MATI RASA

MATI RASA
Part 67 Amarah Kenzo


__ADS_3

Bian langsung tertidur setelah Laras memberikan obat penenang yang langsung diminum oleh Bian. Laras sudah menyuruh para pelayannya untuk membersihkan kamar Bian, yang berantakan akibat kelakuan Bian tadi.


Beberapa menit kemudian, kamar itu kembali rapi seperti semula. Hanya tinggal lemari kaca saja yang belum rapi. Karena hampir seluruh kaca lemari itu hancur berantakan.


Laras memperhatikan Bian sebentar, mengusap lembut rambut putranya itu. Kedua tangan Bian yang terluka karena pecahan kaca sudah dibalut dengan perban.


"Maafkan Mama, Bi, karena Mama tidak bisa mengatakan di mana Alea berada. Karena keadaan Alea pun tak beda jauh denganmu. Mama tidak mau, kehadiranmu nanti justru akan memperparah keadaan Alea. Maafkan Mama, sayang ...," batin Laras.


'Biarkanlah waktu yang akan mengobati sakit hati kalian berdua'


Laras membelai wajah Bian yang terlihat tak terurus, karena Bian membiarkan jambang dan juga kumisnya tumbuh. Tidak seperti Bian yang seperti biasanya, yang selalu rapi dan sangat memperhatikan penampilan.


Tubuh Bian yang biasanya berisi pun, kini terlihat kurus, karena selama tinggal di apartemen, Bian jarang makan, dan karena stres berat, Bian menghabiskan hari-harinya dengan meminum minuman beralkohol sampai mabuk.


Tak berapa lama kemudian, Laras keluar dari kamar Bian dengan raut wajah sedih. Sebagai seorang ibu, tentu saja ia sangat bersedih, melihat putranya menderita seperti itu.


*****


Pagi harinya, Bian terbangun sambil memegangi kepalanya yang terasa berat. Bian menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Ia kemudian meraih ponselnya di atas nakas.


Begitu banyak panggilan tak terjawab dan juga ratusan pesan dengan nomor yang sama. Bian mengecek satu persatu riwayat panggilan itu. Kebanyakan, panggilan telepon itu berasal dari orang-orang yang ia suruh untuk mencari Alea, kedua matanya menyipit, saat ia melihat nama 'Alea sayang' terselip di sana.


'Alea menelepon?'


Bian kembali melihat dengan benar, takut penglihatannya salah. Tapi yang dilihatnya itu benar-benar nomor Alea, dan riwayat panggilan itu adalah tiga hari yang lalu. Sebelum ia berangkat ke Bali.


"Tapi siapa yang menerima panggilan teleponnya?" gumam Bian.


Selama ini, ia tidak pernah berhenti menghubungi nomor Alea, tapi tak pernah tersambung, dan kini, tiba-tiba ia menemukan nomor Alea meneleponnya. Rasanya, Bian sungguh-sungguh tidak percaya.


Dengan senang hati, Bian langsung memencet nomor Alea. Senyum Bian terkembang saat panggilan itu tersambung.


"Halo."


"Alea, sayang ...."


Alea yang saat itu sedang sibuk melayani pelanggan restoran, dengan buru-buru meraih ponselnya yang berdering di saku bajunya. Tanpa melihat siapa yang memanggil, Alea langsung memencet tombol hijau di layar ponselnya, kemudian berjalan sebentar ke arah belakang, setelah berpamitan pada sesama rekan kerjanya.

__ADS_1


Langkah Alea terhenti, sesaat ia membeku, saat suara familiar di seberang sana menyapu pendengarannya.


"Alea ... sayang, apa kau mendengar aku? Ini aku, Bian. Aku sangat merindukanmu, pulanglah sayang, aku benar-benar merindukanmu."


Jantung Alea berdebar kencang. Alea menurunkan ponsel dari telinganya, melihat nama si pemanggil. Alea menelan saliva, sudah lama sekali ia mengabaikan panggilan dari nomor ini. Sudah lama sekali ia menghindari saat nomor ini menghubunginya terus menerus. Tapi sekarang, gara-gara ia terburu-buru, ia langsung mengangkat panggilan teleponnya tanpa melihat siapa yang meneleponnya tadi.


"Halo, Alea ... sayang ...." Suara Bian di seberang sana terdengar serak, karena Bian sudah mulai menangis.


"Alea ... sayang, kamu masih mendengarkan aku bukan? Pulang sayang, aku merindukanmu. Aku ingin sekali bertemu denganmu, aku sudah mencarimu ke mana-mana tapi aku tidak menemukanmu. Sayang ... aku mohon, kembalilah!" Bian sudah menangis sekarang.


Bibir Alea bergetar, kedua bola matanya mulai memanas.


"Alea ...." Suara Bian disela tangisnya.


"Maaf! Maafkan aku Alea ... aku memang tidak pantas untuk di maafkan, tapi aku mohon, maafkan aku sayang ... aku salah, aku sangat bersalah padamu, maafkan aku ...." Bian menangis tersedu di sana, sementara Alea meneteskan air matanya.


