MATI RASA

MATI RASA
Part 93 Menyingkirkan Alea


__ADS_3

Bian berlari saat melihat anak kecil yang sangat dikenalnya sudah berada di luar mobilnya. Pikirannya tak karuan. Bagaimana ia bisa lupa kalau Devan bersamanya?


"Devan! Devan!" Bian berteriak kencang, tapi anak kecil itu tak mendengarnya. Kaki kecilnya melangkah meninggalkan mobil Bian. Berjalan menuju depan jalan di mana mobil berlalu lalang.


Bian memang sengaja memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Karena ia bermaksud mampir sebentar ke pusat perbelanjaan itu untuk membeli keperluan Devan. Awalnya Bian akan mengajak Devan ikut serta ke dalam, tapi Devan tertidur. Karena kasihan, akhirnya Bian meninggalkan Devan sendirian di dalam mobil. Mungkin saat keluar dari mobil Bian terburu-buru, hingga ia lupa mengunci pintu mobil. Kalau tidak, bagaimana Devan bisa keluar dari mobil?


"Devan! Devan!" Bian berlari dengan kencang, sambil berteriak memanggil Devan. Ia tak mempedulikan tatapan-tatapan orang yang menatapnya heran.


"Devan!"


'Sial! Kenapa tidak ada seorang pun yang melihat Devan di sana?'


Bian terus berlari mengejar Devan yang sudah sampai di trotoar.


"Devan!"


Bian segera meraih bocah kecil itu. Hampir saja Bian terlambat. Saat ia berhasil meraih bocah kecil itu dalam pelukannya, sebuah mobil melintas tepat di depan mereka.


Nafas Bian memburu sambil memeluk bocah itu.


'Hampir saja.'


Jantung Bian serasa berhenti mendadak, tubuhnya terkulai lemas. Jika tadi ia terlambat, entah apa yang akan terjadi pada bocah kecil ini.


"Devan."


Bian memeluk Devan dengan erat.


"Pa--pa." Devan menangis karena terkejut.


"Papa …."


"Iya sayang, ini Papa."


Bian bangkit dari duduknya, ia memasukkan tubuh mungil Devan ke dalam mobil, kemudian Bian mengambil satu persatu belanjaan yang ia lempar karena mengejar Devan tadi. Ia memasukkan satu persatu kantong berisi belanjaan itu ke dalam mobilnya. Baru saja Bian selesai dengan pekerjaannya, sosok perempuan yang tidak asing di matanya tiba-tiba sudah berdiri di depan Bian.


"Halo, Pak Bian."


Bian menghela nafas lelah menatap perempuan di depannya.


'Sial banget sih aku hari ini. Kenapa juga harus ketemu ular betina di sini. Nggak di kantor, nggak di sini, kenapa aku harus selalu ketemu sama dia?'


Tadi pagi saat Bian ke kantor, entah kebetulan atau tidak, Bian bertemu dengan Lisa. Padahal Lisa kan bukan pegawai kantornya. Tapi entah untuk urusan apa, tiba-tiba perempuan itu muncul di depan kantornya.


"Sepertinya kita berjodoh ya, Pak. Beberapa hari ini kita ketemu terus," ucap Lisa dengan percaya diri. Karena yang diucapkannya memang benar. Dari kemarin dirinya memang sengaja mengikuti Bian kemanapun pria itu pergi. Termasuk ke pusat perbelanjaan yang Bian masuki tadi. Hanya saja, karena Lisa kehilangan jejak makanya Lisa sedikit terlambat ketemu Bian. Itu pun karena Bian memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, Makanya Lisa bisa melihat dan menebak kalau Bian sedang berada di pusat perbelanjaan itu.


Bian hanya mendengus kesal, tak meladeni omongan Lisa. Ia hendak masuk ke mobil, saat tangan perempuan itu tiba-tiba menarik tangannya.


"Apa-apaan kau ini?" seru Bian kesal.


"Kenapa buru-buru, Pak? Aku kan belum selesai bicara." Lisa menatap Bian dengan senyum mengembang di bibirnya, membuat Bian semakin muak melihatnya.


"Aku tidak punya waktu untuk bicara sama kamu, Lisa. Jangan menggangguku!" Bian melepaskan tangan Lisa dengan kasar.


"Pak Bian."


"Minggir!"


Bian mendorong tubuh Lisa dengan kesal. Habis sudah kesabarannya menghadapi perempuan tidak tahu malu di depannya ini.

__ADS_1


"Bian! Sampai kapan kau akan menghindariku? Semakin kau menghindar, aku akan semakin mengejarmu!" seru Lisa lantang. Kali ini ia tak lagi memakai embel-embel 'Pak' memanggil Bian. Memang sudah putus urat malunya.


"Kalau kau masih menghindar dariku, jangan salahkan aku kalau aku akan membuat hidup Alea susah!" teriak Lisa.


Bian yang baru saja berniat menaiki mobilnya kembali turun dari mobil, membuat Lisa tersenyum.


"Dari mana kau tahu tentang Alea?" Bian menatap perempuan itu dengan tajam.


Lisa tersenyum santai. "Tak penting dari mana aku mengetahuinya, yang jelas, aku tidak akan segan-segan menyakiti perempuan itu kalau kau terus menolakku!"


Bian tertawa mengejek. "Kau mau mengancamku? Kau pikir kau ini siapa?" Bian berkacak pinggang sambil terus menatap Lisa dengan tajam.


Sejenak Lisa terpaku menatap Bian. Ia tidak menyangka kalau ancamannya tidak membuat Bian takut.


