
"Bian ...!"
"Bian ... Bian!" Alea dengan susah payah bangkit, kemudian berlari dengan tertatih mendekati tubuh Bian.
"Bian ...!" Alea berteriak, berlari mendekati Bian yang tergeletak di jalanan dengan tubuh bersimbah darah.
"Tidak ... Bi--Bian ...." Alea bersimpuh dengan tubuh gemetar. Ia meraih kepala Bian dan meletakkannya di pangkuannya.
"Bian, bangun ... bangun Bian!" Alea berteriak sambil menggoyangkan tubuh Bian. Tubuh pria itu penuh darah.
"Bian! Bangun Bian!" Alea berteriak sambil menangis kedua tangannya menopang wajah Bian, darah mengalir dari kepala Bian dan membasahi wajahnya yang terlihat pucat. Kedua mata Bian berkedip.
"Al--le--a .... " Suara Bian tercekat di tenggorokan. Kedua mata Bian berkedip, sementara darah terus mengalir dari kepalanya.
"Bian ... bangun! Aku mohon ...."
"Al--le--a ... ma--af--kan a--ku."
"Aku akan memaafkanmu, tapi kau harus bangun, Bian." Alea berteriak panik.
Bian tersenyum tipis di sudut bibirnya, wajahnya berubah pucat seperti kapas dengan darah yang terus mengalir.
Suara mobil ambulans bersahutan. Orang-orang suruhan yang mengawasi Alea langsung bertindak cepat, mereka segera membawa tubuh Bian ke dalam mobil ambulans, sementara Alea terus menangis dan memaksa masuk ke dalam mobil menemani Bian.
Di dalam ambulans Alea terus menggenggam tangan Bian, kedua matanya terus mengalirkan air mata.
Bian, kamu harus kuat. Kau tidak boleh mati! Aku bahkan belum membalaskan dendamku padamu!" Alea berteriak sambil menangis.
Genggaman tangan Bian pada tangan Alea makin melemah. Wajah pucat penuh darah. Bibir Bian bergerak.
"Al--lea ....."
Alea mendekatkan wajahnya pada Bian.
"Bian! Kamu harus bangun, kamu tidak boleh mati!
"A--ak--u men--cin--taimu."
Mata Bian terpejam, bibirnya terkatup rapat, genggaman tangannya pada Alea pun melemah.
Alea menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Tidak Bian! Bian! Bian ...!"
Alea menangis memeluk pria itu.
"Kau bilang kau ingin memelukku bukan? Bian ... bangun! Bangun Bian ...."
"Bian ...."
Dalam hati Alea menyesali saat tadi pagi ia sempat memaki dan berpikiran jahat.
__ADS_1
"Bahkan seandainya pria itu bunuh diri di depannya sekalipun, aku tetap tidak peduli ...."
'Apa semua ini terjadi karena ucapanku tadi pagi?' Alea terus menangis sambil memeluk Bian.
Keadaan Bian sangat menggenaskan. Kedua kaki Bian terluka sangat parah begitupun bagian kepalanya.
'Kau tidak boleh mati, Bian, tidak boleh ....'
*****
Kenzo mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi saat anak buahnya mengirimkan video kejadian yang menimpa Bian dan Alea. Sebelumnya, anak buahnya mengirimkan video yang memperlihatkan Bian dan Alea yang sedang lari pagi bersama. Tetapi saat itu Kenzo hanya menyuruh anak buahnya untuk mengawasinya, karena ia yakin Bian tidak akan macam-macam.
Namun, saat anak buahnya mengirimkan satu video yang memperlihatkan Bian sedang memeluk Alea, membuat Kenzo naik darah seketika, tetapi detik berikutnya Kenzo di buat tercengang. Saat tiba-tiba Bian mendorong tubuh Alea hingga Alea terjatuh, sementara tubuh pria itu terpental dan langsung tertabrak mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi ke arah mereka berdua.
Terdengar suara teriakan orang-orang termasuk si pengirim video. Anak buah Kenzo langsung bergegas lari mendekati lokasi kejadian, sementara ponselnya masih menyala. Dari ponsel anak buahnya, Kenzo bisa mendengar jeritan dan tangisan Alea yang menyayat hatinya.
"Nona Alea dalam perjalanan ke rumah sakit, Bos."
"Kirimkan alamat rumah sakitnya."
"Baik."
*******
Keluarga Bian langsung bergegas melajukan mobilnya ke arah jalan besar yang tak jauh dari kompleknya menuju lokasi kejadian. Beberapa orang suruhannya memberi kabar kalau Bian mengalami kecelakaan karena menyelamatkan Alea.
Tak jauh berbeda dengan keluarga Bian, keluarga Alea pun bergegas menaiki mobil menuju lokasi kejadian. Saat mereka sampai, ternyata Bian sudah di bawa ke rumah sakit.
Kedua keluarga itu akhirnya menyusul ke rumah sakit. Anita dan Laras saling berpelukan di dalam mobil. Mereka menangis bersama di dalam mobil.
