
Selesai dengan urusan dapur, Alea bergegas menuju kamarnya. Ia langsung mandi dan segera mengganti bajunya.
"Aku harus buru-buru, biar aku nggak ketemu sama Bian." Alea bergumam sambil mengoleskan lipstik di bibirnya.
Ia kemudian berdiri, mematut dirinya di depan cermin. Merasa puas dengan penampilannya, Alea kemudian keluar dari kamar, mengunci pintu dan langsung menuju meja makan.
Alea memakan sarapannya dengan cepat, setelah itu mendekati Mbok Sumi untuk berpamitan padanya.
"Mbok, aku berangkat dulu." Alea mencium punggung tangan Mbok Sumi.
"Jangan bilang sama Bian kalau aku kerja ya Mbok, bilang saja kalau aku pergi ke rumah teman."
"Iya Non."
Baru saja Alea mau melangkah pergi, sepasang pengantin baru itu turun dari tangga. Alea mengepalkan tangannya saat melihat wajah Bian yang terlihat sangat tampan dengan setelan jas yang membalut tubuhnya, apalagi dengan rambut yang masih setengah basah, membuat kadar ketampanan Bian semakin meningkat. Sedangkan di sebelahnya, perempuan itu bergelayut manja seolah mencibir dirinya.
"Mau kemana kamu?" Bian memindai wajah Alea yang terlihat sangat cantik pagi ini.
"Aku mau jalan-jalan."
"Sepagi ini?" Alea menoleh ke arah Bian yang saat ini sudah mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan di ikuti oleh perempuan itu.
"Aku mau ke taman kota, menghirup udara segar, sekalian cuci mata." sahut Alea sekenanya.
"Memangnya siapa yang mengizinkanmu keluar rumah?" Bian mendekati Alea yang saat ini sedang mengambil tas kerja Bian di atas sofa.
"Memangnya aku tidak boleh keluar?" Alea meletakkan tas kerja Bian di kursi makan agar saat Bian selesai makan, ia bisa langsung membawanya.
"Tidak. Aku tidak akan mengizinkanmu keluar kecuali bersamaku." Bian benar-benar tidak rela melihat wajah cantik Alea di lihat orang lain.
"Apa maksudmu?"
"Aku akan mengantarmu pergi."
"Kau ...." Alea mengepalkan tangannya erat.
"Aku antar, atau tidak usah pergi sekalian." ucap Bian dengan tatapan penuh intimidasi.
"Bian!" Kali ini Amara yang berteriak.
Bian menoleh ke arah Amara.
"Kenapa kau tak membiarkan dia pergi saja?" Amara menatap Bian dengan kesal.
"Sayang, jangan marah dulu. Bagaimanapun, Alea juga kan istriku. Kita sudah membahas ini kemarin kan?"
Amara makin cemberut mendengar ucapan Bian. Ia menepis tangan Bian yang saat ini memegang tangannya.
"Alea, siapin makan buat aku dan Amara. Kamu juga belum sarapan kan?" Alea tak menjawab, tapi tak urung melakukan juga apa yang di perintahkan oleh Bian.
Ia mengambilkan makanan untuk Bian dan Amara, sementara Mbok Sumi yang melihat dari arah dapur hanya mengelus dada.
"Sungguh keterlaluan banget kamu Den, kamu bahkan menjatuhkannya harga diri Non Alea di depan madunya.
Sementara Amara tersenyum puas.
__ADS_1
Alea menatap kedua orang tidak tahu malu dengan kesal.
"Kau tidak sarapan?" Bian menatap wajah kesal Alea, yang justru semakin cantik di matanya.
"Kenapa aku baru sadar kalau dia begitu mempesona?" batin Bian sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya .
"Kau tidak mendengar apa yang aku katakan?"
"Aku udah makan sebelum kamu turun."
"Mulai besok, kau harus sarapan denganku juga Amara." Bian menatap tajam Alea.
Sementara Alea hanya diam tak bergeming, tetapi dalam hatinya ia mengutuk Bian habis-habisan.
Tiba-tiba ponsel Alea berdering.
"Kau belum berangkat?" terdengar suara di ujung sana.
"Belum."
"Apa perlu aku jemput?"
"Tidak usah, aku diantar suamiku."
"Apa suamimu kembali membuat masalah?" terdengar nada khawatir dari suaranya.
"Kau tenang saja, tidak terjadi apa-apa." Alea kemudian menutup teleponnya. Ia menatap Bian dan Amara yang sudah menyelesaikan sarapannya.
Sementara Bian menatap Alea dengan kesal. Entah mengapa dia sangat kesal saat Alea menerima telepon tadi. Padahal ia tidak tahu siapa yang menelepon.
