
Dua bulan berlalu
Bella duduk di kursi kebesaran Kenzo dengan bangga. Wajahnya mengulas senyum ceria. Semenjak keluarga Kenzo menyetujui syarat yang dia berikan, setiap hari Bella merasa sangat bahagia. Perempuan itu begitu bahagia karena keluarga Kenzo akhirnya mau menuruti permintaannya.
Saat ini, keluarga Kenzo bahkan sedang sibuk mempersiapkan hari pernikahannya dengan Kenzo. Bella benar-benar merasa di atas awan sekarang. Semua keperluan pernikahannya dengan Kenzo sudah dipersiapkan dengan baik oleh keluarga Kenzo. Keluarga Bella bahkan tidak diizinkan untuk membantu mengurus persiapan pernikahan mereka.
Tidak terasa pernikahan mereka tinggal satu minggu lagi. Kartu undangan pun sudah mulai disebar. Semua persiapan pernikahan sudah sembilan puluh persen, hanya tinggal menunggu hari H saja.
Bella mengulas senyuman membayangkan hari-hari bahagianya setelah menikah dengan Kenzo nanti.
Nyonya Bella Luiz Adiguna, sebutan yang menurutnya begitu cocok untuk dirinya. Setelah menikah dengan Kenzo nanti, Bella akan memamerkan Kenzo pada teman-temannya. Dia akan menunjukkan pada semua orang kalau sekarang dia adalah menantu dari keluarga Adiguna. Salah satu pengusaha terbesar di negaranya.
Bella tersenyum manis saat melihat ke arah pintu yang terbuka. Berdiri sesosok tampan yang sangat dikaguminya. Kenzo terlihat begitu tampan setelah mandi dan berganti baju di ruang pribadinya. Sejak semalam, Kenzo memang tidur di ruangannya. Dia sengaja tidak pulang karena merasa jengah dengan Bella yang selalu membuntutinya.
"Kau sudah siap?" Bella dengan kedua mata berbinar menatap Kenzo dengan tatapan memuja. Sementara Kenzo hanya menatapnya dengan datar.
"Kau sangat tampan, tak bisakah kita ber ...."
"Kita pergi sekarang, aku ada meeting dengan klien saat jam makan siang nanti," tukas Kenzo cepat. Dia sungguh muak dengan perempuan ini.
"Sebaiknya kau jangan lupa untuk menghapus semua rekaman video itu mulai dari sekarang. Kalau sampai aku tahu ada orang yang menyebarkan rekaman video itu, aku akan membatalkan pernikahan kita. Bukan hanya membatalkan pernikahan, tetapi aku juga akan membuat perhitungan denganmu dan keluargamu!" Kenzo menatap Bella dengan tajam, wajahnya menyimpan begitu banyak kemarahan.
Namun, entah mengapa justru wajah marah Kenzo terlihat begitu menarik dan tampak mempesona di mata Bella.
"Kau tenang saja, Sayang. Aku sudah menyuruh mama dan papa untuk menghapus video itu. Aku pastikan, mereka berdua tidak akan mengkhianatimu."
"Baguslah!"
Kenzo tersenyum tipis, kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kerjanya bersama Bella yang tersenyum sumringah menatapnya sambil menggandeng lengannya.
Kenzo melepaskan tangan Bella dari lengannya.
"Jangan melewati batas." Suara dingin Kenzo membuat Bella langsung melepaskan tangannya sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Beberapa hari lagi kita akan menikah, masa memegang tanganmu saja tidak boleh?"
Kenzo tidak mempedulikan ucapan Bella. Dia terus melangkah lebar tanpa mempedulikan Bella yang berlari kecil karena tak dapat menyamai langkahnya.
"Tunggu aku, Ken!" teriak Bella saat Kenzo sudah berdiri di depan pintu lift yang sebentar lagi terbuka. Saat ini mereka sudah berada di salah satu mall terbesar di kota itu. Mereka berdua berniat mengunjungi butik langganan Rania.
"Sejak kapan langkahmu berubah seperti langkah siput Bella?" tanya Kenzo dengan kesal. Sementara Bella mengerucutkan bibirnya.
"Jalanmu terlalu cepat. Aku tidak bisa menyamai langkahmu." Bella bergegas masuk ke dalam lift sebelum pintu lift tertutup.
Tak lama kemudian, mereka berdua sampai di butik langganan Rania. Dalam butik tersebut sudah ada Rania yang ternyata sudah menunggu mereka.
"Kenapa kalian berdua lama sekali?" Rania berucap dengan wajah cemberut.
