MATI RASA

MATI RASA
Part 108 Obsesi Marsha


__ADS_3

Marsha dan Reyhan masih berada dalam tahanan anak buah Kenzo. Wajah Reyhan terlihat lebam bekas pukulan. Begitupun wajah Marsha yang terlihat membiru akibat tamparan dari anak buah Kenzo yang menangkapnya.


Reyhan menatap perempuan itu dengan tatapan tak terbaca. Antara marah dan iba. Marah, karena gara-gara perempuan itulah dirinya akhirnya terjebak di tempat ini. Namun, dalam hatinya ia merasa iba saat melihat perempuan itu terluka. Bagaimanapun, Marsha adalah orang yang terpenting dalam hidupnya. Reyhan tidak memungkiri kalau perasaan itu masih tersimpan rapi di hatinya.


"Marsha."


Marsha menoleh ke arah Reyhan.


Wajah tampan pria itu tampak membengkak dengan luka lebam di seluruh wajahnya. Kedua netra Marsha menatap tajam ke arah Reyhan. Ia kesal karena Reyhan tidak menuruti keinginannya untuk melenyapkan Alea.


"Marsha."


"Aku tidak ingin berbicara denganmu, Reyhan. Gara-gara kamu, kita terkurung di sini." Marsha menatap Reyhan dengan kesal.


"Kalau kau tidak menyuruhku untuk membuntuti Nona Alea, kita tidak akan terkurung di sini." Reyhan menjawab dengan datar.


"Nona Alea? Kau bahkan menyebutnya Nona?" Marsha mendelik kesal.


"Tentu saja. Dia adalah mantan istri Bian Aditama."


"Apa? Mantan istri? Berarti perempuan yang di sukai Kenzo itu cuma seorang janda?" Marsha menatap tak percaya pada Reyhan.


"Iya. Nona Alea adalah mantan istri Bian Aditama." jelas Reyhan.


"Bian Aditama? Memangnya siapa dia? Dari kemarin kau selalu saja menyebut namanya, seolah-olah dia adalah orang penting." Marsha menatap Reyhan dengan jengkel.


"Bian Aditama adalah Bos besar aku, dia lah yang selama ini membayarku," sahut Reyhan datar.


"Maksudmu, kau adalah anak buah Bian Aditama?" Marsha menatap Reyhan tak percaya.


"Iya, dan sekarang aku sudah berkhianat padanya karena dirimu. Kini, aku hanya tinggal menunggu waktu."


"Apa maksudmu?" Marsha menatap Reyhan penuh keingin tahuan.


"Kau pasti tahu hukuman bagi seorang pengkhianat." Reyhan menatap Marsha sambil menghela nafas.


"A--apa mereka akan membunuhmu?" Marsha bertanya dengan gugup.


"Itu bisa saja terjadi."


"Rey ...."


"Resiko pekerjaanku sangat tinggi, Marsha. Bukankah kau sangat tahu pekerjaan aku itu seperti apa? Sebenarnya apa yang aku lakukan untukmu itu hanya pekerjaan sampingan. Selama ini aku hanya bekerja sebagai bodyguard saja. Aku hanya melenyapkan orang sesuai perintahmu."


"Apa maksudmu Rey? Jangan bilang, kau tidak pernah melakukan pekerjaan itu untuk orang lain?" Marsha menatap Reyhan tak percaya.

__ADS_1


"Aku hanya melakukannya untukmu. Tidak untuk orang lain. Bahkan Bian Aditama pun tidak pernah menyuruh anak buahnya untuk membunuh, meskipun itu musuh-musuhnya sekalipun." Reyhan menatap Marsha yang terlihat terkejut.


"Jadi sebenarnya kau bukan pembunuh bayaran?"


Reyhan menggeleng pelan.


"Aku hanya melakukannya untukmu, karena aku peduli padamu."


"Apa maksudmu, Rey?"


