MATI RASA

MATI RASA
Part 32 Tragedi Di Pagi Hari


__ADS_3

Alea menutup keras pintu kamarnya, kemudian menguncinya. Ia tidak mau kalau Bian tiba-tiba datang dan masuk ke dalam kamarnya, kemudian ikut tidur di ranjangnya.


Ia benar-benar tidak ingin berhubungan dengan pria itu lagi. Meskipun sebenarnya ia masih menginginkan Bian, tapi ia tidak mau berharap lagi. Cukup sudah selama ini ia menjadi orang yang bodoh, karena terlalu berharap kalau suatu saat Bian


juga akan mencintainya seperti dirinya yang begitu mencintai pria itu.


Sementara itu di dalam kamar atas, Bian mengerang kesal. Ia menarik rambutnya frustasi.


Kenapa jadi rumit begini sih? sebenarnya ada apa denganku? kenapa aku begitu kesal setiap Alea meminta pisah? bukankah dulu aku begitu menginginkan dia pergi dari kehidupanku? tapi kenapa sekarang rasanya begitu berat?


Bian mengacak-acak rambutnya kasar, kemudian ia beranjak menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya.


Alea, apa mungkin karena saat ini aku mulai menyukaimu, karena itu aku tidak bisa terima dan sangat kesal saat kau ingin meminta pisah dariku?


Bian mencoba memejamkan matanya. Sebenarnya, malam ini Bian berniat menghabiskan malam dengan Alea karena tak ada Amara, ia sudah membayangkan akan memperlakukan Alea dengan lembut malam ini agar Alea tak menolaknya. Tapi ... semua rencananya gagal sudah.


Bian menghembuskan nafas kesal karena sedikitpun ia tidak bisa memejamkan matanya.


*****


Setelah seminggu, Amara baru kembali ke rumah. Wajahnya terlihat sumringah saat ia turun dari kamar bersama Bian di sampingnya. Alea yang melihat pemandangan itu langsung membuang muka dan kembali meneruskan pekerjaannya, yaitu menyiapkan sarapan buat suaminya.


Meskipun ia tidak bisa melayani Bian secara batin, tapi ia berusaha melayani dalam bentuk yang lain, bagaimana pun, terlepas dari semua masalah yang menimpanya, Bian tetap masih berstatus suaminya.


Dua hari setelah pertengkarannya dengan Bian, Bian memaksa tidur di kamarnya, meski Alea sudah menolaknya mentah-mentah, tapi Bian tetap memaksa. Akhirnya dengan marah Alea mengijinkan Bian tidur bersamanya, tapi hanya tidur, tanpa melakukan apapun. Bian menyanggupinya, Bian memang tidur seranjang dengannya, tapi hanya bisa memeluknya saja.


Alea mengambil piring dan menyiapkan makanan untuk Bian, Bian menerima piring itu sambil tersenyum.


"Makasih Al, " Alea hanya menganggukkan kepalanya tanpa berniat tersenyum apalagi menjawab perkataan Bian.


"Ambil buat aku juga dong, kenapa cuma buat Bian?" Amara dengan senyum mengejek menatap Alea.


"Kau punya tangan, lagipula aku bukan pelayanmu, kenapa aku harus melayanimu?"


"Kau ...!" Amara menunjuk ke arah Alea.


Sialan! sejak kapan perempuan ini berani membantahku? awas saja kau Alea, cepat atau lambat, aku pasti akan menyingkirkanmu dari rumah ini. Aku tidak akan pernah membiarkan Bian sampai menyukaimu.


Amara ingin meluapkan kemarahannya, tapi saat melirik ke arah Bian yang langsung memperhatikannya, ia tidak jadi memarahi Alea. Ia tidak boleh terlihat jahat di depan Bian.


Dengan kesal, Amara kemudian mengambil nasi untuk dirinya.


Selesai sarapan, Bian dan Amara bersiap menuju ke kantor, tapi saat Amara melihat Alea menaiki tangga, seulas senyum jahat tercetak di wajahnya.


