
Selesai makan malam, Alea langsung menuju kamarnya dan langsung tertidur karena kelelahan. Bekerja di tempat Kenzo sungguh melelahkan, tapi hanya itulah yang membuat Alea senang saat ini, karena dengan bekerja, ia bisa melupakan kesedihannya, meski cuma sebentar.
Bian dan Amara langsung pulang ke rumah setelah selesai makan malam di restoran. Sesampainya di dalam kamar, Amara langsung melucuti pakaian Bian dan mencium suaminya itu dengan penuh gairah.
Entah mengapa, semenjak dirinya hamil, gairahnya seolah meningkat dari sebelumnya, membuat Bian terkadang merasa kewalahan sekaligus puas.
Amara mendesah panjang setelah mendapatkan kepuasannya. Ia tersenyum puas ke arah Bian sambil menetralkan deru nafasnya yang memburu. Bian membalas senyuman Amara, kemudian mengecup lembut kening perempuan itu sebelum akhirnya beranjak dari atas tubuh polos yang baru saja memberinya kepuasan itu.
Bian mengatur nafasnya yang tersengal, keringat membanjiri seluruh tubuh polosnya. Ia melirik Amara yang sudah memejamkan matanya karena kelelahan.
Bian beranjak dari tempat tidurnya. Memakai kembali celana pendek yang berserak di lantai, kemudian ia menuju balkon. Menyalakan rokok, dan menghisapnya pelan.
Pikirannya menerawang, entah apa yang sedang di pikirkannya saat ini. Tapi wajah cantik Alea terlintas di kepalanya. Ia mendesah panjang, kemudian kembali masuk ke kamar dan menuju kamar mandi.
Selesai mandi, Bian memperhatikan Amara yang tertidur pulas, membenarkan selimutnya, kemudian beranjak keluar dari kamar. Bian melangkahkan kakinya menuju kamar Alea. Saat ia baru saja menutup pintu, tubuhnya terpaku sejenak, saat melihat ranjang yang dua hari ini kosong akhirnya kembali terisi oleh sang pemilik.
Bian dengan perasaan senang langsung melangkah mendekati ranjang, kemudian dengan pelan memeluk tubuh ramping Alea dari belakang. Bian tersenyum senang, kemudian ikut memejamkan matanya di samping Alea.
Saat pagi tiba, Alea mendorong kuat tubuh Bian yang memeluknya. Ia sangat kaget karena saat bangun tiba-tiba ada orang yang memeluknya erat.
Bian mengaduh kesakitan saat tubuhnya mendarat di lantai lumayan keras.
"Kau ... kenapa kau mendorongku!" teriak Bian kesal sambil mengusap- usap bokongnya.
"Kenapa kau tidur di sini?"
"Aku suamimu Alea, kenapa aku tidak boleh tidur dengan istriku sendiri?"
"Istri?" Alea mencibir.
"Giliran sekarang saja, kau menyebutku istri. Dari dulu kemana aja?" Bian langsung terdiam, tak bisa menjawab.
"Kapan kau pulang?"
__ADS_1
Tapi tidak ada jawaban yg kuat dari mulut Alea.
"Alea! aku bertanya padamu."
"Aku baru pulang semalam." sahut Alea acuh, kemudian segera beranjak menuju kamar mandi dan menutupnya keras.
Bian menggusar rambutnya kasar.
Perempuan ini benar-benar ...
Bian menatap pintu kamar mandi yang tertutup, tercetak seringai di wajahnya. Tapi saat ia mendapati pintu itu terkunci dari dalam, seringainya pun lenyap. Ia lupa, kalau Alea bukanlah Amara yang tidak pernah mengunci kamar mandi di saat ia sedang mandi. Akhirnya dengan wajah kesal, Bian keluar dari kamar Alea.
Amara baru saja selesai mandi saat Bian baru saja masuk ke kamarnya.
"Kau dari mana?" Bian menatap Amara yang baru saja dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi bagian tubuh atasnya dan setengah paha mulusnya.
Melihat Amara yang begitu seksi membuat Bian menelan salivanya. Gairah yang tadi sempat membara karena melihat Alea yang tidur di pelukannya, namun langsung menghilang gara-gara sikap Alea, kini kembali naik ke ubun-ubun.
*****
Alea baru saja selesai sarapan saat kedua sejoli itu keluar dari kamarnya dan turun dengan bergandengan tangan sambil saling tersenyum mesra.
Alea yang melihat kemesraan mereka hanya bisa mengepalkan tangannya. Namun, tidak dengan raut wajahnya yang terlihat datar tanpa ekspresi.
Bian menatap Alea yang sedang membereskan piringnya.
"Kenapa tidak menungguku dan Amara, biar kita bisa sarapan bareng?" Bian menatap Alea yang terlihat cantik hari ini. Entah kenapa, Alea terlihat sangat cantik di matanya sekarang.
"Kau pikir sekarang sudah jam berapa? aku bahkan sudah satu jam lebih menunggu kalian duduk di sini." sahut Alea kesal.
"Kau mau kemana?" Bian meraih tangan Alea yang ingin beranjak.
"Aku mau ke taman." Alea dengan kasar melepaskan pegangan tangan Bian.
__ADS_1
"Alea! kau tidak ...."
"Sudahlah! jangan pedulikan dia, kita harus segera sarapan, karena kita sudah terlambat ke kantor." potong Amara cepat.
Bian menghembuskan nafasnya, kemudian menuruti ucapan Amara untuk segera menyantap sarapannya.
Mbok Sumi segera melangkah menuju taman saat mobil Bian dan Amara sudah melaju meninggalkan rumah.
"Mereka berdua sudah berangkat Non." Alea melangkah mendekati Mbok Sumi.
"Terima kasih Mbok, aku berangkat dulu ya, "
"Iya Non, hati-hati."
Alea tersenyum, kemudian mengacungkan jempolnya pada Mbok Sumi.
Alea memutuskan berangkat ke tempat kerjanya setelah Bian dan Amara pergi. Karena ia tidak mau Bian dan Amara mengetahui kalau dirinya bekerja sekarang, apalagi, pekerjaannya hanya seorang kasir di restoran, pasti mereka berdua tidak akan berhenti mentertawakannya.
Hari-hari Alea berjalan seperti biasanya, bersikap masa bodoh pada Bian dan Amara, dan bekerja tiap hari di restoran Kenzo. Sementara Bian, semakin hari semakin bertambah menyebalkan. Ia terus mendekati Alea, tapi Alea terus saja menolaknya dan menjaga jarak dengannya.
Hingga pada suatu hari, Alea tak menolak saat Bian menciumnya. Alea sengaja tak menolak saat ia melihat ada Amara yang sedang berdiri di belakang Bian tanpa sepengetahuan Bian.
Pada saat Bian sedang mencium Alea, tiba-tiba Amara langsung menarik Bian hingga ciuman mereka terlepas, kemudian tanpa basa-basi Amara langsung mendorong tubuh Alea hingga terjatuh.
"Amara!"
.
.
.
Jangan lupa like n koment juga Votenya ya 🙏🙏🙏
__ADS_1