MATI RASA

MATI RASA
Part 127 Kartu Undangan


__ADS_3

"Alea!"


Anita bergegas mendekati Alea. Perempuan itu limbung dengan tubuh merosot ke lantai.


"Alea! Kamu kenapa Al?" Anita dengan panik menopang tubuh Alea.


"Mbook!"


Anita berteriak memanggil asisten rumah tangganya dengan perasaan panik.


"Alea! Bangun Sayang, Alea!"


Mbok Asih tergopoh-gopoh mendekati majikannya, dia dan Anita kemudian memapah Alea duduk di sofa.


"Ada apa Alea? Perasaan tadi kamu baik-baik saja." Anita mengusap rambut Alea.


"Mama, Kenzo, Ma." Alea menatap Anita dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Ada apa dengan Kenzo? Kenapa kamu menangis?"


Alea menunjuk kartu undangan yang tergeletak di lantai. Mbok Asih kemudian mengambil kartu undangan itu dan menyerahkannya pada Anita.


"Kemarin ada seorang perempuan yang mengirimkan undangan ini untuk Non Alea," ucap Mbok Asih.


Anita menerima kartu undangan yang diberikan oleh Mbok Asih dengan rasa penasaran. Namun, detik berikutnya kedua matanya membola saat membaca tulisan yang tertera pada kartu undangan itu. Seketika amarah merasuki dadanya saat dia membaca nama Kenzo tertera di sana. Anita meremas undangan itu.


'Kenapa Kenzo menyelesaikan masalahnya dengan jalan menikah?'


Anita menahan gejolak amarah di dadanya.


"Tenang Sayang, kau harus tenang. Semuanya pasti akan baik-baik saja." Anita memeluk Alea, menenangkan putri kesayangan itu.


Alea menangis tersedu.


'Aku kembali karena merindukanmu, Ken. Aku pun pulang karena ingin memberimu kesempatan. Tapi, apa yang aku dapat sekarang?'


"Kenapa Kenzo justru menikah dengan perempuan itu, Ma? Kenapa? Kenapa dia harus menikah dengan dia? Bukankah dia bilang dia sangat mencintaiku? Lalu, kenapa sekarang dia ingin menikah dengan perempuan lain?" Alea semakin terisak. Luka hatinya yang baru saja sembuh, kini kembali terbuka lebar.


Hanya dua bulan. Alea tidak menyangka kepergian dia selama dua bulan ternyata sudah menggoyahkan hati Kenzo. Selama ini, Alea memang tidak pernah memberikan kabar pada Kenzo. Mengangkat telepon dari Kenzo pun tidak pernah, padahal pria itu hampir setiap hari meneleponnya.


Ego Alea terlalu tinggi untuk mengakui kalau dirinya pun sebenarnya sangat merindukan pria itu. Kini, di saat dia ingin kembali dan ingin bertemu dengan Kenzo, ternyata justru kabar ini yang dia dapat. Kabar pernikahan Kenzo dengan Bella, perempuan yang sudah menghancurkan hubungannya dengan Kenzo.


"Kenapa Kenzo harus menikah dengan dia, Ma? Bukankah dia bilang dia mencintaiku?" Alea menangis di pelukan Anita. Hatinya hancur berkeping-keping, Rasanya sangat sakit, seperti ribuan belati yang menusuk ke seluruh ruangan hatinya.


"Kenapa? Kenapa dia harus menikah dengan orang lain? Bukankah dia bilang, kalau dia mencintaiku?" Kata-kata itu berulang-ulang Alea ucapkan di tengah isak tangisnya.


Anita memeluk erat tubuh Alea. Memberikan kekuatan pada putri tercintanya. Dia juga tidak menyangka, kalau ternyata Kenzo memilih menyelesaikan masalahnya dengan menikahi perempuan itu. Kenzo bahkan tak bercerita apapun padanya.

__ADS_1


Namun, Anita juga tidak sepenuhnya menyalahkan Kenzo. Pria itu sudah melakukan banyak cara agar Alea luluh dan memaafkan kesalahan yang jelas-jelas tidak dilakukannya. Namun, putri kesayangannya ini terlalu egois. Alea terlalu mementingkan segala egonya. Karena merasa sakit hati dengan apa yang sudah dilakukan oleh Kenzo, Alea membiarkan hubungannya dengan Kenzo berakhir begitu saja, meski di antara mereka belum ada kata putus.


'Tidak. Aku tidak rela jika Kenzo sampai menikah dengan perempuan itu.' Anita mengelus pundak Alea yang berguncang karena isak tangisnya.


Setelah agak tenang, Anita membawa Alea masuk ke dalam kamar.


"Kau istirahatlah! Kalau kau sudah tenang, kau boleh menemui Kenzo."


"Tapi, Ma?"


"Jangan membantah!"


Alea langsung terdiam mendengar ucapan mamanya. Perempuan itu kembali terisak saat Anita pergi meninggalkan kamarnya.


