MATI RASA

MATI RASA
Part 118 Kita Harus Bicara


__ADS_3

Alea menangis saat mendengar suara Kenzo dari luar kamarnya. Mendengar suara pria itu, semakin membuatnya mengingat kejadian di kamar hotel beberapa jam lalu. Adegan saat Kenzo dan Bella di atas ranjang dengan tubuh yang sama-sama polos. Alea sangat ingat, saat Bella dengan penuh gairah duduk di atas tubuh Kenzo.


Alea kembali terisak saat ia mengingat video yang dikirimkan oleh Bella padanya. Perempuan itu benar-benar tidak punya malu. Dengan percaya diri dia malah mengirimkan video panas antara dirinya dengan Kenzo. Hatinya yang terluka karena melihat adegan itu secara langsung, bertambah hancur berkeping-keping saat perempuan itu mengirimkan video rekaman yang berisi rekaman perempuan itu bersama Kenzo. Bella bahkan mengingatkan Alea untuk tidak menemui Kenzo lagi, karena perempuan itu bilang, mulai sekarang dan seterusnya, Kenzo adalah miliknya.


"Alea! Sayang, aku mohon buka pintunya." Suara ketukan pintu kembali terdengar. Kenzo masih dengan setia menunggu Alea di depan pintu. Pria itu masih berteriak memanggil nama Alea. Namun, Alea masih menangis di dalam kamar. Alea tidak ingin menemui Kenzo, sampai kapanpun dia tidak akan menemuinya. Karena hatinya sudah terluka. Terluka karena perbuatan Kenzo, sang kekasih yang sangat dicintainya.


"Alea! Aku mohon, buka pintunya


Sayang, kita harus bicara." Kenzo masih belum menyerah. Pria itu masih mengetuk pintu kamar Alea dengan sabar. 


"Sayang, aku mohon … kita harus bicara. Kau salah paham, sayang. Apa yang kau lihat tidak seperti yang kau bayangkan. Antara aku dan Bella tidak terjadi apa-apa. Aku dijebak. Perempuan itu menjebakku, Alea." Kenzo berucap dengan putus asa. Sedari tadi dia sudah mengetuk pintu, tetapi Alea tak juga membukakan pintu untuknya. 


"Sayang, aku mohon …." Kenzo menyandarkan tubuhnya di pintu kamar Alea. Pria itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Terdengar suara isak tangis lirih dari bibirnya. Sebegitu cintanya Kenzo pada Alea, hingga dzia merasa dunianya hancur saat perempuan itu mengabaikannya.


Kenzo bisa merasakan apa yang Alea rasakan. Perempuan itu pasti merasa hancur saat melihat kekasih yang dicintainya tidur bersama perempuan lain. Apalagi, kalau benar Bella sudah mengirimkan video itu pada Alea. Meski ia belum melihat langsung video itu, tetapi Kenzo yakin, kalau video rekayasa itu pasti terlihat asli, hingga bisa membuat siapapun yang melihatnya menjadi salah paham. Termasuk Alea.


"Alea! Sayang, aku mohon buka pintunya. Kita harus bicara. Aku akan menjelaskan semuanya padamu, Alea. Tidak ada yang terjadi antara aku dan Bella, aku dijebak. Perempuan itu menjebakku, Alea." Kenzo kembali mengetuk pintu, berharap semoga Alea mau membukakan pintu untuknya.


"Aku bersumpah, hanya kau satu-satunya perempuan yang aku miliki. Aku tidak pernah menyentuh perempuan lain selain dirimu. Alea, tolong buka pintunya, Sayang, aku ingin menjelaskan kejadian yang sebenarnya sama kamu."


Masih hening. Tidak ada jawaban dari Alea. Kenzo menggusar rambutnya putus asa. Dia bisa saja mendobrak pintu kamar Alea dan memaksa masuk. Namun, dia tidak melakukannya. Kenzo tidak ingin membuat Alea takut karena dirinya berbuat kasar.


Sementara di dalam kamar, Alea terus menangis lirih, agar tangisannya tak sampai terdengar oleh Kenzo. Alea mendengar semua yang pria itu katakan. Namun, dia tidak ingin mempercayainya. Apa yang lihatnya di kamar itu adalah bukti yang cukup nyata baginya. Setidaknya untuk saat ini, Alea tidak ingin bertemu atau mendengar apapun tentang Kenzo. Pria itu sudah menghancurkan hatinya. Kebahagiaan yang rasakan dia rasakan bersama pria itu, kini hanyalah tinggal kenangan. Kenangan indah yang selamanya tidak akan pernah bisa dilupakan.


Tubuh Kenzo merosot ke lantai. Kepalanya masih bersandar di pintu kamar Alea. Ia memejamkan matanya saat bulir-bulir bening mengalir di kedua pipinya.

