MATI RASA

MATI RASA
Part 75 Membuang Semua Kenangan


__ADS_3

Alea saat ini sedang berada di balkon kamarnya. Sudah bertahun-tahun semenjak ia menikah dengan Bian, baru hari ini, Alea kembali menginjakkan kakinya di dalam kamarnya sendiri.


Setelah dibujuk terus menerus oleh papa dan mamanya, akhirnya Alea pun pulang ke rumah, bertemu dengan Mama dan papanya. Bukannya Alea tidak kangen, hanya saja, rumah ini mengingatkan dia pada pria itu, Bian.


Alea menghembuskan nafas panjang, memandangi langit hitam tak berbintang, sambil menikmati dinginnya angin malam yang menerpa tubuhnya dan mengibarkan rambut panjangnya. Ingatannya kembali saat pertemuannya dengan Bian dua hari yang lalu.


Pria itu, sudah dua tahun Alea tak pernah melihatnya. Wajah tampannya terlihat berbeda, dibandingkan saat terakhir kali ia melihatnya di rumah sakit waktu dulu.


Alea memejamkan matanya saat tiba-tiba rasa sesak menghimpit hatinya.


'Bian, aku tidak tahu entah aku harus senang atau sedih saat bertemu denganmu.'


'Sudut hatiku paling dalam, secara perlahan sudah mulai mengikis namamu, tak ada lagi cinta di sana, yang ada hanya kebencian yang terus merasuk ke dalam jiwaku.'


'Dua tahun ini, aku selalu meyakinkan hatiku, kalau aku begitu membencimu, dan sangat membencimu. Tapi ....'


Alea menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya pelan-pelan. Berulangkali ia melakukannya saat ingatan tentang Bian kembali muncul. Kalau dulu, Alea akan berteriak histeris saat ingatannya tentang Bian yang sedang menyiksanya terlintas. Tapi kali ini tidak, Alea sudah bisa mengontrol emosinya.


Ingatan masa lalunya tentang Bian, pun ikut memenuhi pikirannya. Kamar inilah, saksi bisu di mana Alea sering berkeluh kesah sendirian, berkeluh kesah tentang dirinya yang jatuh cinta pada Bian.


Tertawa, menangis, kesal, marah, dan entah apalagi perasaan yang ia rasakan saat itu, dan semuanya, adalah tentang Bian. Bian, Bian dan Bian ....


Alea menghembuskan nafas kasar. Ia meremas rambutnya, merasa frustasi dengan semua kenangan masa lalunya yang tiba-tiba bermunculan di kepalanya.


Netranya menatap bangunan rumah berlantai dua tak jauh di depannya. Dulu, Alea sangat suka berdiri di balkon kamar ini, kemudian kedua matanya akan berbinar dengan senyum mengembang saat obyek yang ingin sekali di lihatnya terlihat jelas di ujung sana, di dalam rumah itu.


Jendela kamar yang menghadap persis ke arah balkon kamarnya membuat Alea lebih leluasa untuk menatap ke arah sana.


Hampir setiap hari ia melihatnya di sana, dengan sejuta pesona yang membuatnya jatuh cinta.


Rumah itu, jendela kamar itu, adalah milik dia, sosok menawan yang selalu mengisi hatinya selama bertahun-tahun, Bian!


'Harusnya aku tidak menyetujui keinginan mereka untuk datang ke sini.'


Alea masih menatap ke rumah itu, melihat jendela kamar yang tertutup. Alea menghela nafas berat, kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam kamar, Alea menatap semua yang ada di dalam kamar itu. Sebelum dirinya merenung di balkon tadi, Alea langsung patah semangat saat melihat keadaan kamarnya. Mama dan papanya ternyata benar-benar menuruti keinginannya untuk tidak merubah apapun kondisi kamarnya, walaupun ia sudah menikah dengan Bian.


Tapi kini, ia sangat menyesali keputusannya itu. Seharusnya, sebelum ia datang, orang-orang di rumah ini segera mengemas ataupun membuang semua barang yang akan mengingatkannya kembali tentang Bian.

__ADS_1


Foto, gambar, barang, bahkan semua tentang masa lalunya saat dirinya begitu tergila-gila pada pria itu, masih tersimpan rapi di sini.


"Dasar Nggak peka!" kesal Alea dalam hati.


Alea lupa, orang tuanya mana mau mengerti hal-hal semacam ini. Walaupun mereka berdua sangat menyayanginya, tapi mereka selalu menyelesaikannya dengan uang, masalah hati belakangan. Begitulah kira-kira, Alea berkesimpulan tentang kedua orang tuanya.


Mereka selalu memenuhi semua keinginannya tanpa cela, tapi hanya sebatas memenuhinya dengan uang. Bahkan saat mereka diam-diam memenuhi permintaannya dan juga impiannya untuk memiliki Bian, mereka pun menggunakan uang. Menggunakan uang agar Bian mau menikah dengannya.


Pernikahan impian yang akhirnya menjadi bencana bagi Alea.


Alea menghembuskan nafas pelan. Kedua tangannya mulai meraih satu persatu barang-barang yang mengingatkan dirinya tentang Bian di kamar itu.


Dulu, Alea akan melarang siapapun untuk menyentuh barang-barang kenangan itu. Bahkan saat pembantu rumahnya akan membersihkan kamarnya, Alea sampai rela setia menunggu sang bibi membersihkan semua barang-barang di kamarnya.


