
Kenzo mendekati Alea setelah kedua pasangan menjijikan itu pergi meninggalkan restorannya.
Ia menghembuskan nafas panjang, merasa prihatin dengan nasib sahabatnya yang menikah dengan orang yang di cintainya tapi tidak pernah mencintainya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Alea mendongak menatap Kenzo heran.
"Kau bisa keluar sekarang."
"Apa mereka sudah pergi?" Kenzo mengangguk, membuat Alea langsung keluar dari persembunyiannya.
"Bagaimana? apa kau mendapatkan sesuatu?" Alea dengan antusias langsung memberondong Kenzo dengan pertanyaan.
"Seperti dugaanmu, mereka sepasang kekasih."
"Hah? benarkah?" Alea terperangah tak percaya.
"Tutup mulutmu." Kenzo menutup mulut Alea yang terbuka karena kaget, membuat Lili yang ada di samping mereka mengulas senyum, karena baru kali ini ia melihat sisi lain dari Bosnya itu.
Ale menggigit tangan Kenzo yang membekapnya.
"Aku nggak bisa nafas Ken!" Alea mendelik tajam pada Kenzo setelah pria itu melepaskan tangannya dari mulutnya.
Kenzo tertawa lepas sambil mengacak-acak rambut Alea.
"Ternyata perempuan itu lebih parah dari suamimu Al?"
"Maksud kamu?"
"Ayo ke ruangan ku, kita dengerin rekaman ini sama-sama."
"Baiklah." Alea mengikuti langkah Kenzo yang menarik tangannya menuju ke ruangannya.
Di dalam ruangan Kenzo, Alea mendengarkan semua yang Amara katakan pada pria itu. Alea menggelengkan kepalanya, merasa tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Dia bahkan tidak tahu siapa ayah dari anak yang di kandungnya sekarang? tapi kenapa dia mengakui kalau anak itu adalah anak Bian?"
"Tentu saja biar suamimu yang brengsek itu mau menikah dengannya, karena Bian bodohmu itu tidak tahu kalau ada pria lain yang juga ikut menyumbang benih di rahim perempuan pujaannya itu." Kenzo benar-benar merasa jijik dengan jenis perempuan seperti Amara.
Bermain dengan dua pria sekaligus? dan membiarkan kedua benih pria itu tumbuh di rahimnya?
Kenzo bergidik ngeri.
"Kau kenapa?"
"Perempuan madumu itu ternyata perempuan yang sangat mengerikan sekaligus menjijikkan!"
Alea tertawa melihat reaksi Kenzo.
__ADS_1
"Memangnya kau tidak pernah bertemu dengan perempuan model seperti itu?"
"Amit-amit jabang bayi, jangan sampai aku ketemu sama perempuan seperti itu. Kau tahu kan, kalau aku ini pria baik-baik?"
Kenzo bergidik ngeri.
"Apa benar kau pria baik-baik? apa kau tidak pernah menyentuh perempuan sama sekali? atau jangan-jangan kau juga tidak pernah pacaran?" Kenzo menggelengkan kepalanya.
"Perempuan yang aku peluk dan aku cium selain Mama dan adik-adikku adalah kamu, cuma kamu Alea ...."
Alea tertegun sejenak, namun akhirnya tersenyum sinis.
"Kalau begitu, selama ini di luar negeri kamu ngapain aja? masa iya dengan tampang ganteng begini nggak ada yang kecantol sama kamu." Alea menatap Kenzo tak percaya.
"Bukan tidak ada yang nyantol, tapi akunya yang nggak bisa melihat mereka." Kenzo terlihat serius.
"Alea, apa kau masih ingat apa yang aku katakan padamu saat aku mau berangkat ke luar negeri waktu itu?"
Alea mencoba mengingat, tapi gagal. Yang dia ingat saat itu, Kenzo memeluknya erat.
"Aku mencintaimu, maukah kau menunggu sampai aku kembali? aku benar-benar mencintaimu Alea, mencintaimu, bukan hanya sebagai seorang sahabat, aku mencintaimu seperti kau mencintai pria itu ...."
"Apa sudah ingat sekarang?"
