
Bian melangkahkan kakinya dengan tergesa masuk ke dalam rumah. Pengakuan cinta Lisa di taman tadi membuat Bian pusing kepala.
Bian tidak menyangka, kalau Lisa berani mengungkapkan perasaannya. Padahal Bian sudah berulangkali mengingatkannya, kalau ia tidak mungkin bisa menerima perempuan itu dalam hidupnya. Tapi perempuan itu ternyata sangat keras kepala.
Bian masuk ke dalam kamarnya, ia langsung keluar menuju balkon. Bian berdiri di sana, menatap tepat ke arah kamar Alea. Bian memperhatikan kamar itu dengan saksama.
Dulu, Bian sering melihat gadis itu memperhatikannya dari sana. Rambut gadis itu berkibar tertiup angin dengan wajah berseri. senyumnya mengembang di bibirnya. Terkadang gadis itu melambaikan tangannya, membawa kamera, dan memotret dirinya dari jauh. Tapi terkadang pula, gadis itu hanya menggunakan ponselnya untuk mencuri fotonya dari sana.
'Dasar gadis aneh!'
Saking seringnya gadis di seberang sana memperhatikannya dengan tidak tahu malu, akhirnya suatu ketika pun Bian meladeninya dengan memasang pose menarik saat gadis itu sedang membidikkan kameranya dari balkon kamarnya.
Bian tersenyum saat mengingat itu semua.
Gadis tetangga di samping rumahnya itu memang selalu membuatnya tersenyum dengan semua tingkah konyolnya. Tak di sangka, sekian waktu berlalu, gadis itu masih terus menyimpan rasa untuknya. Awalnya, Bian mengira, itu hanya sebatas cinta monyet, tapi ternyata, ia baru mengetahui kalau Alea benar-benar mencintainya hingga bertahun-tahun.
Alea Karenina Rajasa ... ya! Gadis itu adalah Alea, istri yang telah di sia-siakan olehnya.
'Seandainya dulu aku bisa melihatmu sedikit saja, mungkin saat ini kau masih bersamaku.'
Bian mencibir pada dirinya sendiri.
'Seandainya ....'
'Sayangnya, waktu tidak bisa diputar kembali.'
Bian menghembuskan nafas kasar, pandangannya masih tertuju pada kamar Alea yang masih tertutup tirai.
Bian terus memperhatikan kamar Alea, hingga netranya menangkap saat tirai terbuka dan wajah Alea muncul di sana.
Wajah cantik itu muncul di sana, membuka pintu dan berdiri di sana, kedua tangannya menghalangi sinar matahari yang menerpa wajahnya.
Wajahnya terlihat sangat cantik, meski baru terbangun dari tidurnya. Bian terus menatap ke arah Alea. Perempuan itu, sepertinya belum menyadari kalau dirinya sedari tadi memperhatikannya.
Bian tersenyum, tatkala melihat senyuman itu muncul dibibir Alea. perempuan itu merentangkan tangannya menghirup udara dan menghembuskannya perlahan. Rambut panjangnya berkibar tertiup angin pagi ini. Wajahnya bersinar secerah sinar mentari yang menerpa wajah cantiknya.
'Alea ... sayang, aku merindukanmu.'
Bian masih terpaku, memandangi Alea dari balkon kamarnya. Sesaat kemudian, pandangan mereka bertemu.
Bian menatap Alea yang kini sedang menatapnya. Ia mengulas senyumnya, kemudian melambaikan tangannya pada perempuan yang sangat dirindukannya itu.
Bian masih tersenyum melihat ke arah sana, sementara Alea langsung beranjak meninggalkan balkon dan langsung menutup pintu kamarnya tanpa menutup tirai.
__ADS_1
Bian tersenyum kecut. Sebegitu bencinya Alea terhadapnya, hingga melihat wajahnya pun, Alea tidak suka. Bian masih menatap ke arah kamar itu, meski Alea tidak terlihat lagi, tapi Bian tak menyerah. Hingga akhirnya, harapan itu pun pupus, saat Alea mulai menutup kembali tirai kamarnya.
Kembali Bian tersenyum miris.
'Menurutmu, apa Alea masih mau melihatmu, setelah semua apa yang kau lakukan padanya selama ini? Kau terlalu banyak bermimpi, Bian!
Bian menghina dirinya sendiri.
Bian akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar, menuju kamar mandi. Setelah membersihkan tubuhnya, Bian mengganti bajunya kemudian turun untuk sarapan.
Sesampainya di meja makan, Bian melihat kedua orang tuanya sudah berada di sana, di sana juga terlihat Lisa yang sedang memangku Devan, sambil menyuapi bocah kecil itu.
Sejenak, pandangan mereka bertemu, tapi Bian segera memutuskan pandangannya, kemudian duduk di dekat mamanya.
"Pagi, Ma, Pa."
"Pagi, sayang ...."
