MATI RASA

MATI RASA
Part 29 Kebohongan Amara


__ADS_3

Semenjak kejadian malam itu, Amara sekarang mulai waspada. Kalau awalnya ia begitu percaya pada Bian kalau Bian tidak akan tergoda pada perempuan itu, sekarang tidak lagi. Apa yang di lihatnya malam itu adalah bukti, bahwa Bian cepat atau lambat pasti akan menyukai perempuan itu, terlebih lagi, perempuan itu adalah istrinya, sama seperti dirinya.


"Aku harus segera menyingkirkan perempuan itu, kalau tidak, perempuan itu pasti akan sangat membahayakan posisiku." Amara berjalan mondar-mandir sambil memikirkan sesuatu.


"Ayo Amara, berpikir-berpikir ...." Amara memijit-mijit keningnya. Saat ini ia sedang berada di balkon kamarnya.


Hingga akhirnya ia tersenyum sendiri saat beberapa ide untuk mengerjai Alea terlintas di kepalanya.


Ponsel Amara berbunyi, ia dengan malas mengangkat panggilan itu.


"Ada apa?"


"Aku tunggu kau di restoran xx, sekarang."


"Kenapa harus sekarang? aku masih di kantor."


"Jangan berbohong, tadi aku ke kantormu, dan teman-teman kamu bilang kalau kamu sudah pulang."


"Kamu mau apa lagi sih Ndre? bukannya kemarin aku sudah transfer uang dengan jumlah yang kau inginkan?"


"Aku tidak sedang menginginkan uang sayang, aku menginginkan tubuhmu, sudah seminggu ini aku tak bermain denganmu." Amara menghela nafas panjang, namun seulas senyuman tersungging di bibirnya.


"Baiklah, aku akan menemuimu sekarang, aku juga sudah rindu permainanmu." Amara tertawa dengan manja.


"Cepatlah datang, aku sudah tidak sabar ingin menindihmu, dan membuatmu mendesahkan namaku." Suara di seberang sana tak kalah merayu.


"Baiklah, kau jangan kemana-mana, tunggu aku."


"Jangan lama."


Amara menutup panggilan teleponnya, kemudian ia bergegas ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.


Tak berapa lama kemudian Amara keluar menggunakan mobilnya.


"Halo sayang, aku pamit mau ke Bandung ya, pengen ketemu Mama." Amara menelepon Bian sambil mengendarai mobilnya.


"Kok mendadak sih, bukannya bilang dulu sama aku." Suara Bian di seberang telepon terdengar sedikit kesal.


"Maafin aku, tadi aku sudah pulang ke rumah, tapi orang kantor menelepon lagi, menyuruhku berangkat ke Bandung malam ini juga, jadi nanti aku sekalian mampir ke rumah Mama." Amara menjelaskan dengan detil agar orang yang sedang mendengarkannya percaya pada kebohongannya.


"Baiklah, hati-hati dengan kandunganmu, jaga dirimu baik-baik."


"Iya sayang, aku akan menjaga anak kita dengan baik." Amara tersenyum smirk, kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.


Dasar pria bodoh, mau saja aku bohongi terus menerus.


Amara tersenyum penuh kemenangan.


Selalu, dengan alasan pekerjaan Alea bisa membohongi Bian untuk keluar rumah dan menginap dengan lelaki simpanannya.


Amara memang mencintai Bian, tapi ia juga punya pria simpanan yang selalu memuaskannya saat Bian tidak bisa memuaskan hasratnya.


Amara mengelus perutnya, dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Ternyata ada untungnya juga aku mempertahankanmu, meski aku nggak tahu siapa ayahmu yang sebenarnya. Entah itu Bian, atau mungkin juga Andre, karena mereka berdua sama-sama menanam benih di rahimku." Amara tertawa sendiri.

__ADS_1


"Kira-kira nanti kamu mirip siapa ya? mirip Andre kah, atau mirip Bian kah?" Amara tertawa sambil mengelus perutnya.


"Terserah nanti kamu mirip siapa, toh mereka berdua sama-sama ganteng." Amara masih tertawa sendiri.


Kau benar-benar gila Amara.


Amara memarkirkan mobilnya di depan restoran xx tempat ia dan Bian makan kemarin.


Ia masuk ke dalam restoran dengan wajah Anggun. Wajah Amara memang cantik, di tambah make-up tebal yang ia pakai, membuat ia terlihat sangat cantik dan terlihat elegan dengan baju mahal yang ia pakai.


"Halo sayang ...." Amara duduk di depan pria tampan yang sudah sedari tadi menunggunya.


"Kau sudah pesan makanan?"


Pria tampan yang bernama Andre itu menggeleng.


"Apa kau lapar?"


"Sedikit lapar, karena aku juga belum makan." Amara menyahut sambil menyeruput minuman yang sudah di pesan sebelumnya oleh Andre.


