
"Amara!"
Bian berteriak kaget saat melihat Amara dengan kasar mendorong Alea.
"Apa yang kau lakukan?" Bian bergegas membantu Alea bangun.
"Kenapa kau menciumnya?" Bian terdiam, apalagi saat melihat Amara yang mulai menangis. Gara-gara kehamilannya, perempuan itu memang menjadi agak sensitif, hingga ia seringkali menangis meski tanpa sebab yang jelas.
"Aku hanya menciumnya Amara, kenapa tidak boleh? bukankah dia istriku juga?"
"Bian ...."
Amara menatap Bian tak percaya.
"Apa sekarang kau sudah mulai menyukainya? jadi kau bebas menciumnya di depanku, begitu?"
"Sayang ...."
"Bian, kau sudah berjanji padaku kalau kau hanya mencintaiku, dan tidak akan pernah menyukai perempuan itu, tapi kenapa sekarang kau mengingkarinya?!" Amara berkata dengan suara keras sambil menangis.
Sementara Alea merasa muak, hingga ia berniat meninggal mereka berdua. Tapi belum sempat ia beranjak, Amara sudah menarik tangannya.
"Setelah kau membuat kekacauan, kemudian kau akan pergi begitu saja?!" teriak Amara.
"Lalu, apa maumu?" Alea dengan kasar melepas cengkraman tangan Amara. Kedua matanya menyorot tajam pada perempuan yang telah menjadi madunya itu.
"Aku ingin kau pergi dari sini sejauh mungkin, karena aku muak melihatmu!"
Alea tertawa sinis sambil menatap wajah tidak tahu malu Amara.
__ADS_1
"Pergi dari sini? apa aku tidak salah dengar? kau menumpang di rumahku, dan sekarang kau ingin mengusirku dari rumahku sendiri?"
"Ini rumah Bian, semua dokumen rumah ini dan juga seluruh mobil yang ada di sini atas nama Bian, jadi aku dan Bian bisa mengusirmu kapan saja dari sini!" teriaknya dengan percaya diri.
"Oh ya? kau percaya diri sekali. Apa menurut kalian kedua orang tuaku akan diam saja setelah mengetahui kelakuan Bian padaku? seandainya aku mau, dari awal aku pasti sudah memberi tahu orang tuaku tentang perbuatan kalian padaku."
Amara dan Bian saling berpandangan.
"Heh! maduku, alias pelakor, perempuan tidak tahu malu!" Alea memaki dengan geram.
"Kau pikir, apa yang akan orang tuaku lakukan pada Bian setelah mereka mengetahui kalau Bian membawa perempuan lain ke rumah ini dan menyiksaku terus menerus?" Alea menatap tajam pada Amara.
"Aku pastikan, bukan hanya perusahaan yang hilang, tapi rumah ini dan semua asetnya juga pasti akan menghilang. Dan saat itu, aku pastikan, kalau kalian berdua akan menjadi gembel!" Amara dan Bian terkejut, wajah mereka langsung menegang.
"Kenapa? kau takut?" Alea tersenyum sinis.
"Amara!"
"Apa kau tahu, seandainya saja Bian mau menceraikan aku, aku pasti sudah lama pergi dari rumah ini. Tapi sayang, dia tidak
mau menceraikan aku dan bersikeras menahanku di sini."
"A-apa maksudmu?" Amara menatap Bian dan Alea bergantian.
"Jangan bilang kalau Bian tidak pernah memberitahumu kalau aku ingin bercerai dengannya, aku bahkan sampai memohon padanya untuk menceraikanku, tapi Bian tidak mau, ia bahkan memaksaku untuk melayaninya di tempat tidur setiap kali aku memohon padanya untuk menceraikan aku." ucap Alea dengan penuh penekanan.
"Bi-Bian ... apa itu benar? apa yang di katakan perempuan itu benar? jika selama ini kau menidurinya tanpa sepengetahuanku?" Amara sudah mulai menangis, sementara Alea tersenyum puas, apalagi saat melihat Bian yang kelimpungan membujuk perempuan itu.
"Kau benar-benar pria tidak berpendirian Bian, baru beberapa menit yang lalu kau bilang padaku, kalau mulai menyukaiku, tapi kenyataannya ...." Alea menertawai dirinya sendiri.
__ADS_1
Kau jangan bermimpi Alea, selamanya, pria itu hanya akan mencintai perempuan itu, bukan dirimu.
Alea bergegas meninggalkan mereka berdua, ia kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu.
Dalam hatinya, ia hanya ingin mengakhiri ini semua. Ia sudah lelah dengan semuanya. Seandainya saja Bian bisa mencintainya seperti dirinya yang begitu mencintai pria itu, mungkin Alea tidak akan pernah semenderita ini.
"Hanya satu kesempatan lagi Bian, aku akan memberimu satu kesempatan lagi. Seandainya kau masih saja menyakitiku, saat itu juga, aku akan benar-benar meninggalkanmu ...."
Alea memejamkan matanya, merasakan denyut jantungnya yang terasa sakit. Melihat Bian dengan wajah khawatir merayu perempuan itu, membuat hatinya berdenyut sakit.
"Alea ... aku berjanji padamu akan meninggalkan dia kalau kau bersedia memberiku kesempatan untuk bersamamu." Bohong Bian agar Alea mau melayani hasratnya malam itu.
Dan tanpa Bian duga, Alea tidak protes saat bibirnya meraih bibir perempuan itu. Baru saja Bian merasakan manisnya bibir Alea, tiba-tiba Amara datang mengacaukan segalanya.
"Sial!" Bian mengumpat dalam hati. Saat ini ia sedang memeluk Amara, menenangkan perempuan itu dan sedikit meyakinkannya, kalau apa yang di katakan Alea itu tidak sepenuhnya benar.
"Kenapa semuanya jadi begitu rumit sekarang?" Bian menatap Amara yang masih menangis di pelukannya.
Bian tidak mungkin meninggalkan perempuan ini seperti yang ia janjikan pada Alea, karena dia sangat mencintai Amara, apalagi saat ini Amara sedang mengandung anaknya.
Tapi di sisi hatinya yang lain, Bian juga tidak bisa memungkiri, kalau ia sudah mulai menyukai Alea, perempuan itu ....
"Huuuhhh!" Bian meremas rambutnya kesal.
.
.
Ikutin terus kisah Alea ya kakak² ... dan jangan lupa like, koment, dan Votenya biar authornya tambah semangat.
__ADS_1
Terima kasih ....