
Alea membaringkan tubuhnya di atas ranjang berukuran besar itu sambil telentang. Kedua matanya menatap langit-langit kamar, tapi pikirannya tertuju ke tempat lain.
Ia mengusap mata sembabnya, entah sudah berapa kali hari ini ia menangis. Menangisi pria yang saat ini sedang bahagia di sana.
Bodoh kamu Al, setelah berkali-kali merasakan sakit, kenapa kau masih memikirkannya?
Alea memejamkan matanya, karena setiap memikirkan pria, rasa nyeri langsung mengalir ke sudut hatinya.
Sudah cukup Al, jangan menangis lagi. Hatimu boleh sakit, tapi tubuhmu jangan. Kau harus tetap sehat, agar kau bisa meneruskan hidup.
Alea menyemangati dirinya sendiri, karena kelelahan, akhirnya ia tertidur.
*****
Sudah seminggu lebih Bian dan perempuan itu melakukan bulan madu. Sementara Alea juga sudah mulai beberapa hari ini ia bekerja di Restoran milik Kenzo.
Saat pertemuannya dengan Kenzo waktu itu, Alea memang meminta tolong pada Kenzo untuk mencarikan pekerjaan untuknya. Awalnya Kenzo menawarkan pekerjaan di kantornya, tapi Alea menolak, dan saat Kenzo menawarkan dia pekerjaan di Restoran, Alea langsung menerimanya.
Alea sudah berdandan cantik seperti biasanya. Ia memakai celana jeans panjang dengan kaos lengan pendek sebatas pinggang. Rambutnya yang mulai memanjang, ia kuncir kuda.
Sempurna!
Alea tersenyum manis setelah puas melihat penampilannya, kemudian ia keluar kamar untuk sarapan pagi.
"Pagi Non."
"Pagi juga Mbok."
"Mbok Sumi udah sarapan?"
"Belum Non, " ucap Mbok Sumi malu- malu.
"Ya sudah, kita sarapan bareng aja Mbok."
"Tapi Non ...."
"Ayo Mbok, nanti aku terlambat."
"Baiklah Non, " Mbok Sumi akhirnya menuruti majikannya itu untuk sarapan bersama.
Mbok Sumi tersenyum saat melihat Alea makan dengan lahap makanan yang di masaknya. Sudah beberapa hari ini, Mbok Sumi memasak atas perintah Alea, karena Alea sekarang sudah mulai bekerja jadi kalau pagi ia sering terlambat bangun, jadi ia tidak sempat memasak.
"Makanannya enak Mbok, besok masakin lagi ya Mbok."
"Baik Non, syukurlah kalau Non Alea suka." Mbok Sumi tersenyum senang.
__ADS_1
"Den Bian nanyain lagi semalam."
Mbok Sumi mengatakannya dengan hati-hati."
"Terus Mbok bilang apa sama dia?"
"Seperti yang Non Alea perintahkan."ucap Mbok Sumi sambil menyuapkan makanan
ke dalam mulutnya.
*****
Alea sudah sampai di Restoran tempat ia bekerja. Ia sudah mengganti bajunya dengan baju seragam Restoran tempatnya bekerja.
Alea sangat senang bekerja di Restoran milik Kenzo, karena dengan bekerja, Alea bisa sedikit melupakan masalah rumah tangganya.
Sementara di Paris, Bian dan Amara menikmati bulan madunya. Mereka menjelajah dan menyempatkan singgah ke tempat- tempat yang cukup terkenal di negara itu.
Tapi selama berbulan madu dengan Amara, entah mengapa Bian selalu memikirkan Alea. Hampir setiap hari ia menyempatkan waktu menelepon Mbok Sumi hanya untuk menanyakan kabar Alea.
Hingga bulan madu mereka pun berakhir. Dan Bian saat ini dalam perjalanan pulang menuju tanah air.
******
Alea mengerjapkan matanya, kemudian ia menggeliatkan tubuhnya. Ia melihat ke arah perutnya saat ia merasa ada beban berat yang menimpa bagian perutnya.
"Kapan dia pulang? dan kenapa dia tidur di sini?" Sejenak Alea terpaku melihat wajah Bian yang terlihat tampan, tapi sedetik kemudian ia tersadar dan berusaha melepaskan pelukan Bian. Namun, bukannya terlepas, pelukan itu justru makin mengencang.
"Sebentar saja Al, aku masih mengantuk." Bian malah menyerukkan wajahnya pada Alea.
Alea dengan sekuat tenaga bangkit dan mendorong Bian.
