"Terima kasih. Karena dirimu, aku masih bisa tersenyum dan baik-baik saja saat ini."
Ya, memang benar, kalau bukan karena Kenzo, mungkin, Alea masih terpuruk sekarang. Dan mungkin juga, Alea masih terkurung di rumah itu, bersama Bian. Pria inilah yang selama ini mendukungnya, menyemangati dirinya, hingga Alea menjadi lebih kuat seperti ini sekarang.
"Kalau keinginanmu untuk lepas darinya tidak begitu kuat, mungkin saat ini pun, aku masih hanya bisa melihatmu dari jauh, tanpa bisa menolongmu."
"Kau ingat bukan, kau selalu melarang aku untuk ikut campur dalam urusan rumah tanggamu? Saat itu, aku benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa, aku hanya bisa melihatmu terus menangis, dan selalu menangis, tanpa bisa menolongmu." Kenzo mempererat genggaman tangannya pada Alea.
"Kalau bukan kamu sendiri yang mengulurkan tanganmu, mungkin, saat ini, aku hanya bisa melihatmu dari jauh. Alea ... kau berhak bahagia. Apapun alasannya, kau berhak merasa bahagia. Mulai sekarang, lupakan masa lalu, dan berbahagialah!"
__ADS_1
"Pria brengsek seperti dia, tidak pantas, untuk terus berada di hatimu." Kenzo menatap Alea dengan lembut, membenamkan kepala gadis itu ke dalam pelukannya.
Alea tak menolak, ia memejamkan matanya dalam pelukan Kenzo. Menikmati detak jantung pria itu yang tak beraturan.
"Kau benar Ken, kalau saat itu, aku tidak memantapkan hatiku untuk meninggalkannya, mungkin, saat ini, aku masih terkurung di sana. Menjadi orang bodoh yang terus mencintainya, dan berharap, suatu saat, dia pun akan mencintaiku, seperti aku mencintainya."
Kenzo mempererat pelukannya, saat ucapan lirih itu terdengar, dari bibir Alea.
"Lupakan dia, hapus dia dari ingatanmu, dari hatimu, dan juga, jangan pernah lagi menangis karena dia. Karena air matamu, terlalu berharga untuk menangisi pria brengsek seperti dia," bisik Kenzo, tepat di telinga Alea.
"Aku mencintaimu ...."
"Hmm ...."
Setelah adegan penuh drama selama beberapa menit di depan pintu, akhirnya mereka berdua pun pergi meninggalkan rumah yang di tempati oleh Alea.
Mereka berdua tersenyum, kemudian bergandengan tangan menuju mobil Kenzo yang terparkir di depan rumah.
Bian membanting semua barang, yang ada di depannya sekarang. Pikirannya kacau, dan selalu di penuhi oleh bayang-bayang Alea. Setiap hari, ia berkeliling untuk mencari Alea, tapi hasilnya nihil. Bian juga sudah mengerahkan seluruh orang kepercayaannya, tapi tetap saja, mereka belum menemukan perempuan itu. Alea bak ditelan bumi, karena ia tidak menemukan Alea di manapun.
"Kemungkinan besar, Nona Alea sudah pergi dari kota ini Bos, kami kesulitan menemukannya." Suara seseorang terdengar dari ujung sana.
"Dasar bodoh! Percuma aku sudah bayar kalian mahal-mahal, tapi kalian tidak dapat menemukan istriku!" Bian berteriak dengan kesal.
"Cepat cari istriku sampai ketemu, kalau tidak, kau tidak akan mendapatkan sepeserpun uang dariku!" Bian menutup panggilannya secara sepihak.
"Sialan! Dasar Kenzo sialan! Kemana kau membawa istriku brengsek!" Bian berteriak, sambil kembali melemparkan semua barang-barang di apartemennya.
__ADS_1
Tubuhnya merosot, kedua tangannya berdarah, karena beberapa kali ia sengaja memukul tembok, untuk meluapkan semua kemarahannya.
Bian terlihat begitu menyedihkan, wajah tampannya kini tidak terurus. Semenjak di usir dari rumah dan perusahaan milik Alea, kini Bian menetap di apartemennya, apartemen yang ia beli, saat ia bekerja di perusahaan Alea.
'Alea ... sayang, saat ini kamu ada di mana? Aku merindukanmu Alea, aku sungguh-sungguh merindukanmu. Pulanglah! Kembalilah bersamaku Al, aku mencintaimu, sungguh! Aku benar-benar mencintaimu ....'
Bian terduduk sambil memeluk lututnya, ia menangis sambil menyembunyikan wajahnya.
Sudah beberapa bulan, semenjak kepergian Alea, hanya itu yang bisa Bian lakukan. Pergi mencari Alea dari pagi hingga malam, kemudian menghabiskan malam dengan menangis penuh sesal, ditemani beberapa botol minuman beralkohol, yang sejak kepergian Alea, mulai dinikmatinya.
Patah hati karena kehilangan Alea, membuat kehidupan Bian berubah. Ia tak lagi mengurus dirinya, ia terpuruk dan semakin terpuruk. Bian telah kehilangan semangat hidupnya. Separuh jiwanya menghilang, bersamaan dengan kepergian Alea.
Selama ini, ia terus menerus menyangkal tentang perasaannya terhadap perempuan itu. Ia selalu berpikir, kalau dirinya sangat membenci istrinya. Sehingga ia terus menyakiti istrinya, lagi dan lagi.
Bukan hanya menyakiti tubuhnya, tapi juga menyakiti batinnya. Seluruh jiwa raganya. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Saat Bian menyadari perasaannya, semuanya sudah terlambat. Kini, Bian hanya bisa menyesali dan menangisi kepergian Alea.
Bian tiba-tiba berteriak dan kembali menangis tersedu-sedu, saat bayangan Alea berteriak dan menjerit ketakutan kembali terlintas. Kejadian pagi itu, saat dirinya memukuli Alea dengan membabi-buta, kini telah menjadi mimpi buruk di setiap malam-malam Bian.
'Alea ....'
'Sayang, aku mohon, kembalilah padaku. Aku merindukanmu ....'
.
.
Penyesalan memang selalu datang belakangan, kalau datang di awal, namanya pendaftaran 😀ðŸ¤
__ADS_1
Yang suka ceritanya, ikutin terus kelanjutannya ya, dan jangan lupa dukung authornya dengan cara like, koment, dan Votenya ya, biar authornya tambah semangat.
I love u semuanya 😘😘😘