'Sungguh tingkah yang konyol dan sangat memalukan!'


Alea turun ke bawah untuk memanggil asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya. Alea meminta bibi yang kerja di rumahnya untuk mencari beberapa kardus besar.


"Bi, cariin beberapa kardus yang besar, terus bawa ke kamar aku ya, Bi."


"Baik Non," jawab Bi Marni sopan.


Sementara Alea langsung kembali naik ke atas menuju kamarnya.


Foto Bian dengan berbagai gaya itu terpajang hampir di seluruh dinding kamarnya. Bagi Alea, Bian bak artis idola, hingga hampir di seluruh bagian ruangan ini ini terpampang wajah tampan Bian di sana.


'Bodohnya aku, mencintai seseorang yang tidak pernah mencintaiku selama bertahun-tahun.'


Alea dengan cepat mengambil semua foto-foto Bian yang terpajang di dinding kamarnya.


Tak berapa lama kemudian, Bi Marni datang dengan tergopoh masuk ke dalam kamar sambil membawa tiga kardus besar.


Perempuan paruh baya itu terlihat bengong menatap ke arahku. Mungkin dia heran dengan aksiku.


"Bi, bantu aku membersihkan semua barang-barang yang menyangkut tentang Bian. Aku ingin membuang semuanya." Bi Marni hampir saja berteriak kaget kalau ia tidak segera menutup mulutnya dengan tangan. Karena biasanya foto-foto itu ibarat benda keramat yang tidak boleh disentuh sama sekali oleh orang lain selain diriku.


"Semua barang-barang ini, Non?" Bi Marni menatap Alea tak percaya.


"Iya, Bi, singkirin semuanya, dan buang! Harusnya sebelum menyuruhku ke sini, barang-barang ini sudah tidak ada lagi di kamarku. Apa memang mereka sengaja agar aku terus mengingat dia?" Alea bersungut kesal, sambil melempar dengan asal semua barang kenangan masa lalunya.

__ADS_1


Alea menemukan buku diary miliknya. Ia membukanya sebentar, sebelum akhirnya menutup kembali dan membuangnya dengan kasar ke dalam kardus yang sudah di siapkan oleh Bi Marni.


"Non, ini mau di buang juga?" Bi Marni menunjukkan foto Alea bersama Bian. Di dalam foto itu, Alea masih menggunakan seragam sekolah. Alea terlihat tersenyum imut sambil memeluk lengan Bian. Foto itu diambil paksa oleh Alea saat Bian lewat di depan rumahnya pagi-pagi sehabis olah raga. Sementara saat itu Alea ingin berangkat sekolah. Sementara yang mengambil fotonya saat itu adalah Bi Marni sendiri.


"Buang aja, Bi, semuanya yang ada di kamar ini yang bersangkutan dengan dia, buang pokoknya!" ucap Alea tegas.


"Baik Non!"


Bi Marni tidak bertanya lagi. Ia mulai membantu Alea membereskan semua foto juga barang-barang yang berhubungan dengan Bian.


"Huuhh!"


Alea menghembuskan nafas lega sambil menepuk-nepuk tangannya seolah banyak debu yang menempel di sana. Padahal ia sangat tahu, kalau kamar itu bersih terawat, bahkan foto yang terpajang di dinding itu saja begitu bersih tak berdebu sedikitpun.


"Sudah, Bi. Sekarang, Bi Marni letakkan saja kardus ini di depan kamarku, besok suruh sopir bantuin bibi buang semua barang-barang ini."


"Baik, Non, saya permisi." Bi Marni menunduk dengan sopan sebelum akhirnya keluar dari kamar Alea.


Sebelum pergi, Bi Marni menatap kardus-kardus besar itu.


"Semoga ini awal yang baik buat kamu, Non, Non Alea sudah terlalu lama mencintai pria itu, kini saatnya Non Alea bangkit dan meraih semua kebahagiaan Non Alea, " ucap Bi Marni lirih.


Bi Marni adalah asisten rumah tangga yang merawat Alea dari bayi. Ia adalah asisten rumah tangga sekaligus orang kepercayaan kedua orang tua Alea. Makanya, ia sangat tahu keadaan Alea selama dua tahun ini, karena kedua orang tua Alea bercerita padanya.


Alea memandangi setiap sudut kamarnya yang terlihat kosong. Semua foto Bian yang terpajang di dinding kamarnya kali ini tak ada lagi, membuatnya tersenyum puas.


"Ini baru benar. Membuang semua benda ataupun barang yang mengingatkan aku tentang Bian adalah langkah awal yang baik, dan rasanya benar-benar lega." Alea tersenyum kemudian melangkah menuju kamar mandi.


Alea baru saja berniat menutup pintu balkon saat netranya tanpa sengaja menangkap sepasang mata yang saat ini sedang menatapnya dari rumah itu. Rumah bertingkat dua yang terletak tak jauh dari rumahnya.


Jendela kamar itu terbuka, dan sosok itu berdiri di balkon kamarnya sambil terus menatapnya.


Sejenak Alea terpaku sambil memegang pintu, sebelum akhirnya ia menutup cepat pintu berkaca lebar itu, kemudian menutup gorden hingga seluruh kaca itu tertutupi dan sosok yang di sana itu tidak melihatnya lagi.


'Selamat tinggal masa lalu. Kali ini, aku tidak akan menoleh lagi ke belakang untuk menatapmu, apalagi untuk kembali padamu ....'


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak² 🙏🙏🙏


__ADS_2