MATI RASA

MATI RASA
Part 63 Ciuman


__ADS_3

Tanpa melawan, dan juga melakukan pembelaan, Andre di gelandang masuk ke dalam mobil polisi. Andre tahu, ia tidak bisa membela diri sekarang. Tapi sebelum pergi, Andre di izinkan melihat jenazah Amara sebentar, dan juga mencium bayi yang dilahirkan oleh Amara.


"Bisa kau tolong jaga dia?" Andre menatap Mama Bian.


"Bayi ini tidak bersalah, lagipula, Bian juga ikut bertanggung jawab atas kehadiran bayi ini." Andre menatap Laras penuh harap.


"Kau mau kan, merawatnya?" Mama Bian menatap Andre, kemudian menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih." Andre tersenyum menatap Laras. Kemudian bergantian menatap Bian yang beberapa menit yang lalu baru saja menghajarnya, namun polisi berhasil melerainya.


"Kau bisa menebus semua kesalahanmu pada Amara dengan merawat bayi itu. Karena Amara sangat menginginkan bayi itu lahir ke dunia."


Bian terdiam tanpa menjawab, netranya menatap Andre yang akhirnya di gelandang masuk ke dalam mobil polisi dengan kedua tangan terikat borgol.


Pandangan Bian kemudian beralih pada bayi mungil dalam gendongan Mamanya.


"Sebaiknya kita segera mengurus jenazah Amara, dan juga merawat bayi ini. Kasihan bayi ini." Laras menatap bayi mungil di gendongannya.


"Benar kata Andre, bayi ini tidak bersalah. Meski Mama sangat membenci perempuan itu, tapi tetap tidak bisa menyembunyikan fakta, kalau dia adalah istrimu. Walaupun kalian menikah secara diam-diam tanpa sepengetahuan Mama dan Papa." Laras menatap putranya dengan tatapan kecewa, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimanapun, semua sudah terjadi. Tidak ada yang bisa dilakukannya lagi sekarang, selain menerima yang sudah digariskan oleh Tuhan.


"Maafkan aku Ma," ucap Bian dengan raut wajah menyesal.


"Gara-gara aku, Mama harus kehilangan menantu sebaik Alea," bisik Bian lirih. Kedua matanya berkeliling menyadari sesuatu.


"Di mana keluarga Alea, Ma? Kenapa mereka tidak ada bersama kita?"


"Mereka ke sini untuk urusan bisnis, jadi mereka semua sudah pergi dari tadi," jawab Papa Bian datar.


"Oh ... jadi mereka semua sudah pergi? Mereka semua pasti sangat membenciku, karena sampai sekarang Alea belum juga ditemukan." Bian menundukkan kepalanya, kesedihan kembali tampak di raut wajahnya.


"Sudahlah, ayo kita pergi." Papa Bian menepuk pundak Bian.


Bian dan Laras mengangguk.


Mereka akan mengurus kepulangan jenazah Amara. Bian memutuskan untuk tetap membawa jenazah Amara ke Jakarta dan di kebumikan di sana.


******


Alea menatap Kenzo yang saat ini sedang menatapnya dengan rasa bersalah. Kenzo mendekati Alea bermaksud memeluk perempuan itu. Tapi Alea langsung mendorongnya.


"Sayang ...."


Alea berdecak kesal mendengar panggilan Kenzo. Entah kenapa, pria itu akhir-akhir ini selalu memanggilnya dengan kata sayang, sudah seperti orang yang sedang berpacaran saja.


Kenzo tersenyum melihat raut wajah kesal Alea.


"Maafin Mama, karena panik, Mama malah keceplosan ngasih tahu alamat kita di sini sama mama Bian." Kenzo menatap Alea dengan lembut.


"Sudah saatnya kau bertemu dengan mereka, mereka semua sangat merindukanmu, juga sangat mencemaskanmu Alea. Memangnya kau tidak merindukan mereka?"

__ADS_1


'Tentu saja aku merindukan mereka semua. Terutama Papa, aku sangat merindukan papa ....'


"Ayo kita temui mereka, mereka sudah lama menunggumu."


"Aku ingin mereka yang ke sini. Kau bilang, keluarga dia ada di sini juga bukan? Aku tidak ingin bertemu mereka," ucap Alea akhirnya.


"Hanya keluargamu saja. Saat ini keluarga mereka sedang sibuk mengurus jenazah perempuan itu di rumah sakit. Mereka kembali ke Jakarta saat ini juga," sahut Kenzo tanpa menyebut nama Bian dan Amara.


"Baiklah, aku mau menemui mereka."


Kenzo tersenyum, kemudian meraih tubuh Alea ke dalam pelukannya.


"Peluk-peluk mulu perasaan," ucap Alea sewot, membuat Kenzo terkekeh. Tapi tak urung, justru Alea sendiri yang mengeratkan pelukannya.