"Sayang, kayaknya aku mau kembali ke kamar, ada yang ketinggalan." Bian mengangguk, kemudian mengikuti Amara kembali ke dalam rumah.


Bian baru saja duduk, saat tiba-tiba ia mendengar Amara berteriak, dan saat Bian melihat ke arah Amara, Bian melihat Amara terjatuh berguling-guling di tangga. Sementara Alea membeliak kaget melihat Amara yang terjatuh menuruni beberapa tangga. Tangannya terulur, sehingga siapapun yang melihatnya, pasti mengira kalau Alea baru saja mendorong Amara.

__ADS_1


"Alea! apa yang kau lakukan?!" Suara Bian menggelegar, Bian berlari dengan cepat mendekati Amara, di ikuti Mbok Sumi yang juga mendekat ke arah Amara.


"Bi- Bian ... aku tidak mendorongnya." Bian dengan penuh amarah mendekati Alea setelah ia meletakkan tubuh Amara di atas sofa ditemani Mbok Sumi.


Bian menyeret Alea menuruni tangga.


"Bian, aku sungguh-sungguh tidak mendorongnya, percayalah padaku, aku mohon ...." Alea meringis kesakitan karena Bian mencengkeram pergelangan tangannya dengan kencang.


Bian melemparkan tubuh Alea dengan kasar, sehingga punggung Alea membentur meja makan.


"Apa yang kau lakukan?! apa kau gila? kau sengaja mendorong Amara hingga dia terjatuh, apa kau sengaja ingin membunuh anakku?!" Bian berteriak, kedua matanya memerah, rahangnya juga mengeras karena amarah yang siap meledak.


"Bi- Bian, aku benar-benar tidak mendorong Amara."


Plakk!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Alea, sesaat ia baru saja bangun setelah di dorong oleh Bian. Alea kembali terhuyung, wajahnya bahkan terlempar ke sisi kanan karena Bian menampar pipi kirinya.


Alea menangis dengan sudut bibir yang berdarah saking kerasnya pukulan Bian.


Sementara Mbok Sumi menjerit tak kuasa melihat keadaan Alea. Sedangkan Amara, tersenyum licik.


Rasakan kau Alea, kali ini riwayatmu bakalan tamat, dan Bian pasti akan membencimu dan mengusirmu dari sini.


"Bian, percayalah padaku, aku benar-benar tidak mendorong Amara Bian ... dia menjatuhkan dirinya sendiri ...."


Plakk!


Alea meringis, menahan perih dan sakit di wajahnya, tapi ia kembali bangkit dan berusaha meraih tangan Bian, tapi sebelum tangan itu menyentuh Bian, Bian segera menepis kemudian mendorong Alea dengan kasar. Bian benar-benar sedang di kuasai oleh amarah.


"Bian, aku benar-benar tidak mendorongnya! sekali ini saja, percayalah padaku Bian!" Alea mengatupkan tangannya berharap Bian mau mempercayainya, tapi harapannya sirna, saat ia melihat Bian justru melepas ikat pinggangnya setelah mendengar suara Amara yang berteriak kesakitan.


"Den Bian!" Mbok Sumi bermaksud mencegah Bian, tapi Amara segera menarik tangan Mbok Sumi.


"Jangan ikut campur." Amara menatap Mbok Sumi dengan tajam, tapi senyum licik terlihat jelas di matanya.


"Non Amara sengaja menjebak non Alea?" Mbok Sumi menatap Amara yang tersenyum smirk dengan tatapan tak percaya.


"Aku bisa melakukan apapun pada orang-orang yang menghalangi kebahagiaanku." Amara melotot tajam pada Mbok Sumi, tangannya bahkan mencengkeram erat tangan Mbok Sumi.


Tapi sesaat kemudian, Amara merasakan kesakitan di area perutnya.


"Sakit sekali perutku Mbok, " bersamaan dengan ucapan Amara, terdengar suara teriakan Alea yang melengking keras saat Bian dengan membabi buta memukulkan ikat pinggangnya pada tubuh Alea.


