
Marsha menatap Chandra dengan kesal. Tidak menyangka kalau ancamannya ternyata tidak membuat mereka takut. Bahkan mereka bersikap santai seolah ancamannya hanya angin lalu.
"Silakan saja kau ambil dan hancurkan perusahaan kami yang ada di sana. Kami tidak takut. Tidak apa-apa kalau memang kami harus kehilangan perusahaan. Bagi kami, kebahagiaan Kenzo dan Alea lebih penting. Lebih penting dari apapun!" tekan Chandra sambil menatap perempuan muda di depannya itu.
Chandra tidak menyangka, kalau Marsha akan berbuat sejauh itu. Mengancam akan menghancurkan perusahaan? dia pikir dia siapa?
Marsha menatap Chandra tak percaya. Apa benar yang dikatakan laki-laki paruh baya itu? Dia akan melepas perusahaan demi kebahagiaan Kenzo dan Alea? Benar-benar sulit dipercaya.
"Apa Om Chandra benar-benar yakin akan melepaskan perusahaan hanya demi kebahagiaan Kenzo dan Alea?" ucap Marsha memastikan.
"Tentu saja saya sangat yakin. Saya lebih memilih kebahagiaan Kenzo dan Alea. Untuk apa punya perusahaan besar, tapi kita tidak bisa membahagiakan anak kita sendiri. Toh, kalaupun saya kehilangan perusahaan yang ada di sana, saya juga tidak akan jatuh miskin. Masih ada Kenzo yang masih bisa menghidupi saya dan istri saya." Chandra menatap ke arah istrinya juga Kenzo.
"Kau sudah dengar bukan, apa yang Papaku katakan?" Kenzo menatap Marsha dengan tajam.
"Kalian sangat sombong! Kita lihat saja, apa benar kalian akan bertahan jika perusahaan itu benar-benar hancur." Marsha meraih tasnya, kemudian pergi meninggalkan rumah Kenzo dengan perasaan kesal dan marah.
'Kalian semua pasti akan menyesal. Kita lihat saja nanti, apa kalian benar-benar akan bertahan setelah perusahaan itu hancur.' Marsha mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras karena amarah yang tertahan.
"Brengsek!" umpat Marsha kesal sambil memukul setir mobilnya.
'Sialan kau Alea! Gara-gara kau, aku tidak bisa mendapatkan Kenzo. Kita lihat saja, cepat atau lambat, aku pasti akan menyingkirkanmu.'
Marsha tersenyum smirk, kemudian meraih ponselnya.
"Aku ada kerjaan untukmu."
*******
"Pa, apa Papa benar-benar akan melepaskan perusahaan Papa yang di luar negeri?" Kenzo menatap pria paruh baya yang masih terlihat tangguh itu.
Chandra tersenyum mendengar ucapan Kenzo.
"Tidak semudah itu menghancurkan perusahaan Papa yang di sana, Ken. Kakakmu cukup kuat, dan tentu saja sangat bisa diandalkan. Keluarga Marsha tidak akan semudah itu menghancurkan perusahaan kita yang ada di sana. Kau tenang saja." Chandra menepuk bahu Kenzo.
"Lagi pula kalau pun Papa harus kehilangan perusahaan, kan masih ada kamu. Kamu pasti bisa menghidupi Mama dan Papa kan?" seloroh Chandra sambil tertawa kecil.
"Papa benar-benar menyebalkan!" Mereka berdua terkekeh. Sementara Alea dan Rania tersenyum melihat keakraban mereka berdua.
"Papa benar-benar membuatku khawatir. Bagaimanapun, perusahaan itu cukup penting buat kelangsungan hidup keluarga kita, Pa." Rania memberikan secangkir teh untuk Chandra, kemudian duduk di samping suaminya itu.
__ADS_1
"Mama jangan khawatir, Sean tidak akan membiarkan perusahaan kita yang di sana hancur begitu saja. Lagipula, keluarga Marsha tidak akan punya cukup kekuatan untuk menghancurkan Sean. Kau sangat tahu kan, kehebatan anak sulungmu itu?" Rania tersenyum mendengar ucapan Chandra.
"Papa benar, Sean pasti bisa diandalkan."
Chandra dan Kenzo mengangguk bersamaan. Kenzo menatap Alea, mengusap lembut kepala perempuan yang amat dicintainya itu.
"Ken, sepertinya sekarang kalian harus lebih berhati-hati. Melihat sikap Marsha yang begitu arogan, Papa khawatir dia akan mengganggumu dan Alea. Dia pasti punya banyak cara untuk memisahkan kalian.
