MATI RASA

MATI RASA
Part 69 Lisa


__ADS_3

Bian memandangi sosok mungil yang saat ini sedang belajar berjalan sambil tertatih. Sesekali tubuh mungilnya terjatuh, tapi kemudian tanpa lelah, dia kembali terbangun dengan tawa renyah mengembang di bibirnya, membuat sosok mungil itu terlihat begitu menggemaskan.


Bian menyunggingkan


senyumnya, saat balita berusia satu tahun itu berjalan tertatih-tatih ke arahnya. Bian merentangkan tangannya, kemudian memeluk bocah kecil itu kemudian menggendongnya.


"Halo anak Papa, kamu nggak nakal hari ini kan?" Bian menciumi pipi tembem Devan, bayi laki-laki yang dilahirkan Amara satu tahun yang lalu. Bayi laki-laki yang ternyata bukanlah darah dagingnya, melainkan darah daging Andre, selingkuhannya Amara.


Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Sudah kehilangan Alea, dikhianati Amara, dan kini, ia malah harus merawat anak hasil hubungan gelap Amara dan selingkuhannya.


Awalnya Bian sangat marah saat mendapati kenyataan kalau Amara sudah mengkhianatinya terlalu dalam, apalagi Amara sampai hamil anak orang lain, padahal status Amara adalah istrinya. Namun, apa mau di kata, sudah takdir. Mungkin ini adalah karma buatnya.


Selama beberapa bulan, Bian bahkan sempat tak sudi melihat bayi mungil itu. Tapi perlahan-lahan, Bian takluk. Melihat Devan yang semakin hari terlihat lucu dan menggemaskan, membuat Bian lupa untuk membenci anak ini. Bian menghilangkan keegoisannya untuk membenci anak itu dan akhirnya belajar menyayanginya dengan tulus.


Bagaimanapun, anak ini tidak bersalah. Jadi, tak adil rasanya kalau dia yang harus menanggung semua kesalahan yang diperbuat oleh orang tuanya.


Tak jauh berbeda dengan Bian, kedua orang tua Bian pun sangat kecewa saat mereka melihat hasil tes DNA yang mengatakan kalau Devan bukanlah anak dari Bian.


Meskipun mereka sudah menduga dari awal, kalau bayi itu bukanlah darah daging Bian, tapi tetap saja mereka merasa kecewa. Apalagi, mereka sudah merawat bayi laki-laki itu dan langsung jatuh cinta padanya. Tapi akhirnya, kedua orang paruh baya itu pun dengan senang hati menerima Devan sebagai cucunya. Membuang semua keegoisan mereka untuk menyalahkan anak kecil yang tak berdosa itu.


"Pa--pa!" Devan tertawa geli saat Bian menciumi wajahnya.


Devan merangkul leher Bian dan memeluk pria itu dengan erat.


"Papa mandi dulu ya, jagoan Papa main dulu sama Oma Laras," ucap Bian sambil mengusap rambut Devan, kemudian kembali mencium pipinya dengan gemas, membuat bayi tampan itu kembali tertawa.


Bian memberikan Devan pada perawat yang dulu ia sewa untuk merawat Devan semenjak bayi. Bian sengaja tetap memperkerjakan perawat itu, karena ia sudah merasa cocok dengan cara kerjanya. Bian bahkan membayar mahal agar si perawat tetap mau bekerja untuknya.


"Mama." Bian mendekati mamanya, setelah mencium punggung tangan Laras, Bian memeluk perempuan itu. Laras tersenyum pada Bian.


"Mandi dulu, Mama tunggu di meja makan," Laras mengelus punggung Bian, kemudian melepaskan pelukannya.


Bian mengangguk, dan segera naik ke atas menuju kamarnya. Ia ingin segera membersihkan tubuhnya yang terasa lengket setelah bekerja seharian.


Bian membaringkan tubuhnya, ia baru saja selesai mandi. Wajahnya terlihat lelah, meski ia baru saja selesai mandi. Pandangan Bian tertuju pada foto pernikahannya dengan Alea yang terpajang di dinding kamarnya.


