MATI RASA

MATI RASA
Part 121 Syarat


__ADS_3

Bella baru saja sadarkan diri dari pengaruh obat bius. Pandangannya berkeliling ke seluruh ruangan. Bella memegangi kepalanya yang terasa pusing. Saat kesadarannya  berangsur pulih, Bella mengumpat habis-habisan.


"Sial! Dasar brengsek!"


"Kalian pengecut!"


Bella berteriak kesal. Namun, para pria yang saat ini terlihat ada di ruangan itu, hanya menatapnya datar, tak mempedulikan teriakan Bella.


"Lepaskan aku!" Bella meronta, saat menyadari kalau ternyata tangan dan kakinya sudah terikat.


"Kalian semua benar-benar brengsek! Lepaskan aku! Lepas!" teriak Bella dengan marah. Wajahnya terlihat merah padam. Dia tidak menyangka kalau dirinya akan diperlakukan kasar oleh pria-pria itu.


"Kalian akan menyesal karena telah berani menyentuhku!" Bella kembali berteriak, tetapi semua orang yang ada di dalam kamar itu hanya terdiam dengan muka datar tak menanggapi teriakan juga makian yang keluar dari mulut Bella.


Sementara di ruangan lain, Rania dan Chandra kali ini sedang duduk bersama dua orang tamu yang sengaja mereka undang. Mereka berdua adalah kedua orang tua Bella. Rania dan Chandra mencoba bersikap tenang dan menahan segala emosi yang sudah siap meledak saat melihat dua orang licik itu duduk di depan mereka.


"Kalian benar-benar tidak tahu malu! Kalian sengaja, kan, menyuruh Bella untuk menghancurkan Kenzo?"


Rudi dan Sarah tersenyum penuh kemenangan melihat amarah Rania.


"Aku memang sengaja menyuruh Bella masuk ke dalam keluarga kalian agar dia bisa dengan mudah mendekati Kenzo," jawab Rudi tenang. Wajahnya terlihat senang dengan senyum mengembang di bibirnya.


“Kami bahkan sudah merencanakannya dari semenjak lama.”


“Apa kau bilang? Kalian sudah lama merencanakannya?” Rania menatap sahabatnya itu dengan tatapan tak percaya. 


Rania dan Sarah memang bersahabat, meski mereka sudah lama tidak bertemu, tetapi mereka masih sering berkomunikasi. Makanya saat bertemu dengan Sarah, Rania sangat senang. Dia senang karena bisa bertemu kembali dengan sahabatnya yang dulu. Rania dan Sarah memang pernah tinggal di komplek yang sama. Mereka pernah menjadi tetangga saat Kenzo dan Bella masih kecil. Hanya saja, kehidupan Rania dan Chandra dulunya belum seperti sekarang. Dulu, Chandra hanya memiliki satu perusahaan saja dan itu pun belum maju seperti sekarang ini.


“Aku bahkan sengaja mengatur pertemuan kita waktu itu,” ucap Sarah membuat Rania tercengang.


"Kalian berdua memang brengsek!" Rania berteriak geram.


"Tenang, Mbak Rania, kami hanya mengambil sebagian saja, tidak semuanya. Kalian tidak akan jatuh miskin hanya karena kami mengambil beberapa aset milik Kenzo." Sarah tersenyum cantik ke arah Rania.


"Brengsek, kau Sarah! Aku tidak akan membiarkan kalian mengambil semua aset milik Kenzo. Semua aset itu adalah hasil kerja keras Kenzo selama ini, aku tidak akan membiarkan kalian merebutnya begitu saja." Rania menatap Sarah dengan tajam. Kedua tangannya terkepal.


"Aku sangat menyesal karena telah membawa kalian masuk ke dalam keluargaku dan membiarkan Bella bekerja di tempat Kenzo." Rania menatap tajam ke arah Sarah yang tersenyum menyebalkan.


"Aku sangat berterima kasih karena kau mempercayaiku, Mbak Rania." Sarah tersenyum smirk.


"Mbak Rania mempermudah rencana Bella untuk merebut dan memiliki semua aset Kenzo."

__ADS_1


"Sialan! Aku tidak akan membiarkanmu merebut apapun milik Kenzo, Sarah. Tidak akan pernah!" Rania bermaksud mendekati perempuan itu untuk memberinya pelajaran, tetapi Chandra langsung menarik tangannya dan menggenggamnya erat. Chandra melirik ke arah istrinya, mengisyaratkan padanya agar dia tidak gegabah.


"Aku pastikan, kalian tidak akan mendapatkan apapun milik Kenzo." Chandra berucap dengan tegas.


"Apa kau yakin, Chandra?" Rudi menatap Chandra sambil tersenyum.


