
Bella mengikuti langkah Kenzo menuju ruang rapat. Perempuan itu benar-benar bisa diandalkan meski dia baru bekerja beberapa bulan di tempat Kenzo.
Setelah satu jam lebih, Kenzo mengakhiri rapat dan berterima kasih pada semua rekan bisnisnya yang sudah hadir kemudian langsung keluar meninggalkan ruang rapat.
Kenzo berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Ia merogoh saku jasnya juga saku celananya, tetapi ia tidak menemukan apa yang dicarinya. Bella yang melihat Kenzo seperti sedang kebingungan langsung mengerti.
"Bapak sedang mencari ponsel?"
"Iya Bel, apa kau melihatnya?" sahut Kenzo tanpa melihat ke arah Bella, karena ia sibuk meraba-raba semua saku baju dan celananya.
Bella dengan cepat menyodorkan ponsel yang sedari tadi ia genggam di tangannya.
"Ponsel Bapak tadi tertinggal di meja, makanya saya simpan, " terang Bella sambil menyunggingkan senyuman manisnya.
"Makasih Bell, untung kamu simpan." Kenzo menerima ponsel itu dari tangan Bella, kemudian langsung membukanya.
Terlihat beberapa laporan panggilan tak terjawab dari Alea.
"Tadi ponsel Bapak berdering, tapi saya tak berani mengangkatnya." Bella berucap sebelum Kenzo bertanya padanya. Kenzo menganggukkan kepalanya sambil memencet nomor ponsel Alea.
"Halo, sayang … apa kau sudah sampai?"
Terdengar suara Alea di seberang sana.
"Baiklah! Sebentar lagi aku sampai di sana."
Kenzo menutup panggilan teleponnya.
"Bella, kamu kembali saja ke restoran, aku ada janji dengan Alea."
"Baik, Pak." Bella menyunggingkan senyum terbaiknya.
Kenzo dengan cepat melangkahkan kakinya menuju mobilnya, kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Sementara Bella tersenyum smirk. Ia meraih ponsel dalam saku kemejanya.
__ADS_1
"Lakukan tugasmu dengan benar, jangan sampai gagal."
Bella menutup panggilan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari orang yang di teleponnya.
Kemudian ia melangkah pergi menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh di depannya.
*****
Alea menunggu Kenzo dengan gelisah. Sudah hampir satu jam ia menunggu di tempat itu, tetapi Kenzo belum juga terlihat. Tidak biasanya pria itu telat menepati janji. Padahal Kenzo sudah berjanji akan datang satu jam yang lalu.
Alea mencoba menelepon Kenzo, tapi ponsel pria itu tidak aktif, membuat Alea berdecak sebal. Mulut mungilnya mulai menggerutu karena merasa bosan sedari tadi menunggu, tetapi orangnya tak kunjung datang.
Alea menatap ke arah pintu kafe. Di ujung jalan sana, ia melihat Kenzo baru saja turun dari mobilnya. Perempuan itu menyunggingkan senyumnya.
Akhirnya pria itu datang juga.
Alea melihat Kenzo sudah hampir sampai ke dalam kafe, tetapi tepat saat Kenzo membuka pintu kafe, pada saat itu juga tiba-tiba ada seorang pria yang mendekap tubuh Alea dari belakang.
"Halo, sayang … apa kau sudah lama menungguku?"
Sementara di depan sana, Kenzo berdiri terpaku melihat pemandangan di depannya.
"Alea!"
Alea menengok arah suara. Kedua matanya kembali membola karena kaget. Di sana, Kenzo sedang berdiri, menatapnya tajam. Kedua bola matanya memancarkan aura kemarahan. Sedangkan pria yang saat ini sedang memeluk Alea tersenyum samar menatap Kenzo.
Alea melepaskan tangan pria itu dengan kasar, kemudian mendorong tubuh pria itu, Alea bahkan menampar wajah pria itu dengan keras.
"Kurang ajar! Berani-beraninya kau menyentuhku!"
