
Alea meluruhkan tubuhnya di dalam bathtub, kata-kata Bian menggoreskan luka yang semakin dalam pada hatinya.
"Bian ... aku ingin berpisah denganmu, benar-benar ingin berpisah denganmu, ayo kita bercerai." Suara Alea terdengar lembut tanpa emosi.
Bian terpaku menatap wajah cantik Alea yang begitu tenang, tidak ada tangis, tidak ada kesedihan.
Bian merasa ada sesuatu yang berdesir di dadanya, sesuatu yang seolah meremas jantungnya.
Bian menatap Alea tajam, sekilat emosi terpancar di kedua matanya.
"Teruslah memohon, karena sampai kapanpun aku tidak akan menuruti permintaanmu!"
Bian mendekati Alea, kemudian mengangkat dagu Alea hingga netra mereka bertabrakan.
"Dengar Alea ... kau hanya boleh pergi setelah aku menyuruhmu pergi, jadi jangan pernah berharap aku akan menceraikanmu dengan mudah."
"Bian, bukankah berpisah denganku adalah hal yang sangat kau inginkan selama ini? kenapa sekarang kau berubah pikiran?"
Bian terdiam untuk beberapa saat. Perkataan Alea memang benar, selama ini dirinya ingin sekali berpisah dengan Alea tapi sekarang kenapa justru ia yang tidak ingin berpisah setelah Alea memintanya?
"Kau tanya kenapa aku berubah pikiran?" Bian menatap tajam wajah Alea.
"Karena aku belum puas bermain-main denganmu!"Sorot tajam mata Bian membuat Alea membeku.
"Tapi bukankah kau akan menikah dengan Amara? kenapa kau tidak melepaskan ku saja?" Alea masih berusaha membujuk Bian.
"Aku akan melepaskanmu, tapi nanti, saat aku sudah bosan bermain-main denganmu!"ucap Bian penuh penekanan sambil menatap tajam ke arah Alea, kemudian meninggalkan perempuan itu di kamar mandi dengan membanting pintu dengan keras.
Alea kembali menangis, lengkap sudah penderitaannya.
"Sebenarnya apa maumu Bian? kau bilang, kau tidak mencintaiku, tapi kenapa kau juga tidak ingin melepaskan aku?" Alea berucap dalam hati.
Cukup lama Alea berendam, hingga saat tubuhnya mulai gemetar, ia kemudian keluar dari bathtub dan kembali membasuh tubuhnya di bawah guyuran shower.
Baru saja Alea keluar dari kamar mandi, terdengar suara Mbok Sumi memanggilnya dari luar.
"Non ... Non Alea, buka pintunya Non." Nada suara Mbok Sumi terdengar khawatir.
Alea dengan langkah tertatih melangkah menuju ranjang.
"Masuk aja Mbok, nggak di kunci." Suara Alea terdengar lirih, entah Bi Sumi mendengarnya atau tidak. Tapi sebentar kemudian terdengar suara pintu yang dibuka pelan.
Mbok Sumi mendekati Alea dengan wajah penuh khawatir.
"apakah Non Alea baik-baik saja?"Alea mengangguk pelan
"aku baik-baik saja Mbok, jangan khawatir." Alea menggenggam tangan Mbok Sumi, sambil tersenyum.
"Non Alea makan dulu ya, saya bawakan makan siang." Mbok Sumi mengambil piring berisi makanan yang baru saja ia bawa.
Mbok Sumi membantu Alea duduk bersandar di kepala ranjang, kemudian ia mulai menyuapi majikannya itu.
Mbok Sumi sangat prihatin melihat keadaan Alea. perempuan paruh baya itu kemudian menangis sambil menyuapi Alea.
"Non yang sabar ya .... " Alea mengangguk.
"Mbok Sum kenapa menangis?"
"Saya tidak tega melihat Non Alea menderita seperti ini." Alea tersenyum tapi air matanya mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
"Apa aku tidak pantas bahagia Mbok?"
Mbok Sumi makin terisak mendengar ucapan Alea.
"Besok Bian akan menikah dengan Amara Mbok, ia mengatakannya padaku setelah kembali memperkosaku tadi pagi." Kali ini Alea benar-benar menangis. Rasa sakit di hatinya membuat dadanya sesak, sehingga ia kesulitan untuk bernafas.
Mbok Sumi ikut menangis kemudian memeluk Alea dengan erat.
"Menangislah Non, biar Non Alea merasa lega. Setelah ini, Non Alea tidak boleh menangis lagi."
Alea menumpahkan semua tangisannya di pelukan Mbok Sumi.
"Aku ingin bercerai saja Mbok, aku sudah tidak kuat lagi." ucap Alea disela tangisannya.
"Tapi Bian tidak mau menceraikanku Mbok, sebenarnya apa maunya dia? bukankah dia tidak mencintaiku?"Alea semakin menangis di pelukan Mbok Sumi.
"Sebaiknya Non Alea makan dulu, biar ada tenaga. Non Alea tidak boleh sakit Non, hati Non Alea memang sakit, tapi jangan biarkan tubuh Non Alea ikut sakit." Alea mengangguk membenarkan perkataan Mbok Sumi.
Kemudian Alea makan dengan lahap makanan yang yang disuapkan Mbok Sumi padanya.
Tapi sesekali air matanya kembali keluar setiap mengingat pengakuan Bian tadi pagi.
Selesai makan, Alea menyuruh Mbok Sumi membersihkan kamarnya.
Sementara Alea hanya terdiam sambil memandang ke arah jendela, pikirannya menerawang.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
******
Setelah meninggalkan Alea, Bian segera menuju kamarnya di lantai atas. Ia membuka pintu kamar mandi, dan mengguyur seluruh badannya di bawah shower.
