MATI RASA

MATI RASA
Part 129 Hari Pernikahan


__ADS_3

Alea pulang ke rumahnya dengan hati yang hancur. Dia tidak menyangka, kalau Kenzo benar-benar akan menikah dengan Bella. Rasanya baru kemarin, Kenzo masih sering meneleponnya. Meskipun Alea tidak pernah mengangkat telepon dari Kenzo, tetapi pria itu tidak pernah menyerah dan tak pernah berhenti menelponnya. Mungkin, baru satu minggu dari sekarang, Kenzo berhenti menelepon dirinya.


'Kenapa, Ken? Kau bilang kau mencintaiku bukan?' 


Alea masih terus menangis. Saat ini, hatinya benar-benar hancur. Kebahagiaan yang dia impikan bersama Kenzo hilang sudah. Mimpi-mimpi yang dia bangun bersama pria itu hanya tinggal kenangan.


Bayangan kesakitan di masa lalu, kembali terlintas. Masih terekam jelas diingatannya saat Bian mengkhianatinya. Hingga akhirnya Kenzo  datang dan meyakinkan dirinya kalau dia akan memberikan kebahagiaan untuknya. 


Namun, kebahagiaan yang dia rasakan bersama Kenzo ternyata hanya sebentar, karena pria itu pun kini mengkhianatinya, sama seperti Bian. Alea menangis tanpa henti. Menumpahkan segala rasa sakit di hatinya. 


*****


Anita masuk ke dalam kamar Alea, hatinya ikut sakit melihat Alea seperti orang yang sudah kehilangan semangat hidup. Semenjak pertemuannya dengan Kenzo beberapa hari yang lalu, Alea memang lebih memilih berdiam diri di kamar. Setiap hari perempuan itu hanya menangis. Menangisi Kenzo yang sebentar lagi akan menikah dengan perempuan lain.


Anita mendekati putrinya dengan perasaan nyeri di hatinya. Sungguh! Sebagai seorang Ibu, dia merasa tidak tega melihat putri kesayangannya terlihat begitu menderita. Wajah Alea terlihat pucat, kedua mata sembab dengan hidung memerah karena terlalu banyak menangis.


"Sayang ...." Alea membelai rambut Alea dengan penuh kasih sayang. Anita mengambil piring berisi makanan yang tampak masih penuh karena Alea tidak menyentuhnya sama sekali.


"Kau harus makan, Alea." Anita menyendok nasi kemudian menyuapi Alea. Alea membuka mulutnya meski malas. Dia tahu, mamanya itu tidak suka dibantah, makanya, dia hanya menurut saja saat perempuan yang melahirkannya itu menyuapinya.


"Kau harus kuat, kau harus bangkit, Mama tahu ini menyakitkan, tapi kau tidak boleh terus terpuruk seperti ini, Alea." 


Alea menatap Anita dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Bukankah, kau pernah merasakan yang lebih sakit dari ini?" ucap Anita sambil mengelus rambut Alea yang sudah mulai menangis.


"Kau sudah mengalami banyak hal yang membuatmu terjatuh dan terluka. Kau juga sudah mengalami banyak hal yang membuatmu menangis. Bukankah seharusnya kau lebih kuat sekarang?" Alea memeluk Anita dengan air mata yang kembali mengalir. Apa yang dikatakan oleh mamanya memang benar. Dia bahkan sudah merasakan yang lebih pahit dari ini. 


Di khianati Bian di hari pernikahannya yang baru saja menginjak satu bulan, hidup satu rumah dengan pelakor  yang merebut suaminya, sampai mengalami siksaan yang akhirnya menyebabkan calon anaknya meninggal.


Bayangan-bayangan masa lalu dirinya yang sangat menyakitkan terlintas di kepalanya. Air mata Alea semakin mengalir, dia menangis sambil dipelukan Anita.


"Kau harus bangkit, tunjukan pada mereka kalau kau baik-baik saja," ucap Anita tegas.


"Hari ini, Mama mau ngajakin kamu ke salon. Besok adalah hari pernikahan Kenzo. Kamu harus tampil cantik di sana. Jangan menangis lagi." Anita melepaskan pelukannya, kemudian mengusap air mata yang mengalir di pipi Alea.


Sementara Alea menggelengkan kepalanya. 


"Aku nggak bisa, Ma. Aku nggak kuat."


"Kau harus kuat. Kau harus tampil cantik di pesta itu. Buat Kenzo menyesal karena telah meninggalkanmu dan memilih perempuan itu sebagai istrinya."

__ADS_1


"Tapi, Ma ...."


"Mama udah siapin gaun untukmu, Hari ini kita ke salon langganan Mama. Kamu harus tampil cantik di acara pernikahan Kenzo besok."


"Ma!"


"Mama percaya sama kamu, Alea. Mama yakin, kamu pasti bisa melewati semua ini." Anita mengelus bahu Alea dengan pelan.


"Bersiaplah! Mama tunggu di bawah."


Alea mengangguk pelan. Kemudian menatap punggung Anita hingga menghilang di balik pintu.


Setelah berhasil membujuk Alea untuk hadir di resepsi pernikahan Kenzo, kini Anita dan Alea sedang berada di salah satu salon kecantikan langganan Anita. Mereka melakukan perawatan hingga menghabiskan waktu seharian. Hari itu, seluruh penampilan Alea di make over, hingga Alea terlihat lebih berbeda dari biasanya.