"Maaf, Tante. Tadi sedikit macet di jalan." Bella menjawab dengan senyum mengembang. Bahkan terkesan tidak menyesal sama sekali. Rania menyembunyikan kekesalannya dengan tersenyum tipis pada calon menantunya itu.
"Ya, sudah. Kau ikut bersama dia untuk fitting baju pengantin." Rania memanggil salah satu pegawai untuk mengantarkan Bella.
"Ken, kau juga ikut bersamanya." Rania menatap ke arah Kenzo.
"Jangan membantah, semua demi kebaikan kamu."
Kenzo menarik napas panjang kemudian bangkit dari sofa dan langsung mengikuti Bella dan pegawai itu dari belakang.
Tak berbeda dengan Kenzo Rania pun menghela napas panjang. Dia menatap kepergian Kenzo dengan rasa iba.
'Kalau bukan karena Bella, hidup kamu pasti tidak akan seberantakan ini, Ken. Seharusnya saat ini, kau sudah bahagia dengan Alea.'
Rania bangkit dari duduknya, kemudian masuk ke dalam ruangan yang tertutup pintu. Ruangan itu adalah ruangan sang pemilik butik.
Dalam ruangan itu terlihat seorang perempuan cantik sedang memeriksa sehelai gaun pengantin yang terpasang di manekin. Gaun itu terlihat sangat bagus dan sangat indah. Rania tersenyum puas, merasa terpesona melihat gaun pengantin itu.
Sementara, Angel sang pemilik butik tak menyadari kedatangan Rania karena keasyikan meneliti gaun tersebut. Kedua tangannya bergerak dengan hati-hati, memeriksa dengan detail kekurangan-kekurangan dari gaun tersebut.
__ADS_1
Sebelah gaun pengantin itu juga terdapat sehelai gaun yang tak kalah cantiknya dengan gaun pengantin yang sedang diperiksa oleh Angel.
Rania berdehem membuat Angel seketika menoleh ke arahnya.
"Saking asyiknya sampai kamu tidak menyadari kedatanganku." Rania menatap Angel dengan cemberut.
"Maaf, aku memang suka lupa diri jika sedang memeriksa gaun rancanganku." Angel bangkit, melangkah mendekati Rania. Dia memeluk Rania sebentar, kemudian menyuruh perempuan itu duduk di sofa. Rania menatap dua gaun pengantin itu.
"Gaunnya sangat indah. Aku sangat menyukainya."
"Terima kasih. Apa calon menantumu sudah datang?"
Rania mengangguk pelan. Pandangannya tetap tertuju pada dua gaun itu. Kedua matanya tampak berbinar dengan senyum puas di wajahnya.
*******
Alea dan ibunya baru saja turun dari mobil. Hari ini, Alea memutuskan untuk pulang setelah selama dua bulan menetap di Bali untuk menghindari Kenzo dan menenangkan diri.
Selama tinggal di Bali, Alea hampir tak pernah lagi mendengar kabar tentang Kenzo. Kecuali kalau Anita, mamanya memberitahu atau kebetulan menceritakan tentang Kenzo. Itu pun jarang, karena Alea selalu memperingatkan mamanya untuk tidak membicarakan pria itu lagi di depannya.
Dalam hati Alea, dia sangat merindukan pria itu. Alea sangat ingin bertemu dengannya. Selama dua bulan ini, Alea menyadari, kalau dirinya sangat mencintai pria itu. Namun, rasa sakit hati karena merasa dikhianati oleh Kenzo masih tetap terasa.
Alea dan Anita masuk ke dalam rumah. Alea tersenyum saat baru saja masuk ke dalam rumahnya. Perempuan itu menghirup napas dalam-dalam. Mencium aroma rumah yang sudah dua bulan ini dia tinggalkan. Saat pandangannya berkeliling, netranya tak sengaja menangkap sekeping kartu undangan di atas meja. Alea mendekati meja, merasa penasaran dengan kartu undangan yang terlihat agak berbeda dari kartu undangan yang biasa dia lihat sebelumnya. Entah kebetulan atau tidak, desain kartu undangan itu sama seperti desain impiannya.
'UNDANGAN PERNIKAHAN'
Alea mengerutkan keningnya.
Alea perlahan membuka pita merah yang membingkai undangan pernikahan itu. Tubuhnya langsung membeku dengan kedua mata membola karena terkejut. Kartu undangan itu tertulis dengan jelas sebuah nama. Nama pria yang selama dua bulan ini sangat dirindukannya sekaligus nama perempuan yang sangat dibencinya.
Kenzo Luiz dan Arabella ....
"Alea!"
__ADS_1
.
Halo Kakak-kakak tersayang, jangan lupa like, koment dan Votenya ya 🙏🙏🙏