MATI RASA

MATI RASA
Part 86 Bian vs Kenzo


__ADS_3

Kenzo melangkah penuh percaya diri menghampiri pria yang sudah menunggunya sedari tadi.


Sementara Bian menatap Kenzo dengan kesal. Kenzo tersenyum sinis melihat tampang Bian yang tampak tak bersahabat.


"Kau sengaja kan, membuang waktuku di sini." Bian menatap Kenzo dengan kesal.


"Kau datang di waktu yang tidak tepat. Kau tahu bukan, aku ini bukan pengangguran yang punya cukup waktu luang." Kenzo mencibir membuat Bian langsung terdiam menahan kesal.


Kenzo menarik kursi, kemudian duduk di depan Bian. Mereka berdua saat ini sedang berada di restoran Kenzo.


"Untuk apa kau ingin bertemu denganku?" Kenzo menatap tajam ke arah Bian yang saat ini pun sedang menatapnya.


"Tinggalkan Alea!"


"Hah? Apa kau bilang?" Kenzo tertawa mengejek.


"Kau suruh aku meninggalkan Alea? Kau pikir kau siapa?"


"Kau sangat tahu, kalau Alea sangat mencintaiku, Kenzo. Jadi, cepat tinggalkan dia dan kembalikan Alea padaku." Bian menatap tajam ke arah Kenzo.


Dalam hati, ini adalah pilihan terakhir Bian agar ia bisa kembali bersama Alea. Bian akan menyuruh pria di depannya ini untuk meninggalkan Alea. Karena Bian yakin, kalau Alea masih mencintainya. Seandainya tidak ada pria ini di samping Alea, Alea pasti akan kembali padanya.


"Kau sangat percaya diri sekali, Bian. Darimana kau tahu kalau Alea masih mencintaimu?" Kenzo tersenyum mengejek.


"Apa jawaban dari Alea kemarin masih belum cukup? Apa kata-kata Alea kemarin itu masih kurang jelas untukmu, Bian?"


"Alea membencimu! Sangat membencimu!" Kenzo menaikkan suaranya karena kesal.


"Alea sangat mencintaiku Kenzo, hanya saja saat ini ia sedang marah padaku," ucap Bian percaya diri.


Kenzo tertawa mendengar ucapan Bian.


" Kau benar, Alea memang sangat marah padamu. Saking marahnya, dia bahkan sampai tidak ingin melihatmu! Jadi, sebaiknya kau jangan mengganggunya lagi, Bian!" peringat Kenzo.


"Kenapa? Apa kau takut? Kau takut Alea akan kembali bersamaku kalau aku sering menemuinya bukan?" Bian menatap Kenzo, mencoba memprovokasi pria di depannya itu.


"Kau benar-benar sangat percaya diri Bian! Kau pikir, setelah apa yang kau lakukan pada Alea, dia akan kembali padamu? Kalau pun Alea saat ini sangat mencintaimu, aku sangat yakin, Alea pasti tidak akan kembali padamu, Bian. Karena Alea sangat membencimu!" teriak Kenzo, pria ini benar-benar kehilangan kesabaran menghadapi Bian. Sementara, Bian mengepalkan tangannya erat.

__ADS_1


"Alea tidak akan meninggalkan aku seandainya saat itu kau tidak membawanya lari dariku, Kenzo! Seandainya saat itu kau tidak membawa Alea kabur, pasti saat ini Alea masih bersamaku dan masih menjadi istriku!" Suara Bian tak kalah keras.


"Dasar pebinor! Kau sungguh tidak tahu malu membawa perempuan yang saat itu masih berstatus istri orang!"


Kenzo mengepalkan tangannya kuat, ingin rasanya ia menghajar Bian habis-habisan saat ini juga.


"Aku bukan pebinor, Bian! Aku tidak pernah merebut Alea darimu!"


"Lalu kenapa saat itu kau membawanya pergi dari rumah sakit? Kau sangat tahu kalau Alea masih sangat membutuhkan perawatan saat itu! Kau juga pasti tahu kan, kalau saat itu Alea baru saja kehilangan anak kami!" Bian masih berteriak lantang. Membuat beberapa pegawai Kenzo yang berlalu lalang menatap ke arah mereka berdua.


Kenzo memang sengaja mengajak Bian duduk di belakang Restoran, agar para pengunjung restorannya tidak melihat, kalau seandainya ada kejadian yang tidak di inginkan terjadi di antara mereka berdua.


"Kehilangan anak kami? Sekarang kau menyebut kalau anak tidak bersalah itu adalah anakmu?" Kenzo mencibir.


"Karena anak dalam perut Alea itu memang anakku!"


" Tentu saja benar, anak yang Alea kandung itu adalah anakmu. Karena saat itu Alea adalah istrimu, Bian. Tapi apa kau lupa? Kau telah membunuh anakmu dengan tanganmu sendiri!" Rahang Kenzo mengeras menahan emosi, saat ingatannya kembali pada masa lalu. Saat ia melihat Alea tergeletak di lantai dengan tubuh penuh luka dan darah yang keluar menggenang di sela kakinya.


Seandainya saat itu ia tidak datang tepat waktu, mungkin semuanya sudah terlambat. Mengingat itu semua, jantung Kenzo serasa di remas-remas.


Sementara tangan Bian yang mengepal, terlihat gemetar saat Kenzo mengatakan kalau dirinyalah yang telah membunuh anaknya sendiri.


"Apa kau tahu, Bian? Seandainya saja saat itu aku tidak datang di saat waktu yang tepat, mungkin saat ini Alea hanya tinggal kenangan, hanya tinggal nama!" Kenzo menatap Bian dengan kedua mata memerah menahan amarahnya.


