
“Alea, Sayang, buka pintunya. Aku mohon ….” Kenzo masih belum menyerah. Pria itu masih tetap keras kepala menunggu Alea sampai membuka pintu kamarnya.
Namun, sudah beberapa jam berlalu, Alea tak juga kunjung keluar. Sudah beberapa jam Kenzo masih bersandar di depan pintu kamar Alea, tetapi Alea belum juga mau membuka pintu. Perempuan itu belum juga keluar dari kamarnya. Waktu sudah menunjukan tengah malam, Kenzo masih bertahan di depan pintu kamar Alea. Anita dan Rajasa berusaha membujuk Kenzo agar pria itu mau beristirahat di kamar tamu, tetapi Kenzo menolak. Pria itu tetap ingin berada di depan pintu kamar Alea, dia berharap, Alea segera keluar dari kamarnya.
“Ken, sebaiknya kau beristirahat dulu, ini sudah tengah malam.” Anita kembali membujuk Kenzo.
“Aku mau ketemu Alea, Ma. Aku ingin bicara dengannya. Dia harus mendengarkan penjelasanku, Ma, aku benar-benar tidak ada hubungan apa-apa dengan Bella. Perempuan itu menjebakku." Kenzo terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk.
“Mama tau, Ken, tapi saat ini Alea tidak mau bicara denganmu. Beri Alea waktu untuk menenangkan hatinya dulu." Anita menatap Kenzo dengan iba.
"Tapi, Ma ...."
"Jangan membantah. Kau tidak mau Alea semakin marah padamu, kan?" Kenzo mengangguk lemah, kemudian bangkit dari duduknya. Kenzo melangkahkan kakinya menuju ke kamar tamu sesuai perintah Anita.
Sementara di dalam kamar, Alea masih menangis sesenggukan. Alea dengan jelas mendengar suara Kenzo di balik pintu, tetapi dia sengaja tidak keluar kamar. Alea tidak ingin menemui Kenzo. Bayangan pria itu sedang bermain dengan Bella di atas ranjang membuat ia menepuk- nepuk dadanya yang terasa sesak. Rasa nyeri menyebar ke seluruh ruang hatinya, sakit sekali rasanya.
Alea memejamkan matanya, merasakan sakit yang terasa menusuk-nusuk jantungnya.
'Kenapa? Kenapa aku harus kembali merasakan sakit seperti ini?'
Alea kembali meneteskan air matanya sambil menggeleng pelan.
'Kenapa aku harus merasakan kesakitan yang sama seperti yang aku rasakan dahulu?'
Alea meremas sprei, ia tertidur meringkuk seperti bayi. Tubuhnya berguncang, karena dia tak berhenti menangis.
'Ken … kenapa kau tega melakukan ini padaku?' Bukankah kau selalu bilang, kalau kau sangat mencintaiku?'
Alea menangis sampai kelelahan dengan posisi meringkuk di atas ranjang.
*****
Bella melotot tajam ke arah beberapa pria yang kini menghadangnya.
"Siapa kalian?"
"Kau tidak perlu tahu siapa kami. Cepat serahkan bukti rekaman video itu pada kami!" seru seorang pria berwajah garang yang saat ini berada di depan Bella.
__ADS_1
"Rekaman video?" Bella mengernyit heran. Namun, detik berikutnya ia mengingat kejadian satu jam yang lalu.
"Apa Kenzo yang menyuruh kalian?" Bella menahan senyum sambil menatap beberapa pria berwajah sangar di depannya. Tatapan matanya terlihat mengejek dan meremehkan orang-orang di depannya.
"Kau tidak perlu tahu siapa kami, yang jelas, cepat serahkan video itu pada kami!" Pria di sebelahnya terlihat kesal melihat Bella yang terkesan meremehkannya.
"Kalian pikir, aku takut pada kalian?" Bella mencibir, membuat beberapa pria di depannya itu mengepalkan tinjunya.
"Kami tidak sedang bermain-main, Nona. Sebaiknya kau menurut, kalau tidak, kau akan menyesal!" Pria berwajah sangar itu memperingatkan Bella. Namun, bukannya takut, Bella malah tertawa.
"Aku bilang, aku tidak takut sama kalian. Apa kalian tuli?"
"Sial!" Kedua pria di depan Bella mengumpat kesal.
"Kami sudah memperingatkanmu, Nona. Jadi, jangan salahkan kami kalau kami akan berbuat kasar padamu." Seseorang di antara mereka sudah menodongkan senjata ke arah Bella. Namun, perempuan itu hanya tersenyum tipis.
