MATI RASA

MATI RASA
Part 87 Kedatangan Marsha


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Bian waktu itu, sepertinya Bian menuruti semua ucapan Kenzo untuk tidak mendekati Alea lagi. Buktinya, Bian tidak pernah muncul lagi dihadapan Alea sekarang. Meskipun sebenarnya rumah mereka berdekatan.


Seandainya Bian mau, ia bisa saja pergi menemui Alea kapanpun dia mau, walaupun Alea menolaknya. Tapi, pria itu ternyata tidak pernah muncul.


Kenzo menarik nafas lega. Meski ia sangat percaya pada Alea, tapi tetap saja ia merasa sangat khawatir. Alea sudah mencintai pria itu selama bertahun-tahun, tentu saja tidak akan mudah bagi Alea untuk menyingkirkan Bian dalam hatinya. Namun, Kenzo yakin, dengan kesabarannya dan rasa cintanya yang begitu besar untuk perempuan itu, suatu saat Alea pasti juga akan menerimanya dan mencintainya seperti dirinya yang begitu mencintai Alea.


Seperti sekarang, hubungannya dengan Alea semakin hari semakin baik. Mereka berdua saat ini sedang merasakan kebahagiaan yang selama ini Kenzo dambakan.


Alea tersenyum menatap pria tampan di depannya. Jantungnya berdetak dengan cepat, dadanya juga berdebar-debar. Padahal, Alea sudah sering bersama pria itu. Tapi, entah mengapa baru sekarang Alea merasakannya. Debaran di dadanya sama persis rasanya, seperti saat Alea jatuh cinta pada Bian. Bedanya, kali ini debaran jantungnya bersambut. Senyum Alea mengembang seiring langkah Kenzo yang mendekatinya dengan senyum yang sama menghias wajah tampannya.


Kenzo meraih tubuh Alea ke dalam pelukannya. Menyembunyikan wajah cantik itu ke dalam dekapannya.


"Aku merindukanmu." Alea tersenyum dalam dekapan Kenzo. Menikmati debaran jantungnya yang menggila, seiring detak jantung Kenzo yang berdetak sama cepatnya.


"Apa kau tak merindukanku?" Alea mempererat pelukannya saat mendengar ucapan Kenzo. Kenzo tersenyum, saat merasakan dekapan hangat Alea semakin merapat.


Kenzo melepaskan pelukannya, menatap wajah cantik Alea yang setiap hari hadir di alam mimpinya.


"Kenapa menatapku seperti itu?"


"Kamu cantik banget hari ini."


"Gombal." Alea mencebik kesal. Sementara Kenzo terkekeh.


"Aku mencintaimu." Kenzo kembali memeluk perempuan itu.


"Aku juga," jawab Alea.


"Juga apa?"


"juga sama."


"Sama apa sayang?" Kenzo tersenyum, perempuan dalam dekapannya ini, masih saja malu-malu.


"Ken!" Kenzo tertawa gemas.


"Lagian susah banget sih, bilang cinta sama pacar sendiri saja susah." Alea mencubit pinggang Kenzo.


"Tidak perlu aku ucapkan, aku yakin kau pasti sudah tahu sendiri jawabannya." Alea melepaskan pelukannya.


Kenzo mengecup kening Alea sekilas. "Kau benar. Aku tahu, kau pasti juga mencintaiku. Iya kan, sayang?"


Alea mengangguk sambil tersenyum.


"Terima kasih, karena kau mau memberikanku kesempatan untuk membahagiakanmu." Kenzo menatap Alea sambil merapikan rambutnya.


"Harusnya aku yang berterima kasih karena kau telah memberiku banyak kebahagiaan. Pandangan mata Kenzo dan Alea saling menatap.

__ADS_1


"Alea, maukah kau menikah denganku?" Alea menatap pria itu dengan terkejut.


"Ken ...."


"Iya sayang, aku sudah tidak sabar ingin menjadikanmu sebagai istriku."


"Ken, aku ...."


"Kenapa? Kau belum siap?"


"Aku ...."


"Kalau begitu aku akan menunggumu sampai kau siap." Kenzo menatap Alea, terbersit sedikit rasa kecewa di hatinya.


Alea menatap pria di depannya ini dengan tatapan yang sulit diartikan. Saat ini, perasaannya memang benar. Ia mencintai pria ini. Tapi kalau untuk menikah, rasanya Alea belum siap. Bayangan pernikahannya dengan Bian dulu, masih terekam jelas di kepalanya.


Alea memeluk Kenzo, menumpahkan perasaan gundah yang ia rasakan saat mendengar ucapan Kenzo.


"Bisakah kita seperti ini dulu, Ken? Aku ingin menikmati kebersamaan kita seperti ini dulu," ucap Alea sambil mengeratkan pelukannya.


"Aku akan menunggumu, sampai kau siap. Maafkan aku, jika aku terlalu memaksamu. Aku hanya takut."


"Takut apa, Ken?"


"Takut kau berpaling dariku dan kembali padanya. Aku tidak akan sanggup kehilanganmu, Alea ...."


"Aku mencintaimu, Ken, sangat! Kau mau kan, tetap berada di sampingku?"


"Tentu saja! Aku akan terus berada di sampingmu, apapun yang terjadi. Karena aku pun sangat mencintaimu Alea."


