MATI RASA

MATI RASA
Part 107 Selamat Tinggal


__ADS_3

Kenzo menggendong tubuh Alea menuju kamarnya. Membaringkan tubuh Alea yang tidak sadarkan diri. Kenzo menatap Alea dengan prihatin. Alea pasti sangat syok saat mendengar kabar kematian Bian.


Pria itu memang benar-benar masih sangat berpengaruh buat Alea. Meski Alea mengatakan padanya kalau dia sangat mencintainya, tapi perempuan itu ternyata belum sepenuhnya melupakan Bian. Mantan suami yang dulu sangat dicintainya. Bian adalah cinta pertama Alea. Dari semenjak remaja, Alea sudah mencintai Bian. Seperti dirinya yang dari remaja juga sudah mencintai Alea.


Kenzo sangat ingat setiap kali Alea menceritakan pria pujaannya saat dirinya dan Alea masih berseragam putih abu-abu. Saat itu, Kenzo adalah sahabat baik Alea. Sahabat baik yang diam-diam mencintainya.


Kenzo membuka ponselnya, membuka pesan video yang di kirimkan oleh Rajasa, kedua matanya membola saat melihat video itu.


Dalam video itu terlihat saat Bian masih berada di rumah sakit, terlihat wajah Bian yang penuh luka dan perban di kepalanya keluar dari ruangan ICU kemudian dibawa ke mobil ambulans. Video itu juga memperlihatkan saat seluruh keluarga Bian hadir di sebuah pemakaman dengan membawa foto Bian.


Kenzo kembali memutar video itu. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Bian sudah meninggal. Kenzo menatap Alea yang masih belum sadarkan diri, kemudian ia menghela nafas panjang.


'Aku tidak tahu sebenarnya perasaan apa yang kau rasakan pada Bian, Al, kau bilang kau membencinya, tapi nyatanya kau tetap peduli padanya.'


Alea mengerjapkan matanya, menyesuaikan pandangannya. Sementara di dekatnya, Kenzo sedang memeluk dirinya dengan erat. Pria itu memejamkan mata, tapi lengan kekarnya memeluk erat tubuh Alea.


"Ken ...."


"Kau sudah bangun?"


Kenzo masih memeluk Alea sambil memejamkan matanya.


"Ken,"


"Istrirahatlah! Kau hanya perlu beristirahat, tidak usah memikirkan yang lain," ucap Kenzo mengeratkan pelukannya.


"Bian, Ken. Apa benar apa yang terjadi pada Bian? Apa benar, dia sudah meninggal?" Alea menggerakkan tubuhnya melepaskan pelukan Kenzo.


"Tenang, sayang. Apapun yang terjadi pada Bian, semua itu bukanlah kesalahanmu. Semuanya sudah takdir. Tidak bisa dirubah lagi."


"Ken ...."


"Menangislah! Kau boleh menangis sepuasnya di sini." Kenzo menunjukkan dada bidangnya, kemudian kembali memeluk perempuan itu. Alea menangis pilu di pelukan Kenzo.


"Ini terakhir kali kau menangisinya, Al. Setelah ini, aku harap kau bisa melupakannya. Karena aku tidak rela, orang yang aku cintai menangisi pria lain selain aku."


Alea semakin menangis mendengar ucapan Kenzo. Bayangan Bian saat menyelamatkan dirinya kembali terlintas.

__ADS_1


'Aku memang membencimu, Bian. Tapi aku tidak pernah berharap kalau kau akan mati begitu cepat. Apalagi penyebab kematiannya adalah aku.'


Alea menangis di pelukan Kenzo, sementara Kenzo menahan rasa yang bergejolak di hatinya. Rasa cintanya yang begitu besar pada Alea membuatnya menahan semua perasaan yang saat ini ia rasakan.


Kenzo mencoba mengerti apa yang Alea rasakan saat ini. Ia tidak ingin egois, meski dalam hatinya ia merasakan sakit yang tak kasat mata. Alea memang sangat terpukul atas kepergian Bian, bagaimana tidak, Alea bahkan melihat dengan kepalanya sendiri saat Bian menyelamatkannya.


Kenzo memeluk erat tubuh Alea yang terus berguncang karena isak tangisnya.


"Menangislah sampai kau puas, Al. Tapi ingat, kau tidak boleh menyalahkan dirimu, karena semua ini bukanlah kesalahanmu. Bian sendiri yang memilih mengorbankan dirinya demi menyelamatkanmu. Jadi semua ini bukanlah kesalahanmu," bisik Kenzo di telinga Alea.