"Awas saja kalau kamu macam-macam sama dia." Amara berbisik di telinga Bian dengan manja kemudian mengecup sekilas bibir Bian.
"Tadi pagi kau sangat hebat sayang, aku sampai tidak berkutik." Bian tersenyum
"Nanti malam aku akan membuatmu lebih kelelahan dari tadi pagi, jadi bersiaplah!"
Alea menatap jijik pada pasangan itu. Sementara Amara menatap Alea dengan penuh cibiran.
Alea bergegas masuk ke dalam mobil Bian dan menutup pintu mobil dengan keras membuat Bian dan Amara yang saat ini sedang berpelukan melepaskan pelukannya.
Amara masuk ke dalam mobilnya kemudian melajukan mobilnya keluar dari gerbang. Sedangkan Bian langsung masuk ke dalam mobilnya dan ikut melaju di belakang mobil Amara.
Di dalam mobil Alea terdiam tanpa memperdulikan Bian yang terus meliriknya.
"Turunkan aku di sana." Alea menunjuk ke arah taman yang terlihat tidak jauh dari mobil yang di kendarai Bian.
"Mau ngapain ke situ Al?"
"Kan aku udah bilang, aku mau jalan-jalan." Alea menatap Bian dengan kesal.
"Kau mau jalan-jalan dengan pria yang meneleponmu tadi?"
"Bian!" teriak Alea
"Turunin aku di sini." Namun bukannya berhenti, Bian malah melajukan mobilnya lebih kencang lagi.
__ADS_1
"Bian! kenapa kamu malah melajukan mobilnya bukannya berhenti." pekik Alea kesal.
"Nanti aku akan mengantarmu, kau tenang saja." ucap Bian santai.
"Kau mau membawaku kemana Bian!" Alea kembali berteriak saat Bian dengan kencang melajukan mobilnya.
"Nanti kau juga akan tahu."
Bian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga tak berapa lama kemudian mereka berdua sudah sampai di sebuah apartemen.
Bian menarik tangan Alea yang terus memberontak.
"Kau mau membawaku kemana Bian!" Bian tak menjawab tapi tangannya terus menarik tangan Alea menuju lift.
"Bian!"
Bian menggendong Alea ala bridal saat Alea mencoba melarikan diri darinya. Ia berjalan dengan cepat hingga akhirnya sampai di depan pintu apartemennya.
Setelah memencet sandi pintu nya, Bian segera masuk ke dalam dan membawa Alea langsung masuk ke dalam kamarnya.
Bian menjatuhkan tubuh Alea di atas ranjang, membuat Alea terpekik kaget.
"Bian, apa yang akan kau lakukan?!"
"Memuaskanmu!"
"Bian!" Alea mundur ke belakang sambil menutup dadanya dengan kedua tangannya.
"Alea, kau adalah istriku, jadi kau juga harus melayaniku."
"Bi- Bian ...." Alea tergagap, namun melihat senyum smirk di bibir Bian, tubuhnya mulai bergetar ketakutan. Kejadian malam itu kembali terlintas membuat Alea gemetar.
"Bukankah tadi pagi kau sudah puas bermain dengan perempuan itu, kenapa sekarang kau ingin menyentuhku!" Alea berteriak membuat Bian terdiam seketika.
"Darimana kau tahu kalau aku tadi pagi bermain dengan Amara?"tanya Bian sedikit kaget.
"Apa kau tidak sadar, suara menjijikan kalian bahkan terdengar sampai ke dapur!" teriak Alea nyaring membuat muka Bian semakin kaget. Tapi sedetik kemudian Bian merubah ekspresi wajahnya.
"Kalau begitu sekarang giliran ku untuk memuaskanmu Alea, bukankah aku harus bersikap adil padamu dan juga Amara?" Bian tersenyum manis kemudian mulai membuka dasinya dan juga jasnya.
"Bian! apa yang akan kau lakukan padaku!!" Alea berteriak panik.
"Tenang sayang ... kali ini aku tidak akan bermain kasar." Bian sudah membuka seluruh pakaiannya, kemudian langsung mendekati Alea yang masih berteriak.
"Biann!!"
Alea terus memberontak saat Bian sudah mulai mencium bibirnya dengan paksa. Tapi seperti biasanya tenaga Alea kalah kuat sehingga akhirnya ia pun pasrah dan lelah memberontak saat Bian sudah mulai bermain di atas tubuhnya.
"Bian ... kau benar-benar bajingan!"
Alea menatap wajah tampan Bian penuh kebencian dengan air mata yang berlinang saat Bian dengan penuh gairah menghujam tubuh bagian bawahnya tanpa ampun.
.
.
__ADS_1
Maaf ya, baru sempat update. Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak²...🙏🙏🙏 biar authornya tambah semangat.