"Sayang, kenapa kau menamparku?" Pria itu menatap Alea dengan kesal. Ia sungguh tidak menyangka kalau perempuan itu berani menamparnya apalagi di depan orang banyak.
"Siapa kau? Aku tidak mengenalmu!" Alea mengusap pipinya, yang baru saja di cium pria itu dengan jijik. Ia benar-benar tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini.
__ADS_1
"Tidak usah berpura-pura sayang, dari tadi kau diam saja saat aku memelukmu dan menciummu," Pria itu berkata dengan nada lembut sambil tersenyum.
"Dasar brengsek!" Amarah Alea langsung meluap saat mendengar ucapan pria itu.
Alea kembali ingin menampar wajah pria itu tapi pria itu justru mencekal tangannya dengan erat.
"Aku tidak akan membiarkanmu menampar wajahku lagi." Pria itu menatap Alea dengan tajam. Satu tangannya mencekal tangan Alea, sementara tangan satunya melingkar di pinggang Alea.
"Lepasin brengsek!"
Tiba-tiba pria itu terjatuh hingga kepalanya membentur meja saat tiba-tiba Kenzo menarik kerah bajunya dan langsung memukul wajahnya dengan keras.
Alea menjerit kaget. Sementara Kenzo kembali mendekati pria itu kemudian memukulnya berkali-kali.
"Brengsek! Berani-beraninya kau menyentuh milikku!" Kenzo kembali memukul pria itu.
"Ken! Sudah, Ken! Hentikan! Kau bisa membunuhnya!" Alea berteriak ketakutan. Saat ia melihat Kenzo memukuli pria itu tanpa ampun.
Alea menarik tubuh Kenzo agar pria itu menghentikan aksinya.
ia terus berusaha menarik tangan Kenzo, tapi Kenzo masih terus memukuli pria itu tanpa ampun. Beberapa pengunjung kafe yang melihat kejadian itu tidak berani mendekat, mereka seolah ketakutan melihat Kenzo yang memukuli pria itu dengan brutal.
Tak lama kemudian, beberapa petugas keamanan berdatangan, kemudian melerai Kenzo. Alea mendekati Kenzo, bermaksud untuk memeluknya. Namun, Kenzo menatapnya tajam dengan aura gelap penuh kemarahan. Sejenak Alea membeku melihat tatapan pria itu. Selama mengenal Kenzo, baru kali ini Alea melihat Kenzo begitu marah.
Belum sempat Alea berucap, Kenzo menarik tangan Alea dengan kasar. Kemudian membawa Alea keluar dari kafe itu. Kenzo tidak memperdulikan teriakan Alea yang mengeluh sakit karena Kenzo begitu kuat mencengkram pergelangan tangannya.
"Sakit, Ken! Lepas!" Alea berteriak, tetapi pria yang sedang dikuasai oleh amarah itu seolah tak peduli.
Kenzo membuka pintu mobil, memasukkan tubuh Alea, mendudukkannya di kursi penumpang kemudian melingkarkan seatbelt pada tubuh Alea tanpa berkata apapun. Pria itu bahkan tak melirik Alea sama sekali. Wajahnya terlihat begitu menakutkan. Sementara Alea terdiam dengan tubuh gemetar. Ia meremas tangannya, kemudian mengusap pergelangan tangannya yang terasa sakit akibat cengkraman tangan Kenzo.
Kenzo menutup pintu mobil dengan kasar, kemudian berjalan mengitari mobil. Kenzo membuka pintu mobil, duduk di depan kemudi, kemudian kembali menutup pintu mobil dengan keras, membuat Alea terlonjak kaget.
Setelah memasang seatbelt, Kenzo langsung tancap gas, mengemudikan mobilnya dengan cepat, meninggalkan tempat itu. Alea menatap Kenzo dalam diam. Pria itu bahkan tidak menatapnya sama sekali. Alea mencoba menekan perasaannya, bayangan masa lalu saat Bian menyiksanya tiba-tiba terlintas, membuat tubuhnya semakin gemetar ketakutan.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, koment dan votenya ya kakak ² tersayang … 😘😘