"Papa benar, kemarin saja Alea hampir saja salah paham gara-gara dia, Pa."
"Kok bisa?" Rania menatap Kenzo dan Alea bergantian.
"Marsha datang ke restoran dan masuk ke ruangan aku, Ma. Terus mencoba memfitnah aku di depan Alea. Beruntung, di ruangan itu ada cctv. Jadi Alea bisa melihat jelas apa yang dilakukan oleh Marsha.
"Memangnya apa yang dilakukan Marsha padamu, Ken?" tanya Rania kepo. Sementara Kenzo tersenyum canggung.
"Marsha mencium Kenzo, Ma, dan Kenzo tak menolaknya." Alea melirik Kenzo dengan wajah kesal.
"Sayang ...." Kenzo menatap Alea.
"Kamu lihat sendiri kan, di rekaman cctv itu? Marsha yang menciumku." Alea terdiam dengan wajah kesal. Ia masih ingat dengan jelas kejadian kemarin. Walaupun benar Marsha lah yang sengaja memancing emosinya, tapi tetap saja ia kesal.
'Seenaknya saja cium-cium pacar orang.' Alea menggerutu.
"Persis kayak kamu waktu muda, Ma, cemburuan." Chandra meringis saat cubitan tangan istrinya mendarat di pinggangnya.
"Ken, kamu harus awasi terus Alea. Papa khawatir, Marsha nekad."
"Papa benar, Ken, melihat Marsha yang seperti tadi, Mama yakin gadis itu tidak akan menyerah."
"Mama dan Papa jangan khawatir, aku akan jagain calon menantu Mama ini dengan baik." Kenzo menggenggam tangan Alea.
"Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada Alea."
Rania dan Chandra mengangguk bersamaan.
"Jaga Alea dengan baik, Ken."
"Pasti, Pa."
__ADS_1
******
Marsha menatap pria di depannya dengan tatapan menggoda. Setelah beberapa tahun tidak bertemu, pria itu terlihat semakin tampan dan sangat menarik.
"Sekian tahun kamu pergi dari negara ini, tapi ternyata kamu tidak pernah berubah. Hanya saja, kau terlihat lebih cantik dan semakin licik." Pria itu memindai wajah cantik Marsha.
Perempuan ini memang terlihat semakin cantik dibandingkan saat dulu ia bertemu. Marsha adalah mantan kekasihnya semasa sekolah. Mantan kekasih yang selama ini belum bisa dilupakannya.
"Tidak usah basa-basi, kau mau tidak?"
"Tergantung imbalan yang akan kau berikan padaku." Pria itu tersenyum tipis.
"Kau meragukanku?"
"Tentu saja tidak. Aku hanya ingin tahu, apa yang akan kau tawarkan padaku seandainya aku berhasil mencelakai perempuan itu."
"Kau tenang saja Rey, aku tidak akan mengecewakanmu." Marsha membuka tasnya, kemudian mengambil uang yang sudah ia siapkan.
"Aku akan mentransfer sisanya jika kau berhasil membuatnya celaka." Marsha mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan emosi yang mulai naik ke dadanya.
"Sepertinya kau sangat membencinya."
"Bukan hanya benci, aku bahkan ingin sekali melenyapkannya!"
"Kalau begitu, kenapa tidak sekalian saja kita habisi dia?" ucap pria itu santai.
"Belum saatnya, saat ini aku hanya ingin melihatnya menderita, setelah itu, aku akan membunuhnya pelan-pelan." Marsha tersenyum smirk.
Pria itu menggelengkan kepalanya. Wajah tampannya menatap Marsha penuh minat.
"Kau benar-benar tak berubah, Marsha." Pria itu bangkit dari duduknya, kemudian mendekati Marsha dan memeluk tubuh perempuan itu dari belakang.
"Kau masih ingat, peraturan pertama saat kau ingin memakai jasaku bukan?" Pria itu berbisik tepat di telinga Marsha.
"Aku jadi penasaran, apa kau juga masih sama liarnya seperti dulu saat bermain denganku, atau ... mungkin saja saat ini kau sudah punya gaya baru."
Nada suara pria itu terdengar begitu seksi, membuat tubuh Marsha bergetar.
"Aku yakin, di sana kau pasti punya banyak partner untuk memuaskanmu bukan?" Bibir pria itu kini menempel di telinga Marsha.
__ADS_1
'Sialan! Setelah bertahun-tahun, tubuhku ternyata masih tetap bereaksi saat berdekatan dengannya!'
"Sayang, aku menginginkanmu ...."