
Bian tiba di rumahnya dengan perasaan kesal. Niat hati ingin bertemu dengan Alea meski ada Kenzo di sampingnya, gagal sudah. Entah mengapa, saat melihat senyum bahagia terpancar di wajah Alea membuat Bian mengurungkan niatnya. Ada perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan saat melihat perempuan itu begitu terlihat bahagia.
Bian menghembuskan nafas kasar. Rongga dadanya terasa sesak saat mengingat kembali betapa kejam dirinya menyiksa Alea, hingga membuat perempuan itu tidak pernah tersenyum saat dia masih bersamanya.
Tapi saat Alea bersama pria itu, wajahnya berseri, kedua matanya berbinar memancarkan begitu banyak cinta di dalamnya. Apalagi saat ia melihat Alea tersenyum dan tertawa bahagia.
'Huuhhh! betapa bodohnya aku, karena baru menyadari kalau aku jatuh cinta padamu di saat semuanya sudah terlambat. Seandainya aku menyadarinya dari awal, mungkin aku akan memperlakukanmu dengan baik, dan penuh cinta.'
Lagi-lagi seandainya ....
Bian kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Setelah sebelumnya, ia membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Tubuhnya terasa lelah, begitupun hatinya. Bian mencoba memejamkan matanya, tapi seperti biasanya, saat kondisi Bian seperti ini, mana mungkin ia bisa tidur?
Bian kembali bangun dari tidurnya, berniat mengambil obat tidur yang ia letakkan di dalam laci nakas. Belum sempat Bian meminum obatnya, terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya.
Lisa masuk ke kamarnya sambil membawa nampan berisi makanan.
"Apa yang kau lakukan malam- malam begini di kamarku?" Bian menatap tidak suka pada Lisa.
"Bapak tidak lihat, aku membawa makanan buat Bapak, karena aku yakin, Bapak pasti belum makan." Lisa berjalan mendekati Bian sambil tersenyum.
"Keluar dari kamarku, aku tidak lapar."
"Bapak makan dulu, baru aku pergi."
"Aku tidak lapar, Lisa. Apa kau tidak dengar?" Bian menatap perempuan itu dengan kesal.
"Bawa makanan itu kembali, dan segera keluar dari kamarku!"
"Tapi, Pak ...."
"Jangan membuatku marah, Lisa."
"Baiklah. Aku akan keluar." Lisa akhirnya mengalah saat ia melihat Bian menatap tajam ke arahnya. Kemudian dengan kecewa perempuan itu keluar dari kamar Bian sambil kembali membawa makanan yang tadinya sudah ia persiapkan untuk Bian.
'Aku harus mencari cara lain, agar aku bisa mendapatkan dia.'
Bian menatap pintu yang tertutup dengan wajah kesal. Entah mengapa, Bian merasa, kalau Lisa sudah mulai berani dan melewati batas. Bian kembali meraih obat tidur yang tadi sudah dikeluarkannya, kemudian mengambil gelas berisi minum di atas nakas, Bian langsung menelan obatnya.
Setelah minum obat, Bian kembali membaringkan tubuhnya. Netranya menatap foto pernikahannya dengan Alea, yang masih terpajang apik di dinding kamarnya.
Alea terlihat begitu cantik dengan gaun pengantin yang melekat di tubuhnya. Dalam foto itu, Alea tersenyum cantik. Senyum yang hanya bertahan di awal pernikahan, karena setelah Bian membawa Amara ke rumah, senyum Alea perlahan menghilang. Berganti dengan tangis dan kesedihan.
"Maafkan aku, sayang ... aku memang jahat. Aku sudah melukaimu begitu dalam." Bian berucap lirih sambil meremas dadanya yang terasa sesak. Rasa sakit perlahan menjalar di seluruh ruang hatinya. Bian memejamkan matanya, butiran kristal bening mengalir di pipinya. Sudah beberapa tahun sejak kehilangan Alea, Bian memang menjadi sosok pria yang cengeng. Setiap kali dirinya mengingat Alea, Bian pasti menangis.