"Lisa, apa kau tahu? Kau adalah perempuan terbodoh yang aku kenal. Kau mau mengganggu Alea? Kau mau menyakiti perempuan yang amat aku cintai?" Bian menatap tajam ke arah perempuan itu dengan tatapan membunuh.


"Jika sampai kau berani menyentuh Alea meski hanya seujung rambut, jangan harap kau bisa lepas dariku, Lisa." Bian mencengkeram rahang perempuan itu sambil menatapnya penuh amarah.


"Kau belum tahu siapa aku sebenarnya, Lisa. Jangan sampai membuatku marah, atau kau akan tahu akibatnya karena telah berurusan denganku!" Bian melepaskan cengkeramannya kemudian berbalik masuk ke dalam mobilnya.


Sementara, Lisa terdiam mematung merasakan nyeri di rahangnya. Ia tidak menyangka kalau Bian bisa sekasar tadi. Kedua tangannya mengepal erat.


'Bian, semakin kau menolakku, aku akan semakin mengejarmu. Kau pikir aku takut dengan ancamanmu?' Lisa mendengus kesal sambil menatap mobil Bian yang semakin menjauh dari pandangannya.


'Alea … aku jadi penasaran, kenapa Bian begitu tergila-gila padamu.'


Lisa beranjak dari tempat itu, meraih ponselnya untuk menelepon seseorang.


"Halo, Bang, kamu di mana? Aku ingin bertemu."


Lisa menutup panggilan teleponnya, kemudian masuk ke dalam pusat perbelanjaan. Lisa akan menemui orang yang baru saja ia telepon, dan entah kebetulan atau tidak, orang yang baru saja Lisa hubungi ternyata juga berada dalam pusat perbelanjaan itu.


Lisa menoleh ke arah suara. Di sana terlihat seorang pria dan wanita duduk dalam satu meja. Sang pria melambaikan tangan ke arahnya. Dengan senyum sumringah Lisa menghampiri mereka berdua.


"Abang!"


Lisa mendekati sang pria kemudian memeluknya. Pandangannya beralih ke arah perempuan cantik di sebelah abangnya.


"Hai, aku Lisa, adiknya Reyhan."


Marsha tersenyum, kemudian membalas uluran tangan Lisa.


"Marsha."


"Kau cantik sekali, apa kau pacaran dengan dia?" Lisa menunjuk Reyhan yang tersenyum tipis.


"Bukan. Kita hanya berteman."


"Benarkah?" Lisa tak percaya sambil melirik ke arah Reyhan.


"Dia klien aku."


"Hah?" Lisa yang memang mengetahui pekerjaan Reyhan menatap tak percaya. Sementara Marsha tersenyum jengah.


"Ada apa? Apa kau ada masalah?" Reyhan menatap adiknya itu dengan serius. Tak biasanya adiknya itu meminta bertemu langsung. Biasanya hanya lewat telepon.


"Aku mau meminta bantuanmu." Lisa menatap Reyhan dengan wajah ditekuk.


"Bantuan apa?" Reyhan menatap adiknya itu dengan serius.

__ADS_1


"Singkirkan orang ini!" Lisa membuka tasnya dan mengambil selembar foto kemudian meletakkannya di atas meja di depan Reyhan.


Reyhan dan Marsha mengernyitkan keningnya bersamaan karena terkejut saat melihat ke arah foto itu. Mereka berdua saling pandang.


"Alea?" ucap mereka bersamaan.


Lisa menatap mereka berdua dengan kaget.


"Kalian mengenalnya?"


"Kita punya target yang sama ternyata." Marsha tersenyum smirk


"Maksudmu? Apa kau juga ingin menyingkirkan perempuan itu?" Lisa bertanya dengan raut wajah terkejut.


"Kau benar, aku ingin sekali menyingkirkan perempuan itu."


"Benarkah?" Lisa tersenyum kecil.


Sementara Reyhan memandangi kedua perempuan di depannya itu.


"Kenapa kau ingin menyingkirkan Alea?" tanya Reyhan.


"Apa perempuan itu juga merebut orang yang kau sukai?" Reyhan menatap adik satu-satunya itu.


"Kau sudah tahu pasti jawabannya, Bang. Kau tahu kan, aku tidak suka penolakan. Perempuan itu sudah menyebabkan orang yang aku sukai menolakku. Bagaimanapun, aku harus mendapatkan pria itu." Lisa menatap wajah tampan kakak lelakinya.


"Memangnya kau sudah bosan dengan pacarmu yang kemarin? Bukannya kemarin kau bilang juga menyukai pria itu?" Reyhan tersenyum mengejek.


"Aku sudah bosan sama dia. Aku mau ganti yang baru."


Marsha tersenyum kecil melihat perempuan arogan di depannya. Sungguh-sungguh seperti cerminan dirinya.


Reyhan menarik nafas panjang menatap kedua perempuan itu.


"Baiklah, demi kalian, aku akan menyingkirkan perempuan itu. Tapi sebelum kita menyingkirkannya, sebaiknya kita perlu menyusun rencana." Reyhan menatap keduanya dengan serius.


"Karena perempuan yang kalian incar itu bukan perempuan biasa."


"Apa maksudmu?" ucap Lisa penasaran.


"Banyak orang-orang yang berkeliaran di dekatnya. Mereka mengawasi dan mengawal kemanapun perempuan itu pergi."


"Apa?"


Marsha dan Lisa berucap berbarengan karena terkejut.


"Aku tidak mau mengambil resiko, terlalu berbahaya."


"Apa maksudmu?"


Marsha beranjak dari duduknya, berdiri menatap Reyhan dengan tatapan kesal.


.


.


Jangan lupa like, koment dan Votenya ya kakak² 🙏🙏🙏


Terima kasih sudah membaca 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2