
Bian masih terus mencoba menghubungi Alea, tapi masih tetap tidak tersambung, karena Alea sengaja mematikan ponselnya.
"Kemana sih kamu Al? bikin aku khawatir aja." Bian menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya. Saat ini, ia ada di kantornya.
Ia kembali mencoba menghubungi ponsel Alea.
"Sial! kenapa nggak nyambung- nyambut sih." Bian menatap ponselnya sambil menggerutu.
Sementara Alea kini sedang bersiap menuju restoran tempat ia bekerja. Saat Alea baru keluar dari apartemen, di depannya, terlihat Kenzo yang juga baru membuka pintu. Pria itu menyunggingkan senyumnya pada Alea.
"Kau sudah siap?" Alea mengangguk sambil tersenyum. Kemudian mereka berdua berjalan beriringan.
"Kau tidak berniat pulang hari ini?" Alea menggelengkan kepalanya. Mereka berdua saat ini sudah berada dalam lift.
"Memangnya suami tercintamu itu tidak mencarimu?" Alea mencebik kesal mendengar ucapan Kenzo.
"Ada yang salah dengan ucapanku?" Kenzo melirik Alea yang terlihat masam.
"Tidak usah menggodaku, kau tahu dengan jelas kalau saat ini aku sedang berusaha melupakannya."
Kenzo tertawa kemudian mengacak-acak rambut Alea dengan gemas.
"Gadis pintar. Kau berhak meraih kebahagiaanmu Al, jika mencintainya hanya membuatmu terluka, lebih baik kau tinggalkan saja dia. Orang seperti itu, tidak pantas untuk mendapatkan cintamu." Kenzo tersenyum tulus.
"Kau terlalu baik untuk di sakiti terus menerus Al ...." Alea mengangguk paham.
"Masalahnya, dia sendiri yang tidak ingin melepaskanku. Padahal aku sudah memohon padanya."
Alea dan Kenzo masuk mobil yang sama, tak berapa lama kemudian mobil mereka melaju meninggalkan apartemen.
*****
Bian masih terus menghubungi Alea, sudah dua hari ini Alea tidak pulang ke rumah dan tak bisa di hubungi sama sekali.
Bian merasa kesal, sekaligus khawatir pada Alea.
"Sebenarnya kamu kemana sih Al? udah dua hari, tapi kamu belum juga pulang." Bian sendiri bingung, Amara saja kadang sampai beberapa hari tidak pulang, ia tidak pernah merasa sekhawatir ini, tapi giliran Alea tidak pulang dua hari saja, dirinya sudah kelimpungan setengah mati.
"Masih sibuk nyariin Alea?"
Amara yang melihat suaminya gelisah langsung berdiri sambil bersidekap di depannya.
"Sayang, bagaimanapun Alea juga istriku, jadi wajar kalau aku khawatir." Bian tersenyum melihat ke arah Amara yang terlihat galak.
"Tapi aku juga istrimu Bi, dan sekarang aku sedang hamil anakmu, kalau kau lupa." Amara mencebik kesal.
"Iya sayang, aku tidak lupa, maafkan aku."Bian mendekati Amara kemudian memeluknya.
"Apa kamu ingin makan sesuatu? biar aku belikan sekarang." Amara mengangguk.
"Aku pengen makan di restoran xx, tadi siang aku lihat di sana rame banget, aku jadi pengen makan di sana." Amara mengelus perutnya.
"Baiklah, ayo kita ke sana." Kedua mata Amara langsung berbinar.
"Benarkah?!" Bian mengangguk sambil tersenyum, kemudian mencium sekilas bibir Amara.
__ADS_1
Setelah bersiap-siap, mereka berdua keluar dari rumah menggunakan mobil Bian.
Sesaat setelah mobil Bian melaju, Alea datang dengan menggunakan ojek online.
Mang Ujang yang melihat Alea buru-buru membukakan pintu gerbang dan menyuruh majikannya itu masuk.
"Makasih Mang Ujang."
"Iya Non. Non Alea kemana saja Non, saya dan Mbok Sumi khawatir mikirin Non Alea."
Alea tersenyum.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku Mang, aku menginap di apartemenku."
Alea menepuk bahu pria berusia tiga puluh tahunan itu, kemudian berlalu menuju ke dalam rumah.
Sampai di dalam rumah, Mbok Sumi langsung berhambur memeluk Alea.
"Non Alea kemana saja, saya sampai nggak bisa tidur mikirin Non Alea."
"Aku nggak ke mana-mana Mbok, cuma nginep di apartemen." Alea tersenyum, membuat Mbok Sumi ikut tersenyum, kemudian ia membelai wajah cantik Alea.
"Non selalu inget perkataan saya kan Non?"
Jangan melakukan tindakan bodoh, yang akan membuatmu menyesal.
