MATI RASA

MATI RASA
Part 25 Sahabat sejati


__ADS_3

Bian membuka matanya, saat suara dering ponsel begitu nyaring mengganggu tidurnya. Ia meraba sisi ranjang, agak terkejut karena tidak melihat keberadaan perempuan itu. Bian kemudian meraba ke atas nakas dan meraih ponselnya. Terlihat nama Amara di sana.


"Halo sayang ...."


"Bian, kamu di mana? kenapa tidak menjemputku?"


"Menjemput?" ucap Bian dengan linglung.


"Iya Bian, ini sudah jam tujuh malam, kenapa kau belum menjemputku? Sebenarnya kau di mana?" Bian tersentak, ia melirik jam di sebelahnya.


"Maaf sayang, aku ketiduran."


"Apa?! ketiduran?" teriak Amara di ujung sana.


"Iya, tadi banyak banget pekerjaan di kantor, sampai aku ketiduran. Aku akan segera ke sana untuk menjemputmu."


"Tidak perlu, aku sudah hampir sampai rumah." Amara memutuskan teleponnya.


Bian mendesah panjang, "Kenapa aku bisa ketiduran sampai jam segini?"


Bian beranjak dari tempat tidur, ia kemudian meraih celananya yang tergeletak di lantai. Bian mengulas senyumnya saat ia melihat pakaian dalam dan baju Alea berceceran di lantai. Bian memunguti satu persatu baju Alea dan juga bajunya yang berserak di lantai, kemudian ia mencari-cari perempuan itu ke segala tempat, tapi nihil.


"Tidak mungkin ia pulang duluan kan? bajunya aja robek, nggak bisa di pakai lagi." Batin Bian.


Bian kembali meraih ponselnya.


"Halo Mbok, apa Alea sudah pulang ke rumah?"


"Mmm ... maaf Den, Non Alea belum pulang."


"Belum pulang?"


"Iya Den ...."


Bian kemudian menutup panggilan teleponnya.


"Kemana dia?"


Bian kemudian mencoba menelepon nomor Alea, tapi nggak ada jawaban.


"Kamu kemana sih Al ...." Bian menghembuskan nafas panjang, kemudian ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


*****


"Mana Alea Mbok? kenapa dia tidak ikut sarapan lagi." Bian baru saja mendudukkan bokongnya di kursi makan dengan Amara di sampingnya.


Semalam saat ia pulang, ia tidak sempat melihat Alea, karena setelah masuk kamar, Amara langsung menyerangnya, hingga akhirnya, Bian pun sibuk bergulat di atas ranjang bersama Amara dan melupakan Alea.


"Maaf Den, Non Alea sampai sekarang belum pulang." Mbok Sumi menjawab dengan takut-takut.

__ADS_1


"Apa?!" Bian menjatuhkan sendok yang di pegangnya.


"Apa-apaan sih kamu Bi? baru denger dia nggak pulang saja kamu udah kayak orang kebakaran jenggot, palingan dia main di luar sama temen-temennya." kesal Amara.


"Mara, Alea itu nggak kayak kamu yang punya banyak teman di luaran sana, kamu kan tahu, semenjak menikah denganku, Alea itu tidak pernah pergi ke mana-mana, karena dia itu nggak punya temen." Bian berucap dengan nada khawatir.


"Kok kamu malah bandingin aku sama dia sih?" Amara cemberut kesal.


"Bukan begitu maksud aku yang, kamu jangan salah paham."


"Terserah! aku nggak nafsu makan jadinya." Amara bermaksud beranjak dari kursi, tapi Bian langsung menahannya.


"Sayang, kamu nggak boleh gitu dong, kamu harus makan, kasihan anak kita, nanti dia kelaparan kalau kamu nggak makan." Bian menatap Amara sambil mengelus perutnya yang masih terlihat rata.


"Duduklah! biar aku yang suapin kamu."


Amara mau tak mau akhirnya duduk kembali dan menerima suapan dari Bian. Bian tersenyum sambil menyuapi Amara, perempuan yang sangat di cintainya. Sementara di hatinya, ia sedikit khawatir pada Alea.


"Sebenernya kamu itu kemana Al?" batin Bian.


Setelah sarapan, Bian dan Amara bergegas ke mobilnya masing-masing. Kemudian melajukan mobil mereka ke kantor tempat mereka bekerja.


******


Alea masih berbaring dengan malas di tempat tidurnya. Semalam ia memang menginap di apartemennya. Alea sengaja nggak pulang ke rumah karena ia malas bertemu dengan Bian. Mungkin, beberapa hari ini Alea akan menenangkan diri di apartemennya sampai suasana hatinya membaik, meski sebenarnya ia tahu kalau hatinya nggak akan pernah baik saat ia tinggal di rumah itu.


