MATI RASA

MATI RASA
Part 59 Histeris


__ADS_3

Andre masih terus menangis di depan kamar operasi Amara. Sementara tidak jauh darinya, seorang pria dengan baju seragam restoran sedang memperhatikannya dengan tangan kanan yang sedang memegang benda pipih yang ia tempelkan di telinganya.


"Halo Bos, kelihatannya, perempuan yang kecelakaan tadi langsung meninggal dunia, Bos. Tapi saya dengar, bayinya selamat, sekarang, perempuan itu sudah di ruang operasi. Dokter akan melakukan operasi cesar untuk mengeluarkan bayinya."


"Di sana juga ada seorang pria yang sedari tadi menangisi perempuan itu Bos, mungkin dia adalah suami dari perempuan itu," lanjut pria itu menjelaskan. Pria itu adalah pegawai Kenzo yang di suruh Kenzo mengikuti mobil ambulans yang membawa Amara.


"Bisa kamu perlihatkan orang itu padaku?" Suara Kenzo di seberang sana terdengar penasaran.


Pegawai Kenzo itu kemudian, mengarahkan kameranya pada Andre, yang masih menangis sambil menatap pintu ruang operasi. Kemudian mengirimkan video itu pada Kenzo.


"Awasi terus, sebentar lagi, aku akan menyusulmu ke rumah sakit."


"Baik Bos."


Meski tak paham dengan apa yang diperintahkan oleh bosnya, tapi pegawai restoran itu tetap melakukan apa yang di perintahkan oleh Kenzo.


Kenzo menutup panggilan teleponnya. Ia kemudian menatap ke arah Alea yang baru saja sadar dari pingsannya.


"Bagaimana keadaannya, Ken?"tanya Alea dengan raut wajah cemas.


"Dia tidak bisa diselamatkan."


"Apa?!" Alea menggelengkan kepalanya.


"Tidak mungkin ...."


Kenzo mendekati Alea, kemudian memeluk perempuan itu.


"Meski aku sangat membencinya, tapi aku tidak pernah berharap yang terburuk untuknya Ken, aku benar-benar nggak percaya."


"Tenanglah, ini semua sudah takdir. Kita tidak bisa melawan takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan."


"Kau benar Ken ...." Alea menarik nafas panjang, kemudian melepaskan pelukannya.


"Aku akan ke rumah sakit, untuk memastikan keadaannya, sebaiknya kau tidak usah ikut."


"Tapi Ken ...."


"Jangan membantah." Kenzo menatap Alea.


"Aku tidak ingin, kau pingsan lagi seperti tadi." Kenzo menangkup wajah Alea dengan kedua tangannya.


"Jangan suka membuatku khawatir, nanti lama-lama aku tidak kuat menahannya." Kenzo menatap Alya dengan lembut, kedua netra mereka saling bertemu.


"Aku sangat panik, saat melihatmu pingsan tadi. Jadi, sebaiknya kau tidak usah ikut ke sana. Biar aku saja. Lagipula, di sana juga ada Andre."


"Andre?" Kenzo mengangguk.


"Pria selingkuhannya Amara."


"Dia ada bersamanya?" Alea terlihat kaget.


"Kelihatannya seperti itu. Buktinya, sekarang dia sedang menangis di rumah sakit." Kenzo menunjukkan video yang baru saja dikirim oleh pegawainya.


Alea memperhatikan pria yang sedang menangis di dalam video itu.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana dengan Bian? Apa dia tahu, kalau istrinya meninggal?" Alea tiba-tiba teringat pada pria itu.


"Aku tidak tahu. Kabar terakhir yang aku dengar, Bian sudah meninggalkan Amara, setelah dia tahu kelakuan buruk Amara."


"Bian meninggalkan Amara? Benarkah? Sungguh sulit di percaya." Alea menatap Kenzo tak percaya.


"Selama ini, dia selalu membela perempuan itu. Tidak mungkin bukan, kalau dia langsung meninggalkan perempuan itu begitu saja?" Alea masih tidak percaya dengan ucapan Kenzo.


"Semua orang bisa berubah Al, apalagi, kalau orang itu merasa di khianati. Selama ini Bian begitu bodoh, karena selalu mendengarkan ucapan perempuan itu, dan tidak pernah mempercayaimu."


Alea terdiam. Apa yang dikatakan Kenzo memang benar adanya.


"Telepon Bian Ken, beritahu dia, bagaimanapun, dia berhak tahu apa yang sudah terjadi pada Amara," saran Alea pada Kenzo.


Alea memberikan ponselnya pada Kenzo.


"Kau masih menyimpan nomornya?"


"Entahlah! Aku ingin sekali menghapusnya, tapi ragu-ragu."


"Memang tidak mudah, menghapus semua kenangan tentang orang yang kita cintai Al, tapi setiap kenanganmu bersamanya hanyalah kesakitan, untuk apa kau mempertahankannya?"


Alea menatap Kenzo dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan lagi menangis untuknya, aku tidak akan pernah mengizinkannya." Kenzo mendekati Alea kemudian kembali memeluk tubuh perempuan itu. Perempuan yang semakin hari semakin membuatnya jatuh cinta.


