MATI RASA

MATI RASA
Part 35 Kesempatan terakhir


__ADS_3

Semua sudah terlambat ....


Alea terdiam, tak mengatakan satu patah katapun. Sementara pria di depannya masih sesunggukan sambil memeluk tubuhnya. Seluruh tubuh Alea terasa sakit. Begitupun hatinya.


Suara dering ponsel di saku bajunya, membuat Bian melepaskan pelukannya pada Alea. Ia menghapus air matanya, kemudian menatap Alea yang juga sedang menatapnya. Sejenak pandangan mereka bertemu, Bian membelai wajah lebam Alea, kemudian mengangkat panggilan teleponnya.


"Halo, dengan suaminya Bu Amara?"


"Iya, saya sendiri."


"Istri Bapak sudah sadar."


"Baik, saya akan segera ke sana."


Bian mematikan panggilan teleponnya, memasukkan kembali ponselnya pada saku kemejanya.


Bian menatap Alea yang masih menatapnya dengan tatapan datar.


"Amara sudah sadar, aku akan menemuinya dulu, nanti aku ke sini lagi." Bian mendekati Alea kemudian mengecup keningnya.


"Apa dia juga mengalami keguguran?" Alea berucap lirih, suaranya sedikit bergetar karena berusaha meredam emosi di dadanya.


"Amara tidak mengalami keguguran, kandungannya baik-baik saja, dia hanya perlu istirahat."


Bian menatap Alea yang memejamkan matanya, bibir perempuan itu terlihat bergetar menahan tangis.


"Rasanya sungguh tidak adil bagiku. Dia yang berbuat jahat padaku, keadaannya baik-baik saja, sementara aku yang tidak salah sama sekali malah kehilangan anakku ...."


"Apa maksudmu Al, kenapa kau masih menyalahkannya? jelas-jelas kau yang mendorongnya hingga jatuh." Raut muka Bian langsung berubah.


"Aku tidak mendorongnya Bian, dia yang menjatuhkan dirinya sendiri. Dan gara-gara dia, kau membunuh anakku, darah dagingmu sendiri!" Air mata Alea mengalir di pipinya.


"Kau pembunuh! teganya kau membunuh darah dagingmu sendiri Bian, kau membunuh anakku!" Alea berteriak histeris.


Sementara Bian terpaku, wajahnya terlihat shock mendengar teriakan Alea.


"Kau telah membunuh anakmu sendiri Bian, kau pembunuh!" Alea kembali berteriak. Kenzo yang sedari tadi berdiri di depan pintu, langsung masuk ke dalam saat mendengar teriakan Alea.


"Alea!" Kenzo mencoba menenangkan Alea yang menangis histeris.


"Kau membunuh anakku Bian, kau pembunuh! aku benar-benar membencimu, kau membunuh anakku!" Alea terus meronta saat Kenzo menenangkannya.


Sementara Bian masih terdiam di tempatnya, mendengar kata-kata 'pembunuh' yang keluar dari mulut Alea, membuat sudut hatinya terasa nyeri, rasanya sangat sakit sekali, apalagi melihat Alea yang terlihat begitu menyedihkan. Perempuan itu menangis histeris sambil terus berteriak padanya.

__ADS_1


"Aku membencimu Bian, kau sudah membunuh anakku! apa salahku padamu Bian, apa salahku!"


"Alea ...." Kedua mata Bian berkaca-kaca.


"Cepat panggil Dokter!" Kenzo berteriak pada Bian, pria itu sangat kesal karena Bian justru diam saja melihat istrinya histeris karena ulahnya.


Bian segera bergegas keluar setelah mendengar teriakan Kenzo. Tak berselang lama, seorang Dokter di dampingi perawat di sampingnya masuk ke dalam ruangan Alea. Bian mengikuti Dokter itu dari belakang.


Alea masih menjerit histeris saat Bian datang, Kenzo nampak kewalahan menenangkan perempuan itu.


Dokter segera mengambil tindakan, di bantu perawat, Kenzo berusaha membuat Alea tenang, tapi bagai orang kesurupan, Alea justru semakin meronta dan berteriak. Hingga tak berapa lama kemudian, tubuhnya pun terkulai lemas, karena pengaruh obat.


Kenzo memandangi wajah perempuan yang di cintainya itu dengan perasaan sedih. Ia mengusap air mata di wajah Alea. Sementara Bian menatap istrinya itu dengan mata berkaca-kaca.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?"


"Usahakan jangan membuat istri anda mengingat kejadian yang membuatnya sedih, jangan biarkan dia terlalu stres memikirkan keguguran yang dialaminya." Dokter itu tersenyum ramah sambil menepuk bahu Bian pelan, kemudian melangkah meninggalkan ruangan itu di ikuti dua orang perawat di belakangnya.


Kenzo menatap Bian dengan tajam. Rasanya ia ingin sekali menghajar pria di depannya ini hingga babak belur. Tapi ia masih ingat ucapan Alea yang tidak akan memaafkannya jika sampai ia memukuli Bian.


"Dasar pengecut!"