*****


Kenzo baru saja selesai mencoba jas berwarna hitam yang akan dipakainya saat pernikahannya dengan Bella nanti. Wajah tampannya terlihat mengulas senyum tipis. Dia merasa puas dengan hasil kerja pemilik butik itu. Benar-benar sesuai yang diinginkan.


Ponsel Kenzo berdering, pria tampan itu mengambil ponselnya di dalam saku celananya.


Tertera nama Mama Anita di layar ponselnya.


"Mama," gumam Kenzo. Jarinya bergerak dengan cepat memencet tombol hijau.


"Halo, Ma."


"Ada apa, Ma? Kenapa Mama bicara seperti itu? Apa Alea baik-baik saja?"


"Kau masih berani bertanya setelah apa yang kau lakukan padanya sekarang?" Anita masih berteriak di ujung telepon.


"Apa maksud Mama?" Kenzo masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Anita. Perempuan baya yang sudah diklaim menjadi calon mertuanya.


"Ma, ...."


"Apa maksudmu mengirimkan kartu undangan pernikahanmu dengan perempuan itu?" tukas Anita tanpa memberi kesempatan Kenzo untuk menjawab.


"Undangan pernikahan?" Kenzo tampak terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Aniza


"Kau sudah membuat kesalahan yang fatal karena kau akhirnya memilih perempuan itu, Ken. Setelah ini, jangan harap kau bisa mendekati Alea lagi."


"Ma!"


"Mama juga tidak akan mengizinkanmu untuk bertemu Alea lagi setelah ini."


"Denger dulu penjelasanku, Ma ...." Belum selesai Kenzo berucap, Anita sudah mematikan panggilan teleponnya. Kenzo meremas rambutnya frustasi. Kemudian dia langsung bergegas keluar dari ruangan itu tanpa menghiraukan teriakan Bella yang terus memanggilnya.


Melihat Kenzo yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan pribadi si pemilik butik, membuat Rania langsung berdiri mendekati putranya itu.

__ADS_1


"Ada apa, Ken?" Rania menepuk bahu Kenzo. Namun, pria itu terdiam. Pandangan matanya justru langsung tertuju pada dua gaun pengantin yang terpajang di manekin.


Gaun itu terlihat sangat indah, membuat Kenzo terpesona. Dalam hatinya, pria itu sedang membayangkan seandainya yang memakai baju itu adalah Alea, perempuan itu pasti akan terlihat sangat cantik.


"Ken!" Rania kembali menepuk bahu Kenzo, menyadarkan putranya dari lamunan.


"Ada apa? Kenapa kau terlihat kesal?"


"Mama Anita baru saja menelepon, dia marah-marah." Kenzo kemudian menceritakan semua yang Anita katakan padanya.


"Kira-kira siapa yang sengaja mengirimkan kartu undangan itu, Ken? Bukankah Mama sudah menyuruhmu untuk tidak memberikan kartu undangan pernikahanmu dengan Alea?"


"Aku juga tidak tahu siapa yang mengirimkan undangan itu, Ma," jawab Kenzo.


"Mungkin perempuan itu," tebak Rania.


"Bella?" Rania mengangguk.


'Sial!' Kenzo mengepalkan tangannya


"Aku ingin menemui Alea sekarang, aku ingin menjelaskan semuanya padanya."


"Ken! Jangan gegabah. Jangan membuat semua rencana Mama berantakan. Kau hanya perlu duduk dan bersabar."


"Duduk dan bersabar, Mama bilang? Bagaimana aku bisa duduk dan bersabar sementara orang yang aku cintai terus saja menangis karena perbuatanku?" Kenzo menjawab dengan gusar.


"Tenang, Ken. Mama akan menelepon Anita sekarang juga. Kau segera temui Bella, jangan sampai dia marah dan kembali melakukan hal yang lebih gila lagi dari ini." Rania mencoba menenangkan Kenzo.


"Hari pernikahanmu tinggal beberapa hari lagi. Bersabarlah!" Rania menatap putranya sambil tersenyum.


"Segera temui Bella, tanyakan padanya tentang kartu undangan itu. Mama yakin seratus persen, kalau Bella lah yang sudah sengaja mengirimkan undangan itu ke rumah Alea." Rania menahan geram, kemudian menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Pergilah!"


Kenzo mengangguk, kemudian segera keluar dari ruangan untuk menemui perempuan itu.


Tangannya terkepal erat, seandainya bisa, dia ingin sekali menghabisi perempuan itu dengan tangannya sendiri.


Bella baru saja keluar dari kamar ganti. Saat ini perempuan itu sedang mengenakan gaun pengantinnya. Sebuah senyuman mengembang di bibirnya.


"Sayang, apa aku terlihat cantik?" ucap Bella dengan penuh percaya diri saat dia melihat Kenzo datang.


"Apa maksudmu mengirimkan undangan pernikahan kita pada Alea, Bella?"


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya Kakak² 🙏🙏🙏


__ADS_2