Mereka semua sarapan pagi tanpa berbicara apapun. Sesekali Lisa melirik ke arah Bian, memperhatikan pria itu, tapi sayang, Bian sama sekali tidak meliriknya sedikitpun.
Lisa tersenyum tipis.
Seharusnya ia sadar, kalau dirinya bukanlah apa-apa di mata Bian. Bian benar, ia hanya seorang perawat, sedangkan Bian adalah majikannya di rumah ini. Seharusnya dia tahu diri, dan sadar akan posisinya di sini.
Selesai sarapan, Bian melangkahkan kakinya keluar rumah. Bian masuk ke dalam mobilnya. Tepat saat mobil Bian baru saja keluar dari pintu gerbang, mobil Alea melintas di depannya. Bian melihat dengan jelas Alea duduk di belakang kemudi mobil, karena Alea tidak menutup kaca mobilnya.
Bian tersenyum, kemudian mengikuti mobil Alea dari belakang. Bian menghentikan mobilnya, saat mobil Alea berhenti di depan sebuah taman.
Alea turun dari mobil, kemudian masuk ke dalam taman. Tak ingin kehilangan jejak, Bian kemudian segera turun dari mobil, kemudian segera menyusul Alea.
Pandangan Bian menyapu area taman. hingga netranya bertemu dengan sosok Alea yang ternyata saat ini sedang memperhatikannya.
Alea menatap Bian tak berkedip. Ia tau kalau Bian mengikutinya, makanya ia dengan sengaja memarkirkan kendaraannya di depan taman ini. Karena Alea tahu, Bian pasti akan mengikutinya sampai ke sini. Alea memberanikan diri untuk bertemu dengan Bian saat ini juga. Alea menekan ketakutannya, dan memaksakan diri untuk bertemu dengan Bian.
Karena takut, Alea akhirnya berhenti di tempat ini. Paling tidak, masih ada orang yang akan menolongnya, seandainya terjadi sesuatu padanya. Karena di taman ini, kebetulan cukup ramai pengunjung.
Tapi Alea tak lupa menghubungi Kenzo dan mengatakan pada pria itu di mana keberadaannya saat ini, Alea juga meminta pria itu untuk segera menyusulnya.
Bian mendekati Alea yang masih menatapnya.
"Alea ...."
"Kita duduk di sana," potong Alea cepat, tanpa memberi kesempatan pada Bian untuk menyapanya.
__ADS_1
Bian tersenyum, kemudian mengikuti langkah Alea dari belakang.
Mereka berdua duduk di kursi taman, Alea merasa canggung, saat melihat Bian duduk di dekatnya.
"Jangan terlalu dekat denganku."
"Maaf." Bian kemudian menggeser duduknya, sedikit agak menjauhi Alea.
"Kenapa kau mengikutiku?" Alea menatap tajam ke arah Bian. sekuat tenaga ia menekan rasa takutnya.
"Karena aku ingin bicara padamu, Alea."
"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, semuanya sudah berakhir, Bian. Diantara kita sudah tidak ada lagi masalah yang harus kita bicarakan." Alea
memberanikan diri menatap wajah Bian.
Pria di depannya ini, semakin hari semakin terlihat tampan dan dewasa. Wajah pria ini adalah wajah yang sudah bertahun-tahun ia cintai, bohong! Kalau Alea tidak merasakan apapun saat bertemu dengannya saat ini.
"Aku minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan padamu selama ini, aku tahu aku bersalah dan kesalahanku tidak pantas untuk kau maafkan." Bian menatap Alea dengan rasa bersalah, kedua matanya berkaca-kaca.
"Maafkan aku Alea, sayang ... maafkan aku, aku mohon ...."
"Permintaan maafmu, tidak akan pernah bisa mengembalikan dia padaku, Bian. Seandainya waktu itu kau percaya padaku, aku mungkin tidak akan pernah kehilangan dia." Alea menatap Bian dengan kedua mata berkaca-kaca. Alea dengan sekuat tenaga menahan gejolak di dalam dadanya.
"Kau telah membunuhnya, Bian. Kau telah membunuhnya, kau telah membunuh anakku, darah dagingmu sendiri ...."
"Sayang ... maaf!"
"Jangan panggil aku sayang! Karena kau bukanlah siapa-siapa bagiku, Bian!"
"Maaf ...." Bian berucap lirih, pandangannya mengabur, karena air mata yang sudah mulai mengalir di pipinya. Sementara Alea, menatap Bian tak percaya.
Pria itu menangis. Pria yang dengan gagah selalu memaki dan memarahinya bahkan menyiksanya tanpa ampun itu kini menangis di hadapannya.
"Alea, maafkan aku ... maafkan aku ...."
Alea terdiam menatap Bian yang tiba-tiba bersujud dan menangis di hadapannya.
"Aku minta maaf Alea, maafkan aku, maafkan aku ...."
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak² 🙏🙏🙏