Jangan biarkan mereka bahagia di atas penderitaan Non Alea.
Karena Non Alea juga berhak bahagia, meskipun kebahagiaan itu tidak Non dapatkan dari Den Bian ....
"Tolong siapin makan malam ya Mbok, aku lapar, tapi aku ingin mandi dulu."
"Baik Non."
Alea melangkah masuk ke dalam kamarnya, kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket, setelah hampir seharian bekerja di restoran Kenzo.
Setelah mandi, Alea pergi ke meja makan. Karena lapar, Alea makan dengan lahap makanan yang di masak oleh Mbok Sumi.
Mbok Sumi tersenyum melihat majikannya yang sudah dua hari ini di khawatirkannya ternyata baik-baik saja dan kembali ke rumah.
Setelah selesai makan, Alea kembali ke kamarnya.
Sementara itu di dalam restoran,
Bian dan Amara sedang asyik menyantap makanan mereka. Tanpa sengaja Amara ternyata mengajak Bian ke restoran di mana kemarin ia melihat Alea dengan Kenzo, dan bahkan sempat terlibat perkelahian dengan pria itu.
Bian menyantap makanannya, sambil sesekali tersenyum pada Amara yang kelihatannya juga sangat menyukai makanan yang di pesannya sekarang.
"Pelan-pelan makannya sayang, nanti tersedak." Amara tersenyum menanggapi ucapan Bian.
"Makanannya enak ya Bi, nanti aku mau pesan buat di bawa pulang." Amara tersenyum sambil melahap makanan di piringnya sampai habis.
"Kelihatannya, anak kita laper banget. Kamu sampai nambah makannya." Bian tersenyum sambil mengelus rambut Amara dengan sayang.
Tapi tanpa sengaja pandangan Bian bertemu dengan tatapan tajam milik Kenzo yang ternyata sedang berdiri di depan sana memperhatikannya.
__ADS_1
"Sebentar sayang, aku mau ke toilet dulu."
"Jangan lama-lama." Bian mengangguk, kemudian melangkah mendekati Kenzo dan langsung menarik pria itu menuju toilet.
Kenzo pun menurut tanpa protes saat pria yang ia ketahui sebagai suami sahabatnya itu menarik lengannya.
"Di mana Alea?" Bian merapatkan tubuh Kenzo ke dinding, kemudian dengan tidak sopan langsung menarik kerah baju Kenzo.
Kenzo tersenyum sinis.
"Apa kau sedang menanyakan istrimu padaku?" Kenzo menatap Bian dengan senyum mengejek.
"Bukankah kau suaminya? kenapa kau malah menanyakan istrimu padaku? memangnya aku siapanya istrimu?"
Bian mengeraskan rahangnya.
"Karena aku tahu, kau adalah orang terakhir yang bersama istri ku kemarin."
Ucapan Bian membuat Kenzo tertawa.
"Apa kau lupa Tuan, kau yang membawa istrimu pergi sebelum kami sempat makan siang. Jadi bisa di pastikan, kalau orang terakhir yang bersama istri mu adalah dirimu sendiri! ucap Kenzo penuh penekanan.
"Lagipula, kenapa kau mencari Alea? aku lihat kau begitu bahagia bersama perempuan yang tadi." Kenzo melepaskan tangan Bian pada kerah bajunya.
"Itu bukan urusanmu! katakan padaku, di mana Alea brengsek!" Bian bermaksud melayangkan tinjunya pada Kenzo, tapi Kenzo dengan cepat menahan tangannya.
"Alea tidak bersamaku, dan aku tidak tahu di mana Alea berada." Kenzo melepaskan tangan Bian dengan kasar. Kenzo mendorong tubuh Bian, yang berdiri tepat di depannya.
"Aku sungguh heran, kenapa orang sebaik Alea bisa menikah dengan pria brengsek sepertimu." Ucap Kenzo sebelum ia berlalu meninggalkan Bian.
Untung saja kamu sudah pulang Al, kalau tidak, bisa di pastikan suami tercintamu ini pasti akan kembali membuat keributan di restoranku.
Bian mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, memencet nomor yang di tuju, kemudian meletakkan benda pipih itu ke telinganya.
"Kau sudah sampai?"
"Aku sudah sampai dari tadi, aku bahkan sudah makan." Jawaban dengan nada ceria terdengar dari ujung sana membuat Kenzo tersenyum mendengarnya.
"Kau pulang kembali ke apartemen?"
"Tidak, malam ini aku pulang ke rumah." Kenzo menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya. Senyum yang tadinya terukir langsung lenyap begitu saja.
"Sampai ketemu besok pagi."
.
.
.
Minal Aidzin Wal faidzin ya kakak², mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏🙏
Maaf baru sempat update!
Ikutin terus kisah Alea ya, jangan lupa like, koment, n Votenya ...
__ADS_1