
Bunyi suara pukulan dan tamparan serta suara teriakan menggema di seluruh ruangan.
"Plak! Plak! Plak!"
Wajah perempuan cantik itu terlempar ke kanan dan ke kiri, seiring tamparan-tamparan dari tangan besar dan kuat yang sedari tadi menamparnya berkali-kali.
Suara tangisan dan rintihan kesakitan terdengar dari mulutnya.
"Plak!"
Kembali sebuah tangan besar dan kasar itu menampar wajahnya. Perempuan itu menjerit, merasakan sakit yang bertubi-tubi di area wajahnya. Bahkan wajah cantiknya saat ini sudah tak berbentuk lagi saking banyaknya bekas tamparan dan pukulan yang menyebabkan wajahnya membengkak penuh luka memar yang membiru.
Perempuan itu menangis terisak. Menyesali nasib yang menimpanya saat ini. Harusnya ia tidak gegabah dan mau mendengarkan nasihat sang kakak waktu itu.
"Plak!"
Darah kental kembali mengalir di sudut bibirnya yang robek saat satu tamparan yang cukup keras kembali mendarat di pipi kanannya.
Perempuan itu menjerit kesakitan.
"A--ampun ... Aku mohon, henti-kan." Lisa menatap pria tegap di hadapannya dengan deraian air mata. Sementara pria itu menatapnya dengan sinis.
Tubuh Lisa terduduk di kursi dengan kedua tangan terikat ke belakang, kedua kakinya pun sama-sama terikat, membuatnya tak leluasa untuk bergerak. Sementara di sebelahnya, seorang pria sudah tergeletak tak berdaya karena pukulan yang bertubi-tubi dari beberapa orang pria bertubuh kekar yang mengeroyoknya.
Darah mengalir dari mulutnya, sama dengan Lisa, pria itu pun babak belur dengan darah mengalir di sudut bibirnya yang robek.
Pria itu adalah pria yang baru saja keluar dari penjara dengan sebuah jaminan. Lisa sengaja membayar jaminan untuk pria itu agar pria itu bisa keluar dari penjara. Namun, sebagai gantinya pria itu harus bisa membantunya. Membantunya untuk melenyapkan Alea.
Belum sehari menghirup udara bebas, Lisa sudah meminta pria itu untuk melakukan tugasnya melenyapkan Alea. Hingga akhirnya, tindakan gegabah tanpa rencana dan persiapan itu akhirnya gagal total. Bukan hanya gagal melenyapkan Alea, tapi pria suruhannya itu bahkan tanpa sengaja menabrak tubuh Bian. Bian, pria impian yang ingin ia miliki hingga ia sampai berbuat nekad ingin mencelakai dan melenyapkan Alea.
Pria itu tampak terkejut saat baru mengetahui kalau targetnya adalah pria yang ia kenal. Bian Aditama, suami dari Amara sekaligus orang yang selama ini telah merawat buah cintanya bersama Amara.
__ADS_1
Namun, belum sempat pria itu bertanya lebih lanjut, mereka berdua sudah tertangkap duluan. Anak buah Kenzo dan Rajasa berhasil menangkap Andre dan Lisa. Ya! Pria suruhannya Lisa itu adalah Andre. Andre yang sama yang pernah menghancurkan rumah tangga Bian dan Amara.
Plak!
Kembali sebuah tamparan mendarat di pipi Lisa. Kali ini Lisa mendongak ke arah pria itu. Wajah cantiknya kini sudah tak berbentuk karena penuh dengan luka lebam.
Pria itu menatap Lisa dengan jijik, kemudian mencengkeram rahang Lisa dengan keras. Lisa merintih kesakitan, dengan kedua mata yang mengalirkan air mata.
"Perempuan ******! Berani-beraninya kau mencelakai Bos kami!" Pria itu berteriak kencang. Rasanya, ia ingin sekali menghabisi perempuan di depannya ini. Gara-gara dia, bos mereka saat ini masih terbaring di rumah sakit.
Plak!
Pria itu kembali menampar pipi Lisa dengan sekuat tenaga setelah dengan kasar melepaskan rahang Lisa.
Perempuan itu menjerit kencang, merasakan sakit yang luar biasa di bagian pipinya. Lisa tidak menyangka kalau nasibnya akan berakhir seperti ini.
Beberapa hari yang lalu, Lisa masih bisa bersenang-senang, jalan-jalan kemanapun dan berbelanja sesuka hati. Lisa juga bisa bersenang-senang dengan memilih beberapa pria untuk menemani tidurnya.