"Marsha, aku melakukan tugas yang selalu kau berikan padaku, agar aku bisa dekat denganmu. Agar kita bisa sering bertemu. Aku bisa melakukan tugas yang kau berikan selama target yang kau incar masih berada di negara ini, karena itu aku senang setiap kali kau datang dan pulang ke sini hanya untuk menemuiku, meskipun kau datang hanya untuk menyuruhku melakukan sesuatu yang kau inginkan." Reyhan menatap Marsha dengan serius.


"Kau sangat tahu, kalau aku tidak ingin terlibat atau melakukan kejahatan apapun di negara orang, termasuk negara yang kau tinggali. Makanya, setiap kau datang, aku akan menyambutmu dengan senang hati. Aku akan melakukan apapun yang kau mau agar kau bisa tinggal lebih lama bersamaku," Reyhan dengan lancar mengungkapkan isi hatinya pada Marsha.


"Apa maksudmu, Rey? Aku tidak mengerti."


"Berhentilah mengejar Kenzo." Reyhan menatap Marsha yang terlihat terkejut.


"Aku tidak akan pernah berhenti mengejarnya. Kau sangat tahu bukan, kalau aku sudah mengejarnya bertahun-tahun?"


"Tapi kau juga tidak pernah mendapatkannya, bukan? Mau berapa lama lagi kau mengejarnya, Marsha? Pria itu tidak pernah mencintaimu, dia mencintai orang lain. Meskipun kau mengancam dan menghabisi perempuan-perempuan yang dekat dengannya, tetap saja, itu tidak akan bisa membuatnya berpaling untuk melihatmu! Karena dia tidak pernah mencintaimu, Marsha!" ucap Reyhan penuh penekanan.


Marsha menatap tajam ke arah Reyhan.


"Memangnya kenapa kalau dia tidak mencintaiku? Aku saja yang mencintainya, itu sudah cukup bagiku!" ucap Marsha bersikeras.


"Kalau aku tidak bisa memilikinya, orang lain pun tidak boleh memilikinya, Reyhan. Termasuk Nona Alea mu itu!" seru Marsha dengan lantang.


"Kau tidak bisa melawan mereka, Marsha. Kau belum tahu siapa mereka."


"Aku tidak peduli siapa mereka, Rey, yang aku inginkan hanya Kenzo! Aku hanya ingin bersamanya. Tidak boleh ada perempuan lain yang memilikinya selain aku!" Marsha menatap tajam ke arah Reyhan.


"Kau tidak tahu, bukan? Selama di negara J, aku selalu mengejarnya, bertahun-tahun aku menyukainya, bertahun-tahun aku ingin sekali bersamanya, tapi dia tidak pernah sedikitpun menganggap aku ada. Aku selalu berjalan di sisinya, mengusir semua perempuan-perempuan yang berdekatan dengannya, tapi dia sama sekali tak pernah melihatku." Kedua bola mata Marsha berkaca-kaca.


"Setiap kali aku menyatakan perasaanku padanya, dia selalu menolakku. Dia selalu bilang, ada


seseorang yang sudah mengisi hatinya, tapi dia tidak pernah mengatakan siapa orang itu. Dia tidak pernah menunjukkan siapa perempuan yang ada di hatinya. Selama bertahun-tahun dia kuliah di sana, dia hanya berjalan sendirian, tanpa perempuan manapun kecuali aku yang selalu mengejarnya," jelas Marsha dengan air mata yang sudah menetes di kedua pipinya.


"Aku selalu berpikir, kalau dia pasti berbohong, karena dia tidak mau aku terus mengejarnya, tapi ternyata, setelah aku sampai di sini, aku baru mengetahui kalau perempuan itu benar-benar ada."


"Jadi, kau berpikir kalau aku berbohong?" Suara berat seorang pria terdengar menyapu pendengaran Marsha dan Reyhan. Mereka berdua sontak menoleh ke arah datangnya suara.


Kedua tangan dan kaki Marsha juga Reyhan terikat, sehingga mereka tidak bisa leluasa menggerakkan badannya. Tapi kedua mata Marsha membola saat ia melihat siapa pria yang datang mendekatinya.