"Huuuhhh!! lelah banget rasanya hidup kayak begini ...." keluh Alea sambil menghela nafas panjang.


"Mendekat salah, menjauh salah. Saat aku mati-matian mengejarmu, kau menolakku mentah-mentah dan menyuruhku pergi, giliran aku mencoba menjauh, kau malah mendekat dan menyuruhku tetap tinggal. Sebenarnya apa maumu Bian?"


Alea memejamkan matanya, memikirkan Bian hanya akan membuatnya tambah sakit kepala. Alea beranjak dari tempat tidur saat terdengar bel pintu yang berbunyi berkali-kali.


"Siapa yang pencet bel sih, perasaan aku nggak ada pesan apa-apaan." Alea menggerutu pelan, karena ia tahu tidak ada seorang pun yang tahu kalau dirinya mempunyai apartemen yang cukup mewah di tempat ini. Bahkan Bian sekalipun.


"Pagi princess, aku bawain kamu sarapan, karena aku yakin kamu pasti belum makan apa-apa pagi ini." Sosok Kenzo tiba-tiba muncul di depan Alea dengan senyum sumringah, ia bahkan menghadiahkan ciuman di pipi Alea.


"Kok kamu tiba-tiba ada di sini?" Alea merapikan rambutnya, kemudian duduk di samping Kenzo.


"Bersih-bersih dulu sana, bau asem." Alea nyengir kuda.


"Kamu belum jawab pertanyaanku."


"Kamu lupa, kalau kita itu tetanggaan."


"Oh iya, aku lupa." Alea menepuk dahinya.


"Masih muda udah pikun aja." Alea tertawa.


"Efek sakit hati mulu, jadi pelupa." Kenzo menatap wajah khas bangun tidur Alea, meski baru bangun tidur, tapi perempuan di depannya ini terlihat sangat cantik.

__ADS_1


"Makanya mulai sekarang, aku bakal nemenin kamu terus Al, biar saat kamu sakit hati, aku selalu ada buat kamu."


"Jangan, nanti Bian rese sama kamu."


"Bodo amat, aku nggak peduli."


"Tapi aku peduli padamu Ken, nggak usah macem-macem, kecuali aku yang minta."


"Ckk!" Kenzo berdecak sebal.


"Aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu Ken, Bian itu nekad orangnya." Kenzo mengangguk.


"Baiklah, aku tidak akan ikut campur, lagi pula itu adalah urusan rumah tanggamu, jadi aku tidak berhak ikut campur, kecuali kau yang memintanya."


"Kamu yang terbaik deh!" Alea merentangkan tangannya ingin memeluk Kenzo, tapi Kenzo langsung menghindar.


"Jangan dekat-dekat, kamu bau asem." Alea tertawa, tapi bukannya menjauh, ia malah langsung memeluk Kenzo dengan suara tawa yang memenuhi ruangan itu.


Kenzo membalas pelukan Alea dengan erat, sebuah senyuman mengembang di bibirnya saat ia mendengar suara tawa Alea.


"Semoga kamu tetap bahagia seperti ini Al, meski aku nggak yakin kalau si brengsek itu bisa membahagiakanmu." Batin Kenzo.


"Mandi dulu, biar aku yang siapin sarapannya." Alea melepaskan pelukannya kemudian melangkah menuju kamar mandi.


Setelah Alea mandi, Alea dan Kenzo sarapan bersama pagi itu. Mereka menghabis waktu pagi itu dengan tertawa dan bercanda. Alea saja sampai lupa kalau dirinya saat ini sedang terluka.


"Ken, terima kasih karena kau sudah menemaniku pagi ini." Kenzo tersenyum sambil mengacak-acak rambut Alea.


"Kau memang sahabatku yang terbaik." Alea mengacungkan jempolnya."


"Kau juga sahabat terbaikku Alea, " Kenzo mengusap kepala Alea.


"Sahabat yang aku cintai diam-diam." lanjut Kenzo dalam hati.


"Semoga kau tetap tersenyum dan terus bahagia seperti ini Al, "


"Terima kasih Ken ...." Alea kembali memeluk Kenzo.


Sementara itu di kantor Bian ....


Bian masih belum menyerah menelepon Alea, sedari tadi ia terus memegangi ponselnya, mencoba menghubungi Alea. Namun, hasilnya tetap sama, Alea mengabaikannya.


"Dasar Sial!"


.


.


Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya

__ADS_1


__ADS_2