
"Alea." Alea mengulurkan tangannya.
"Marsha." Marsha membalas uluran tangan Alea, senyuman terkembang di bibirnya, tapi dalam hati ia mengumpat marah.
'Aku sengaja pulang ke tanah air untuk mendekatimu, Kenzo. Untuk menjadikan kau milikku! Bukan untuk menyaksikan kau menjadi milik orang lain.'
Marsha menatap Alea dengan tajam.
'Kau lihat saja nanti, Aku tidak akan membiarkanmu memiliki apa yang seharusnya menjadi milikku!'
Alea melepaskan tangannya, ia menatap Marsha yang terus menatapnya dengan tajam. Alea merasakan kalau Marsha sepertinya tidak menyukainya. Terlihat, dari tatapan Marsha yang menatap tajam ke arah dirinya. Meskipun sebuah senyuman menghias bibirnya. Namun, Alea bisa merasakan ada aura ketidaksenangan dalam diri Marsha.
Marsha menatap Kenzo sambil tersenyum manis. "Jadi dia, perempuan yang ada di hatimu selama ini? Apakah dia perempuan yang sama yang kau ceritakan padaku saat itu?"
"Kau benar, hanya dia perempuan satu-satunya yang ada di hatiku selama ini. Dari dulu, hingga sekarang." Kenzo menjawab dengan mantap membuat Alea menatap ke arahnya, sementara Marsha menatap Kenzo tak percaya.
Sebenarnya Marsha ingin kembali mengatakan sesuatu, tapi urung untuk dikatakan.
'Kalau aku mengatakan di depan perempuan ini kalau Kenzo dari dulu menutup hatinya hanya demi dirinya, perempuan ini pasti akan besar kepala.'
"Ken, aku lapar. Bisakah kita makan siang sekarang juga?" Alea menatap Kenzo yang sedang berbicara dengan Marsha. Kenzo menatap Alea sambil mengusap rambutnya.
"Baiklah, ayo kita makan siang sekarang. Kebetulan perutku juga sudah lapar." Kenzo langsung menggandeng tangan Alea.
"Apa kau mau ikut makan siang bersama kami, Marsha?" tawar Alea, basa-basi. Meski dalam hatinya ia enggan, tapi ia merasa tidak enak.
"Tentu saja aku ikut bersama kalian, kebetulan aku juga sudah lapar," jawab Marsha senang.
Mereka bertiga makan siang bersama, sesekali Marsha melirik ke arah Kenzo dan Alea. Marsha sangat kesal melihat kemesraan mereka berdua.
Baru kali ini Marsha melihat bagaimana cara Kenzo memperlakukan seorang perempuan dengan baik. Apalagi perempuan itu adalah perempuan yang katanya sangat dicintainya.
Marsha menekan semua
kemarahan di hatinya. Bukan ini yang dia inginkan. Saat ia memutuskan pulang ke tanah air, ia bertekad akan kembali mengejar Kenzo, dan memaksa pria itu untuk bersamanya.
Seandainya dirinya memang tidak bisa, Marsha dengan terpaksa akan menggunakan kekuasaan orang tuanya untuk menekan keluarga Kenzo.
*****
__ADS_1
Alea berjalan mendekati ruangan Kenzo. Hari ini Alea ingin memberikan kejutan pada kekasihnya itu. Dengan senyum mengembang di bibirnya, Alea membuka pintu ruangan Kenzo dengan pelan tanpa mengetuk pintu.
Alea berdiri di ambang pintu dengan tatapan tak percaya. Di depannya, ia melihat dengan jelas Marsha dan Kenzo tengah berciuman.
"Ken ...."
Kenzo mendorong Marsha hingga perempuan itu terjatuh. Kenzo mengusap bibirnya dengan tatapan jijik. Sementara Alea menatap Kenzo dengan mata berkaca-kaca.
Kenzo menatap ke arah pintu dan baru menyadari kalau Alea tengah berdiri di sana.
"Alea ...."
Alea berlari meninggalkan ruangan Kenzo. Ia sungguh tidak mempercayai penglihatannya.
"Alea! Sayang ... tunggu!" Kenzo memanggil Alea dengan panik. Tapi sebelum ia berlari mengejar Alea, Kenzo menatap Marsha dengan marah.
"Brengsek! Kau Marsha!" geram Kenzo menatap Marsha yang tersenyum cantik.
"Sial!"
Kenzo segera berlari mengejar Alea. Ia harus segera menjelaskan pada Alea kalau apa yang dilihatnya tidak seperti yang ia bayangkan.
"Alea!" Alea tak menghiraukan teriakan Kenzo, ia terus berlari.