"Kenzo? Kau datang?" Marsha yang awalnya terkejut langsung berbinar saat melihat Kenzo. Namun, sejenak kemudian dia langsung menatap Kenzo tak berkedip.

__ADS_1


"Ke--kenapa kau ada di sini? Jangan bilang kalau kau yang telah ...."


"Kenapa? Apa kau keberatan?" Kenzo menatap Marsha dengan tatapan membunuh membuat Marsha langsung menciut. Selama Marsha mengenal Kenzo, ia tidak pernah sekalipun melihat Kenzo semarah ini.


"Ken, kau ...."


"Marsha, aku sudah memperingatkanmu berulangkali, tapi ternyata kau malah sengaja mau bermain-main denganku?"


"K--Ken, apa maksudmu?"


"Jangan pura-pura bodoh, Marsha. Aku tahu apa yang kau lakukan. Kau pikir aku akan membiarkanmu mencelakai Alea?" Kenzo mencengkeram rahang Marsha, membuat perempuan itu mendongak ke arahnya dengan tatapan tak percaya


"Kau, atau siapapun, tidak akan pernah aku biarkan menyentuh Alea. Jangankan mencelakai Alea, menyentuh seujung rambutnya pun, tidak akan pernah ku biarkan!" Kenzo melepaskan tangannya dari rahang Marsha.


"Jangan pernah berpikir untuk menyentuh Alea apalagi berniat mencelakainya, kalau tidak, kau akan berurusan denganku, Marsha!" Kenzo menatap tajam penuh kebencian pada perempuan itu.


"Aku akan mengembalikan mu ke negara J, kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu di negara itu. Aku tahu, Marsha. Kaulah sebenarnya dalang di balik kecelakaan yang menimpa perempuan-perempuan itu bukan?" Kenzo menatap Marsha, yang terlihat sangat terkejut.


"Jangan kau pikir, aku tidak tahu semua perbuatanmu selama ini, Marsha. Kau menyingkirkan semua perempuan yang ingin mendekatiku, bukan? Kau benar-benar kejam!" Kenzo menggelengkan kepalanya sambil terus menatap Marsha.


"Tapi aku melakukannya untukmu, Kenzo! Aku menyingkirkan perempuan-perempuan itu karena aku mencintaimu!"


"Cinta? Tidak ada cinta yang menghalalkan segala cara, Marsha? Apalagi sampai melenyapkan nyawa orang!"


"Aku mencintaimu, Kenzo. Mencintaimu! Aku melakukan semua ini karena aku mencintaimu. Perempuan-perempuan itu tidak pantas bersamamu, Ken, hanya aku yang pantas!"


"Itu bukan cinta, Marsha. Itu obsesi! Kau hanya terobsesi denganku!"


Marsha menggeleng pelan.


"Tidak, Ken, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Percayalah!"


"Kalau kau mencintaiku, kau tidak mungkin menyerahkan tubuhmu pada pria-pria yang telah membantumu menyingkirkan perempuan-perempuan itu, Marsha!"


Kedua netra Marsha membola karena terkejut. Sementara Kenzo mencibir.


"Kau pikir, aku tidak tahu semua kelakuanmu? Justru perempuan seperti kamu lah yang tidak pantas untuk diriku, Marsha!" Kenzo menatap Marsha penuh penghinaan.


"Sebentar lagi anak buahku akan membawamu ke negara J, jadi bersiaplah! Jeruji besi menantimu di sana." Kenzo tersenyum smirk kemudian berlalu meninggalkan Marsha yang masih menatapnya tak percaya dengan kedua bola mata berkaca-kaca.


Kenzo melirik ke arah Reyhan.


"Bawa pria itu ke kantor polisi, serahkan semua bukti-bukti kejahatannya bersama Marsha! Pastikan dia membayar semua perbuatannya!"


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak² ,🙏🙏🙏


__ADS_2