
"Kau pasti akan menyesal Bian, kau pasti akan menyesal karena tidak mempercayaiku ...."
Ucapan Alea saat tadi pagi dirinya dengan membabi buta memukuli Alea dengan ikat pinggang.
"Istri Anda mengalami keguguran ...." Bian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya saat ucapan Dokter tadi kembali terngiang di kepalanya.
"Apa yang sudah aku lakukan?"
Bian masih menundukkan kepalanya sambil terduduk di lantai, wajahnya masih ia tutupi dengan kedua tangannya. Bian benar-benar tidak menyangka, kalau emosinya tadi pagi sudah membuat ia kehilangan calon bayinya.
Kenzo dan Mbok Sumi masuk ke dalam ruangan saat seorang perawat memberitahukan padanya kalau pasien ingin berbicara dengan mereka berdua.
Sementara Mang Ujang hanya bisa menatap Bian yang terlihat shock saat mendengar Alea keguguran.
"Ken ...." Bibir pucat Alea menyebut nama Kenzo saat pria itu datang dan mendekat ke arahnya.
Kenzo mendekati gadis itu, kemudian memeluknya. Kenzo berdiri dengan lututnya, tangannya melingkar di perut Alea, kemudian membenamkan wajah perempuan itu ke dadanya.
Alea menangis di pelukan Kenzo, ia mengeluarkan semua sakit hati yang ia rasakan saat ini. Kenzo melepaskan pelukannya, ia memandangi wajah cantik itu dengan hati teriris. Wajah Alea babak belur, dengan luka memar dan bengkak, serta darah yang terlihat mengering di sudut bibirnya.
"Ken, aku sudah tidak kuat lagi ... bawa aku pergi dari Bian." Air mata kembali mengalir dari wajah Alea.
"Aku akan membawamu pergi sejauh mungkin dari pria brengsek itu." Kenzo menghapus air mata yang mengalir di pipi Alea. Sementara Mbok Sumi sudah menangis sesunggukan.
"Mbok ...."
"Iya Non, " Mbok Sumi mendekati Alea.
"Mbok suruh Mang Ujang periksa cctv di rumah, simpan rekamannya, jangan sampai ketahuan Bian dan Amara." Alea berbisik lirih.
"Aku sudah meminta Mang Ujang melakukan itu." Alea menatap Kenzo, membuat pria itu menganggukkan kepalanya.
"Mbok pergi ke kamarku .... " Alea meringis saat rasa sakit menjalar di bibirnya yang bengkak, akhirnya Kenzo berinisiatif memberikan ponselnya.
"Tulis apa yang ingin kau katakan pada Mbok Sumi di sini."
Kemudian Alea mengetik satu persatu apa yang di inginkannya dengan susah payah, karena kedua tangannya pun terasa sakit, karena tidak luput dari pukulan Bian.
Kedua perawat datang dan mengatakan pasien akan di pindahkan ke ruang rawat inap.
Kenzo membantu kedua perawat memindahkan Alea ke kursi Roda, sementara Mbok Sumi sudah terlebih dulu keluar dari ruangan.
Sedangkan Mang Ujang masih di luar menunggu, tidak terlihat Bian di sana, pria yang tadi terlihat begitu shock itu sudah tidak ada lagi.
__ADS_1
"Den Bian menemani Non Amara Mbok, " Mang Ujang menjawab kebingungan Mbok Sumi, sementara Mbok Sumi mengangguk tanda mengerti. Mbok Sumi menyuruh Mang Ujang pulang, dan segera melakukan tugas yang diberikan oleh Alea. Sementara Mbok Sumi mengikuti Kenzo dan kedua perawat itu. Setelah memastikan di mana kamar Alea berada, Mbok Sumi pamit pulang.
"Cari sampai ketemu ya Mbok, terus langsung bawa ke sini, jangan sampai Bian tahu."
"Iya Non, "
Mbok Sumi meninggalkan ruangan itu.
Alea menatap Kenzo yang saat ini sedang menatapnya.
"Aku ingin bertemu dengannya Ken ...." Alea berbisik lirih di telinga Kenzo yang mendekat ke arahnya.
"Aku ingin melihatnya sekali lagi, setelah itu, aku akan melepaskannya dengan ikhlas."
Setelah berulang kali kesakitan, tetap saja, perasaan ini masih ada.
"Kau yakin?"
Alea mengangguk, air matanya kembali mengalir, membuat Kenzo langsung memeluknya.
