
Amara terus memberontak, saat tiga orang pria paruh baya itu berusaha memperkosanya. Dengan sekuat tenaga, ia menendang salah satu pria tua itu di bagian intimnya, membuat pria itu mengerang kesakitan, kemudian melepaskan cengkeramannya pada tangan Amara. Dua orang pria lainnya, menatap Amara dengan geram, kemudian kembali mencekal Amara, salah satu di antara mereka, bahkan sudah mulai membuka celananya, tak kehilangan akal, Amara kembali berusaha menendang pria itu, dengan kedua kakinya yang terbebas, karena pria tua itu hanya memegangi kedua tangannya, dan pria tua yang satu lagi, sibuk membuka celananya.
Pria tua itu jatuh terjungkal, saat salah satu kaki Amara berhasil menendangnya. Melihat teman yang lainnya juga terkena tendangan Amara, pria tua yang memegang tangannya, melepas salah satu tangan Amara dan memegang salah satu kakinya.
"Cepatlah bangun! Aku sudah tidak tahan untuk menikmati tubuhnya," teriak pria itu pada kedua temannya. Pria tua yang terjungkal tadi, dengan susah payah mencoba bangun, tapi karena tubuhnya yang terlalu tambun, ia kesusahan untuk berdiri. Sementara, pria tua lainnya masih memegangi asetnya yang masih terasa ngilu, akibat tendangan Amara.
Salah satu tangan Amara yang terbebas, meraih lampu tidur, kemudian, langsung memukul kepala pria tua itu dengan kencang. Pria itu langsung terjatuh, dengan darah mengalir di pelipisnya. Sementara Amara bangkit dari tempat tidur.
"Sialan! Jangan pergi kau, perempuan jalang! " Kedua pria yang lainnya berteriak bersamaan, dan berusaha bangun, sementara pria yang di pukul Amara, sepertinya langsung pingsan.
Amara dengan cepat membuka pintu kamar, kemudian keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah robek di beberapa bagian. Amara berlari sambil memegangi perutnya, dan berteriak minta tolong, membuat beberapa penghuni kamar, ada yang keluar kerena penasaran. Namun, mereka hanya melihat, tanpa berniat menolong.
Amara terus berlari, hingga ia sampai, di depan tangga darurat, di belakangnya, kedua pria itu masih mengejarnya. Dengan tergesa, Amara menuruni tangga, namun karena terburu-buru, kaki Amara tiba-tiba terpeleset. Amara menjerit kencang, sebelum akhirnya terjatuh, dan tubuhnya berguling-guling di atas tangga. Kedua pria tua yang mengejarnya langsung berhenti karena kaget, mereka berdua saling berpandangan, dan memilih kabur, saat melihat tubuh Amara yang terjatuh berguling-guling.
Tubuh Amara terkapar di lantai, dengan darah yang mengalir di kepalanya. Tubuhnya tak bergerak sama sekali. Sementara orang- orang yang melihat kejadian itu, langsung berteriak histeris. Mereka langsung berkerumun melihat ke tempat kejadian. Tak terkecuali, beberapa para pegawai Kenzo yang ikut berlari ke lokasi kejadian, karena penasaran. Entah kebetulan atau tidak, penginapan itu terletak tepat di depan restoran Kenzo.
"Ada apa?" Salah satu pegawai Kenzo bertanya pada rekannya, yang baru saja melihat ke lokasi kejadian.
"Ada orang hamil yang terjatuh di tangga darurat. Dia jatuh dari lantai tiga. Kelihatannya langsung meninggal, darahnya banyak banget." Pegawai perempuan itu menceritakan kejadian dengan bergidik ngeri.
"Kasihan sekali perempuan itu, mana perutnya lagi hamil besar." Pegawai yang lain ikut menimpali.
__ADS_1
Kenzo yang menyadari, ada keributan di luar restoran, langsung beranjak dari duduknya, Kenzo dan keluarganya, baru saja selesai makan siang di temani Alea.
