
Andre menatap orang-orang di depannya dengan datar. Meski tak pernah bertemu dan tak mengenal mereka, tapi Andre mengenal salah satu dari mereka, yaitu Bian. Andre mengenal pria itu dari foto yang diperlihatkan oleh Amara. Andre menatap datar ke arah orang-orang itu.
"Untuk apa kalian jauh-jauh datang kemari?"
"Apa itu anaknya Amara?" tanya Bian, tanpa menjawab pertanyaan Andre.
Andre menatap Bian.
"Di mana Amara?"
Andre menunjuk dengan dagunya, ke arah mobil ambulans di sampingnya. Bian berbalik dan segera masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, Bian melihat Amara sudah terbujur kaku dengan kain yang sudah menutupi seluruh tubuhnya. Tangan Bian bergetar, membuka kain penutup itu.
Bian menggeleng pelan, merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia memang sangat kecewa pada perempuan itu, karena telah mengkhianatinya. Bian merasa sakit hati, karena ia begitu mencintai perempuan ini. Ia kecewa karena ketulusannya di khianati oleh Amara, tapi ia tidak menyangka, kalau Amara akan meninggalkan dunia secepat ini.
Semenjak Bian mengusir Amara waktu itu, ia memang sempat bertemu beberapa kali dengan Amara. Waktu itu, Amara memintanya untuk memaafkannya dan memulai lagi dari awal, tapi Bian dengan keras menolaknya. Karena ia tidak mungkin kembali pada orang yang jelas-jelas berselingkuh dan menghancurkan kepercayaannya. Ditambah lagi, Bian mulai menyadari, kalau cintanya sudah mulai terbagi. Perlahan nama Alea sudah menyelinap di hatinya, hanya saja, Bian terlambat menyadarinya.
"Amara ...." Bian menatap perempuan yang tak lagi bernyawa itu di depannya. Tak terasa, air matanya sudah menetes di pipinya.
'Aku tidak menyangka, kalau kau akan pergi secepat ini Amara.'
'Maafkan aku ....'
Bian tak kuasa menahan tangisnya, tak berapa lama kemudian, ia keluar dari dalam mobil. Saat Bian keluar dari mobil, keluarga Alea sudah tidak ada di sana lagi. Orang tua Alea dan kakak-kakaknya sudah meninggalkan rumah sakit tanpa melihat Amara. Tujuan mereka memang bukan untuk bertemu dengan Amara, tapi untuk bertemu Alea. Saat Laras, mamanya Bian, memberitahukan tentang keadaan Alea yang berteriak di dalam telepon, Rajasa dan istrinya sangat khawatir, sehingga mereka memutuskan untuk menyusul Alea, apalagi Mama Bian mengetahui alamat persisnya.
Tapi Rajasa sudah mengatakan pada Laras dan suaminya, kalau mereka tidak boleh memberitahukan alamat Alea, atau membiarkan Bian bertemu dengan Alea. Karena akibatnya bisa fatal buat Alea nanti.
Beruntung, mama dan papa Bian setuju. Karena Laras sendiri, sudah mendengar bagaimana Alea berteriak di dalam telepon, saat ia menyebut nama Bian. Di dalam telepon saja, Alea sudah histeris, apalagi kalau bertemu dengan Bian langsung. Orang tua Bian benar-benar tidak bisa membayangkan. Oleh karena itu, mereka sengaja tidak memberitahu Bian, kalau Alea ada di sekitar sini.
Orang tua Bian sangat merasa bersalah dengan apa yang menimpa Alea karena perbuatan Bian, meski saat di telepon, Mama Bian sangat menginginkan Alea kembali pada Bian, agar Bian pulih, tapi saat ia mendengar teriakan histeris Alea, Mama Bian akhirnya mengurungkan niatnya. Ia sadar, apa yang sudah dilakukan Bian sudah sangat keterlaluan, dan apa yang dialaminya sekarang adalah hukuman yang harus Bian terima karena semua perbuatannya pada Alea.
Bian memeluk mamanya sambil menangis.
__ADS_1
"Mama ...."
Laras memeluk Bian, merasa iba dengan apa yang menimpa Bian.
"Aku memang membencinya, tapi aku tidak menyangka, kalau dia akan secepat ini pergi meninggalkan aku, Ma. Bagaimanapun, dia adalah perempuan yang sangat aku cintai, Ma ... aku menikahinya karena aku sangat mencintainya, bahkan saking cintanya, sampai aku mengorbankan perasaan Alea dan terus-menerus menyakiti Alea." Bian menangis sesunggukan. Sementara Andre menatap benci pada Bian.