"Kita lihat saja nanti." Chandra melirik kedua pria yang berada di dekatnya dan memberikan isyarat pada  kedua pria itu.


Kedua pria itu kemudian pergi meninggalkan ruangan itu. Selang beberapa menit, mereka datang kembali dengan membawa Bella yang terus meronta karena kedua pria tinggi dan kekar itu memegangi kedua tangannya yang terikat.


“Lepaskan aku!” teriak Bella.


“Bella!” teriak Sarah dan Rudi bersamaan.


“Mama!”


“Kenapa kalian berada di sini?” Bella menatap kedua orang tuanya.


Sarah mendekati Bella, dengan kasar dia menarik tangan salah satu pria berbadan tinggi dan kekar itu.


"Lepaskan anakku, lepaskan ikatannya!" Sarah berteriak, sementara Rudi juga menghampiri Bella yang terikat seperti tahanan. 


"Lepaskan Bella!" Rudi menatap tajam kedua orang pria yang memegangi Bella. Namun, mereka berdua hanya diam tak menanggapi. Dua pria berbadan besar itu seperti patung yang sedang memegangi lengan Bella.


"Kalau tidak, apa?" tukas Chandra.


"Kau mau mengancamku?" Chandra menatap pria di depannya dengan marah. Namun, detik berikutnya dia langsung terdiam saat mendengar ucapan Rudi. Chandra mengepalkan tangannya erat.


“Kau bisa pilih, tetap menyandera Bella atau, rekaman video itu akan tersebar," ancam Rudi.


“Brengsek!”


Rudi tersenyum licik mendengar umpatan Chandra.


“Lepaskan Bella sekarang juga kalau tidak, dengan sekali klik rekaman video itu pasti akan langsung tersebar di internet. Kau pasti sangat tahu, apa yang akan terjadi setelah video itu terkirim bukan?”


Chandra mengepalkan kedua tangannya erat.


“Aku tidak akan melepaskanmu seandainya itu terjadi. Kau sangat tahu orang seperti apa aku ini, Rudi. Aku tidak akan pernah melepaskan musuh-musuhku!” Chandra menatap Rudi dengan tatapan tajam penuh permusuhan.


“Lepaskan perempuan itu!" perintah Chandra kemudian kembali duduk di posisi semula.

__ADS_1


Kedua pengawal itu langsung mengikuti perintah Chandra, Kemudian mereka segera membuka ikatan tangan Bella.


Bella menatap mereka berdua dengan marah.


"Kalian lihat saja nanti, aku pasti akan membalas perbuatan kalian!" ancam Bella pada kedua pria itu. Namun, kedua pria berbadan kekar itu tak menggubris ucapan Bella. Mereka hanya melirik Bella dengan muka datar.


"Bella!" Sarah mendekati Bella dan langsung memeluknya.


"Kamu tidak apa-apa kan?" Sarah menatap Bella dengan khawatir.


"Mama pikir, kamu menginap di hotel karena kamu nggak pulang semalam. Tapi ternyata kau ada di sini?" ucap Sarah.


"Mereka yang membawaku ke sini, Ma. Mereka membiusku."


"Apa?" Sarah menatap Bella dengan kaget.


"Mereka bukan hanya membiusku, tapi juga mengancamku dengan senjata api. Dasar pengecut!" umpat Bella, membuat kedua pria yang tadi membawa Bella mengepalkan kedua tangannya.


"Kau juga membius Kenzo dan mengancamnya dengan senjata api. Jadi, kenapa kau  harus marah?" Rania menatap Bella dengan kesal.


"Karena hanya dengan cara itu, aku bisa memiliki Kenzo seutuhnya, Tante."


"Kau ...."


Rania hampir saja berlari mendekati Bella. Rasanya, dia ingin sekali mencekik perempuan itu. Tetapi Chandra buru-buru menarik tangannya dan menyuruh Rania kembali duduk.


"Sabar, Ma. Belum saatnya." Rania menatap Bella dengan nafas naik turun  menahan amarah.


"Apa mau kalian sebenarnya?" Rania menatap tajam ke arah Bella dan kedua orangtuanya.


"Apa Tante benar-benar ingin tahu?" Bella tersenyum mendekati Rania.


"Aku akan memberikan rekaman video itu, tapi dengan satu syarat." Rania dan Chandra saling berpandangan.


"Katakan apa syaratnya?" ucap Chandra dengan tidak sabar.   


Bella menatap Chandra sambil tersenyum manis. 


"Aku ingin menikah dengan Kenzo."


"Apa?"

__ADS_1


.


Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya Kakak² 🙏🙏🙏


__ADS_2