Namun, gara-gara obsesinya yang ingin sekali mendapatkan Bian dan memiliki pria itu, Lisa akhirnya bertindak gegabah. Harga dirinya seolah tersakiti saat Bian dengan terang-terangan menolak dirinya demi perempuan lain.
pun caranya, ia harus memiliki barang atau pun seseorang yang ia suka.
Apalagi Lisa juga punya seorang kakak yang bisa diandalkan, yaitu Reyhan. Kakak laki-laki satu-satunya yang selalu menuruti semua keinginannya.
Selama ini Lisa tidak pernah menyadari satu hal, tidak semua yang kita inginkan harus kita dapatkan. Karena di atas langit masih ada langit. Selama ini Lisa selalu menganggap dirinya punya kemampuan, hingga ia bisa memiliki apapun yang ia inginkan. Tapi ia lupa, di atas kesombongan dan keangkuhannya, masih ada orang yang jauh lebih sombong dan angkuh dibandingkan dirinya. Lisa juga lupa, dia mungkin selama ini bisa mengancam semua orang untuk mendapatkan keinginannya.
Namun, masih ada orang yang lebih berkuasa lagi di atasnya yang bisa kapan saja menghabisinya bahkan menginjak-injaknya hingga menjadi butiran debu.
Seperti sekarang, kemarin Lisa masih terlihat sombong dan merasa berkuasa karena ia berhasil membebaskan Andre dan menyewa pria itu untuk menghabisi Alea. Tetapi sekarang, dirinya bahkan tidak bisa berbuat apa-apa saat orang itu berkali-kali menamparnya.
Lisa bahkan tidak bisa berbuat apa-apa saat melihat Andre di keroyok beberapa orang berbadan besar hingga membuat pria itu jatuh terkapar di lantai dengan wajah dan sekujur tubuh penuh luka.
__ADS_1
Kini, Lisa yang biasanya sombong dan merasa paling hebat, sudah tak ada lagi. Wajah cantik yang selalu ia banggakan kini berubah menjadi menyeramkan karena luka bekas tamparan pria yang menangkapnya. Saat ini Lisa hanya bisa menangis kesakitan dan menyesali semua yang terjadi. Menyesali semua kecerobohan dan kebodohannya.
Selama ini, Lisa selalu berhati-hati, apalagi kalau sudah menyangkut orang yang diincarnya. Seperti saat ia bekerja di rumah Bian. Karena Lisa sangat menyukai pria itu, ia rela terus menyamar menjadi perempuan baik-baik yang selalu menurut. Menuruti semua peraturan Bian saat dirinya masih mengasuh Devan di rumah besar itu.
Namun, meski ia kesal, demi bisa melihat pria idamannya setiap hari, Lisa rela meski harus terus berpura-pura baik dan juga berpura-pura menyayangi Devan.
Hingga suatu hari Lisa memberanikan diri mengungkapkan perasaannya pada Bian, yang akhirnya berakhir dengan penolakan dari Bian. Bian menolak ungkapan perasaan cinta dari Lisa, hingga menyebabkan Lisa merasa tertantang dan tentu saja tidak bisa menerima penolakan Bian begitu saja.
Penolakan Bian tidak membuat Lisa mundur, tapi justru membuat ia semakin nekad. Nekad ingin menghabisi perempuan yang amat digilai oleh Bian.
Alea Karenina Rajasa ....
Saat Lisa sangat berambisi menghabisi perempuan itu, ia bahkan tidak tahu kalau ia sedang berhadapan dengan siapa. Kini, setelah dirinya tertangkap, ia baru menyadari siapa perempuan yang ingin dia musnahkan.
Lisa tersenyum getir saat mengingat perkataan pria yang sedari kemarin menyiksa dirinya dengan pukulan dan tamparan di wajahnya.
"Apa kau tahu siapa perempuan yang ingin kau lenyapkan?"
"Dia adalah Alea Karenina Rajasa, putri dari pengusaha nomor satu di negara ini!"
"Seharusnya kau berkaca dulu sebelum kau memilih lawan. Dasar perempuan ******!"
Plak! Plak! Plak!
.
.
Slow update!
Beberapa hari ini authornya sibuk banget di dunia nyata, jadi mohon maaf bila authornya terlambat up ya kakak² 🙏🙏
__ADS_1
Yang suka ceritanya, jangan lupa like, koment dan Votenya ya ...
Terima kasih sudah membaca 😘😘😘