
Reyhan melajukan mobilnya meninggalkan area gedung apartemen yang ditempati oleh Kenzo dan Alea. Dari arah belakang, beberapa mobil mengikuti mobil Reyhan. Mereka adalah orang-orang suruhan dari Rajasa yang mencurigai mobil Reyhan karena semenjak keluar dari pusat perbelanjaan terus mengikuti mobil yang dikendarai oleh Alea dan Kenzo.
"Reyhan, kau benar-benar pengecut! Setelah semua yang aku lakukan untukmu, kenapa kau menghianatiku? Dasar brengsek!" Marsha masih terus mengumpat dan memaki Reyhan, tapi pria itu tak menanggapinya. wajah tampannya tampak begitu serius menyetir mobilnya, sesekali Reyhan melirik ke arah spion mobil.
"Reyhan, kita bahkan belum mencoba melakukan apapun, tapi kenapa kau justru mengaku kalah sebelum bertanding?" Marsha masih menatap Reyhan dengan aura kemarahan.
Tapi Reyhan masih tak memperdulikannya. Rehan bahkan seperti tidak terganggu dengan ocehan Marsha. Akan tetapi dalam hati, ia mengumpat. Kenapa perempuan itu tidak mengerti kalau dirinya sekarang sedang dilema? Dia pikir Reyhan mampu melawan Bian Aditama? Orang yang selama ini memberinya kehidupan dengan memperkerjakannya sebagai bodyguardnya.
'Sial! Kenapa aku mesti terjebak pada situasi seperti ini?'
Reyhan menatap serius kaca spion juga jalanan di depannya. Reyhan tampak mengernyitkan kening, sebelum akhirnya dengan tiba-tiba ia menambah kecepatan laju mobilnya. Marsha berteriak kaget saat tubuhnya tiba-tiba terguncang Dan hampir saja kepalanya membentur kaca mobil kalau saja kedua tangannya tidak menahan tubuhnya.
"Rey! Apa-apaan kau ini? Kenapa kau menambah kecepatan mobilmu?" Marsha berteriak marah. sementara Reyhan tetap fokus menyetir sambil sesekali melirik ke arah kaca spion.
'Sial! Apa mereka mencurigai aku?'
Reyhan kembali menambah kecepatan mobilnya.
"Reyhan! Apa kau sudah gila? Cepat kembali kurangi kecepatan mobilmu! Aku belum mau mati konyol!" Marsha kembali berteriak.
"Kalau kamu memang tidak mau mati, maka diamlah! Tidak usah banyak bicara.
"Rey!"
"Diamlah!"
Reyhan semakin melajukan mobilnya dengan kencang. Sementara mobil di belakangnya pun ikut melaju dengan kencang. Mobil mereka terus mengikuti mobil Reyhan, hingga saat mereka melewati jalanan yang sepi, mobil di belakang Reyhan menambah kecepatan mobilnya dan langsung menghadang mobil Reyhan.
Sementara di dalam mobil, Reyhan begitu terkejut ketika mobil-mobil di belakangnya tiba-tiba sudah berada di depannya menghadang mobilnya, membuat Reyhan langsung menginjak rem secara mendadak.
Bunyi berdecit karena gesekan ban mobil dengan aspal jalanan terdengar begitu keras. Reyhan dan Marsha hampir saja terpental ke depan kalau saja mereka tidak memakai seatbelt.
Marsha berteriak kaget sementara Reyhan meremas setir meluapkan amarahnya.
"Brengsek!"
Beberapa pria berbaju hitam keluar dari mobil. kemudian langsung mengetuk pintu kaca mobil Reyhan.
Marsha terlihat sedikit ketakutan saat beberapa orang berbadan tinggi dan kekar mendatanginya.
"Rey, siapa mereka Rey? Kenapa mereka menghentikan mobil kita?" Marsha terlihat panik. Ia memang sering berbuat jahat, tapi ia tidak pernah dihadapkan dengan situasi seperti ini. Biasanya, dirinyalah yang menyewa penjahat, tapi sekarang, keadaannya terbalik. Dirinya yang dikejar-kejar seperti penjahat.
"Buka!" teriak salah satu orang berpakaian hitam dengan wajah sangar, sambil mengetuk kaca mobil Reyhan dengan tidak sabar.
"Keluar!" teriaknya lagi.
"Rey," Marsha sudah gemetar ketakutan, sementara Reyhan terlihat menahan amarah tapi tetap tenang.
__ADS_1
"Keluar brengsek!" teriak mereka lagi, kali ini bukan hanya mengetuk tapi menggedor dengan keras kaca mobil.
Reyhan menatap beberapa orang berbadan tinggi besar di depannya. Ada sekitar sepuluh orang yang sedang mengurung mobil Reyhan.
'Sialan! Aku tidak mungkin melawan mereka. Mereka terlalu banyak, bisa-bisa aku mati konyol kalau aku nekad melawan mereka.'
"Telepon polisi saja, Rey, biar polisi menangkap mereka."
"Apa kau bodoh? Kalau kita telepon polisi, itu namanya sama saja bunuh diri. Kau lupa siapa aku? Mereka bisa saja menangkapku dan memasukkan aku ke dalam penjara." Reyhan menatap Marsha dengan kesal.
"Tapi aku takut Rey, mereka serem-serem banget." Marsha melingkarkan tangannya pada Reyhan.
"Keluar, kalian! Cepat keluar!" Gedoran di pintu mobil makin keras.
"Jangan dibuka Rey, aku takut. Biarkan saja mereka marah, tapi pintunya jangan dibuka." Marsha memeluk lengan Reyhan. Reyhan menatap perempuan itu, kemudian tangannya bergerak untuk menurunkan kaca mobil. Belum sempat Reyhan berucap, seseorang yang tadi menggedor pintu langsung menodongkan senjatanya pada pelipis Reyhan.