"Mama tahu, ini memang sangat menyakitkan buatmu, tetapi kamu harus hadir di sana, Al, kamu harus buktikan pada mereka semua kalau kamu baik-baik saja. Terutama pada perempuan ular itu," ucap Anita.


"Baik, Ma. Besok aku pasti akan datang ke acara pernikahan itu." Anita tersenyum senang kemudian memeluk Alea dengan perasaan lega.


'Semoga aku kuat saat melihatmu di sana, Ken ....'


Air mata Alea kembali mengalir saat Anita memeluknya. 


"Maafkan aku, Sayang ...." lirih Kenzo sambil menghembuskan nafas panjang.


Besok adalah hari pernikahannya dengan Bella. Entah perasaan apa yang Kenzo rasakan saat ini, yang jelas, dia sangat merindukan Alea, sangat!


Ponsel Kenzo berdering, pria itu langsung menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


"Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan semua bukti-buktinya?"


"Bagus! Awasi dia terus, jangan sampai lolos!"


"Baik, Bos."


******


Setelah beberapa hari berlalu, akhirnya hari pernikahan Kenzo pun tiba. Saat ini Kenzo dan Bella sudah berada di dalam hotel yang menjadi tempat acara resepsi pernikahan mereka. Kedua orang tua Bella terlihat sumringah. Rona bahagia menghiasi wajah mereka. 


Tak jauh berbeda dengan Sarah dan Rudi, Bella pun terlihat sangat bahagia. Senyuman mengembang di wajah cantiknya. Bella terlihat sangat cantik dan begitu anggun mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang melekat pada tubuhnya. Surai coklatnya rapi bersanggul dengan mahkota kecil berkilauan menghiasi kepalanya.


Sementara Kenzo hanya diam, menatap datar dengan hati berdebar. Rania dan Chandra menatap Kenzo yang terlihat gelisah.

__ADS_1


"Kamu harus tenang, Ken, Mama yakin, semuanya pasti akan baik-baik saja," ucap Rania.


"Mama kamu benar, tenanglah!" Chandra mengusap bahu Kenzo.


"Apa kau sudah mendapatkan semua yang kau inginkan dari perempuan itu?"


"Sudah, Pa."


"Bagus. Duduklah! Acara ijab kabul akan segera dimulai." Kenzo mengangguk, kemudian berjalan menuju tempat yang sudah dipersiapkan untuk proses ijab kabul.


Semua tamu undangan yang datang  memandang takjub melihat dekorasi mewah pernikahan itu.


Pernikahan ini memang di gelar sangat mewah oleh keluarga Kenzo. Mereka bahkan rela merogoh kocek hingga puluhan milyar untuk  biaya resepsi pernikahan anak mereka.


Chandra Adiguna mengundang puluhan ribu tamu dari berbagai kalangan. Keluarga, relasi bisnis, bahkan sampai selebriti terkenal pun termasuk dalam tamu  undangan. Namun, sayangnya putranya yang lain, Sean Luiz Adiguna tidak bisa hadir karena kesibukannya mengurus perusahaan mereka yang ada di luar negeri.


Pesta pernikahan Kenzo memang sengaja digelar sangat meriah. Bagaimanapun, Kenzo adalah sang pewaris tahta Adiguna. Jadi, apapun alasan Kenzo menikah, keluarganya pasti akan tetap menggelar pesta yang mewah untuk resepsi pernikahannya.


Tak kalah dengan Chandra, Kenzo pun mengundang seluruh relasi bisnisnya, teman-temannya, bahkan seluruh pegawainya yang  berada dekat di lokasi pernikahan Kenzo pun di wajibkan datang ke pernikahannya.


Kenzo terlihat gelisah dan gugup saat dirinya sudah duduk di depan penghulu. Sementara Bella tersenyum bahagia. Sebentar lagi, dirinya akan menikah dengan Kenzo. Pria tampan, kaya, terkenal,  yang pasti bisa mencukupi hidupnya sampai tujuh turunan. Bella tersenyum menatap ke arah teman-temannya yang memandang iri ke arah dirinya. Bella memang sengaja mengundang teman-teman sosialitanya datang ke resepsi pernikahannya untuk pamer. 


Pandangan Kenzo berkeliling ke seluruh ruangan. Hatinya sangat cemas. Apalagi saat ini seseorang yang sangat ingin dilihatnya belum juga datang. 


Rania menepuk bahu Kenzo dengan pelan. 


"Tenanglah!"


Kenzo menatap Rania dengan cemas.


"Apa dia tidak datang? Aku sungguh-sungguh ingin melihatnya," ucap Kenzo lirih. Pria itu menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan pelan. Menetralkan rasa gugup dan kegelisahan di hatinya. Saat ini, sebelum ijab kabul ini berlangsung, orang yang paling ingin dia lihat adalah Alea, perempuan yang sangat dicintainya.


Pandangan mata Kenzo menatap ke arah pintu masuk. Terlihat banyak tamu yang sudah mulai berdatangan, tetapi orang yang di tunggunya belum juga datang.


'Cepatlah datang, Sayang. Aku mohon ....'


.


Jangan lupa like, koment dan Votenya ya Kakak ² 🙏🙏


   

__ADS_1


__ADS_2