
"Aku memang mencintai Bian, tapi waktu itu aku tahu Bian sudah punya kekasih, makanya aku hanya bisa mengaguminya dan mencintainya dalam diam. Tapi keluargaku, mereka merencanakan pernikahanku dengan Bian tanpa sepengetahuanku." Alea menatap Kenzo dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Kalau bukan karena mereka, mungkin dari awal Bian tidak akan membenciku. Bian membenciku, karena mengira akulah yang membujuk orang tuaku agar aku bisa menikah dengannya dengan menghadiahkan perusahaan dan rumah yang kami tempati."
"Setelah menikah dengan Bian, kedua orang tuaku menyerahkan perusahaan pada Bian. Karena mereka berpikir, dengan Bian memegang perusahaan, maka semua kebutuhanku selama menjadi istri Bian, akan terpenuhi. Kedua orang tuaku selalu menilai segalanya dengan uang, mereka berpikir, kalau uang pun bisa membeli kebahagiaan. Seperti mereka yang secara tidak langsung membeli Bian dengan perusahaan agar Bian bisa membahagiakanku." Alea akhirnya menangis.
Semua beban yang ia simpan selama ini, keluar sudah.
"Setelah aku mengetahui dari Bian kalau orang tuaku memaksa keluarga Bian agar Bian menikahiku, aku memutuskan kontak dengan mereka. Sebulan setelah kedatangan perempuan itu ke rumah, aku sengaja mengganti nomor ponselku. Aku tidak pernah menghubungi Mama, Papa, ataupun kedua kakakku. Biar saja mereka mengira kalau aku sudah bahagia bersama Bian." Kenzo meraih tubuh Alea, membawa tubuh penuh luka itu ke dalam pelukannya.
"Aku kecewa pada keluargaku, kenapa mereka mengambil keputusan tanpa meminta pendapatku terlebih dahulu?" Alea terus menangis dalam pelukan Kenzo.
Sementara Dokter Sarah yang mendengar cerita Alea, ikut menangis, merasa iba dengan nasib yang menimpa Alea.
"Kita ke rumah sakit sekarang, kita selesaikan masalah kamu satu-satu. Jika memang kamu tidak ingin merebut kembali perusahaanmu, sepaling tidak kamu harus menghubungi keluargamu agar mereka kembali mengambil perusahaan itu dari tangan Bian. Karena bagaimanapun, orang tuamu pasti sedih kalau perusahaan itu jatuh ke tangan Bian, sementara kamu malah menderita."
Alea hanya terdiam mendengar ucapan Kenzo.
"Kamu tidak mau kan, perusahaan yang di bangun dengan susah payah oleh keluargamu kemudian berakhir di tangan orang-orang licik seperti Bian dan Amara?"
Alea mendongak ke arah Kenzo, kepalanya mengangguk pelan.
"Kau benar Ken, aku tidak akan membiarkan mereka berdua menikmati apa yang seharusnya jadi milikku."
"Gadis yang pintar." Kenzo mengelus lembut kepala Alea.
"Aku bukan gadis lagi Ken, aku sudah menikah." Kenzo . tersenyum mendengar gerutuan Alea.
"Iya, kau sudah menikah, tapi sebentar lagi kau akan bercerai," ucap Kenzo.
__ADS_1
"Ku tunggu jandamu," bisik Kenzo ditelinga Alea.
"Ken!" Kenzo tertawa melihat wajah Alea yang terlihat cemberut.
"Apa kita bisa berangkat ke rumah sakit sekarang? Jadwal praktekku sebentar lagi." Sarah memperingati, sambil melihat jam di tangannya.
"Kita berangkat sekarang."
Alea menatap Kenzo ragu-ragu .
"Kau tenang saja, aku pastikan, suami brengsekmu itu tidak akan menemukanmu di sana." Kenzo menatap Alea sambil mengusap rambut Alea.
"Kau harus cepat sembuh Al, luka di tubuhmu tidak bisa di biarkan begitu saja, apalagi kau baru saja mengalami keguguran."
"Baiklah, kita ke rumah sakit sekarang," ucap Alea akhirnya, membuat Kenzo tersenyum lega.
"Sarah, bantu aku menyiapkan keperluan Alea."
Sarah membantu Kenzo menyiapkan baju ganti Alea dan semua keperluannya saat di rumah sakit nanti. Setelah beres, mereka bergegas keluar dari apartemen.
Kenzo menggendong Alea, sementara Sarah membawa tas berisi semua keperluan Alea. Kenzo membaringkan tubuh Alea di kursi belakang dengan posisi miring, kemudian ia duduk di samping Alea dan meletakan kepala Alea di atas pahanya. Setelah Kenzo memastikan kalau posisi tidur Alea aman dan tidak merasa kesakitan, Kenzo langsung menyuruh Sarah tancap gas menuju rumah sakit.
"Tahan sebentar ya Al, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit," ucap Kenzo saat mendengar rintihan Alea.
"Sakit Ken ...."
Kenzo mengusap butiran keringat yang mengalir di kening Alea.
"Cepat sedikit Sarah." Kenzo terlihat panik.
__ADS_1
Sarah menambah kecepatan mobilnya, hingga beberapa menit kemudian mereka pun sampai ke rumah sakit.
Beberapa orang Dokter dan perawat sudah bersiap menunggu kedatangan Alea, karena Kenzo menelepon mereka terlebih dahulu.
Kenzo menggendong Alea turun dari mobil Kemudian berlari menuju ke dalam rumah sakit. Kenzo meletakkan tubuh Alea yang terlihat lemah di atas brankar. Beberapa orang Dokter dan perawat yang sedari tadi sudah menunggu Alea, langsung membawa Alea untuk segera di periksa.
Kenzo terpaksa menunggu di luar saat salah seorang perawat menutup pintu ruangan itu. Kenzo meremas rambutnya kemudian menyandarkan tubuhnya di dinding ruangan.
Aku bersumpah, akan membalas semua kesakitan yang Alea rasakan karena perbuatanmu Bian ....
Kenzo mengepalkan kedua tangannya, menahan amarah yang siap meledak di dadanya.
Sementara di rumah sakit lain, Bian sedang bersiap-siap. Hari ini Dokter mengizinkan Amara pulang ke rumah, karna kesehatannya sudah mulai membaik.
Amara dan Bian berjalan beriringan di sepanjang koridor rumah sakit di ikuti oleh Mbok Sumi yang berjalan di belakang mereka sambil membawa tas berisi keperluan Amara selama di rumah sakit. Amara merangkul pinggang Bian dengan manja. Sementara Bian merangkul pundak Amara dengan mesra.
Mereka berdua saling melempar senyum kebahagiaan. Bian bahkan tanpa segan mencium kening Amara, tak peduli pada semua orang memperhatikannya.
Di sudut lain, seorang perempuan cantik dan seorang pria yang cukup tampan memperhatikan interaksi Bian dan Amara.
"Mas, bukankah dia itu suaminya Alea, adikmu?"
.
.
Maaf telat updatenya ya kakak², karena seharian ini authornya terlalu sibuk di dunia nyata 🤭
Yang suka ceritanya, jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak ²🙏🙏🙏
__ADS_1
Setelah ini, kita akan balas Bian sama-sama 😡😠😠