"Ehem!"


Suara deheman dari Mama dan Papa Kenzo, menyadarkan dua insan yang sedang berpelukan itu. Mereka berdua lupa, kalau saat ini mereka bukan hanya berdua saja di ruangan itu, melainkan ada Mama dan Papa Kenzo juga di sana.


"Maafkan saya Tante, Om."


"Tenang saja, tidak masalah. Anggap saja, kita sedang menonton film romantis. Iya kan, Pa?" Kedua mata perempuan baya itu berbinar, membuat Kenzo berdecak sebal. Ia sudah tahu isi kepala dari sang Mama tercintanya itu."


"Bener Ma, Papa serasa sedang dalam bioskop," Papa Kenzo dengan senyuman khasnya ikut menimpali.


"Jangan mulai drama deh, Kalian."


Mama dan Papa Kenzo tertawa, sementara Alea tersenyum malu-malu. Ia benar-benar merasa terhibur dengan kekonyolan kedua orang tua Kenzo.


Tidak disangka, di balik nama besar mereka di dunia bisnis, ternyata mereka berdua adalah orang yang humoris, berbanding terbalik dengan rumor yang beredar selama ini.


"Cepat kau telepon dia," ucap Alea, kemudian kembali memberikan ponselnya.


"Cari nama Bian suamiku di sana." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Alea.


"Bian suamiku?" Kenzo mengulang perkataan Alea.


Alea menghembuskan nafas panjang, raut mukanya sedikit berubah.


"Mantan ... mantan suami maksudku." Wajah Alea tertunduk, membuat Kenzo menghela nafas.


Kenzo tahu, sangat tidak mudah melupakan orang yang sudah bertahun-tahun bertahta di hati kita. Seperti dirinya, yang tidak bisa melupakan Alea, meski sudah bertahun-tahun lamanya.


Kenzo memencet nomor yang bertuliskan Bian suamiku, di ponsel Alea. Kenzo juga sengaja mengeraskan suara ponselnya.

__ADS_1


"Halo ... Alea sayang, apa ini beneran kamu Nak," ucap seorang perempuan di seberang sana.


Sejenak Kenzo terdiam, dan saling berpandangan dengan Alea.


"Suara Mamanya Bian," bisik Alea pada Kenzo.


"Sayang, Alea, ini Mama Nak ...."


"Halo, maaf, aku bukan Alea, aku temannya Alea." Suara Kenzo membuat suara di seberang sana langsung berhenti.


"Apa Bian ada?"


"Maaf, saya kira tadi Alea. Karena nomornya tertulis nama Alea."


"Ya Tante, nomor ini memang nomor ponsel Alea. Saya menelepon lewat ponsel Alea. Bisa saya bicara dengan Bian Tante?"


Bukan jawaban yang di terima oleh Kenzo, tapi malah suara tangis yang terdengar.


"Bi--Bian, sedang ada di rumah sakit," ucap Mama Bian, sambil terisak.


"Di rumah sakit?"


"Iya, semenjak kepergian Alea, Bian mengalami depresi, dua hari yang lalu, Bian mencoba bunuh diri dengan mengiris nadinya ... beruntung, kami menemukannya tepat waktu, kalau tidak ...." Suara isak tangis terdengar di seberang telepon.


Kenzo menatap Alea, perempuan itu terdiam dengan kedua mata berkaca-kaca. Alea menatap Kenzo yang masih menatapnya dengan tatapan tak terbaca.


"Bi--Bian ... depresi? Apa itu benar?" Alea merebut ponsel dari tangan Kenzo.


"Alea ... sayang, itu kamu Nak ...."


"Alea ...."


Alea terdiam, tangannya yang memegang ponsel bergetar.


'Tidak mungkin ....'


"Kembalilah Nak, Bian sangat mencintaimu, Bian menyesali semua perbuatannya padamu, dia sangat mencintaimu Alea ...."


Mamanya Bian kembali menangis.


Alea bergeming, tubuhnya bergetar menahan sesak di dadanya. Kata-kata mantan mertuanya membangkitkan emosi di dadanya.


"Kalau Bian mencintaiku, dia tidak akan mungkin menghancurkanku sampai berkeping-keping, kalau dia mencintaiku, dia pasti bisa mempercayaiku sedikit saja, dengan begitu, aku tidak harus kehilangan anakku! Bian sudah membunuh anakku! Dia pembunuh!" Tiba-tiba Alea berteriak histeris. Bayangan saat Bian menyiksanya kembali terlintas. Kejadian demi kejadian yang membuatnya harus kehilangan calon bayinya kembali terekam jelas.


"Alea!" Kenzo dengan khawatir langsung memeluk Alea yang berteriak histeris dan terus meronta.


"Bian pembunuh! Dia sudah membunuh anakku!"


.


.


Yang suka ceritanya, ikutin terus ya, jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak ², biar tambah semangat nulisnya.


Terima kasih sudah membaca...

__ADS_1


__ADS_2