Tangannya bergetar memegang ponselnya. Suara tangis Bian bagaikan pisau yang menyayat kembali hatinya, hingga berdarah. Menusuk-nusuk, meninggalkan rasa nyeri yang menyebar di seluruh ruang hatinya.


"Alea ... maafkan aku, aku bersalah padamu, maafkan aku sayang ...."


Alea masih berdiri di sana, memegang ponselnya dengan tangan gemetar. Semua ucapannya seolah tersangkut di tenggorokan.


Pria ini tetap mampu menggetarkan hatinya meski jantungnya serasa di remas-remas meski hanya mendengar suaranya. Ia Membencinya, sangat membencinya!


Pria ini adalah penyebab semua penderitaannya, semua kesakitannya, dan pria ini pula lah, yang menghancurkan hatinya berkeping-keping. Tapi kenapa? Tapi kenapa di saat ia sangat membencinya di level paling tertinggi pun, pria ini masih bisa membuatnya tak bernafas hanya dengan mendengar suaranya ....


"Alea ... maaf! Maafkan aku ...." Bian berulangkali meminta maaf, tapi Alea masih terdiam dengan isak tangis lirih yang mulai terdengar.


"Alea ...."


Alea menggeram marah dalam hati, karena tidak tahan mendengar suara Bian yang memelas, apalagi dengan suara tangisannya yang membuat pria itu terdengar begitu menyedihkan. Alea mengepalkan tangannya dengan erat.


"Bi--Bian ... aku membencimu! Sampai kapanpun aku akan tetap membencimu! Meskipun kau bersujud di kakiku, aku tidak akan pernah memaafkanmu! Karena kau telah membunuh anakku Bian, darah dagingmu!"


"Aku membencimu! Sampai seluruh hatiku pun dipenuhi oleh kebencianku padamu!" Alea kembali berteriak. Bayangan saat Bian menyiksanya kembali terekam, membuat Alea menekan dadanya yang terasa sesak. Nafasnya memburu, tubuhnya gemetar, bahkan buliran keringat sudah mulai membasahi keningnya.


Tangannya yang memegang ponsel terus bergetar, begitu pun suaranya yang mulai teredam tangisan.

__ADS_1


"Aku membencimu Bian! Sangat membencimu!"


"Kau pembunuh! Kau telah membunuh anakku! Kau telah membunuh anakku!" Alea berteriak histeris, membuat beberapa orang pegawai yang kebetulan mendengar suara teriakan Alea langsung berhambur ke belakang, ke area dapur, di mana tadi Alea berpamitan pada temannya.


"Kau pembunuh Bian! Kau telah membunuh anakku! Kau benar-benar ayah yang kejam, seorang ayah yang tega membunuh anaknya sendiri!" Alea menangis sambil terus berteriak.


Sementara Bian, ia sangat syok mendengar teriakan Alea. Jantungnya seolah dipaksa berhenti saat mendengar teriakan lantang dari Alea yang mengatakan kalau Alea sangat membencinya. Sangat membencinya, dan mengatakan kalau ia adalah pembunuh darah dagingnya. Meski itu benar, tapi rasanya begitu sangat menyakitkan saat Alea sendiri yang mengucapkannya.


"Alea ...."


"Aku membencimu Bian, sangat membencimu!" Alea makin kehilangan kendali, ponselnya sudah terlepas dari tangannya, beberapa teman sesama pegawai restoran Kenzo sudah mulai memegangi Alea yang masih berteriak dan terus meronta.


Kenzo berlari keluar dari ruang meeting, saat salah satu pegawai kepercayaannya terpaksa meneleponnya untuk memberitahukan apa yang terjadi pada Alea.


Saat sampai di belakang restoran, Kenzo langsung berteriak melihat Alea yang terus berteriak histeris sambil terus meronta, berontak dari pegangan beberapa orang pegawai yang terus memegangi tubuhnya.


"Alea!"


Kenzo menyingkirkan beberapa pegawai yang memegangi Alea, kemudian mendekap perempuan itu ke dalam pelukannya.


"Tenanglah Alea, tenanglah! Ada aku di sini, semuanya akan baik-baik saja, tenanglah!" Kenzo memeluk Alea yang terus memberontak.


Salah satu pegawai Kenzo memberikan ponsel Alea yang masih menyala, dengan suara Bian yang masih terdengar di seberang sana.


"Alea sayang ... maaf! Maafkan aku!"


Kenzo menggeram marah, ia meraih ponsel di tangan pegawainya dengan kasar. Rahangnya mengeras, amarahnya meledak saat suara Bian menyapu pendengarannya.


"Brengsek kau, Bian! Berani-beraninya kau menelepon Alea!" Suara Bian meninggi, membuat semua orang sangat terkejut, tak terkecuali Alea yang saat ini masih dalam pelukannya.


.


.


Pagi-pagi Authornya udah dibikin emosi jiwa sama Bian 😡😡😡


Yang suka ceritanya, lanjut terus yuk! Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya 🙏🙏🙏

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2