"Alea! Sayang! Tunggu!" Kenzo berlari mengejar Alea, tapi Alea tak mempedulikannya.
"Alea!" Kenzo berhasil menarik tangan perempuan itu kemudian langsung memeluknya. Pria itu tetap memeluk Alea meski Alea terus memberontak.
"Lepas, Ken, lepaskan! Lepaskan aku!" Alea terus memberontak dan terus berteriak.
"Lepaskan aku!"
"Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu!" Kenzo bersikeras tetap memeluk perempuan itu.
"Sayang, kau salah paham!" Kenzo berusaha menjelaskan.
"Tidak! Aku melihat semuanya! Aku melihat kau menciumnya!" Alea berteriak dalam pelukan Kenzo.
"Kau jahat! Kau sama saja dengan Bian! Kau mengkhianatiku!" Alea berteriak sambil menangis. Tidak menyangka kalau ia akan kembali merasakan sakit seperti saat Bian mengkhianatinya.
__ADS_1
"Aku tidak mengkhianatimu, Alea. Kau salah paham!"
"Tidak! Kau bohong! Aku jelas-jelas melihat semuanya, kau tidak bisa mengelak, Ken!" Alea menatap Kenzo dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Kau jahat!"
"Tidak sayang, kau salah paham!" Kenzo menatap Alea yang bersimbah air mata. Hatinya terasa sakit saat melihat Alea menangis. Kedua mata Kenzo pun ikut ikut berkaca-kaca. Ia menangkup wajah Alea dengan kedua tangannya.
"Dengarkan aku! Aku tidak pernah mengkhianatimu! Apa yang kau lihat tadi tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak mencium Marsha, tapi perempuan itu yang menciumku. Aku tidak sempat menghindar. Sayang, aku mohon, percayalah padaku!" Kenzo berusaha menjelaskan. Air matanya ikut mengalir saat ia melihat wajah Alea yang penuh air mata. Kenzo jadi teringat kembali saat-saat Alea setiap hari menangis karena Bian.
Hatinya terasa sakit. Kenzo sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan membuat perempuan di depannya ini menangis lagi. Tapi, ia tidak menyangka kalau perempuan ini justru kembali menangis karena dirinya.
"Sayang, kau harus percaya padaku, kalau aku tidak akan mengkhianatimu. Aku mencintaimu ... aku tidak akan mungkin melakukan hal bodoh yang akan membuatku kehilangan kamu!" Kenzo menatap Alea yang masih menangis di depannya, kemudian kembali menyembunyikan wajah itu ke dalam pelukannya.
Alea menangis di pelukan Kenzo. Rasanya masih tak percaya kalau pria yang sedang memeluknya ini begitu tega mengkhianatinya. Bayangan Kenzo yang sedang berciuman dengan Marsha kembali terlintas.
'Bodohnya aku ... kenapa aku harus percaya dengan mereka?'
"Sayang, kau harus percaya padaku. Aku tidak akan mungkin melakukan kesalahan yang sama seperti pria itu. Aku mencintaimu. Kau harus percaya padaku, Alea. Marsha sengaja melakukannya agar kau salah paham padaku," jelas Kenzo.
Dalam hati, Kenzo tidak akan membiarkan Alea salah paham dan mengira kalau dirinya sudah mengkhianatinya. Ia akan membuktikan pada Alea kalau dirinya tidak bersalah. Kenzo mengepalkan tangannya erat mengingat kembali apa yang dilakukan Marsha di ruangannya tadi.
'Aku pastikan, kau akan menyesal karena telah berurusan denganku, Marsha.'
'Dulu, aku selalu diam karena tidak ada hati yang harus aku jaga perasaannya. Tapi kini, ada Alea dan hatinya yang harus aku jaga.Aku tidak akan membiarkan siapapun kembali menyakiti dan membuat Alea menangis. Termasuk diriku sendiri!'
Kenzo mendekap erat tubuh Alea, suara tangis Alea masih terdengar. Seketika hatinya ikut merasa sakit mendengar isak tangis perempuan yang amat sangat dicintainya ini.
"Sayang, aku mencintaimu. Aku akan membuktikan padamu kalau aku tidak bersalah. Marsha telah menjebakku agar kamu salah paham, dan meninggalkan aku. Percayalah padaku!"
"Aku tidak akan pernah membiarkan orang lain memisahkan kita berdua, Alea." Kenzo berbisik di telinga Alea, sambil mengeratkan pelukannya.
.
.
Maaf telat updatenya 🙏🙏🙏
Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak ² ....
__ADS_1
Aku sayang kalian 😘😘😘