MATI RASA

MATI RASA
Part 12 Kehilangan Kesucian


__ADS_3

"Bian ... ayo kita bercerai!" Alea menatap ke arah Bian yang terlihat kaget dengan ucapannya.


Bian menatap Alea tak percaya, benarkah dia Alea? Istrinya yang selalu duduk bersimpuh saat dirinya mengucapkan kata cerai untuknya? Istrinya yang selalu menangis memeluk lututnya dan memohon padanya agar dia tidak meninggalkannya?


Bian menatap kedua mata Alea seakan mencari kebenaran di kedua bola matanya yang menatapnya tajam. Tidak ada kesedihan di sana, tidak ada tangis dan air mata seperti biasanya. Benarkah dia Alea?


"Kau tidak mendengarku, atau, perlu aku ulangi lagi perkataanku?" Alea menatap Bian yang juga menatapnya. Mati-matian ia menahan gemuruh di dadanya. Pria di depannya ini, tetaplah pria yang dia cintai, meski berkali-kali pria ini melukainya dan menghancurkannya berkeping-keping.


"Bian, ayo kita bercerai!" ulang Alea.


"Omong kosong!" Bian dengan penuh amarah mendorong tubuh Alea kemudian berlalu meninggalkan Alea.


"Bian!" Bian menghentikan langkahnya.


"Bukankah ini yang kau mau? Bercerai denganku dan mengusirku dari sini? Lalu kenapa kau tak menjawabku!" Alea dengan kesal mendekati Bian.


Bian menatap perempuan itu dengan tajam.


"Kalau aku bilang aku tidak akan menceraikanmu, kau mau apa?"


"Kau ...!" Alea menatap Bian dengan marah.


"Kenapa? Apa sekarang kau menyerah karena tidak berhasil mendapatkan aku makanya kau ingin bercerai denganku?" Bian mendekati Alea.


"Alea ... aku bahkan belum mencicipi tubuhmu, kenapa kau terburu-buru ingin bercerai denganku? Bukankah kau sangat menginginkanku?" Bian menatap Alea penuh minat, apalagi saat ini Alea hanya mengenakan baju tidur tipis, celana setengah paha dengan atasan model tali spaghetti berwarna merah. Warna kesukaannya. Alea bahkan tak menyadari kalau dirinya sekarang tidak memakai Bra, hingga dadanya tercetak jelas dari luar bajunya.


Saat Alea keluar kamar tadi, dia tidak memperhatikan penampilannya, karena dia pikir malam sudah larut jadi tidak akan mungkin ada orang yang berkeliaran di dapur. Namun, tak di sangka ternyata dia malah bertemu dengan Bian di dapur.


Alea berjalan mundur saat Bian mendekatinya.


"Kau mau apa Bian?" Alea kembali mundur tapi saat itu juga tangan Bian menarik pinggangnya hingga Alea jatuh ke dalam pelukannya.


Jantung Alea berdetak dengan cepat, ini pertama kalinya dia begitu dekat dengan Bian setelah hampir setahun masa pernikahan mereka.


"Kamu sok-sokan ingin berpisah denganku Alea? Detak jantungmu bahkan sampai terdengar di telingaku." Bian mencibir tepat di telinga Alea.


Wajah Alea merah padam antara malu dan marah. Dia mencoba memberontak dari pelukan Bian, tetapi sayang, bukannya melepaskan Bian malah semakin erat memeluknya.

__ADS_1


Harum tubuh Alea membuat Bian terhanyut. Wajahnya menyeruak di leher Alea, menghirup aroma tubuh Alea yang baru pertama kali ini dia rasakan.


"Lepaskan aku Bian, lepas!"


Bian makin mempererat pelukannya. Entah mengapa, dia bukannya melepas pelukannya tapi malah mempererat pelukannya. Bahkan gara-gara memeluk Alea, bagian bawah tubuhnya mulai mengeras.


"Bian ... lepaskan aku!" Alea terus memberontak, tapi Bian makin mempererat pelukannya, bukan hanya memeluk, Bian bahkan sudah menyusuri leher Alea dengan bibirnya.


"Bi-Bian ... aku bilang lepaskan aku!" Alea memukul-mukul dada Bian berharap Bian melepaskan pelukannya. Namun, Bian justru semakin erat memeluk Alea kemudian menggendong tubuh perempuan itu tanpa mempedulikan teriakannya.


Mbok Sumi yang mendengar teriakan Alea langsung terbangun dari tidurnya, perempuan baya itu segera berlari keluar kamar menuju dapur, tetapi saat dia melihat Alea di gendong oleh Bian, Mbok Sumi tidak jadi mendekat, karena dia tidak ingin ikut campur urusan majikannya itu. Mbok Sumi melihat Bian membawa Alea ke dalam kamar tamu yang di tempati Alea.