Bian tersenyum samar saat mengingat percintaan panasnya dengan Alea semalam.
"Aku tidak menyangka kalau dia masih perawan." ucap Bian dalam hati sambil tersenyum.
Bian masih ingat dengan benar betapa nikmat yang ia rasakan semalam. Bahkan saat tadi pagi pun Bian masih bisa merasakan kenikmatan itu.
Amara saja sudah tidak perawan saat aku menyentuhnya pertama kali.
"sial!" Bian mengumpat dengan kesal saat menyadari bagian tubuh bawahnya langsung menegang saat kembali mengingat percintaannya tadi pagi dengan Alea.
Mau tak mau, akhirnya Bian harus menyelesaikannya sendiri di kamar mandi, karena tidak mungkin dia meminta pada Alea untuk untuk melayaninya lagi sekarang. Lagipula, Bian juga sudah tidak ada ada waktu lagi. Ia harus ke Bandung saat ini juga untuk mengurus pernikahannya dengan Amara besok.
Bian sudah selesai mandi setelah sebelumnya dia bermain solo untuk memuaskan hasratnya. Saat ini, ia sudah rapi dan sudah bersiap untuk berangkat.
Bian mencari Mbok Sumi, yang ternyata saat ini sedang berada di dapur. Bian mendekatinya, perempuan paruh baya itu tersenyum mendekat ke arah Bian.
"ada apa Den Bian, apa ada yang bisa saya bantu?"Bian tersenyum mendengar ucapan Mbok Sumi.
"Mbok sumi, hari ini aku akan pergi ke Bandung, aku dan Amara akan menikah di sana." Mbok Sumi mengangguk mengerti.
Bian memberikan beberapa lembar uang pada Mbok Sumi.
"Barusan aku memesan obat lewat online, tolong Mbok Sum bayarin pakai uang ini, terus kasih obatnya sama Alea ya Mbok."
"Baik Den. " Mbok Sumi mengangguk patuh.
"Tolong jagain Alea selama aku pergi ya Mbok,"
__ADS_1
"Iya Den, saya akan menjaga Non Alea, Den Bian jangan khawatir."
"Aku pergi dulu Mbok." Bian tersenyum kemudian menarik kopernya meninggalkan Mbok Sumi.
Sampai di dalam mobil, Bian menghela nafasnya dan menghembuskannya perlahan.
"Kenapa tiba-tiba aku begitu berat untuk meninggalkannya?"
Bian kembali menatap ke dalam rumahnya, entah mengapa ia ingin sekali melihat Alea sebelum ia pergi ke Bandung.
Tapi kemudian Bian menggeleng pelan.
"Apa-apaan kamu Bian, kau akan menikah dengan Amara besok, jadi kau tidak boleh memikirkan perempuan lain." Bian membatin.
"Perempuan lain? bukankah dia istriku juga? berarti dia bukan perempuan lain dong?" Bian tersenyum bodoh saat tiba-tiba dalam hatinya terbersit perkataan seperti itu.
Bian sudah bersiap melajukan mobilnya, tapi ia kembali mematikan mesin mobilnya saat melihat sepeda motor berhenti di depan pintu gerbangnya.
Seorang laki-laki dengan jaket khas Ojol ternama di ibukota. Mang Ujang langsung menyambut kedatangan Ojol itu karena Mbok Sumi mengatakan padanya kalau majikannya memesan barang.
Bian keluar dari mobil mendekati mereka.
"Biar aku yang bayar Mang," Bian memberikan uang pada tukang ojek itu kemudian membawa obat yang tadi di pesannya lewat online.
Bian masuk ke dalam kamar Alea tanpa mengetuk pintu. Ia melihat perempuan itu sedang berbaring menghadap jendela.
Alea terlonjak kaget saat tiba-tiba Bian sudah duduk di sebelahnya.
"Buka bajumu."
"Bi-Bian .... " Alea memekik kaget saat tiba-tiba Bian dengan paksa membuka bajunya dan juga celananya, hingga tubuhnya terlihat polos.
Bian menelan salivanya, melihat tubuh Alea yang terpampang jelas di hadapannya. Mati-matian ia menahan hasratnya karena tubuh bagian bawahnya langsung menegang dengan sendirinya.
"Berbaringlah .... " Alea menatap Bian dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan lagi, jangan melakukannya lagi Bian, seluruh tubuhku masih terasa sakit .... " lirih Alea, tapi Bian seolah tak mendengarnya.
Bian membuka kedua paha Alea, kedua matanya menatap tajam sambil meneliti tubuh bagian bawah Alea yang saat ini terlihat jelas di depan matanya.
"Jangan Bian, aku mohon .... " Bian menatap Alea yang saat ini sudah mulai meneteskan air matanya. Kemudian pandangannya kembali beralih pada bagian sensitif Alea.
Bian meringis saat melihat luka robek dan bengkak pada bagian tubuh yang semalam bahkan sampai tadi pagi ia nikmati tanpa ampun.
"Rasanya pasti sakit sekali." ucap Bian dalam hati.
"Bi-Bian .... " Alea menggigit bibirnya saat tangan Bian mulai menyentuhnya.
"Aku hanya ingin mengobatinya, kau tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu sekarang."
Bian mengoleskan obat yang tadi dibelinya pada bagian tubuh sensitif Alea yang membengkak karena ulahnya.
Sementara Alea memejamkan matanya sambil meringis saat rasa perih mulai terasa di bagian tubuhnya yang terkena obat.
.
Sok baik banget kamu Bian...😊😊🤭
Jangan lupa like, koment, n Votenya ya ,biar tambah semangat authornya 🙏🙏🙏
__ADS_1