
Kenzo melepaskan pelukannya, ia menatap Alea yang masih terisak. Kenzo mengusap air mata Alea dengan jarinya.
"Aku sudah bilang, aku tidak mengizinkanmu menangisi dia lagi, aku nggak rela."
"Tapi air mataku keluar sendiri Ken, aku juga tidak ingin menangis lagi, tapi ...." Alea malah makin menangis. Membuat Kenzo kembali memeluknya.
"Ken, sebaiknya kau antar Alea pulang ke rumahnya, agar dia bisa istirahat," ucap Mama Kenzo, merasa prihatin melihat keadaan Alea.
"Nggak bisa Ma, Alea nggak bisa pulang dalam keadaan seperti ini. Bahaya buat dia nanti, apalagi di rumahnya nggak ada siapa-siapa."
"Alea tinggal sendirian?"
"Iya Ma, dia tinggal di sini sama aku."
"Hah? Maksud kamu, kamu tinggal serumah sama dia?" Papa Kenzo yang sedari tadi diam saja, ikut menimpali.
"Papa!"
"Lho, tadi kamu yang bilang sendiri kan, kalau kamu tinggal sama gadis itu." Papa Kenzo membela diri.
"Aku yang membawanya ke Bali, Pa, tapi kita tidak tinggal bersama. Aku tinggal di apartemen, sedangkan Alea memilih tinggal di rumah sederhana, tidak jauh dari apartemen yang aku tinggali," jelas Kenzo.
"Kenapa kalian tidak tinggal bersama saja?"
"Mama!" Kenzo menatap mamanya dengan kesal. Sementara Mama Kenzo malah nyengir kuda.
"Mama kan, cuma ngasih saran, lagian kan, kalian tinggal satu rumah, bukannya satu kamar. Iya kan, Pa?" Papa Kenzo mengangguk pelan. Sepertinya, kedua orang tua Kenzo mulai kumat, jadi ngomongnya sembarangan.
"Bener Ken, jadi kamu kan bisa jagain Alea terus," timpal Papa sambil tersenyum menyebalkan.
"Kalian itu benar-benar orang tua yang aneh. Mana ada orang tua yang menyuruh anaknya tinggal serumah dengan perempuan yang belum jadi istrinya?" Kenzo berdecak sebal dengan pemikiran kedua orang tuanya.
"Kalau begitu, kamu segera jadiin Alea sebagai istrimu secepatnya, biar kamu bisa tinggal satu rumah dengannya, bukan hanya satu rumah, tapi juga satu kamar dengannya. Kebetulan, Mama dan Papa kan udah pengen menimang cucu."
"Mama!" Kenzo berteriak kesal, bisa-bisanya sang Mama tercinta berpikiran seperti itu, sementara, keadaan Alea saja belum pulih.
Mama Kenzo langsung menutup mulutnya, mendengar teriakan Kenzo. Kemudian berjalan mendekati Alea.
__ADS_1
"Maafkan Mama sayang, Mama hanya bercanda, jangan marah ya," Mama Kenzo mengelus lembut rambut Alea. Alea tersenyum menatap Mama Kenzo.
"Tidak apa-apa Tante, aku ngerti kok, Tante cuma bercanda."
"Panggil Mama aja," Mama Kenzo tersenyum lembut.
"Kamu jangan kaget ya Al, Mama sama Papaku memang begitu, rada-rada kadang."
"Ken! Masa ngomongnya begitu sama orang tua," protes Alea tidak suka.
Kenzo tertawa sambil mengacak-ngacak rambut Alea.
"Mereka belum seberapa parah Al, nanti kalau kamu ketemu sama dua adikku, kamu bakalan ketawa sampai sakit perut."
"Benarkah? Tapi kenapa kamu nggak lucu kayak mereka sih? Kamu tuh dingin banget tau nggak, sampai pegawai-pegawai kamu aja pada takut."
"Biar saja mereka pada takut, yang penting kamu nggak takut sama aku." Kenzo tersenyum simpul.
"Ken, apa sebaiknya, kau tidak usah pergi ke rumah sakit?" Mama Kenzo menatap ke arah putranya.
Alea menatap Kenzo yang sedang menatapnya.
"Aku tidak akan pergi, Mama benar, kamu jauh lebih penting sekarang, sebaiknya kita tidak usah ikut campur urusan mereka." Kenzo membelai rambut Alea.
"Aku tidak mau membuatmu bersedih. Aku tidak mau kau mengingat semua masalah yang sudah kau kubur dalam-dalam, hanya karena melihat mereka. Kau mengerti, kan ?"
Alea mengangguk paham.
"Terima kasih, Ken ...."
"Aku tidak membutuhkan terima kasihmu Al, asal kau bahagia, aku akan melakukan apapun untukmu."