"Keluar!"
"Siapa kalian?"
"Tidak usah banyak tanya, keluar! " seru pria itu dingin.
"Re--Rey ...." Tubuh Marsha gemetar saat melihat pria berbaju hitam yang tadi menggedor kaca mobil menodongkan pistol ke arah Reyhan.
Reyhan menggenggam tangan Marsha dengan erat.
"Lepaskan dia!" Reyhan berteriak sambil terus memegangi tangan Marsha.
"Keluar kau!" Sang pria tadi menekankan moncong senjatanya pada pelipis Reyhan.
"Mau apa kalian sebenarnya? Kenapa kalian ingin mencelakaiku? Aku bahkan tidak mengenal kalian!" Reyhan menatap tajam ke arah pria itu dengan marah.
"Heh! tidak usah banyak bicara. Cepat ikut kami atau kalian berdua akan tahu akibatnya."
"Tidak! Aku tidak mau ikut kalian. Asal kalian tahu, aku adalah orang suruhan Bian Aditama yang sedang bertugas untuk mengawasi mantan istrinya." Reyhan dengan tidak takut mengungkapkan siapa dirinya, berharap orang-orang ini akan melepaskannya setelah mengetahui siapa dia sebenarnya.
"Apa kau benar-benar orang suruhan Bian Aditama?" Pria itu menatap tajam ke arah Reyhan, kemudian pandangannya beralih pada Marsha yang terlihat ketakutan, karena pria yang tadi memaksanya keluar dari mobil pun kini tengah menodongkan senjata ke arahnya.
"Kalau kau memang benar orang suruhan Bian Aditama, kenapa kau tidak bertugas untuk menjaga Nona Alea? Kenapa kau malah kabur dengan perempuan ini?" Pria itu menatap tajam ke arah Reyhan.
"Apa kau tahu? Perempuan itu adalah target kami." Pria itu tersenyum smirk menatap Marsha, membuat perempuan cantik itu terkejut.
"Tapi karena kau melindunginya, dengan terpaksa, kau pun harus menanggung akibatnya. Kau pasti sangat tahu bukan? Apa hukuman yang pantas untuk seorang pengkhianat?"
"A--Apa?" Reyhan tersentak kaget.
"A--Apa maksud kalian kalau perempuan ini adalah target kalian?"
__ADS_1
"Kau sungguh tidak tahu siapa perempuan ini?" Pria itu tersenyum mengejek.
"Perempuan ini sudah berani mengancam Bos kami, Chandra Wiguna! Dia bahkan punya nyali begitu besar karena berani mengancam akan menghancurkan perusahaan si Bos yang ada di negara J."
"Apa?" Kedua mata Kenzo melebar karena kaget. Pandangannya beralih pada Marsha yang sama terkejutnya dengan dirinya.
"Setelah kau berani mengancam bos kami, sekarang kau bahkan punya nyali besar untuk mencelakai tunangan dari anak bos kami dan bekerja sama dengan pria bodoh ini?" Pria itu tersenyum mengejek sambil terus menekankan senjatanya pada pelipis Reyhan.
"Kau benar-benar punya nyali, Nona manis."
"Setelah kekacauan dan tindak kriminal yang kau lakukan di negara J, kini kau kembali ke negara ini untuk menghilangkan jejak. Tapi baru beberapa hari tinggal di sini, kau sudah berani mengusik bos kami?"
"Kau mau mati, ya?"
Pria itu masih terus berbicara, membuat Reyhan tercengang, karena tidak menyangka kalau Marsha ternyata telah berbuat sejauh itu.
'Brengsek!'
Bian mengumpat dalam hati, tapi tatapannya tak lepas pada Marsha yang terlihat ketakutan dan kesakitan karena pria yang menodongkan senjata ke arahnya, kini telah menjambak rambutnya tanpa belas kasihan.
"Apa sekarang kau sudah ingat, hukuman apa yang pantas untuk pengkhianat sepertimu?"
Reyhan tersentak dari lamunannya, tubuhnya menegang, membayangkan kesalahan fatal yang sudah ia lakukan.
"Orang-orang Aditama sudah dalam perjalanan ke sini. Jadi, bersiaplah untuk menerima hukuman dari tuanmu sendiri!"
Pria-pria berbaju hitam itu segera menarik tubuh Reyhan dan Marsha dengan paksa. Kedua orang itu dipaksa naik ke salah satu mobil mereka dengan todongan senjata yang masih mengarah padanya.
Reyhan tidak menyangka, kalau pertemuannya dengan Marsha justru membuatnya berada dalam masalah besar seperti ini. Pertemuan indah yang justru membawa malapetaka buat dirinya. Tadinya Reyhan punya sedikit rencana yang terlintas di kepalanya. Menjalani kehidupan dengan Marsha di masa mendatang.
Marsha ... cinta pertamanya sekaligus perempuan yang selama ini mengisi hatinya. Meski jarak memisahkan, meski tubuh telah terbagi dengan perempuan lain. Tapi, di dalam hatinya hanya ada satu orang, baik dulu maupun sekarang. Seseorang yang kini berada di sampingnya dan terlihat begitu menyedihkan.
Marsha Amanda ....
Reyhan menatap perempuan itu dengan debaran dada yang menggila.
'Ah! Bahkan dalam situasi seperti ini pun, hatinya tak bisa dikendalikan.
.
.
.
Maaf baru sempet update ya kakak² 🙏🙏🙏
Yang suka ceritanya, jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak² 😘😘
__ADS_1
.