__ADS_1


Tidak! Ia tidak ingin semuanya berakhir begitu saja. Ia harus bisa menjelaskan pada Alea kalau semua yang terlihat itu tidaklah benar.


"Alea, aku tidak akan membiarkan orang lain menghancurkan cinta kita begitu saja. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan mungkin melepaskanmu begitu saja. Aku akan terus berjuang, agar kita bisa bersama lagi."


Kenzo masih memejamkan matanya. Merasakan sesak di hatinya, dan perlahan rasa nyeri mengalir ke seluruh sudut ruang hatinya.


"Aku mencintaimu, Alea. Sampai kapanpun, aku akan tetap mencintaimu."


Alea bangkit dari ranjang, kemudian ikut bersandar di pintu kamar. Dengan jelas, ia bisa mendengar semua yang Kenzo ucapkan. Air matanya kembali mengalir. 


'Aku juga mencintaimu, Ken, tapi aku tidak akan mungkin bisa melupakan apa yang terjadi malam ini. Aku tidak bisa semudah itu menghapus semuanya dari ingatanku.'


Alea menangis sambil menelungkupkan wajahnya pada lututnya. Rasa sakit di hatinya mengingatkan dirinya pada rasa sakit yang sama saat Bian dulu mengkhianatinya. 


Kenzo masih tak beranjak dari posisinya. Terlihat begitu banyak kesedihan di wajah tampannya. Kedua mata Kenzo juga terlihat memerah, karena pria itu sedari tadi menangis. Musnah sudah wajah tampan berwibawa penuh kharismatik milik pria itu. Biasanya, wajah tampan itu membuat semua perempuan berdecak kagum dan ingin memilikinya. Namun, lihatlah sekarang, pria itu bahkan menangis tak berdaya karena perempuan yang dicintainya.


Anita dan Rajasa juga Bagas berdiri menatap Kenzo yang terlihat begitu menyedihkan.


"Aku baru kali ini melihatnya begitu hancur dan terlihat sangat menyedihkan," ucap Bagas sambil menghela nafas panjang.


"Kita tidak bisa membiarkan mereka menderita karena salah paham, Pa. Kita harus melakukan sesuatu agar mereka bisa kembali bersama. Mereka berdua saling mencintai, tidak adil bagi mereka kalau hubungan mereka sampai hancur hanya gara-gara perempuan seperti Bella." Anita menatap Kenzo dengan iba. 


"Papa harus cari cara untuk membantu mereka, Pa," ucap Anita lagi sambil menatap suaminya.


"Tentu saja. Papa tidak akan membiarkan siapapun yang mengganggu keluarga Papa hidup tenang. Apalagi dia telah berani membuat putri kesayangan Papa menangis." 

__ADS_1


Rajasa mengepalkan tangannya erat. Cukup sekali saja ia gagal menjadi ayah yang baik buat Alea, karena saat itu ia tidak bisa membantu dan melindungi Alea dari Bian. Kali ini, semua itu tidak akan terjadi lagi. Ia tidak akan membiarkan putrinya menderita sekali lagi hanya karena persoalan yang sama, yaitu orang ketiga.


"Bagas, kerahkan semua orang-orangmu untuk menangkap perempuan itu. Aku nggak mau tahu, kau harus segera menangkap perempuan itu, apapun yang terjadi!" ucap Rajasa penuh penekanan sambil menatap Bagas dengan tajam. 


Bagas menelan salivanya melihat tatapan tajam dari Rajasa. Namun, ia langsung menunduk paham.


"Aku akan segera menemukan perempuan itu dan membereskannya, Om. Tapi masalahnya, bagaimana dengan rekaman video itu? Aku yakin, perempuan licik itu pasti punya cara untuk menyembunyikannya, karena dia tahu kalau kita pasti tidak akan tinggal diam." Bagas menatap pria paruh baya yang terlihat masih tampan itu dengan serius.


"Kau benar, kita tidak boleh gegabah."


Mereka bertiga saling berpandangan sambil menghela nafas panjang. Pandangan mereka kembali tertuju pada Kenzo yang masih tertunduk di depan pintu kamar Alea.


"Alea, Sayang, buka pintunya, aku mohon …."


.


.


Yang suka ceritanya, jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak-kakak 🙏🙏🙏


Yang bilang cerita ini kayak sinetron ikan terbang, tolong tarik kembali ya, ucapannya. Karena jujur, author nggak pernah nonton sinetron 🤭. 


Kalaupun ada konflik yang berkepanjangan, itu hanya sebagai pemanis saja. Karena aku rasa, tidak ada kisah cinta yang berjalan mulus kemudian berakhir bahagia. Pasti dalam setiap kisah cinta selalu ada aral yang melintang untuk menguji seberapa besar kita mencintai.


Salam sayang buat semuanya 😘😘

__ADS_1


__ADS_2