MATI RASA

MATI RASA
Part 52 Di usir Bian


__ADS_3

"Segera angkat kaki dari rumah ini, atau, aku sendiri yang akan menendang mu keluar dengan kakiku!"


Amara menatap Bian dengan tatapan tak percaya. Pria itu menatapnya dengan penuh amarah. Terlihat banyak kebencian di matanya. Selama mengenal Bian, baru kali ini Bian memarahinya. Biasanya, apapun kesalahan yang ia lakukan, Bian pasti akan memaafkannya. Tapi kini ....


Ia sadar, kesalahannya kali ini memang tidak bisa di maafkan, tapi ia berharap, semoga saja Bian luluh dan mau memaafkannya.


"Bian, kau tidak bisa mengusirku begitu saja, aku ini masih istrimu." Amara dengan air mata yang tak berhenti mengalir, memohon pada Bian.


"Setelah apa yang kau lakukan padaku, berani-beraninya kau menyebut kau adalah, istriku?" Bian menatap tajam Amara. Tidak ada rasa kasihan, simpatik, atau apapun, seperti yang biasanya ia rasakan saat melihat perempuan di depannya itu menangis.


Ia bahkan tak peduli, meski perempuan hamil itu berlutut dan menangis di kakinya.


"Bian, aku ... kemana aku harus pergi, Bian? Aku tidak punya tempat tinggal di sini," ucap Amara memelas.


"Aku tidak peduli kau akan tinggal di mana, bahkan di kolong jembatan pun, aku tidak peduli!" Bian berteriak penuh penekanan.


"Bi--Bian ...." Amara benar-benar tidak menyangka, kalau Bian akan tega berkata seperti itu padanya. Pria yang biasanya bersikap lembut padanya dan juga sangat mencintainya itu, ternyata mampu mengucapkan kata-kata yang begitu menyakitkan.


"Bian, apa kau benar-benar sangat membenciku? Apa benar, kau sudah tidak mencintaiku, Bian?" Amara kembali menangis. Entah mengapa hatinya merasa sakit dan tidak bisa menerima, saat mendengar semua ucapan Bian.


Amara memang mencintai Bian, selama ini, pria itu juga selalu mencintai dirinya. Tapi Amara juga menyukai kebebasan. Maka dari itu, ia selalu mencari kepuasan di tempat lain, tanpa sepengetahuan Bian. Tapi, semenjak ia menikah dengan Bian, Amara sedikit demi sedikit meninggalkan dunianya. Ia hanya akan mencari kesenangan, saat ia bosan. Dan setelah menikah dengan Bian, hanya Andre lah, laki-laki yang selalu memuaskannya selain Bian.


Karena Amara juga sangat menyukai Andre, laki-laki itu, selain tampan, ia juga kaya, dan yang jelas, dia bisa memuaskan hasratnya, sama seperti Bian.


"Cintaku sudah habis, karena pengkhianatanmu, jadi, sebaiknya kau tidak usah bertanya, apa aku masih mencintaimu, atau tidak. Karena kau sendiri lah, yang sudah menghancurkan rasa cintaku padamu." Bian menatap tajam perempuan hamil di depannya itu, melihat perutnya yang sudah mulai membesar, membuat hati Bian terasa sakit, karena teringat kembali, kalau janin itu bukan hanya berasal dari benihnya, tapi juga berasal dari benih orang lain.


"Sialan! Dasar perempuan brengsek! Berani-beraninya dia menipuku selama ini," rutuk Bian dalam hati. Ia sangat menyesali kebodohannya, yang dengan mudah mempercayai setiap kata-kata perempuan itu. Padahal, selama ini Alea selalu mengingatkannya. Tapi sayang, Bian tidak pernah mempercayai ucapan Alea.


Mengingat Alea, hati Bian kembali teriris. Bian memejamkan matanya, saat rasa sesak tiba-tiba memenuhi rongga dadanya.

__ADS_1


'Di mana kamu berada saat ini, Alea sayang?'


"Bian, kalau kau mengusirku, bagaimana nasib anakku nanti? Aku tidak ingin anakku lahir tanpa Ayah." Amara masih mencoba membujuk Bian.