Bian meraih selimut, menutupi tubuhnya yang bertelanjang dada, kebiasaannya saat tertidur. Perlahan rasa kantuk menyerang, efek obat tidur yang ia minum mulai bereaksi.
Lisa mengendap-endap menuju kamar Bian. Perlahan perempuan itu membuka pintu. Ia sangat yakin, Bian pasti lupa menutup pintu kamar seperti biasanya. Lisa tersenyum smirk saat ia berhasil membuka pintu.
Memang benar dugaannya, Bian pasti lupa menutup pintu kamarnya. Lisa perlahan masuk ke dalam kamar, perempuan itu tersenyum saat melihat Bian yang tertidur pulas di ranjang.
Bian terlihat begitu tampan saat tertidur. Wajahnya begitu damai, tidak seperti beberapa saat yang lalu saat pria itu mengusirnya dari kamar.
Lisa mendekati pria itu, menatapnya tanpa berkedip. Seulas senyum jahat tercetak di bibir seksinya. Perlahan, Lisa naik ke tempat tidur, kemudian berbaring di samping Bian.
'Aku yakin, dia tidak akan terbangun sampai besok pagi. Karena saat ini, dia dalam pengaruh obat tidur.'
Lisa membelai dada bidang Bian yang tidak tertutup apapun, karena pria itu hanya memakai celana pendek saja saat tertidur. Lisa tersenyum puas, bisa berdekatan dengan pria ini adalah impiannya.
__ADS_1
Lisa begitu tergila-gila pada Bian, perempuan ini seolah terobsesi dengan pria tampan di sampingnya saat ini. Dengan tidak tahu malu, Lisa kemudian melepaskan baju bagian atas tubuhnya, kemudian memeluk pria itu.
'Dengan begini, aku yakin kau tidak akan lolos dari genggamanku, Bian.'
Lisa memeluk erat tubuh Bian, kemudian ikut tertidur di samping pria itu.
Pagi harinya, Bian terkejut saat ia terbangun. Ia mendapati dirinya sedang memeluk perempuan. Bian membuka selimutnya, dan merasa terkejut saat melihat ke arah tubuhnya dan juga tubuh perempuan itu. Mereka berdua saat ini dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun.
Untuk beberapa detik, Bian terpaku. Wajah perempuan itu tertutup rambut, terlelap di pelukannya. Tangan Bian saat ini bahkan menjadi alas kepala perempuan itu. Kedua tubuh mereka begitu rapat saling memeluk.
Bian belum sempat menguasai dirinya, saat perempuan itu tiba-tiba menggeliat hingga memperlihatkan wajah cantiknya. Bian terperangah, tak percaya melihat perempuan di depannya.
Semalam, Bian bermimpi bertemu Alea. Dalam mimpi itu, Bian melepas rindu dan menghabiskan malam yang panas dengan Alea. Tapi pagi ini, ia justru melihat dirinya tanpa busana dan dalam selimut yang sama bersama Lisa. Lisa ....
Bian terlonjak kaget, melepaskan pelukannya kemudian meninggalkan perempuan itu di atas ranjang. Bian bergegas ke kamar mandi dengan selimut menutupi tubuh polosnya. Ia tidak peduli saat melihat tubuh Lisa terekspos dengan jelas karena ia dengan paksa menarik selimut yang menutupi tubuh perempuan itu.
'Sial! Apa yang terjadi? Apa aku benar-benar tidur dengannya?'
Wajah Bian memerah menahan amarah. Perempuan itu, benar-benar sudah melewati batas.
'Berani-beraninya dia masuk ke kamarku dan naik ke atas tempat tidurku. Kau belum tahu siapa aku, Lisa. Kau pikir, kau bisa menjebakku?'
Bian mengepalkan tinjunya, meraih handuk, kemudian keluar dari kamar mandi dengan wajah penuh amarah.
Sementara itu, Lisa tersenyum puas sambil menutup tubuh polosnya dengan kemeja Bian. Lisa berinisiatif mengambil kemeja Bian di dalam lemari pria itu. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, Lisa duduk di tepi ranjang sambil pura-pura menangis.