"Kau membawa perempuan itu ke rumah sakit, sementara kau meninggalkan Alea yang terluka parah tergeletak tidak berdaya di rumahmu. Kau meninggalkan Alea seolah nyawa Alea tidak berharga di matamu!"


"Seandainya saat itu aku tidak datang, mungkin Alea tidak akan selamat, dan aku adalah orang yang pertama yang akan menangisi perempuan itu seumur hidup karena penyesalan. Menyesal karena aku tidak bisa melindunginya dari pria brengsek sepertimu, Bian!"


"Sekarang, setelah apa yang kau lakukan pada Alea, apa kau pikir, kau masih merasa pantas mendapatkan maaf dari Alea? Perempuan itu bahkan hampir mati di tanganmu!" Kenzo menatap Bian dengan kesedihan yang tampak jelas di matanya.


Hati Bian serasa hancur seketika mendengar semua ucapan Kenzo. Pria itu benar, seandainya dia datang terlambat pasti nyawa Alea tidak akan selamat. Mengingat itu, hati Bian kembali merasakan sakit yang luar biasa. Rasa sakit karena penyesalan.


Saat itu, dirinya begitu kejam menyiksa Alea, lagi, dan lagi! Entah berapa banyak kesalahan yang telah ia perbuat pada perempuan itu. Tapi kini, dengan tidak tahu malunya ia ingin kembali bersama perempuan itu? Kau sungguh tidak tahu malu dan terlalu banyak bermimpi, Bian!


Bian memejamkan kedua matanya yang terasa panas. Rasa sakit menjalar ke seluruh ruang hatinya.


"Menurutmu, apa kau masih pantas bersama Alea setelah semua yang kau lakukan padanya?" Kenzo kembali bertanya sambil menatap ke arah pria di depannya itu.

__ADS_1


"Apa kau tahu, Bian ... butuh bertahun-tahun agar Alea bisa melupakan trauma yang kau sebabkan. Saat itu, Alea lah yang meminta padaku agar aku membawanya pergi darimu sejauh mungkin. Ia tidak mau bertemu denganmu. Luka di hatinya teramat dalam akibat perbuatanmu."


"Hampir setiap malam setelah kejadian itu, Alea tidak pernah tidur dengan benar, karena setiap malam dia bermimpi buruk. Mimpi yang sama yang selalu menghantuinya setiap malam. Mimpi saat kau begitu kejam menyiksanya hingga menyebabkan dirinya kehilangan bayinya." Kenzo menghentikan ceritanya saat ia melihat Bian mulai menitikkan air matanya.


"Apa kau tahu, meski Alea sangat membencimu saat itu, tapi dia bilang, dia sangat bahagia karena bisa mengandung anakmu. Dia merasa bahagia karena dia akhirnya bisa memiliki anak dari pria yang sangat dicintainya." Kenzo beranjak dari duduknya. Dadanya terasa sesak saat memberitahukan semua kebenaran tentang Alea selama ini.


"Tapi semua itu adalah masa lalu, Bian. Kau adalah masa lalunya, dan aku adalah masa depannya. Jadi, mulai sekarang menjauhlah dari Alea. Karena saat ini, pria yang sangat Alea cintai adalah aku, bukan dirimu!" Kenzo masih menatap Bian yang masih terdiam.


"Seandainya kau memang mencintai Alea, menjauhlah dari hidupnya. Biarkan Alea bahagia. Dulu, mungkin kebahagiaan Alea adalah kamu, karena seluruh dunianya berpusat pada dirimu. Tapi sekarang, kebahagiaan Alea adalah aku. Aku yang selalu ada bersamanya, bahkan di saat dirinya berada dalam titik terendah dalam hidupnya, karena dirimu."


"Di masa lalu, kau adalah orang yang sangat dicintai Alea, sekaligus orang yang memberikannya luka yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya. Jadi, kau jangan berpikir bahwa kau akan kembali masuk ke dalam kehidupannya lagi, Bian. Karena aku tidak akan pernah membiarkannya!"


"Saat ini Alea adalah milikku, dia sangat mencintaiku, dan aku tidak akan pernah membiarkan orang lain mengambil milikku."


Bian masih bergeming, tak menjawab apapun yang dikatakan oleh Kenzo. Karena semua yan pria itu katakan adalah benar.


"Jika kau memang mencintai Alea, biarkan dia bahagia bersamaku. Pergilah sejauh mungkin, dan jangan pernah lagi menampakkan dirimu di hadapannya," ucap Kenzo sebelum akhirnya pergi meninggalkan Bian yang masih terdiam dengan air mata penyesalan.


Lagi ... hatinya kembali hancur berantakan.


Pria itu benar, dirinya memang tidak pantas kembali pada perempuan yang selama ini telah disakitinya terlalu dalam.


Penyesalan memang selalu datang terlambat.


Bian mencibir dalam hati. Mengejek dirinya yang dengan penuh percaya diri mengajak pria itu bertemu. Bian sudah mempersiapkan dirinya untuk menghajar pria itu agar segera meninggalkan Alea, perempuan yang sangat dicintainya. Tapi alih-alih saling pukul dan baku hantam, pria itu justru menyerangnya dengan kata-kata yang cukup telak memukul hatinya. Bian tersenyum getir sebelum akhirnya beranjak dari tempat duduknya.


'Pantas saja saat ini kau mencintainya Alea, karena pria itu memang pantas untuk kau cintai ....'


Meski berat, Bian akhirnya mengakui, kalau dirinya memang harus menyerah kali ini.


.


.


.


Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak ² 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2