"Rasanya, aku ingin membunuhnya sekarang juga." Kenzo ikut menangis namun tak terlihat oleh Alea.
"Aku tidak mau kalau kau sampai di penjara karena membunuhnya."
"Aku akan menyuruhnya menemuimu untuk terakhir kalinya." Alea mengangguk. Kemudian memencet beberapa nomor yang ia hapal di luar kepala, saat Kenzo memberikan ponsel padanya.
Bian sedang menemani Amara yang baru saja di pindahkan ke kamar rawat inap. Tadi ia langsung pergi dari sana saat seorang perawat memberitahukan padanya, kalau masa kritis Amara sudah lewat.
Ia pergi begitu saja meninggalkan ruangan Alea tanpa melihat perempuan itu terlebih dahulu. Bian menatap wajah Amara yang kembali tertidur karena efek obat yang baru saja di minumnya.
Dokter bilang, Amara baik-baik saja, kandungannya juga baik- baik saja, pendarahan yang di alaminya tidak menyebabkan dirinya keguguran, hanya saja, Amara terpaksa tidak boleh melakukan aktifitas apapun karena kejadian ini.
Tapi hatinya berdenyut sakit saat mengingat keadaan Alea. Demi Amara, sekali lagi, Bian melukai perempuan itu ....
Bian terbangun dari lamunannya, saat ponsel di sakunya bergetar.
"Alea sudah di pindahkan di ruang rawat inap xx ...."
Bian melihat pesan dari nomor yang tak di kenal, tapi tak urung membuatnya segera beranjak. Ia mengecup kening Amara sebentar, kemudian keluar dari ruangan itu.
Ruangan yang di sebut di dalam pesan itu ternyata tidak jauh dari ruangan Amara, hanya berbeda dua kamar, jadi Bian bisa langsung menemukannya.
Ia melihat pria tampan yang katanya sahabat Alea itu berdiri di depan pintu. Pandangan mereka bertemu, terlihat jelas aura kemarahan dari tatapan pria itu.
__ADS_1
Kenzo menatap Bian yang berjalan ke arahnya. Sebisa mungkin ia menahan amarahnya. Rasanya, ia ingin sekali memukul wajah Bian sampai tak berdaya, agar pria itu juga merasakan sakit seperti yang Alea rasakan.
Tapi, demi Alea, ia menahan semua amarahnya.
Kenzo membuka pintu masuk dan membiarkan Bian mengikutinya dari belakang.
"Aku ada di depan pintu, kalau terjadi apa-apa, langsung panggil aku." Kenzo mengusap rambut Alea lembut, kemudian meninggalkan Alea.
Kenzo menatap Bian dengan dingin, seolah tatapan itu langsung menembus ke jantung Bian, sebelum akhirnya ia meninggalkan ruangan itu.
Alea menatap Bian yang berjalan ke arahnya. Memindai wajah pria yang bertahun-tahun ia cintai, tapi hanya kesakitan yang ia dapatkan hingga detik ini.
Bian mendekati Alea, tiba-tiba pria itu berlutut di sampingnya, kemudian meminta maaf.
"Maaf! maafkan aku ...." Bian menatap wajah Alea yang terlihat menyedihkan karena ulahnya. Seluruh wajahnya membengkak dan terlihat memar bekas pukulan tangannya.
Bian mengepalkan tangannya saat rasa sakit menjalar di sudut hatinya melihat keadaan Alea yang terlihat begitu menyedihkan. Menyedihkan karena ulahnya.
"Maaf!"
"Maaf!"
"Maafkan aku sayang ...."
Bian menumpahkan tangisnya di dada Alea, tangannya melingkar memeluk tubuh itu. Tubuh yang tadi pagi dengan tanpa ampun ia sakiti. Air mata Bian semakin mengalir saat ia mengingat teriakan kesakitan Alea saat ikat pinggang itu mengenai tubuhnya.
"Maafkan aku ...."
Semua sudah terlambat Bian, satu kesempatan yang aku berikan padamu sudah berakhir. Hari ini, aku hanya ingin melihatmu, melihatmu menyesali semua yang telah kau lakukan padaku ....
Kenapa mencintaimu harus sesakit ini?
Alea memejamkan matanya, air matanya kembali mengalir, saat Bian mengecupi seluruh wajahnya yang terluka dengan berkali-kali ucapan Maaf.
Semua sudah terlambat ....
.
.
.
Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak², biar authornya semangat updatenya 🙏🙏🙏
__ADS_1