"Aku ingin melihat dia untuk terakhir kalinya, Ken. Aku ingin melihatnya. Temani aku untuk melihatnya, Ken ...."


"Kita tidak bisa melihatnya, Al. Karena pihak keluarga sudah memakamkan jenazah Bian."


Alea mendongak menatap Kenzo tak percaya.


"Iya, sayang, Bian sudah di makamkan. Papa tadi ngirim videonya."


"Video?" tanya Alea di tengah isak tangisnya.


Alea memegang ponsel itu dengan tangan gemetar, kemudian menekan layar hingga video itu terlihat. Air matanya semakin luruh, Alea kembali menangis saat melihat Bian dalam video itu. Hingga sampai saat keluarga Bian berada di pemakaman, sampai proses pemakaman itu berlangsung pun terlihat jelas. Terlihat Tante Laras yang sedang memegang foto Bian sambil menangis.


Kenzo meraih tubuh Alea yang kembali menangis. Pria itu memeluk Alea, seolah ikut merasakan apa yang Alea rasakan.


'Bian, semoga kau tenang di sana. Terima kasih sudah mengorbankan nyawamu untuk Alea. Aku janji, aku akan selalu menjaga Alea dan membahagiakannya.'


Kenzo mengusap kepala Alea kemudian memberikan ciuman berkali-kali di pucuk kepalanya.


Seandainya Bian tidak mempertaruhkan nyawanya untuk menolong Alea saat itu, mungkin ... entahlah! Kenzo tidak ingin membayangkannya.


'Terima kasih, Bian.'


Alea masih terisak di pelukan Kenzo. Ia masih belum percaya kalau Bian benar-benar sudah meninggal dunia.


"Ken ...."


"Iya, sayang."

__ADS_1


"Aku berhutang nyawa pada Bian." Alea melepaskan pelukannya, kemudian menatap Bian dengan kedua mata yang memerah penuh air mata.


Kenzo hanya menganggukkan kepalanya sambil menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi Alea.


"Kalau begitu, jangan biarkan pengorbanan Bian sia-sia. Kau tidak boleh terus menerus merasa bersalah dan menyesali semua yang sudah terjadi," ucap Kenzo dengan bijak.


Alea menganggukkan kepalanya, kemudian kembali memeluk Kenzo dengan isak tangis yang kembali terdengar.


"Bian mempertaruhkan nyawanya demi kamu, karena Bian merasa kalau nyawamu lebih berharga dan kamu pantas untuk bahagia."


Alea semakin menangis mendengar ucapan Kenzo.


"Jangan biarkan pengorbanan Bian menjadi sia-sia. Kau harus kuat, masih ada aku yang akan selalu berada di sampingmu dan menjagamu."


"Aku mencintaimu, Alea." Kenzo berbisik lirih di telinga Alea.


Alea semakin mengeratkan pelukannya. Kenzo benar, apa yang terjadi pada Bian adalah takdir. Takdir Tuhan yang tidak bisa ia sangkal. Hanya saja, Alea sedikit menyesal karena Bian harus meninggal karena menyelamatkannya.


Alea sangat ingat bagaimana dirinya begitu membenci Bian. Membencinya, karena sakit hati yang ia rasakan terhadap Bian. Pria itu sudah menorehkan begitu banyak luka di hatinya. Luka yang teramat dalam yang sangat sulit disembuhkan.


'Bian, kisah kita sudah lama berakhir. Tapi rasa sakit yang kau tinggalkan masih begitu terasa sampai sekarang. Setiap kali aku melihatmu, bayangan masa lalu itu selalu melintas di mataku. Rasanya seperti baru kemarin aku merasakan kesakitan saat kau mengkhianatiku dan juga menyiksaku. Rasa sakit di hatiku ini, tidak akan pernah hilang meski beribu-ribu kali kau meminta maaf padaku.'


Sakit, rasanya sangat sakit setiap kali aku melihatmu. Bahkan saat kau memelukku saat itu, hatiku benar-benar mati rasa. Tidak ada sedikit pun tersisa rasa cintaku yang dulu begitu besar padamu. Semuanya hilang. Hilang seiring beribu-ribu kesakitan yang pernah kau berikan padaku.


Namun, saat aku melihat dengan tanpa ragu kau menyelamatkan aku, hatiku karam. Seperti ada sesuatu yang menghantam hatiku. Rasa sakit saat melihatmu kesakitan karena aku.


'Selamat tinggal, Bian ... terima kasih karena kau sudah menyelamatkan aku.'


'Selamat tinggal ....'


.


.


Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak ² 🙏🙏🙏


.

__ADS_1


__ADS_2