"Baiklah, sebaiknya kita makan dulu, biar nanti malam kita lebih puas." Amara tersenyum genit.


"Aku jadi tidak sabar pengen cepet-cepet ke apartemen kamu."


Andre menggenggam tangan Amara.


"Aku kangen sama kamu Ra ...."


"Aku juga kangen sama kamu."


Sementara itu, di meja kasir, Alea langsung bersembunyi saat dirinya tiba-tiba melihat Amara berjalan masuk ke dalam restauran.


"Ada apa Al?" Lili, rekan Alea sesama kasir, bertanya pada Alea dengan heran.


"Aku tiba-tiba sakit perut Li, " Alea memegangi perutnya yang tak sakit sambil terus bersembunyi. Kemudian Alea mengambil ponselnya dan langsung menelepon Kenzo.


"Halo Ken, cepat kemari, aku mau minta tolong sama kamu."


Kenzo yang sedang memeriksa berkas-berkas, langsung menghentikan pekerjaannya, kemudian langsung bergegas menuju meja kasir.


"Mana Alea?" Lili menunjuk dengan kedua matanya.


Kenzo melongok ke bawah dan mendapati Alea yang sedang bersembunyi.


"Ada apa?"


Kenzo ikut berjongkok.


"Kau lihat perempuan yang duduk di meja nomor dua puluh?" Kenzo langsung berdiri, dan melihat meja yang ditunjuk Alea.


"Perempuan itu, perempuan yang aku lihat bersama suamimu semalam."


"Hah? Bian kemari?"


"Iya, semalam dia makan di sini tak lama setelah kau pulang. Suamimu itu bahkan menanyakanmu padaku."

__ADS_1


"Benarkah? apa dia membuat keributan?" Alea tiba-tiba merasa cemas.


"Tidak. Dia tidak membuat keributan, karena dia tidak melihatmu di sini, jadi kau tenang saja."


"Syukurlah ...." Alea menarik nafas lega.


"Ken, bisakah kau ke sana dan mencuri dengar pembicaraan mereka? aku tiba-tiba merasa nggak enak, mereka berdua kelihatannya mesra banget."


"Kau mencurigainya? maksudku, apa kau mencurigai perempuan itu ada hubungan apa-apa dengan lelaki itu?" Alea mengangguk.


"Baiklah, aku akan ke sana." Kenzo berniat bangun, karena saat ini posisinya sedang berjongkok di hadapan Alea. Namun, Alea segera menarik tangan Kenzo.


"Jangan lupa rekam pembicaraan mereka berdua, sebagai bukti, siapa tahu suatu saat nanti bisa berguna."


"Siap Bos!" Alea menyerahkan ponselnya pada Kenzo, kemudian Kenzo beranjak dan langsung mendekati meja yang di tempati Amara.


Tak lupa Kenzo memberi isyarat pada para pegawainya agar pura-pura tak mengenalnya. Kenzo juga memesan makanan dan minuman agar orang yang sekarang duduk di sebelahnya tidak mencurigainya.


Kenzo juga langsung menghidupkan ponsel Alea, kemudian meletakkannya di atas meja yang berdekatan dengan meja Amara setelah ia menyalakan perekam di ponsel itu.


"Suamimu tahu kau pergi malam ini?" terdengar suara pria.


"Tentu saja aku ijin sama Bian, kalau tidak, dia bakalan ngamuk."


"Memangnya kau ijin kemana?"


"Kemana lagi kalau bukan urusan pekerjaan. Aku selalu menggunakan alasan pekerjaan agar aku bisa menemuimu." Amara tertawa.


"Suami kamu itu benar-benar bodoh! mau saja di bohongi sama kamu." Andre ikut tertawa.


"Gimana kabar anak kita?" Andre melirik ke arah perut Amara.


"Aku tidak tahu ini anakmu atau Bian, jadi jangan terlalu percaya diri kalau ini adalah anakmu."


Ucapan Amara membuat Kenzo hampir saja tersedak. Kenzo kemudian langsung menenggak habis minumannya.


Perempuan itu benar-benar mengerikan. Bian, kau benar-benar pria bodoh, menyakiti Alea demi perempuan semacam itu?


Kenzo menghembuskan nafasnya pelan. Ia cukup terkejut dengan pengakuan perempuan tadi.


"Sayang ... ayo kita ke hotel, aku sudah tidak tahan ingin bermain denganmu." Suara Amara terdengar manja.


"Iya sayang, aku juga sudah tidak tahan ingin menikmati kamu dan bermain di atas tubuhmu."


.


.


.


.


Duh Bian! seandainya saja kau tahu kelakuan busuk wanita pujaaanmu .... (authornya tertawa jahat 🤭)


Jangan lupa like, koment, n Votenya ya kakak²...🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2