Alea menjerit kencang, saat ikat pinggang itu mengenai pinggangnya berulangkali. Tak puas dengan bagian pinggang, ikat pinggang itupun mendarat di seluruh bagian tubuh Alea termasuk perutnya.


"Bian, percayalah padaku, aku benar-benar tidak mendorongnya ...." lirih Alea sambil terus menangis menatap Bian. Tapi Bian tidak mempedulikannya. Ia masih terus memukuli Alea dengan ikat pinggang di tangannya.

__ADS_1


Dalam hati, Alea berdoa semoga janin di perutnya baik-baik saja. Baru tadi pagi ini Alea mengetahui kalau dirinya saat ini sedang hamil, Alea mengikuti saran dari Mbok Sumi untuk membeli alat tes kehamilan saat melihat Alea yang terlihat pucat dan mual-mual dari kemarin.


"Den Bian! non Amara berdarah!" Mbok Sumi berteriak panik, saat ia melihat darah mengalir di sela paha Amara.


Bian menghentikan pukulan ikat pinggangnya di tubuh Alea, ia berlari mendekati Amara yang terlihat kesakitan.


Mang Ujang yang mendengar suara teriakan dan tangisan dari luar, segera masuk untuk melihat apa yang terjadi.


"Ujang! siapkan mobil cepetan!" Bian mengangkat tubuh Amara, sedangkan Mang Ujang yang baru saja sampai dan melihat apa yang terjadi, langsung berlari menuju mobil yang terparkir, setelah Bian memberikan kunci mobil padanya.


Mbok Sumi segera mendekati Alea yang terkapar di atas lantai. Sementara Bian menatap Alea sekilas, kemudian berlari menggendong Amara menuju mobil.


Alea dengan pelan berucap lirih, saat Mbok Sumi berlari ke arahnya setelah kepergian Bian.


"Se- la -matkan anakku Mbok ...."


"Non Alea!" Mbok Sumi berteriak panik. Ia ingin membopong tubuh Alea, tapi tidak bisa, karena ia tidak kuat menggendong Alea.


"Non Alea, bertahanlah!" Mbok Sumi menangis, melihat Alea yang terlihat lemah, ia sangat ketakutan dan merasa panik.


Mbok Sumi kembali menjerit saat melihat darah mengalir di sela paha Alea sama seperti yang dia lihat pada Amara tadi.


"Non! non Alea!" Mbok Sumi berteriak panik.


Ditengah kepanikannya, Mbok Sumi mendengar suara dering ponsel, ia mencari-cari ponsel itu, hingga akhirnya ia menemukannya di bawah kolong meja. Rupanya ponsel itu terlempar keluar dari saku baju Alea saat Bian mendorong Alea tadi.


Dengan gemetar, Mbok Sumi memencet tombol hijau di layar benda pipih itu.


"Alea, aku sekarang sudah berada di dekat rumahmu untuk menjemputmu, karena aku lihat mobil suamimu sudah nggak ada, jadi aku berani menghentikan mobilku di sini." Suara orang di seberang telepon terdengar, sebelum Mbok Sumi mengucapkan sesuatu.


"To- tolong ... tolongin non Alea, aku mohon ...." Mbok Sumi berucap terbata- bata sambil menangis.


"Halo! apa yang terjadi pada Alea! halo!"


"Tolong ...." Suara Mbok Sumi kembali terdengar, membuat Kenzo langsung membuka mobilnya dan berlari menuju rumah Alea.


Entah mengapa, pagi ini Kenzo begitu cemas dengan Alea, sehingga setelah berpikir panjang, akhirnya ia memberanikan diri menjemput Alea pagi ini.


"Aku akan segera kesana." Kenzo menutup panggilan teleponnya, kemudian berlari menerobos pintu gerbang yang masih terbuka, dan langsung masuk ke dalam rumah Alea.


"Alea!!" Suara teriakan Kenzo menggema di seluruh ruangan.


.


.


Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak² ... biar Authornya tambah semangat 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2