"Ayah? Kau sendiri ragu, siapa Ayah dari bayimu, kenapa aku harus mengakuinya sebagai anakku?" Kata-kata Bian seperti sebuah silet yang mengiris kulitnya, Amara menatap tak percaya pada Bian.


"Bian, kau ...." Amara benar-benar kehilangan kata-kata.


"Pergilah! Karena setelah kau pergi, aku pun akan pergi meninggalkan rumah ini. Karena rumah ini bukan milikku lagi."


"Bian, kenapa kau harus pergi dari rumah ini? Rumah ini adalah milikmu, kau sendiri yang bilang padaku."


"Aku lupa mengatakan padamu, kalau rumah ini akan menjadi milikku, setelah aku dan Alea menikah selama tiga tahun, begitupun dengan perusahaan," ucap Bian.


"Pergilah!"


"Terserah! Kalau kau memang tidak mau pergi, biar aku yang pergi dari sini." Bian meninggalkan Amara, ia masuk ke dalam rumah sambil menutup pintu dengan keras. Sementara, Amara terpaku di depan pintu, hampir saja tangannya terjepit oleh pintu, untungnya, ia masih sempat menghindar.


Amara mengepalkan tangannya, menahan amarah yang siap meledak. Ia pikir, Bian akan luluh seperti biasanya, tapi ternyata tidak. Kali ini Bian benar-benar marah padanya.


Amara memunguti barang-barang yang di lempar oleh Bian. Ia mengusap perutnya yang terasa sedikit melilit.


"Bagaimana caranya aku membawa semua barang-barang ini?" Amara memperhatikan semua barang-barang yang sudah rapi di dalam koper, dan juga beberapa dus besar. Semua barang-barang itu memang miliknya.


"Biar saya bantu Non," ucap Mang Ujang sambil tersenyum.


Tadinya, Mang Ujang ingin membiarkan saja perempuan sombong itu membawa barang-barangnya yang begitu banyak. Tapi saat Mang Ujang melihat Amara mengelus perutnya yang besar, ia menjadi tak tega.


"Tentu saja kamu harus bantuin, kan, kamu memang pembantu di rumah ini."

__ADS_1


Senyum Mang Ujang sirna seketika setelah mendengar ucapan Amara.


'Dasar Mak lampir!'


Mang Ujang dengan kesal, menarik dua koper besar milik Amara, ia meletakkannya di depan pintu gerbang. Kemudian, ia kembali membawa beberapa dus yang juga sama besarnya dan meletakkannya di dekat koper, sementara Amara hanya memperhatikan dari depan pintu gerbang, tanpa berniat membantunya. Setelah semua barang Amara di keluarkan, Mang Ujang langsung menutup pintu gerbang dengan cepat tanpa berkata sepatah katapun. Ia juga tidak mempedulikan teriakan kekesalan Amara yang merasa tidak terima dengan perlakuan Mang Ujang yang menutup pintu gerbang begitu saja.


"Dasar pembantu sialan! Brengsek!" Amara memaki sekuat tenaga.


"Sial!"


Saat Amara kembali ingin memaki Mang Ujang, tiba-tiba taksi online yang di pesannya sudah datang.


Amara menatap rumah besar yang sudah setahun ini ia tinggali. Impiannya untuk memiliki rumah mewah itu, gagal sudah. Padahal, ia sudah menyingkirkan orang yang menjadi penghalangnya. Namun, siapa sangka, ternyata keadaan malah berbalik menyerangnya.


'Ini semua gara-gara Alea, awas saja kalau sampai aku menemukanmu, aku pasti akan membuat perhitungan denganmu!'


Amara mengepalkan kedua tangannya, nafasnya naik turun tak beraturan, karena emosi.


'Bian ... aku pasti akan kembali mendapatkan kamu, karena aku sangat mencintaimu. Dari sekian banyak pria yang pernah berada di sisiku, hanya kaulah satu-satunya pria yang aku simpan di hatiku.'


"Ayo Neng, barangnya sudah masuk semua ke dalam mobil." Suara sang sopir taksi, membuyarkan lamunan Amara.


Di dalam mobil, Amara langsung menghubungi Andre. Malam ini, ia akan menginap di apartemen Andre, hanya pria itu harapan satu-satunya sekarang.


.


.


Yang suka ceritanya, jangan lupa like, koment, dan Votenya ya 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2