'Sebentar lagi, kau pasti akan menjadi milikku Bian, sebentar lagi! Tinggal satu langkah lagi, aku pasti akan menjadi Nyonya rumah ini.'
Lisa tersenyum smirk dalam tangisnya.
"Berhenti berpura-pura, Lisa!"
"Pa--Pak Bian ...."
"Untuk apa kau pergi ke kamarku, dan naik ke ranjangku? Apa kau sengaja ingin menjebakku?"
"P- Pak Bian ... apa maksudmu?" Suara Lisa terdengar di tengah isak tangisnya.
"Apa maksudku? Kau tau dengan jelas apa yang ku maksud, Lisa. Kau pikir aku akan percaya dengan trik murahanmu?" Bian tersenyum mengejek.
"Kau sudah melewati batas, Lisa. Selama ini aku membiarkanmu tinggal di sini karena Devan membutuhkanmu, tapi setelah ini, jangan harap kau masih bisa tinggal di rumah ini!"
"Tapi, Pak ...."
"Apa? Apa kau berpikir kalau aku akan percaya kalau aku telah menidurimu?"
"Pak Bian ...."
"Untuk apa kau menyelinap ke kamarku secara diam-diam?"
"P- Pak ...."
"Untuk apa kau diam-diam naik ke tempat tidurku? Jawab Lisa! Apa kau pikir aku bodoh?"
"Pak Bian, semalam aku ...." Lisa berucap dengan gugup, tatapan mata Bian membuat tubuhnya bergetar takut.
"Semalam apa? Aku menyuruhmu tidur di sini dan bercinta denganmu, begitu maksudmu?"
__ADS_1
"Lisa, apa kau bodoh? Aku hanya meminum obat tidur bukan obat perangsang!" Bian menatap tajam ke arah Lisa yang terlihat terkejut kemudian menatap ke arahnya dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Kau sangat tahu, kalau aku hanya tertidur. Jadi bagaimana mungkin orang yang tertidur pulas bisa melakukan hal-hal yang lain?" Bian mencibir.
"Kau pikir kau hebat? Mau menjebakku dengan trik murahan seperti ini? Kau benar-benar bodoh!"
"Pergi dari sini, kemasi semua barang-barangmu!"
"Aku tidak akan pergi dari sini!" teriak Lisa.
"Kenapa? Kau masih berharap aku akan bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak aku lakukan?"
"Kita benar-benar melakukannya! Aku tidak berbohong!"
"Oh iya? Lalu kenapa jika kita benar-benar melakukannya? Bukankah kau sendiri yang menginginkannya? Kau sendiri bukan, yang masuk ke kamarku diam-diam?"
"Pak Bian ...."
Bian tertawa keras.
"Apa kau mau bermain-main denganku, Lisa?"
"Aku benar-benar tidak berbohong, semalam kita memang tidur bersama dan melakukannya!" Lisa bersikeras.
"Benarkah? Apa kau pikir aku bodoh?"
"Lisa, aku peringatkan kau, pergi dari sini secepatnya, dan kemasi semua barang-barangmu!"
"Tidak! Aku tidak akan pergi dari sini! Pak Bian harus bertanggung jawab karena telah meniduriku!"
"Menidurimu?" Bian dengan tatapan jijik menatap wajah Lisa.
"Kita akan lihat, siapa yang meniduri siapa." Bian tersenyum mengejek.
"Apa maksud ...."
"Kau lihat itu?" Belum selesai Lisa bicara, Bian sudah memotong ucapannya.
Lisa menatap ke arah yang di tunjukkan oleh Bian.
Mulutnya terbuka karena kaget.
"A--Apa?" Wajah Lisa langsung berubah pucat dengan apa yang dilihatnya.
'Kamera tersembunyi? Bagaimana bisa?'
Sementara Bian tersenyum sinis melihat reaksi Lisa.
"Pergi dari sini! Aku benar-benar muak melihat perempuan murahan seperti kamu!"
"Pak Bi--Bian ...."
.
.
Jangan lupa like koment dan Votenya ya kakak ² 🙏🙏🙏
__ADS_1