"Apa-apaan dia, kemarin menikah dengan perempuan lain, kemudian melakukan bulan madu, setelah pulang dari bulan madu, dia datang dan tahu-tahu sudah tidur di kamarku dan memelukku. Benar-benar pria tidak tahu malu." Alea mendengus kesal dalam hati sambil menatap ke arah pria yang saat ini mencoba bangun dari lantai karena Alea tadi mendorong dengan keras hingga dia jatuh ke lantai.
"Kamu apa-apaan sih Al, kasar banget!"
"Kamu yang apa-apaan, kenapa tidur di sini?"
"Kenapa aku tidur di sini?" Bian mendekati Alea.
"Karena kau istriku, jadi aku juga berhak tidur di sini."
"Istri?" Alea mencibir
"Bian, apa kau sedang menjilat ludahmu sendiri? bukankah kau sendiri yang bilang, tidak akan memperlakukan hal yang sama terhadapku seperti kau memperlakukan perempuan itu?" Bian terdiam.
__ADS_1
"Lalu kenapa sekarang kau tidur di kamarku dan memelukku! bukankah kau baru saja memeluk perempuan itu?" Alea menatap tajam ke arah Bian dengan sakit hati.
"Kau baru saja pulang dari bulan madu bersama perempuan lain, kemudian kau datang ke sini, dan tidur di sini sambil memelukku? kau sungguh menjijikkan Bian!"
Bian mengeraskan rahangnya, menahan amarah karena ucapan Alea.
"Sebaiknya kau kembali ke kamarmu sebelum perempuan itu tahu kalau kau diam-diam memasuki ke kamarku. Aku yakin dia akan mengamuk kalau tahu suami tercintanya sedang bertemu dengan perempuan lain." Alea beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi kemudian ia menutup pintu kamar mandi dengan suara kencang.
Bian mematung di tempatnya berdiri. Ia mencerna kata-kata Alea. Ia mengingat kembali kata-kata yang ia ucapkan sebelum ia pergi ke rumah Amara dan menikah dengannya
"Tapi, meskipun kau istriku, tetap saja, di hatiku cuma ada Amara, jadi, kau jangan berharap kalau aku akan memperlakukanmu seperti aku memperlakukan Amara."
"Sial! aku pikir dia akan senang karena aku langsung menemuinya dan tidur di sini bersamanya, tapi ternyata dia malah memarahiku?"
Bian menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat, bayangan ketika ia bercinta di dalam kamar mandi bersama Alea tiba-tiba terlintas, Bian menggigit bibirnya saat ia merasakan tubuh bagian bawahnya menegang hanya dengan memikirkan tentang Alea.
"Benar-benar sial, aku tidak mungkin memaksa Alea kali ini, karena Amara pasti akan curiga karena aku sudah terlalu lama meninggalkan kamarnya.
"Tunggu saja Alea, besok aku akan kembali, dan membuatmu bertekuk lutut padaku." batin Bian sambil tersenyum smirk.
Kemudian ia buru-buru keluar dari kamar Alea. Ia harus segera menuntaskan hasratnya yang langsung naik hanya karena memikirkan percintaan panasnya dengan Alea kemarin.
Sesampainya di kamar Amara, Bian langsung menyergap Amara dengan membabi buta. Sehingga suara desahan dan erangan mereka sampai terdengar dari luar kamar.
Alea yang saat itu keluar ke dapur untuk memasak, menghentikan langkahnya sebentar di bawah tangga saat ia mendengar suara-suara aneh.
Alea langsung mengepalkan tinjunya dan segera beranjak menuju dapur.
"Kau benar-benar bajingan Bian! baru saja tadi kau ingin merayuku, tapi tiba-tiba saat ini kau sedang bercinta dengan perempuan itu.
Alea menggelengkan kepalanya.
"Jangan di pikirkan Non, karena nanti hanya akan membuat Non kesal dan sakit hati."
"Apa Mbok Sum juga mendengarnya?"
"Saya masih belum tuli Non, "
"Benar-benar menjijikkan!"
Alea memasak dengan cepat, karena hari ini Bian sudah pulang , jadi Alea harus menyempatkan diri untuk memasak.
Tak peduli sesakit apapun hatinya, ia tetap harus melayani Bian sebagai suaminya. Asal jangan disuruh melayani batinnya saja karena Alea tidak mau melakukannya. Mungkin benar, Alea akan berdosa karena telah menolak suaminya, tapi ....
.
__ADS_1
.
Ikutin terus kisah Alea ya kakak², jangan lupa like n koment ya, dan juga Votenya 🙏🙏🙏