MATI RASA

MATI RASA
Part 95 Bian Aditama


__ADS_3

"Kenapa orang-orang Bian Aditama pun ada di sini?"


"Bian Aditama? Siapa dia?" Marsha menatap Reyhan.


Reyhan segera meraih ponselnya, mencari video yang ia rekam saat di dalam pusat perbelanjaan beberapa saat yang lalu. Reyhan memperbesar gambar di video itu. Memperbesar gambar pria yang sedang memeluk Alea dari belakang.


"Sial! Bagaimana bisa aku tidak mengenali Bos ku sendiri?"


"Apa maksudmu?" Marsha masih penasaran dengan sikap Reyhan. Sementara Reyhan tidak mempedulikan ucapan Marsha sama sekali. Reyhan mencari nomer telepon Lisa, tak menunggu lama, adik kesayangannya itu langsung mengangkat panggilan teleponnya.


"Lisa! Siapa nama pria yang kau sukai?"


"Ada apa? Kau meneleponku hanya untuk menanyakan ini?"


"Jawab Lisa! Siapa pria yang kau sukai? Kenapa kau Ingin menyingkirkan perempuan itu?" Reyhan berbicara dengan tak sabar.


"Dia mantan bos aku, Bang, Bian Aditama."


"Apa?" seru Reyhan kaget.


"Kenapa, Bang?"


"Sial! Kenapa kau tak mengatakannya dari awal? Kenapa juga kau tak pernah cerita kalau kau bekerja di tempat Bian Aditama?"


"Brengsek!" umpat Reyhan kesal.


"Kenapa Bang? Ada apa sebenar ---" Belum selesai Lisa berbicara, Reyhan langsung memutuskan sambungan teleponnya.


"Sial!" Reyhan meremas rambutnya sendiri.


"Ada apa Rey? Kenapa kau tiba-tiba panik setelah melihat kedatangan mereka? Memangnya siapa mereka?" Marsha menatap Reyhan dengan tajam.


"Mereka adalah teman-temanku, Marsha."


"Teman-temanmu? Bukannya itu malah bagus? Kau bisa meminta bantuan mereka untuk menyingkirkan perempuan itu," ucap Marsha dengan kedua mata berbinar.


"Kau benar, kita bisa meminta bantuan pada mereka, tapi sebelum mereka membantu kita, sudah dapat dipastikan besok pagi kita berdua hanya tinggal nama."


"Apa? A--Apa maksudmu?" Marsha menelan saliva saat mendengar ucapan Reyhan.


"Mereka itu adalah orang-orang suruhan Bian Aditama yang di kirim khusus untuk melindungi Alea."


"Apa?" Marsha kembali terkejut. Tidak menyangka, kalau ternyata perempuan yang ingin ia singkirkan bukanlah orang sembarangan.


"Lantas siapa itu Bian Aditama? Kenapa dia harus melindungi perempuan itu? Bukankah kau tadi mengatakan, kalau dia itu adalah bos mu?"

__ADS_1


"Iya, dia adalah bosku. Justru karena dia adalah bos aku, makanya aku panik sekarang. Kalau dia sampai tahu aku bermaksud menyingkirkan orang yang akan dia lindungi, habislah aku!" Reyhan mengusap wajahnya kasar.


'Kenapa aku bisa bertindak ceroboh seperti ini? Hanya karena perempuan ini, aku sampai melupakan semuanya. Aku lupa menyelidiki target yang akan aku singkirkan.'


"Rey ...."


"Marsha, sebaiknya kau urungkan niatmu untuk menyingkirkan perempuan itu. Perempuan itu bukanlah tandinganmu," Reyhan menatap Marsha dengan serius. Reyhan mencoba memperingatkan Marsha agar dia tahu siapa perempuan yang akan dihadapinya.


"Apa kau takut?" Marsha mendengus kesal.


"Apa kau lupa, kalau aku sudah membayarmu diawal?" kesal Marsha dengan wajah tak suka.


"Aku akan mengembalikan uang yang sudah kau berikan padaku."


"Uang? Mungkin kau bisa mengembalikan uangku. Tapi bagaimana dengan tubuhku? Aku sudah mengikuti keinginanmu, dan kau sudah menikmati tubuhku bahkan beberapa kali sebagai bayaran awal. Memangnya kau bisa mengembalikan itu padaku?" Marsha menatap Reyhan dengan geram. Tak menyangka, kalau pria itu ternyata mau mengingkari janjinya.


"Kalau soal itu, bukankah kamu juga sama-sama menikmatinya? Aku memang memintamu melayaniku, tapi bukankah kau juga menikmatinya? kamu jangan munafik, Marsha. karena aku tahu, kalau sebenarnya kau pun menginginkannya, bukan hanya aku!" Reyhan membalas tatapan Marsha dengan sedikit kesal.


"Kalau bukan karena kau yang memaksaku, aku juga pasti tidak akan melakukannya denganmu!"


"Terserah kau saja, yang jelas aku tidak akan melakukan apapun yang kau inginkan saat ini. Karena aku tidak mau mengambil resiko. Aku tidak mau mati sia-sia, Marsha.


"Kau sungguh pengecut Reyhan!"Marsha menatap tajam ke arah Reyhan dengan penuh amarah. Sementara Reyhan langsung menatapnya dengan garang.