"Kelihatannya, ada sesuatu yang terjadi, Ken, di depan restoran terlihat rame banget." Alea menatap Kenzo, kemudian mengikuti langkah Kenzo dengan tergesa.
"Ada apa? Kenapa semua orang berlarian ke sana?" Salah satu pegawai Kenzo yang sedang berkerumun di meja kasir terkejut, saat melihat Bos tampan mereka, tiba-tiba sudah berdiri di depan mereka.
"I--itu Pak, ada perempuan hamil terjatuh dari tangga, di penginapan depan Pak, kasihan banget deh Pak, kelihatannya orangnya langsung meninggal, soalnya, darahnya banyak banget," jelas pegawai perempuan itu.
"Aku penasaran deh Ken," ucap Alea. Kemudian menggandeng tangan Kenzo untuk melihat ke lokasi kejadian.
Kenzo dan Alea menerobos kerumunan orang, karena merasa penasaran. Terdengar suara ambulans yang mulai mendekat ke arah lokasi kejadian. Langkah Alea langsung berhenti dengan tangan gemetar.
Amara menatap tak percaya, pada perempuan yang baru saja di angkat dari lantai, darah mengalir dari kepala juga hidungnya, bahkan di antara kedua kakinya. Pakaiannya terlihat robek di beberapa bagian, hingga perut besarnya pun terlihat dengan jelas, tak tertutup apapun. Pandangannya fokus pada wajah perempuan itu.
Kenzo yang terkejut dengan reaksi Alea, langsung mengalihkan pandangannya, pada perempuan yang baru saja diangkat oleh beberapa orang pria menuju ambulans yang sudah sampai di depan penginapan. Kedua matanya, membelalak kaget, merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Amara ... ya Tuhan ...." Kenzo langsung memeluk tubuh Alea yang langsung limbung.
Bayangan kenangan pahit, yang di timbulkan perempuan itu terlintas di kepala Alea. Kesakitan demi kesakitan yang ia rasakan karena perempuan itu, terus berputar dalam otaknya.
"Alea!" Kenzo berteriak kaget, saat tubuh Alea terkulai lemas. Alea pingsan dalam pelukannya. Kenzo menggendong tubuh Alea, keluar dari kerumunan orang-orang.
__ADS_1
"Ikuti kemana ambulans itu pergi, laporkan padaku, di rumah sakit mana, mereka membawa korban." Kenzo menyuruh salah satu pegawai restorannya yang ikut berkerumun, kemudian dengan langkah tergesa, ia membawa Alea masuk ke dalam restoran.
"Baik Pak." Pegawai itu menjawab, setelah Kenzo berlalu dari hadapannya, karena ia cukup terkejut, melihat Bosnya dengan panik berlari membawa Alea dalam gendongannya.
"Ken, apa yang terjadi?" Mama dan Papa Kenzo yang berada di ruangan Kenzo, sangat terkejut, melihat Kenzo menggendong Alea yang tampak tak sadarkan diri.
Mama Kenzo mendekati Alea yang baru saja Kenzo baringkan di atas sofa.
"Ada apa dengan dia Ken, tadi dia terlihat baik-baik saja, tapi kenapa sekarang malah pingsan begini?" Mama Kenzo terlihat khawatir.
"Korban kecelakaan di penginapan depan, ternyata perempuan yang dia kenal." Kenzo membuka tutup minyak angin yang tadi diberikan oleh salah satu pegawainya, menuangkan sedikit isinya di telapak tangannya, kemudian mendekatkan jarinya ke indera penciuman Alea. Sementara, Mama dan Papa Kenzo cukup terkejut, mendengar jawaban anak mereka.
"Perempuan itu, penyebab hancurnya rumah tangga Alea, hingga berujung perceraian. Perempuan itu adalah penyebab Alea kehilangan calon bayinya, begitu banyak kesakitan yang Alea rasakan, yang di sebabkan oleh perempuan itu."
.
.
.
Ikutin terus ceritanya ya, jangan lupa like, koment dan Votenya ya ... 🙏🙏🙏
__ADS_1