MATI RASA

MATI RASA
Part 113 Pesan Palsu


__ADS_3

"Siapa pria itu?"


Alea mendongak ke arah Kenzo  dengan kedua mata masih berkaca-kaca. Ia menggelengkan kepalanya pelan sambil masih terisak.


"Siapa pria itu?" ulang Kenzo.


"Aku tidak mengenalnya, Ken. Aku tidak tahu siapa pria itu."


"Kau jangan berbohong Alea, siapa pria itu?" Kenzo masih menatap tajam kearah Alea. Kenzo tidak percaya kalau Alea tidak mengenal pria itu. Jelas-jelas ia mendengar pria itu menyebut Alea dengan kata sayang.


"A--Aku sungguh tidak mengenalnya, Ken, aku tidak berbohong. Pria itu tiba-tiba datang dan memelukku dari belakang," jelas Alea, air matanya kembali turun membasahi kedua pipinya.


"Aku sungguh-sungguh tidak mengenalnya, Ken, aku tidak berbohong!" ulang Alea sambil menatap Kenzo, berharap pria itu mau mempercayainya.


"Tapi pria itu menyebutmu sayang, apa menurutmu itu tidak cukup menjadi bukti?"


"Ken!"


Alea menggelengkan kepalanya, merasa tak percaya dengan ucapan Kenzo. Apa pria itu benar-benar tidak mempercayainya? Padahal pria itu sangat tahu seperti apa dirinya selama ini. Kenzo bahkan sangat tahu kalau ia tidak mudah bergaul dengan siapapun, apalagi dengan seorang pria.


"Apa kau  tidak mempercayaiku?" Air mata Alea kembali mengalir menatap wajah tampan di depannya.


"Aku sungguh-sungguh tidak mengenal pria itu, Ken. Apa kau benar-benar tidak mempercayaiku?" Alea menatap Kenzo dengan sedih, ia sungguh tidak mengira kalau Kenzo tidak mempercayainya.


"Kau pikir, setelah aku melihat apa yang terjadi  dengan kedua mataku, aku akan percaya begitu saja?" Kenzo juga menatap Alea tak kalah kecewa.


"Ken!"


Alea kembali menggelengkan kepalanya, ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut kenzo. Benarkah di depannya ini Kenzo yang ia kenal?


"Aku tidak menyangka kalau kau benar-benar tidak mempercayaiku, Ken. Kau sangat tahu seperti apa aku selama ini. Kau tahu bukan, aku bahkan tidak pernah punya teman pria manapun selain dirimu, setelah Bian? Kau sangat tahu kalau aku selama ini selalu menutup diri dari pria manapun selain dirimu, Ken! Tapi sekarang kau tidak mempercayaiku?" Alea menatap Kenzo dengan marah. 


"Apa kau tidak tahu, kalau tadi aku bahkan sangat ketakutan? Tiba-tiba ada seorang pria tak dikenal memelukku dan menciumku di depan banyak orang. Apa menurutmu aku senang diperlakukan seperti itu, Ken?" Alea bangkit dari ranjang menyingkirkan tubuhnya dari pelukan Kenzo, ia benar-benar sangat kecewa pada Kenzo. Namun, Kenzo kembali menarik Alea ke dalam pelukannya.


"Kau tidak boleh pergi kemanapun, tetap di sini, jangan kemana-mana." Kenzo langsung memeluk tubuh Alea.


"Aku menginginkanmu, aku akan menghapus semua jejak pria itu di tubuhmu." 


Kenzo meraih bibir Alea, menciumnya dengan lembut, kemudian ciumannya beralih pada pipi Alea yang sempat dicium oleh pria brengsek tadi.


Awalnya Alea menolak, tapi amarahnya berangsur-angsur mereda, apalagi saat tangan dan bibir Kenzo mulai merayu tubuhnya.


*******


"Halo Ma, ada apa Mama menelepon?" Bella berbisik sambil sedikit berlari meninggalkan ruang kerjanya. Perempuan itu mencari tempat yang aman agar ia bisa leluasa berbicara dengan mamanya di seberang telepon.

__ADS_1


"Kenapa Mama menelepon di saat jam kerja? Mama tahu kan, kalau itu sangat berbahaya," ucap Bella dengan nada kesal.


"Mamanya  hanya ingin mengingatkanmu tentang tujuan kamu bekerja di sana. Mama tahu kamu sangat menyukai Kenzo, Bella, tetapi kamu juga harus ingat tujuan utamamu masuk ke keluarga Kenzo." 


"Tidak perlu diingatkan aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan, Mama tenang saja." Bella menjawab sambil tersenyum smirk.


"Kirimin Mama uang cepatnya. Mama sudah kehabisan uang sejak kemarin," ucap sang mama, kemudian langsung mematikan panggilan teleponnya secara sepihak.


Bella berdecak kesal. Tapi tak urung mengirimkan juga uang yang diinginkan oleh mamanya. Setelah selesai mentransfer uang, Bella kembali ke ruangan kerjanya.