"Aku berjanji, aku akan menghabisi orang yang telah berani mencelakai anak-anak kita tanpa ampun!" Rajasa menggeretakkan giginya.
"Kau benar, Raja. Aku akan menghabisi orang itu dengan tanganku sendiri. Tidak akan aku biarkan orang itu lolos begitu saja." Aditama menatap Rajasa yang saat ini sedang menepuk pundaknya. Sementara dari jok belakang terdengar suara tangis dari istri-istri mereka.
Di tempat lain, mobil anak buah Kenzo, Bian dan juga Rajasa masih mengejar mobil yang menabrak Bian Aditama.
Sebenarnya mereka sudah mengawasi gerak-gerik mobil itu, tetapi mereka kalah cepat. Kejadian kecelakaan tadi begitu cepat hingga mereka tak bisa mencegah mobil yang ingin mencelakai Bian dan Alea.
Dalam perjalanan, mereka semua mengumpat karena merasa kecolongan dan gagal menjalankan tugas.
Mobil mereka berhasil mengejar mobil yang menabrak Bian. Beberapa mobil berhenti, orang-orang bertubuh tinggi dan kekar keluar dari mobil dengan membawa senjata di tangannya. Kemudian dengan gerakan cepat, mereka langsung mendekati mobil si penabrak dan langsung memecahkan kaca mobil itu dengan marah.
"Brengsek!" umpat mereka kesal.
Sementara di dalam mobil, Lisa terlihat gemetar begitupun pria di sampingnya.
"Brengsek!" Laki-laki di belakang kemudi mengumpat sambil menatap Lisa garang.
Belum sempat pria itu kembali mengumpat, seseorang sudah menarik tubuhnya keluar dari mobil dan langsung menghajarnya. Lisa menjerit saat merasakan sakit di kepalanya karena rambutnya di tarik dengan kasar. Pria-pria bertubuh kekar itu juga langsung menghajar tubuh perempuan itu tanpa ampun. Mereka bahkan tak peduli meski yang mereka pukul adalah perempuan. Mereka melampiaskan kekesalan dan kemarahan mereka pada dua orang itu.
Setelah melihat kedua orang itu tergeletak tak berdaya dengan penuh luka, mereka kemudian menyeret tubuh kedua orang itu ke dalam mobil.
__ADS_1
"Bawa mereka ke markas." Salah satu di antara mereka memerintah.
Pria-pria berbadan besar itu kemudian masuk ke dalam mobil membawa Lisa dan teman prianya yang tergeletak tak sadarkah diri.
"Dasar tidak tahu diri, berani-beraninya tikus kecil seperti kalian bermain-main dengan bos kami."
*****
Kenzo berlari sepanjang koridor rumah sakit dengan hati cemas. Pandangannya berkeliling hingga akhirnya tertuju pada perempuan berambut panjang yang duduk bersandar memeluk lututnya, bahunya terlihat berguncang karena menangis. Di sebelahnya, beberapa orang mengawasinya dalam diam, tak berani mendekat.
"Alea!" Kenzo berlari kemudian memeluk tubuh perempuan itu.
"Alea."
Tubuh Alea bergetar, tapi hatinya seketika tenang mendengar suara seseorang yang sedari tadi ia rindukan.
"Ken ...."
"Iya sayang, ini aku."
Kenzo mempererat pelukannya. Hatinya terasa sakit melihat perempuan itu terlihat begitu menyedihkan. Sama persis seperti saat Bian menyakitinya.
"Ken ... Bi--Bian. Di--a ...." Alea menangis sesunggukan.
"Bi--an. Ken ...."
"Tenanglah sayang, semua akan baik-baik saja. Dia pasti baik-baik saja."
Alea menggelengkan kepalanya.
"Ti--ti--dak. Bi--an berda--rah. Da--rah." Alea melihat kedua tangannya yang masih terlihat bekas darah, begitupun bajunya yang terkena darah Bian saat Alea memangku kepalanya.
Melihat keadaan Alea, Kenzo kembali memeluk Alea. Tidak! Ia tidak bisa membayangkan seandainya Alea kembali mengalami trauma seperti dulu. Kenzo tidak akan sanggup bila harus kembali melihat perempuan yang sangat dicintainya ini kembali terpuruk.
Dari arah belakang Kenzo, rombongan keluarga Alea dan Bian melangkah dengan bergegas. Wajah-wajah cemas terlihat begitu kentara. Kedua perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu bahkan sudah menangis.
"Alea!"
Alea melepas pelukannya saat mendengar suara Anita.
"Mama ...."
"Alea! Sayang ...." Belum sempat Alea berdiri tegak, tubuhnya limbung, dan langsung tak sadarkan diri. Kenzo yang masih menggenggam tangan Alea dengan sigap meraih tubuh Alea dan menggendongnya. Sementara Anita dan Laras menjerit karena terkejut.
"Alea!"
"Alea!"
.
.
__ADS_1
Yang suka ceritanya, ikutin terus kelanjutannya ya ...
Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak² 🙏🙏