Bian menatap tak suka pada Kenzo. Tetapi pria itu tetap mendekati Alea yang tertidur karena pengaruh obat dengan Kenzo yang duduk di sisi ranjangnya.


"Minggir! aku mau duduk di sini." Bian menatap Kenzo dengan aura permusuhan yang kentara. Kenzo bangkit dari ranjang, sekuat tenaga ia menahan amarah yang siap meledak di kepalanya.


Berpuas-puaslah kau memandangi istrimu Bian, karena setelah ini, aku akan membawa Alea pergi dari hadapanmu sejauh mungkin.


Kenzo masih menatap pria itu,


"Maafkan aku ...." Suara Bian terdengar lirih, tapi Kenzo masih bisa mendengarnya.


"Apa sekarang kau merasa menyesal?" Kenzo mencibir.


"Kalau dia tidak mendorong Amara, aku tidak akan melakukan hal ini padanya. Dia sendiri yang sudah menyulut emosiku." Bian menatap Kenzo yang terlihat tertawa mengejek ke arahnya.


"Kau akan menyesal karena tidak pernah mempercayai Alea. Apa kau tahu, Alea bukanlah tipe orang yang suka menyakiti orang lain meski orang itu telah berbuat jahat padanya."


"Apa maksudmu?"


Kenzo tersenyum smirk.


"Aku bisa saja menghajarmu sampai babak belur seperti kau yang telah menghajar Alea sampai tak berdaya." Kenzo menarik kerah kemeja Bian.

__ADS_1


"Tapi sayang, Alea melarangku. Padahal ia sampai kehilangan bayinya karenamu, tapi ia tidak ingin aku membalaskan rasa sakitnya, karena dia tidak mau aku menyakitimu." Kenzo melepaskan kerah baju Bian dengan kasar.


Bian hendak menjawab ucapan Kenzo, tapi ponsel di dalam sakunya berdering.


"Halo."


"Kamu di mana Bi, kenapa lama sekali ... aku sudah dari tadi menunggumu," terdengar suara tangis Amara di ujung telepon. Bian melirik ke ponselnya sebentar, terlihat nomor yang beberapa saat lalu menghubunginya.


"Aku akan segera ke sana, tunggu sebentar." Bian menutup teleponnya, kemudian ia kembali menatap Alea, mendekati perempuan yang sedang tertidur pulas itu, kemudian memeluknya.


"Aku tinggal sebentar menemui Amara, nanti aku balik lagi ke sini menemanimu," bisik Bian, yang tentu saja tidak bisa di dengar oleh Alea karena Alea sedang dalam keadaan tidak sadar.


Bian mendekati Kenzo, menatap pria di depannya itu dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


"Aku akan menemui Amara, bisakah kau menemani Alea sebentar?" Bian menatap Kenzo yang tersenyum padanya.


"Dengan senang hati," ucap Kenzo tersenyum smirk.


"Jangan macam-macam, aku memang menyuruhmu menjaganya, tapi bukan berarti kau bisa seenaknya terhadap istriku." Bian menarik kaos yang di kenakan Kenzo, sehingga wajah tampan dengan senyum yang seolah mengejeknya itu mendekat ke arahnya.


"Aku sangat menghormati Alea Bian, kalau aku mau, aku sudah dari dulu membawanya pergi darimu." Kenzo melepaskan tangan Bian dengan kasar dari bajunya.


"Berdoalah, semoga kali ini Alea kembali memaafkanmu dan tidak meninggalkanmu." Kenzo menatap Bian dengan tajam, kemudian membuka pintu ruangan Alea agar pria itu segera keluar dan pergi dari sana.


Kenzo tersenyum melihat Bian yang masih menatapnya dengan penuh amarah, sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu dengan tergesa karena ponsel di sakunya kembali berdering.


Bian, hari ini adalah kesempatan terakhirmu untuk bertemu dengan Alea, mulai besok, jangankan melihat wajahnya, bahkan meski hanya bayangan Alea pun, aku pastikan, kau tidak akan pernah bisa melihatnya.


.


.


.


Maaf ya kakak², baru bisa update, lagi banyak kerjaan. Maklum emak² ...🤭


Yang suka ceritanya, boleh lanjut terus, yang bilang cerita ini lebay atau tidak masuk akal tidak apa², karena ini hanya sekedar imajinasi authornya semata.


Tapi jika kalian pikir perempuan seperti Alea ini di dunia nyata tidak ada, kalian salah besar.


Kita bahkan sering lihat di berita², berapa bnyak perempuan² yg rela dipukuli suaminya, tp tak bisa meninggalkan suaminya, dengan alasan apa? CINTA. Banyak perempuan² yg rela di madu dg alasan, masih CINTA. Terkadang cinta memang bisa membuat orang jadi bodoh bahkan melakukan hal-hal yang tidak masuk akal.


Betul tidak kakak ²...😊😊🤭

__ADS_1


Tapi bukan berarti kita ikut mencontoh kebodohan Alea ya, karena sudah di pastikan, kalian tidak akan pernah bahagia.


Jangan lupa like, koment, n Votenya ya kakak 🙏🙏🙏


__ADS_2