'Sudah setahun lebih, tapi aku belum juga bisa menemukanmu Al, pria brengsek itu benar-benar menutup semua akses tentang dirimu, sehingga aku dan juga orang-orang suruhanku tak bisa menemukanmu.' Bian menatap wajah cantik Alea dalam foto itu.


"Apa kau sekarang baik-baik saja, Al?" batin Bian.


Bian ingat, saat kondisinya sangat terpuruk setahun lalu, Laras mamanya, menceritakan padanya, kalau Alea pun mengalami hal yang sama seperti dirinya. Bahkan mungkin, apa yang dialami Alea jauh lebih parah dari pada Bian. Karena Alea adalah korban. Korban kekerasan yang dilakukan oleh Bian.


Bian memejamkan matanya, kondisinya saat ini jauh lebih baik daripada sebelumnya. Dalam waktu setahun ini, Bian memang rajin bertemu psikiater. Dukungan dari kedua orang tuanya dan seluruh keluarganya, membuat Bian bersemangat untuk sembuh. Keinginannya untuk kembali bertemu Alea lah, yang membuatnya terus bersemangat untuk memperbaiki dirinya.


'Alea, aku benar-benar merindukanmu sayang ....'


Bian kembali memejamkan matanya, tetesan air bening sudah mengalir di kedua pipinya.

__ADS_1


Selalu begitu, setiap kali dirinya mengingat Alea, pasti Bian selalu mengeluarkan air matanya. Menangis, karena penyesalan tidak berujung.


Suara ketukan pintu dari luar kamar, membuat Bian terbangun, kemudian langsung mengusap air matanya.


Bian melangkah menuju pintu dan membukanya. Terlihat wajah cantik sang perawat sudah berdiri dihadapannya. Perawat muda yang mengasuh Devan selama ini.


"Maaf Pak, Tuan dan Nyonya sudah menunggu Bapak di meja makan." Perawat bernama Lisa itu menatap Bian, kemudian menundukkan kepalanya saat Bian menatapnya.


"Sebentar lagi aku ke bawah."


"Baik Pak." Lisa kemudian pergi meninggalkan Bian yang masih menatapnya.


"Lisa!"


Sang perawat itu menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke arah Bian. Perempuan itu mendekati Bian, saat Bian memintanya untuk mendekat.


"Terima kasih. Tapi aku minta maaf, karena aku tidak bisa memenuhi permintaanmu." Bian menatap perempuan cantik di depannya ini dengan seksama.


Perempuan ini, punya andil besar membuatnya kembali normal seperti ini. Perempuan inilah yang selalu menemaninya dan menyemangatinya saat dirinya terpuruk. Perawat inilah yang terus berjuang bersama kedua orang tuanya, agar ia bisa sembuh dan kembali bersemangat menjalani hidupnya.


Lisa menatap Bian dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Bapak tidak usah khawatir, aku ngerti kok! Aku aja yang tidak tahu diri dan bermimpi terlalu tinggi, karena mengharapkan Bapak." Lisa meneteskan air matanya. Ia menatap Bian dengan senyum mengembang.


"Bapak tenang saja, aku baik-baik saja." Suara Lisa terdengar bergetar menahan tangis. Tanpa ia duga, Bian tiba-tiba memeluknya.


Lisa adalah seorang perawat cantik dari sebuah rumah sakit yang Bian sewa untuk merawat anaknya Amara. Awalnya, gadis muda itu hanya ingin merawat bayi Amara. Tapi, saat melihat ayah sang bayi yang tiap hari berteriak histeris karena depresi, membuat Lisa akhirnya memberanikan diri untuk ikut merawat Bian.


Awalnya, Lisa tidak ingin memberitahukan perasaannya pada Bian. Tapi, keadaan memaksanya untuk mengatakan semuanya pada Bian.


Lisa menangis dalam pelukan Bian. Sedangkan Bian mengehela nafas berat, saat kembali mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.


"Pak Bian, apa yang Bapak lakukan?!" Lisa berteriak saat tiba-tiba ia menemukan Bian duduk di pojokan kamarnya sambil menangis dan hampir mengiris nadinya.