"Sekarang kau menangisinya, kemarin-kemarin kamu kemana saja saat Amara memohon padamu dan terus mencarimu?" ucap Andre dengan kesal. Kedua tangannya masih menggendong bayi yang baru dilahirkan Amara. Sebenarnya, dokter melarangnya membawa bayi itu, tapi Andre tidak punya pilihan.
Bian menatap Andre dengan aura permusuhan.
"Kalau bukan karena kau yang hadir diantara kami, aku dan Amara pasti sekarang baik-baik saja. Kalau bukan karena kau, aku juga pasti tidak akan meninggalkan Amara, dasar bajingan!" Bian berteriak marah, membuat bayi mungil dalam gendongan Andre langsung menangis.
Laras yang tidak tega melihat bayi mungil itu menangis, langsung mengambil bayi itu dari gendongan Andre. Andre pun tak menolak saat Laras mengambil bayi itu dari gendongannya.
Andre kemudian mendekati Bian.
"Kaulah yang hadir diantara kami Bian. Aku sudah lama menjalin hubungan dengan Amara sebelum kau hadir. Aku yang terlebih dahulu bersamanya, sampai akhirnya kau datang!" Andre berteriak tak kalah kencang.
"Apa maksudmu?"
"Tapi sayangnya, di saat dia hamil, dia justru memilih menikah denganmu." Andre menatap Bian dengan tajam.
Sementara Bian, terlihat terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Andre.
"Kau ...."
"Kenapa? Apa kau terkejut? Amara tidaklah sebaik yang kau kira selama ini, Bian. Aku bahkan sangat yakin, kalau bayi itu adalah darah dagingku, meski tidak menutup kemungkinan, kalau benihmu pun ikut bercampur di sana. Tapi aku yakin, dia adalah anakku!" Andre menunjuk ke arah bayi dalam gendongan Laras, Mamanya Bian.
Bian tertegun, mendengar kenyataan yang sedang didengarnya sekarang. Dia benar-benar merasa ditipu mentah-mentah oleh Amara.
"Sebaiknya, kalian berdua tidak usah ribut. Sekarang, kita pikirkan jenazah Amara, dia harus segera di kebumikan. Kita tidak bisa lama-lama membiarkan jenazah Amara," peringat Laras.
"Aku akan membawanya ke Jakarta." Andre dan Bian berucap bersamaan. Kemudian, mereka saling pandang.
__ADS_1
"Amara adalah istriku, jadi aku yang akan membawanya."
"Tapi selama ini, dia tinggal bersamaku, jadi aku juga berhak membawanya." Andre tak mau kalah.
"Tapi kau hanya kekasih gelapnya, sedangkan aku adalah suami sahnya."
"Suami sah, tapi tak pernah menganggapnya sebagai istrimu!"
"Itu karena kalian berdua mengkhianatiku!"
"Bian, Andre, diam!" Ayah Bian yang sedari tadi terdiam, akhirnya berteriak kesal.
"Dalam keadaan darurat seperti ini, kenapa kalian malah bertengkar? Kalian pikir, kalian anak kecil?" bentak Papa Bian sambil menatap kedua pria itu bergantian.
Tepat setelah Papa Bian berteriak, beberapa orang berseragam polisi mendekat ke arah mereka.
"Selamat sore, saudara Andre, Anda dituduh telah melakukan pelanggaran hukum, karena telah menjual teman wanita Anda yang sedang hamil besar kepada beberapa lelaki hidung belang, hingga menyebabkan teman wanita Anda mengalami kecelakaan dan akhirnya meninggal dunia." Seorang pria berseragam polisi yang terlihat masih muda menghampiri Andre, kemudian memerintahkan beberapa temannya untuk menangkap Andre.
Andre terdiam, saking terkejut dengan kedatangan beberapa pria berseragam polisi itu. Dirinya tak berkutik, dan hanya bisa diam tak melawan saat salah satu diantara mereka, memasang borgol di tangannya. Ia tidak menyangka, kalau tiba-tiba polisi datang untuk menangkapnya.
'Apa pria-pria tua bangka itu yang telah melaporkan aku?'
'Sialan!'
Bian yang terkejut dengan pernyataan dari polisi tadi, langsung mendekati Andre.
"Jadi kau, yang telah menyebabkan Amara meninggal?" Bian menatap Andre dengan tajam, sementara Andre terdiam tak membantah ucapan Bian.
"Brengsek! Bajingan kau Andre!"
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak ² ... ikutin terus ceritanya ya 😘😘