"Karena pelukanmu bikin aku nyaman dan ketagihan," bisik Kenzo.


"Jangan terlalu berharap Ken, aku tidak mau kau mengalami nasib yang sama seperti aku. Mencintai seseorang yang sama sekali tidak mencintaimu." Kata-kata Alea serasa menusuk jantungnya, tapi Kenzo tersenyum di balik pelukan Alea.


"Aku akan terus menunggu dan tidak akan pernah menyerah."


"Tapi lukaku terlalu dalam, Ken, aku tidak mungkin bisa membuka hatiku untuk yang lainnya."


"Aku akan membantumu, menyembuhkan lukamu, dan aku akan terus menunggumu sampai suatu saat kau mau melihat, betapa besarnya cinta yang aku punya untukmu."


"Kau sangat menyebalkan!"


"Terima kasih atas pujiannya." Mereka berdua tertawa pelan sambil saling mengeratkan pelukan mereka.


"Tapi aku tidak mencintaimu."


"Tidak masalah, cukup aku saja yang mencintaimu, kau hanya tinggal menerima saja."


"Kau akan menyesal nanti."


"Tidak akan pernah ada penyesalan, asal bisa membuatmu bahagia."


"Terserah padamu saja." Alea tersenyum dalam pelukan Kenzo.


"Kau menyerah bukan?"


"Tidak akan menang berdebat denganmu. Percuma saja." Kenzo tertawa kecil mendengar ucapan Alea.


"Aku mencintaimu Alea, sangat mencintaimu."


"Tapi aku tidak bisa mencintaimu Ken, seluruh perasaan cintaku sudah dibawa semua oleh dia," bisik Alea.


"Aku akan mengembalikan kembali rasa itu padamu, hingga suatu saat kau bisa memberikan perasaan itu untukku."


"Hatiku sudah mati Ken, mati rasa. Terlalu banyak luka di dalamnya, aku tidak yakin, apa aku bisa kembali membuka pintu hatiku untuk yang lain."

__ADS_1


"Aku akan menunggumu, izinkan aku menjadi obat untuk menyembuhkan semua luka di hatimu."


"Kau akan terus terluka, Ken ...."


"Tidak apa-apa, asal bisa membuatmu bahagia, dan bisa terus memelukmu seperti ini ...."


"Jangankan terluka, matipun aku rela asal bisa membuatmu bahagia ...."


"Lebay!" Alea tertawa kecil.


"Gara-gara kamu."


Alea melepaskan pelukannya, tapi Kenzo kembali meraih pinggangnya.


"Gara-gara baca novel romantis punya kamu, aku jadi ikutan lebay." Kenzo tersenyum.


"Kau membacanya?"


"Aku salah satu penggemar beratmu."


"Hah?"


Belum sempat Alea menjawab, Kenzo sudah mendaratkan satu kecupan di kening Alea. Kemudian kembali menarik perempuan itu ke dalam pelukannya.


"Aku sangat suka adegan romantis yang kau tulis, saat sepasang kekasih itu sedang berpelukan seperti ini," bisik Kenzo.


"Tapi kita bukan sepasang kekasih."


"Di novelmu, mereka juga bukan sepasang kekasih, tapi mereka sangat mesra seperti sepasang kekasih."


"Kenapa aku merasa, peran utama dalam novel itu persis sepertiku? Mencintai tapi tak dicintai. Tapi masih bisa memeluk orang yang dicintainya seperti ini." Kenzo memperat pelukannya.


Sementara Alea tersenyum dalam pelukan Kenzo.


'Karena aku memang sengaja menulis tentang dirimu di novel itu Ken, seorang pria yang tidak pernah pantang menyerah untuk mendapatkan perempuan yang dicintainya, meski perempuan itu jelas-jelas mencintai pria lain. Sepertiku, yang terus berjuang mendapatkan cinta Bian, meski aku tahu Bian sangat mencintai Amara. Hingga akhirnya, hanya luka saja yang aku dapatkan, tanpa sedikitpun kebahagiaan di dalamnya.'


"Ken, ...."


"Hmm ...."


"Seandainya aku bisa memilih, aku pasti lebih memilih jatuh cinta padamu daripada aku jatuh cinta padanya." Alea mendongakkan wajahnya menatap netra coklat Kenzo yang menatapnya penuh damba.


"Aku akan menunggumu, sampai kau memilih jatuh cinta padaku dan melupakan dia ...."


Kenzo menangkup wajah Alea, memindai wajah cantik itu, kemudian entah keberanian dari mana, Kenzo tiba-tiba meraih bibir Alea dan menciumnya.


.


.

__ADS_1


Yang suka Alea Kenzo, semoga suka sama part ini 😍


Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak² ...😘😘😘


__ADS_2