"Menjauh dariku! Jangan mendekat!" Bian tak kalah berteriak.


Saat itu, keadaan Bian sedang kacau entah di sebabkan karena apa, padahal sebelumnya, Bian sudah tidak pernah mengamuk lagi. Bahkan dokter mengatakan, kalau kondisi Bian sudah membaik.


"Pak Bian, tenang, Pak. Bapak tidak boleh melakukan itu. Inget Tuan dan Nyonya!" Lisa berteriak keras. Ia mendekati Bian, tapi kemudian Bian kembali berteriak.


"Jangan mendekat!" Lisa tak mendengar ucapan Bian. Ia tetap mendekati pria itu.


"Kalau Bapak ingin mati, biar aku juga ikut mati sama Bapak!" Lisa berteriak lantang, sementara Bian langsung terkejut.


"Pak, kalau Bapak memang mencintai mantan istri Bapak, harusnya Bapak berjuang untuk mendapatkannya kembali, bukannya malah bunuh diri."


"Hidupku sudah tidak ada artinya lagi tanpa dia, jadi untuk apa aku tetap hidup?" Bian menatap Lisa dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kau tidak tahu kan, bagaimana menderitanya aku selama ini? Setiap hari, bahkan setiap malam aku di hantui mimpi buruk tentang dia. Aku tidak bisa menghapus rasa bersalahku padanya. Setiap hari aku tersiksa karena terus merindukannya!" Bian berteriak, pisau di tangannya bahkan sudah menggores permukaan kulitnya, hingga darah segar mulai menetes dari pergelangan tangannya.


"Pak Bian!" Lisa langsung panik. Kemudian langsung menerjang Bian untuk merebut pisau itu.


Bian menghindar, tapi naas, pisau tajam itu justru langsung mengoyak pergelangan tangannya dengan dalam kemudian pisau itu terjatuh di lantai.


Sementara darah segar langsung keluar dengan deras mengalir di pergelangan tangan Bian.


"Pak Bian!"


Bian menatap Lisa dengan tatapan putus asa.


"Pergilah! Biarkan aku mati. Aku sungguh-sungguh tidak ingin hidup lagi. Aku tidak ingin tersiksa lagi karena rasa cinta dan kerinduanku padanya. Karena aku tahu, dia pasti tidak akan memaafkan semua kesalahanku."


"Pak Bian!" Lisa bergerak cepat mengambil kain untuk menyumbat darah yang keluar dari tangan Bian, tapi Bian dengan tegas menolak.


"Kalau Bapak ingin mati, aku juga ingin mati bersama Bapak." Tiba-tiba Lisa mengambil pisau yang tergeletak di lantai, kemudian meletakkannya di pergelangan tangan mulusnya.


"Lisa!" Bian terkejut, melihat Lisa sudah bersiap mengiris nadinya.


"Bukankah Bapak juga ingin mati karena tidak bisa bersama orang yang Bapak cintai?" Lisa menangis menatap Bian.


"Kalau begitu, aku pun ingin mati karena tidak bisa memiliki orang yang aku cintai!"


"Lisa, apa maksudmu? Turunkan pisau itu!" Bian berteriak sambil meringis, wajahnya bahkan berubah pucat, karena darah yang mengalir begitu banyak.


"Bukankah Bapak ingin mati?"


"Itu tidak ada hubungannya dengan kamu Lisa!"


"Tentu saja ada!" Lisa makin menekankan pisaunya.


"Karena aku mencintai Bapak! Kalau Bapak mati, buat apa aku hidup? Buat apa aku hidup kalau tidak bisa melihat Bapak lagi di dunia ini!"


"Lisa! Hentikan!"


"Aku tidak akan berhenti, sebelum Bapak mengurungkan niat Bapak!"


"Lisa!"


Bian berteriak saat tiba-tiba gadis itu nekad melakukan seperti apa yang dia lakukan.


"Lisa!"


.


.

__ADS_1


Yang suka ceritanya, jangan lupa ikutin terus kelanjutannya ya kakak² ...


Jangan lupa like, koment dan Votenya ya 🙏🙏🙏


__ADS_2