"Kalau kalian berani macam-macam padaku, jangan harap kalian bisa mendapatkan rekaman video itu. Bilang sama bos kalian, kalau dia berani macam-macam padaku, video itu pasti akan langsung tersebar di internet saat itu juga," ancam Bella, membuat pria di depannya itu langsung menampar wajah cantiknya karena kesal.
"Brengsek!" umpat pria itu.
Bella meringis kesakitan saat tangan besar itu menampar wajahnya.
"Jangankan menampar, aku bisa saja membunuhmu sekarang juga." Pria itu menekankan senjatanya pada perut Bella.
"Brengsek!" Bella menatap pria itu dengan marah.
"Kau pikir aku takut? Jika kau berani menyentuhku lagi, aku tidak akan segan-segan …."
Plakk!
Seseorang di antara mereka kembali menampar Bella, kemudian membekap mulut Bella. Beberapa detik kemudian, perempuan itu tidak sadarkan diri.
"Bawa dia ke rumah utama." Seorang dari mereka memberikan perintah.
Mereka kemudian bergegas meninggalkan tempat itu. Malam itu mereka membawa Bella ke rumah utama. Rumah yang ditinggali keluarga Chandra Adiguna.
*****
__ADS_1
Bagas meremas telepon genggamnya. Amarahnya memuncak saat mendengar kabar dari anak buahnya yang membawa Bella.
'Sialan! Harusnya dari awal aku habisi perempuan itu. Aku tidak menyangka kalau dia begitu licik!'
Bagas bergegas pergi ke rumah keluarga Candra. Ia sengaja meninggalkan Kenzo di rumah Alea. Bagas tahu bagaimana perasaan Kenzo sekarang. Jadi ia membiarkan pria itu menginap di rumah Alea. Biar saja, kedua orang tua Alea yang mengurusnya.
Kenzo dan Bagas memang sudah memberitahukan tentang Bella pada keluarganya. Awalnya Mama Kenzo tidak percaya kalau perempuan itu begitu jahat. Apalagi, saat mengingat kalau Bella adalah anak dari sahabatnya. Namun, setelah Rania melihat semua bukti kejahatan Bella, akhirnya dia percaya kalau ternyata Bella dan keluarganya tidaklah sebaik yang dia kira.
****
"Ternyata, setelah Marsha pergi, ada lagi perempuan yang bahkan lebih jahat dari Marsha, ya, Pa. Kasihan Kenzo dan Alea," ucap Rania sambil menatap suaminya.
"Iya, Ma. Banyak banget ujian yang harus mereka hadapi."
"Semoga Kenzo berhasil membujuk Alea, Pa. Bagaimanapun, Mama tetap ingin Alea yang menjadi menantu Mama. Mama sudah menyukai Alea dari pertama kali Mama bertemu dengan perempuan itu." Rania menatap Chandra kemudian memeluk suaminya itu.
"Papa juga, Ma. Alea satu-satunya perempuan yang cocok mendampingi Kenzo. Papa tidak akan membiarkan hubungan Kenzo dan Alea berakhir begitu saja." Chandra melepaskan pelukan istrinya.
"Kita harus melakukan sesuatu agar mereka tetap bersatu, kita bantu Kenzo untuk meyakinkan Alea, dan menjelaskan padanya kalau Kenzo tidak bersalah," ucap Chandra.
"Papa benar, besok kita ke rumah Alea. Tapi sebelum itu, kita urus dulu si Bella dan keluarganya. Mama benar-benar sudah tidak tahan dengan tingkah laku mereka."
"Sebentar lagi, Bagas dalam perjalanan menuju ke sini membawa Bella. Kita harus segera mendapatkan video rekaman itu sebelum semuanya terlambat, Ma."
Rania mengangguk mendengar ucapan suaminya. Tangannya terkepal erat. Rasanya Rania sudah tidak tahan untuk memberikan pelajaran pada Bella dan keluarganya.
"Perempuan licik itu harus membayar apa yang sudah dilakukannya pada Kenzo."
Candra mengangguk kemudian kembali memeluk Rania. Mencoba meredam kemarahan yang saat ini sudah mulai menguasai Rania.
"Kita harus sabar. Kita tidak boleh gegabah, karena perempuan itu bisa saja nekad."
"Kalau itu sampai terjadi, Kenzo bukan saja kehilangan Alea, tapi juga akan kehilangan reputasinya di dunia bisnis. Belum lagi dokumen yang Bella curi ternyata juga ada beberapa dokumen yang asli, dan ini sangat membahayakan bagi Kenzo." lanjut Rajasa.
"Semuanya salah Mama, Mama yang membawa Bella masuk ke dalam keluarga kita."
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya, kakak-kakak 🙏🙏🙏