Saat ia mengingat Kenzo tidak ada di ruangannya, Bella kemudian menggunakan kesempatan itu untuk masuk ke dalam ruangan kerja Kenzo. 


Dengan cekatan Bella mengambil beberapa berkas dari laci meja kerja Kenzo. Bibirnya menyunggingkan senyum.


'Hanya tinggal menunggu waktu, kelak, semua ini pasti akan menjadi milikku.'


Bella keluar dari ruangan Kenzo dengan langkah santai. Sesaat setelah Bella baru saja keluar dari ruangan Kenzo, ponselnya berdering. 


"Segera transfer sisa bayaranku, sekarang." Suara di seberang sana terdengar lirih.


"Apa kau melakukan tugasmu dengan baik?"


"Kau bisa menemuiku di rumah sakit sekarang. Si brengsek itu memukulku habis-habisan. Dasar sialan! Sshh …." Terdengar suara mendesis tertahan dari seberang sana.


Sementara Bella tersenyum mengejek.


"Diam kau Bella!"


Bella tertawa terbahak mendengar suara kemarahan pria di ujung sana.


"Karena kau bekerja dengan baik, aku akan memberikan bonus untukmu."


Bella mematikan panggilan teleponnya, kemudian mentransfer sejumlah uang pada rekening pria di ujung telepon tadi.


Bibirnya mengulas senyum bahagia. 


'Bukan hanya asetmu saja yang akan menjadi milikku, tapi dirimu juga pasti akan jatuh ke pelukanku, Kenzo Luiz!'


Bella tertawa dalam hati. Ia melangkahkan kakinya penuh percaya diri ke dalam ruang kerjanya.


Sementara sosok tegap dengan sepasang mata tajam memperhatikan gerak-gerik Bella tak jauh dari tempat Bella berdiri.


"Sesuai dugaanmu, Bos. Perempuan itu memang sangat berbahaya."


******

__ADS_1


Kenzo menutup panggilan teleponnya. Netranya menatap perempuan yang saat ini tertidur pulas di sampingnya. Kenzo mengusap wajah cantik Alea


Wajah cantik ini, benar-benar membuatnya tergila-gila. Kenzo sangat mencintai perempuan ini, ia tidak akan pernah membiarkan siapapun merebut perempuan ini darinya.


Kenzo mengecup kening Alea sebentar, kemudian meraih ponsel Alea yang tergeletak di atas nakas. Alea memang tidak menggunakan sandi pada ponselnya, makanya Kenzo bisa dengan mudah membuka ponselnya.


Sederet pesan yang terkirim dari nomor Kenzo terlihat, saat Kenzo membuka aplikasi berwarna hijau dengan logo telepon di layar ponsel Alea.


Alis Kenzo berkerut. Padahal Ia tidak merasa mengirim pesan pada Alea. Tapi kenapa begitu banyak pesan di ponsel Alea atas nama dirinya?


'ini bener-bener aneh!'


Kenzo membaca satu persatu pesan itu.


'Pantas saja Alea tidak jadi pergi ke tempat biasa kita bertemu, ternyata karena dia mendapatkan pesan ini.'


Kenzo membaca salah satu pesan yang tertulis kalau dirinya mengubah tempat pertemuan tadi siang. Biasanya Kenzo dan Alea bertemu di salah satu kafe milik Kenzo yang baru dibuka selama setahun ini bersama Alea.


'Siapa sebenarnya yang telah mengirimkan pesan atas namaku?'


Kenzo mencoba mengingat-ingat. Tangannya terkepal erat. Kenzo ingat saat dirinya mencari ponsel di saku kemejanya tetapi tidak menemukannya. Kemudian Bella tiba-tiba memberikan ponsel miliknya, Bella mengatakan kalau ponsel itu tertinggal di atas meja, makanya perempuan itu menyimpannya.


'Bella … beraninya kau bermain-main denganku?' Kenzo mengepalkan kedua tangannya, menahan amarah. Ia tidak menyangka kalau perempuan itu ternyata begitu licik.


"Ken …."


Kenzo menengok ke arah Alea. Amarahnya berangsur-angsur mereda saat ia melihat wajah cantik itu mengerjapkan kedua matanya. Kenzo kembali berbaring, memeluk erat tubuh Alea dan mendaratkan ciuman yang bertubi-tubi di seluruh wajah cantik Alea.


"Ken!"


"Geli!"


"Kenzo!"


Kenzo terkekeh mendengarkan teriakan Alea.


"Maafkan aku, karena aku sudah dalam paham padamu. Aku mencintaimu. Berjanjilah padaku, apapun yang terjadi, kau harus tetap mempercayaiku."


"Ken ...."


"Aku mencintaimu, Alea."


.


.

__ADS_1


Semoga mereka tetap mesra, ya, meski godaan dan rintangan menghadang ….


Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak ² 😘😘


__ADS_2