"Marsha, aku bukan pengecut! Aku mundur karena aku tidak mungkin mencelakai orang yang harus aku lindungi!"


Saat Reyhan ingin menjawab Marsha, ponselnya berdering. Terlihat nama orang suruhan Reyhan yang menelepon.


"Reyhan! Lo mau mati, ya? Lo ngasih tugas ke gue buat ngawasin mantan istri si bos? Apa lo tahu, si bos bahkan menyuruh kita semua untuk melindungi mantan istrinya itu, dan lo malah ingin mencelakainya? Lo bener-bener brengsek! Gue belum mau mati gara-gara lo!" Suara di seberang sana terdengar penuh amarah.


"Jadi perempuan itu adalah mantan istri si bos?"


"Iya! Si bos menyuruh kita mengawasi dan melindunginya setelah kemarin ada seseorang yang mengancam akan mencelakai mantan istri bos."


"Mengancam? Hanya orang bodoh dan cari mati yang begitu percaya diri mengancam si bos. Berani sekali dia."


"Lo bener. Hanya orang idiot dan mencari mati karena dia sudah berani mengancam bos kita, dan sayangnya, orang idiot itu adalah adik lo sendiri!" teriak pria di ujung sana membuat Reyhan terkejut.


"Apa lo bilang? Adik gue?"


"Iya! Adik kesayangan lo, si Lisa! Dia dengan begitu bodohnya mengancam si bos ingin mencelakai Nona Alea. Memangnya adik lo pikir dirinya siapa? Sok berani mau melawan Alea Karenina Rajasa? Dasar idiot! Lo sama adik lo, sama-sama tolol!"


Reyhan menggenggam ponselnya dengan gemetar saat mendengar ucapan temannya itu di ujung telepon.


"Dasar brengsek! Gara-gara lo, gue hampir saja celaka! Cepat lo kembali ke markas sebelum si bos tahu kelakuan lo!" Pria di ujung sana masih mengumpat.

__ADS_1


"Sialan!" maki pria itu, sebelum akhirnya panggilan teleponnya ia tutup.


Reyhan menurunkan ponselnya dari telinga. Ia sungguh tidak menyangka, kalau dirinya akan berurusan dengan masalah seperti ini.


"Sialan!" Reyhan memukul setir mobilnya, meluapkan semua amarahnya. Deru nafasnya memburu.


'Kenapa kau bertindak sangat bodoh Lisa?'


'Sekarang, bagaimana caranya aku menolongmu?'


"Reyhan ...."


"Kita pulang! Aku tidak akan mengikuti perintahmu kali ini."


"Rey!" Marsha mencoba mencegah Reyhan yang akan menjalankan mobilnya.


"Marsha! Kalau kau memang ingin mencelakai perempuan itu, silakan saja. Tapi sebelumnya, kau harus berhadapan dulu denganku." Reyhan menatap tajam ke arah Marsha.


"Apa maksudmu? Apa kau ingin mengkhianatiku? Ingat Reyhan, aku sudah membayarmu. Kau tidak bisa membatalkannya begitu saja!" Marsha masih bersikeras sambil memegangi lengan Reyhan.


"Aku akan menstranfer semua uang yang kau berikan padaku--"


"Aku tidak butuh uang! Aku hanya ingin kau membantuku menyingkirkan perempuan sialan itu!" potong Marsha dengan berapi-api.


"Sudah aku bilang, aku membatalkan perjanjian kita, aku tidak akan melakukan yang kau inginkan!"


"Dasar pengecut! Aku tidak menyangka kalau Reyhan yang kukenal selama ini ternyata hanya seorang pengecut! Dasar pecundang!" Marsha berteriak marah, kedua matanya melotot ke arah Reyhan. Sementara Reyhan mengeraskan rahangnya, kedua tangannya yang terkepal langsung meraih rahang Marsha.


Dengan amarah yang memuncak Reyhan menekan keras rahang perempuan cantik di depannya itu.


"Aku bukan pengecut, Marsha! Aku bukan pengecut! Aku hanya tidak ingin mati konyol karena berani melawan orang yang selama ini membayarku!"


"Kalau kau tetap keras kepala ingin menyingkirkan perempuan itu, silakan saja. Tapi aku tidak akan membantumu, dan kau harus ingat, kau akan berhadapan denganku, kalau kau berani menyentuh perempuan itu!" Reyhan melepaskan rahang Marsha dengan keras, sementara kedua mata Marsha berkaca-kaca karena rasa sakit yang menjalar di rahangnya.


'Sialan! Kenapa pria ini justru berbalik melawanku? Brengsek!'


Marsha mengepalkan kedua tangannya menatap penuh kemarahan pada pria tampan yang beberapa jam yang lalu memuaskan hasratnya.


"Sial!" umpat Reyhan saat melihat kedua mata Marsha yang terlihat mengeluarkan air mata.


Sementara itu tidak jauh dari tempat mereka berdua, beberapa orang berbaju hitam sedang mengawasi mobil Reyhan.


"Awasi mereka terus, jangan beri ampun! Jangan sampai mereka berhasil mendekati apalagi sampai mencelakai Nona Alea." Salah satu dari pengawal pribadi Rajasa memberikan perintah.


.

__ADS_1


Yang suka ceritanya, jangan lupa like, koment dan Votenya ya kakak² 🙏🙏🙏


__ADS_2