"Aku mencintaimu ...." Kenzo melepaskan pelukannya, kemudian menghadiahi ciuman yang bertubi-tubi di seluruh wajah Alea.


"Ken!"


*****


Seorang gadis cantik bak model terkenal turun dari mobil mewahnya, kemudian melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri ke dalam restoran.


Kedua matanya yang tertutup kacamata hitam memindai ke seluruh ruangan. Kaki jenjangnya melangkah dengan cantik mendekati salah satu pegawai restoran. Dengan sopan, si pegawai mengantarkan perempuan itu menuju ruangan yang masih tertutup rapat.


Kenzo melepaskan ciumannya saat terdengar suara ketukan pintu dari luar. Wajahnya terlihat kesal, karena merasa terganggu. Padahal, tadi Kenzo sudah memberitahu para pegawainya untuk tidak mengganggunya sampai jam istirahat makan siang. Karena ia hanya ingin menikmati waktunya berdua saja dengan Alea.


Kenzo merapikan rambut Alea, mengusap bibir Alea yang sedikit membengkak karena ulahnya. Kenzo tersenyum, sementara wajah Alea merona.


"Kita lanjutkan lagi nanti," ucap Kenzo, mengecup sekilas bibir Alea. Alea mencubit pinggang Kenzo, membuat pria itu sedikit meringis tapi dengan senyum yang masih terkembang di bibirnya.


Kenzo melangkah menuju pintu. Wajahnya kembali kesal. Dengan kasar Kenzo membuka pintu.

__ADS_1


Sosok wajah yang tak asing lagi di penglihatannya mendekat ke arahnya dan langsung memeluknya. Kenzo tak sempat menghindar, kedua matanya menatap Alea yang langsung terlihat kesal. Kenzo buru-buru melepaskan pelukan perempuan itu. Karena ia tidak ingin kalau Alea sampai salah paham padanya.


"Halo Ken, apa kabar? Aku benar-benar merindukanmu."


"Marsha? Kapan kamu balik? Kenapa tiba-tiba sudah ada di sini?" Kenzo bertanya dengan heran. Marsha adalah anak salah satu kolega ayahnya yang saat itu sama-sama kuliah di luar negeri bersamanya.


"Aku ingin memberikan kejutan padamu. Setelah pulang ke Jakarta, kau sangat susah dihubungi. Apa kau benar-benar melupakanku?" Perempuan bernama Marsha itu langsung meraih lengan Kenzo dan bergelayut manja di sana. Tapi Kenzo segera melepaskan tangan Marsha, membuat perempuan itu langsung cemberut.


"Kenapa sih, Ken? Pegang tangan saja nggak boleh. Kamu tetap nggak berubah ya, Ken, padahal aku benar-benar rindu sama kamu."


"Aku hanya tidak ingin kau salah paham. Kau tahu bukan, aku seperti apa?" Kenzo menatap perempuan cantik di depannya.


Perempuan itu adalah perempuan yang sangat terobsesi padanya. Terobsesi ingin menjadikan dirinya sebagai kekasihnya.


"Tapi, Ken ... aku sungguh-sungguh mencintaimu. Bahkan sampai sekarang pun, aku masih mencintaimu. Karena itu aku menyusulmu ke sini." Marsha mencoba kembali memegang lengan Kenzo, tapi Kenzo langsung menghindar.


"Tapi aku sama sekali tidak mencintaimu, Marsha. Karena aku sudah punya seseorang di hatiku."


"Dari dulu kau juga bilang begitu. Tapi sampai kau pulang ke Jakarta, aku belum pernah melihatmu dengan perempuan manapun!" tegas Marsha.


"Ken ...." Suara Alea membuat mereka berdua menoleh. Marsha yang tidak menyadari kalau ada orang lain di ruangan itu selain dirinya dan Kenzo tampak terkejut.


"Sayang ...." Kenzo mendekati Alea kemudian memeluk perempuan itu. Ia hampir saja lupa kalau Alea masih bersamanya.


"Maaf! Mengabaikanmu. Dia adalah temanku saat kuliah di luar negeri. Tapi dia sangat terobsesi padaku. Aku takut kamu salah paham." Kenzo melepaskan pelukannya.


"Aku percaya padamu, Ken." Alea melepaskan pelukannya.


Sementara itu, Marsha yang melihat adegan mesra mereka berdua mengepalkan tangannya erat.


'Brengsek! Berani-beraninya kau memeluk milikku!'


Kenzo mendekati Marsha sambil menggandeng tangan Alea.


"Marsha, kenalkan, ini Alea calon istriku. Dia adalah perempuan yang selama ini ada di hatiku."


Marsha menatap Kenzo tak percaya. Tapi tatapannya beralih pada Alea. Marsha membalas uluran tangan Alea. Senyuman terkembang di bibirnya, tapi dalam hati ia mengumpat marah.


'Aku sengaja pulang ke tanah air untuk mendekatimu, Kenzo. Untuk menjadikan kau milikku! Bukan untuk menyaksikan kau menjadi milik orang lain.'


Marsha menatap Alea dengan tajam.


'Kau lihat saja nanti, aku tidak akan membiarkanmu memiliki apa yang seharusnya menjadi milikku!'


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, koment dan Votenya ya kakak ² 🙏🙏🙏


__ADS_2