"Ken ...." Alea menatap Kenzo dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
"Tidak usah di pikirkan, aku tidak akan memaksamu, dan juga, jangan merasa tidak enak padaku karena ini. Aku sudah cukup bahagia melihatmu bahagia Al ...."
"Ken ...."
Alea mendekati Kenzo dan memeluk pria itu dengan erat.
"Apa pria yang dulu kau cintai adalah dia?" Alea mengangguk di pelukan Kenzo.
"Aku membuang waktu bertahun-tahun untuk mencintainya, dan akhirnya berakhir seperti ini, aku begitu bodoh dan sangat menyedihkan bukan?" Alea mengeratkan pelukannya pada Kenzo.
"Kenapa aku tidak mencintaimu saja yang jelas-jelas mencintaiku?" Kata-kata itu hanya mampu Alea ucapkan dalam hatinya.
Kepalanya ia sandarkan pada dada bidang pria itu. Alea bahkan dengan jelas mendengar detak jantung Kenzo yang tak beraturan.
Kenapa ia baru menyadarinya sekarang? Kenapa ia baru sadar kalau pria ini adalah pria yang sama yang sangat mencintainya dari dulu?
"Alea ... aku hanya ingin melihatmu bahagia, dengan begitu, aku bisa tenang untuk melepaskanmu dari hatiku ...." Kenzo berbisik lirih di telinga Alea membuat perempuan itu makin mengeratkan pelukannya.
Sementara itu di sebuah kamar hotel, Amara dan Andre sedang bergumul di atas ranjang dengan penuh gairah. Kedua tubuh polos yang saling berhimpitan itu bergerak liar saling memuaskan. Keringat sudah membanjiri tubuh mereka berdua di tambah dengan suara - suara desahan yang menggema di seluruh ruangan, membuat hasrat keduanya semakin menggila.
Sedangkan Bian yang baru saja pulang dari kantor dan selesai mandi, langsung berkeliling rumah mencari-cari seseorang yang sejak dari kantor tadi ingin sekali di lihatnya.
__ADS_1
Bian kelimpungan, saat masuk kamar Alea dan tidak mendapati perempuan itu di manapun. Ia mencari ke arah dapur dan ruangan lainnya, tapi tetap tidak menemukan perempuan itu.
"Mbookk! Mbookk! "
Mbok Sumi dengan tergesa mendekati majikannya yang memanggilnya dengan suara keras.
"Ada apa Den?"
"Mana Alea Mbok? kenapa dia tidak ada di manapun!" Seru Bian keras.
"Ma-maafkan saya Den, Non Alea belum pulang."
"Belum pulang?"
"Iya Den ...." Mbok Sumi menunduk tak berani menatap Bian.
"Memangnya dia pergi kemana?"
"Non Alea bilang, ia mau belanja kebutuhan dapur di supermarket, tapi sampai sekarang dia belum pulang." Bohong Mbok Sumi, ia tidak mungkin memberitahu Bian kalau Alea sedang bekerja.
"Oh ... baiklah! apa dia tadi sudah makan?"
"Belum Den, "
Bian melangkahkan kakinya tanpa mengucapkan apapun pada asisten rumah tangganya itu.
Bian memencet nomor ponsel Alea, tapi berkali-kali ia menelepon, Alea tidak juga mengangkat sambungan teleponnya.
Bian menggusar rambutnya kasar sambil menghembuskan nafas frustasi.
"Sebenarnya kau ada di mana Alea ...."
Kenzo melirik kesal ke arah ponsel Alea yang terus berdering. Apalagi saat ia melihat siapa yang meneleponnya.
Dengan pelan ia meraih ponsel itu dan mengecilkan suara ponsel itu agar bunyi deringnya tidak mengganggu sosok perempuan cantik yang saat ini sedang tertidur lelap di pelukannya. Kenzo memeluk Alea yang saat ini meringkuk di pelukannya dengan mata terpejam. Deru nafasnya bahkan terdengar begitu halus menerpa dada bidangnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu terus menderita di samping bajingan itu Al, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya agar aku bisa membantumu lepas dari pria brengsek itu."
Kenzo menghembuskan nafas panjang, sambil mengelus lembut rambut panjang Alea yang terurai.
.
.
.
Ikutin terus kelanjutannya ya kakak², jangan lupa like, koment, dan Votenya 🙏🙏🙏
__ADS_1