MATI RASA

MATI RASA
Part 36 Kau Pembunuh!


__ADS_3

Kenzo masih setia menemani Alea yang masih tertidur. Pria itu mengamati dengan teliti wajah Alea yang terlihat memar dan membengkak. Kenzo meringis, saat jarinya menyentuh bibir Alea yang terlihat pecah dan berdarah. Hatinya berdesir sakit.


"Rasanya pasti sakit sekali," batin Kenzo membayangkan.


Kenzo menoleh ke arah pintu yang terbuka, Mbok Sumi dan Mang Ujang muncul di depan pintu membuat Kenzo langsung berdiri dan langsung mendekati mereka berdua.


Mbok Sumi terlihat membawa tas di tangannya.


"Ini barang- barang yang di minta Non Alea." Bi Sumi memberikan tas itu pada Kenzo, kemudian mendekati Alea yang tertidur.


Sementara Mang Ujang juga terlihat memberikan sesuatu pada Kenzo.


"Ini rekaman cctv yang Mas Kenzo minta. Di situ juga ada beberapa rekaman yang memperlihatkan kalau selama ini Non Amara lah yang sering memicu pertengkaran antara Non Alea dan Den Bian."


"Terima kasih Mang, Alea pasti sangat berterima kasih padamu karena telah membantunya.


"Ini kartu namaku, jika suatu saat Mang Ujang berubah pikiran dan ingin bekerja di tempatku, Mang Ujang bisa langsung menghubungiku."


"Makasih Mas Kenzo, tolong jagain Non Alea, dia adalah perempuan yang baik." Mang Ujang menatap Alea yang terlihat menggeliat dan mulai membuka matanya.


"Non ...." Mbok Sumi tersenyum senang, karena Alea sudah sadar.


"Mbok ... aku haus." Mbok Sumi bergegas mengambil minum di atas nakas. Kenzo membantu Alea bangun, kemudian memberikan minum pada Alea.


"Aku akan memanggil Dokter."


"Jangan dulu." Alea memegang lengan Kenzo sambil menatap pria itu dengan tatapan memohon.


"Baiklah, tapi kamu tidak apa-apa kan?" Alea menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya merasa pusing sedikit," ucap Alea lirih. Kenzo membelai rambut Alea.


"Kau sudah siap pergi dari sini?"


Alea mengangguk pasti.


"Mbok Sum sudah membawa semua berkas yang aku minta Mbok?" Alea menatap Mbok Sumi yang terlihat berkaca-kaca menatapnya.


"Saya bawa semua yang ketemu di dalam laci lemari Non Alea, habisnya saya nggak tahu mana yang Non minta, semuanya terlihat sama Non." Mbok Sumi membuka tas yang tadi ia bawa, dan memberikan semua berkas yang ia bawa.


Kenzo membantu mencari dan akhirnya menemukan berkas yang di maksud.


"Ini Mbok, yang aku cari." Alea membuka amplop besar berwarna coklat yang berisi hasil visum saat dulu dirinya di siksa oleh Bian. Kenzo membantu mencari beberapa surat berharga yang akan dibutuhkan Alea nantinya. Alea tersenyum, saat ia sudah menemukan yang ia cari.


"Surat cerai?" Kenzo mengernyit heran melihat berkas yang di pegang Alea. Alea mengangguk pelan.


"Aku sudah menyiapkan ini, aku bahkan sudah lama menanda tanganinya." Kenzo tercengang mendengar ucapan Alea.

__ADS_1


"Kau bahkan sudah lama menandatanganinya?" ucap Kenzo tak percaya.


"Bukankah kau bilang kau sangat mencintainya?"


"Kau pikir aku akan terus mencintainya setelah apa yang dia lakukan padaku? saat ini aku memang masih mencintainya. Aku sudah bertahun-tahun mencintainya, jadi wajar kalau aku tidak akan mudah untuk melupakannya begitu saja. Aku memang masih mencintainya, tapi aku sudah tidak ingin lagi hidup bersama dia." Alea meneteskan air matanya, kembali mengingat kesakitan demi kesakitan yang Bian torehkan di hatinya juga fisiknya.


Melihat Alea menangis, Kenzo langsung memeluknya, sementara Mbok Sumi dan Mang Ujang ikut meneteskan air mata.


"Kita harus segera bersiap, sebelum Bian kembali ke sini untuk melihatmu." Bian melepaskan pelukannya.


"Non Alea harus bahagia setelah pergi dari sini," ucap Mang Ujang dengan suara bergetar.


Alea menganggukkan kepalanya sambil menangis.


"Saya pergi dulu, karena tadi Den Bian menyuruh saya pulang untuk mengambil baju ganti," pamit Mang Ujang akhirnya. Ia tidak bisa berlama-lama, kalau tidak, Bian pasti akan memarahinya.