Alea menatap Kenzo tak berkedip, kemudian ikut tersenyum, saat senyuman manis Kenzo menghiasi wajah tampannya.
******
Andre berteriak histeris saat melihat tubuh Amara yang terbujur kaku. Tim dokter baru saja selesai menyelamatkan bayinya lewat operasi cesar setengah jam yang lalu.
__ADS_1
Andre tidak menyangka, kalau Amara akan pergi secepat ini. Gara-gara kecerobohannya, kini, orang yang ia cintai kehilangan nyawanya. Andre benar-benar sangat menyesal.
"Amara, sayang ... bangun. Anak kita sudah lahir ke dunia, sayang, kau harus melihatnya. Dia sangat membutuhkanmu. Kau sendiri yang bilang, kalau kita akan merawatnya bersama-sama bukan?"
"Amara, sayang ... maafkan aku, maafkan aku ...." Andre menangis sejadi-jadinya.
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Selama ini, ia selalu menyia-nyiakan Amara, tidak memperlakukannya dengan baik, bahkan terakhir, ia menjual Amara pada tiga orang pria hidung belang yang akhirnya menyebabkan kematian Amara.
Andre memang benar-benar bajingan. Padahal, selama ini Amara selalu berbuat baik padanya, selalu memberikannya uang berapapun yang ia minta. Saat Amara masih bersama Bian, Amara tidak pernah berhenti memberikannya uang, karena Andre selalu mengancam Amara, kalau dia akan memberitahukan Bian tentang hubungannya dengan Amara. Karena itu, Amara selalu menuruti semua keinginan Andre agar dia tidak sampai membocorkan rahasianya.
"Amara ...." Andre masih menangis saat tiba-tiba beberapa perawat datang menghampirinya.
"Jenazah akan dibersihkan, silakan tunggu di luar," ucap salah satu perawat. Andre keluar dengan isak tangis yang masih terdengar. Ia berjalan lunglai meninggalkan ruangan.
Seorang perawat lainnya, memberitahukan, kalau bayi yang baru dilahirkan lewat operasi tadi, sudah di ada di ruang bayi. Dengan perasaan yang membuncah, Andre segera berlari ke ruangan bayi setelah satu perawat menunjukkan tempat di mana ruangan itu berada.
Sementara itu, di depan rumah sakit, dua rombongan keluarga bergegas masuk ke dalam rumah sakit. Mereka adalah keluarga Bian dan Alea. Setelah mendapatkan alamat rumah sakit dari Mamanya Kenzo, kedua keluarga itu langsung terbang ke Bali.
Sebenarnya, keluarga Alea sudah tahu keberadaan Alea dari Kenzo, makanya mereka membiarkan Alea dan secara tidak langsung menitipkan Alea pada Kenzo, karena Kenzo mengatakan, kalau Alea belum ingin bertemu mereka.
Di antara mereka, ada juga Bian di sana. Pria itu terlihat lemah, mungkin karena Bian masih sakit karena percobaan bunuh diri yang dilakukannya. Tapi, demi ingin melihat Amara, Bian nekad ikut ke Bali, karena ia ingin bertemu dengan Amara untuk yang terakhir kalinya. Bian sangat terkejut saat mendengar kematian Amara. Bagaimanapun, Amara masih istrinya, dan Bian pun tak menyangkal kalau Amara masih punya sedikit tempat di ruang hatinya. Karena Amara sudah lama bertahta di hatinya bertahun-tahun, jadi tidak mungkin, Bian bisa langsung menghapus dan melupakan semua kenangan tentang Amara di hatinya. Meski perempuan itu telah mengkhianatinya dan membuatnya sangat membencinya.
Mereka semua bergegas saat mereka sudah mendapatkan informasi tentang Amara.
Setelah jenazah di bersihkan dan dokter membuat surat pernyataan kematian, kemudian, tim medis mempersiapkan jenazah untuk di bawa pulang menggunakan ambulans.
Bian dan keluarganya terlebih dahulu sampai di tempat ruangan Amara. Tapi sayangnya, Amara sudah tidak ada di ruangan itu lagi. Sang perawat menjelaskan kalau jenazah Amara sudah di bawa ke mobil ambulans dan sebentar lagi akan dibawa pulang ke rumah duka.
Akhirnya, mereka bergegas menuju mobil ambulans yang di tunjukkan oleh si perawat. Saat mereka sampai di depan mobil, mereka bertemu dengan Andre yang sedang menggendong bayi yang baru saja dilahirkan oleh Amara lewat jalan cesar.
Andre menatap mereka satu persatu dengan datar.
'Kenapa mereka bisa ada di sini?'
Maaf baru up ya kakak ² 🙏🙏
Jangan lupa like, koment dan Votenya ya...
__ADS_1