"Semoga tidak terjadi apa-apa sama kamu Non, maafkan saya, karena saya tidak bisa menolong Non Alea .... " Mbok Sumi memegangi dadanya yang terasa sesak mendengar teriakan Alea.


Bian membanting tubuh Alea ke atas ranjang, membuat Alea terpekik kaget.


"Apa yang ingin kau lakukan Bian?"


"Aku ingin melakukan apa yang selama ini kau inginkan Alea." Bian menatap Alea dengan penuh damba. Kedua matanya menyusuri tubuh Alea.


"Apa maksudmu?" Bian tertawa mendengar ucapan Alea.


"Lepaskan aku Bian .... "


"Kau tidak usah berpura-pura Alea, aku tahu kau juga menginginkannya bukan?" Bian mulai menciumi leher Alea.


"Bian! hentikan!" Alea memberontak sekuat tenaga tapi tenaga Bian lebih kuat darinya. Bian mencekal kedua tangan Alea dan mengunci kedua kaki Alea dengan kakinya hingga Alea tidak bisa bergerak dan memberontak.


Alea menangis saat mulut Bian menjelajahi lehernya kemudian merobek baju bagian atasnya. Tubuh bagian atas Alea yang memang tak tertutup dalaman langsung terpampang jelas di hadapan Bian, membuat laki-laki yang sudah diliputi oleh gairah itu langsung bersemangat melihat tubuh bagian atas Alea yang terlihat menantang dan begitu menggairahkan dimatanya.


"Lepaskan aku Bian, aku mohon .... " Alea terus mencoba memberontak, tetapi Bian semakin tidak melepaskannya.


"Lepaskan aku Bian, aku mohon .... "


"Aku akan melepaskanmu setelah aku puas." Bian menyeringai kemudian kembali merobek pakaian bagian bawah Alea.


Alea menangis, hatinya seperti di iris dengan ribuan belati saat melihat mulut Bian bermain di atas tubuhnya.

__ADS_1


Bukan ini yang Alea inginkan. Dulu Alea memang menginginkan Bian menyentuhnya, tapi bukan dengan cara seperti ini yang Alea inginkan. Alea ingin Bian menyentuhnya karena Bian mencintainya dan menginginkan hal yang sama seperti dirinya.


Alea menjerit dengan kencang saat Bian mulai melakukan penyatuannya dengan kasar.


Bian sedikit tersentak saat dia kesusahan menerobos milik Alea, tapi ia lebih terkejut lagi saat melihat darah yang mengalir di bagian bawah tubuh Alea.


"Alea kau ...." ucap Bian terbata disela rasa nikmat yang baru kali ini dia rasakan.


"Kau masih perawan?" Bian melihat wajah Alea yang bersimbah air mata.


"Kalau aku tahu kau masih perawan, aku pasti akan melakukannya dengan pelan." Alea menatap Bian penuh kebencian.


"Dasar bajingan!" suara Alea tercekat di tenggorokan, karena tiba-tiba bibir Bian sudah menyerang bibirnya dengan penuh gairah.


Bian dengan semangat terus memacu tubuh Alea tanpa memperdulikan tangisan juga jeritan Alea, yang dia rasakan hanya kepuasan, kepuasan batin yang tak pernah dia dapatkan, bahkan dari Amara sekalipun.


Alea tersungkur di atas ranjang, sementara Bian memeluk tubuhnya dari belakang sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dia rasakan. Bian bahkan belum melepaskan miliknya.


Alea menangis tak bersuara. Hatinya hancur berkeping-keping, sementara tubuhnya terasa sakit tiada terkira terutama tubuh bagian bawahnya yang terasa nyeri dan perih.


Bian baru saja merenggut sesuatu yang berharga yang dia jaga selama ini, Bian telah merenggut kesuciannya.


"Tubuhmu benar-benar nikmat Alea .... " Bian kembali mendesah saat bagian tubuh bawahnya yang masih berada di dalam milik Alea kembali menegang.


Kembali Alea menjerit dan menangis pilu saat Bian kembali menyerangnya.


"Kau benar-benar bajingan Bian .... " Tubuh Alea meluruh pasrah saat Bian mempermainkan tubuhnya dengan segala macam gaya. Malam ini, Bian bukan hanya menyakiti fisiknya, tapi juga menyakiti hatinya yang terasa nyeri bagaikan ditusuk ribuan jarum.


Sakit sekali, tapi tak berdarah.


"Aku membencimu Bian, teramat sangat membencimu!"


.


.


Yang suka ceritanya, ikutin terus ya, tapi kalian harus siapin tisu yang banyak, karena penderitaan Alea belum cukup sampai di sini.

__ADS_1


Jangan lupa like n koment ya dan Votenya jg...biar authornya lebih semangat updatenya 🙏🙏🙏


__ADS_2