"Terima kasih, karena Mang Ujang sudah membantuku."


"Sama-sama Non." Mang Ujang tersenyum pada Alea.


"Mas Kenzo, tolong jagain Non Alea ya, jangan biarkan Non Alea menangis lagi." Kenzo tersenyum mendengar ucapan Mang Ujang.


"Aku akan menjaga Alea dengan baik." Kenzo menepuk bahu Mang Ujang, sebelum pria itu akhirnya menghilang di balik pintu.


Mbok Sumi dan Alea saling berpelukan. Sementara Kenzo berpamitan keluar. Ia akan mengurus kepindahan Alea dari rumah sakit ini. Ia bergegas menuju ruangan Dokter yang memeriksa Alea.


"Untung bayiku selamat, kalau tidak, aku pasti akan sangat sedih dan menjadi gila kalau aku sampai kehilangan anak kita," ucap Amara dengan nada dibuat sesedih mungkin.


"Pulang dari sini, aku tidak ingin melihat perempuan itu lagi, aku ingin kau mengusirnya dari rumah. Aku tidak mau tahu, pokoknya kau harus mengusir perempuan itu, aku hampir saja keguguran gara-gara perempuan itu, aku takut dia mencoba membunuh anak kita lagi ...." Air mata Amara menetes di kedua pipinya.


"Sayang ... aku tidak bisa mengusir Alea dari rumah, apalagi melihat kondisinya sekarang." Bian menghela nafas panjang, ada sesuatu yang seolah meremas jantungnya saat ia melihat keadaan Alea tadi. Ia mengingat saat Alea meneriakinya dengan histeris.


"Jangan bilang kalau saat ini kau mulai peduli padanya Bi?" Amara kembali melanjutkan akting menangisnya.


"Apa sekarang kau sudah mencintainya dan tidak lagi mencintaiku?"


"Sayang ... bukan begitu."


"Lalu kenapa kau tidak mau mengusirnya dari rumah? bukankah kau bilang rumah itu milikmu?" Amara menatap Bian dengan kesal.


"Aku takut perempuan itu kembali mencoba menyakitiku dan calon anak kita, aku benar-benar takut Bian ...." Amara menangis dalam pelukan Bian.


"Aku tidak ingin melihat perempuan itu lagi, aku takut Bi, aku takut dia kembali menyakiti anak kita."


"Tenang sayang, selama ada aku, kamu dan calon bayi kita pasti akan baik-baik saja." Bian memeluk Amara, menenangkan perempuan hamil yang sedang menangis itu dengan sabar.


Tapi dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia tidak bisa berhenti memikirkan Alea. Bayangan wajah Alea yang penuh lebam, dan juga beberapa bagian tubuh Alea yang terlihat membiru. Saat Alea berteriak histeris, Bian tidak sengaja melihatnya.

__ADS_1


Bian memejamkan matanya,


"Kau pembunuh Bian, teganya kau membunuh darah dagingmu sendiri, kau telah membunuh anakku!"


Kata-kata Alea kembali terngiang, Bian meneteskan air matanya.


"Kau pembunuh! kau telah membunuh anakku!"


Amara tersenyum smirk di pelukan Bian,


Sebentar lagi Bian pasti akan mengusir perempuan itu dari rumah.


Amara tersentak kaget saat tiba-tiba Bian melepaskan pelukannya dengan sedikit kasar.


"Maaf sayang, aku harus melihat keadaan Alea sebentar." Bian segera beranjak dari ranjang, kemudian langsung bergegas keluar dari kamar Amara tanpa memperdulikan teriakan Amara.


"Bian!" teriak Amara, tapi Bian langsung menutup pintu tanpa melihat ke arahnya.


Sialan!


Bian bergegas menuju kamar Alea yang terletak tidak jauh dari kamar Amara.


Bian membuka pintu kamar inap Alea, di sana ia melihat dua orang perawat sedang membereskan ranjang pasien.


"Suster, di mana istri saya?"


Kedua perawat itu saling berpandangan.


"Bukannya istri Bapak ada di kamar sebelah sana?" Perawat yang mengenali Bian sebagai istri Amara terlihat bingung.


"Istri saya suster, istri saya mana?!" Bian berteriak panik.


"Maksud Bapak, pasien bernama Alea yang ada di kamar ini?"


"Iya benar, mana dia? kenapa dia tidak ada di sini?"


"Ibu Alea sudah tidak dirawat di sini lagi Pak, dia sudah di pindahkan ke rumah sakit lain.


"Apa?!"


.


.


.


Jangan lupa, like, koment,dan Votenya ya kakak ², biar terus semangat updatenya!

__ADS_1


__ADS_2